NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami

WARNING!

SLOW BURN ROMANCE.

.

.

.

Saat membuka mata, Ailin Shen seperti melihat dunia lain. Langit-langit berwarna putih, tirai putih, sprei putih. Semuanya serba putih hingga ia berpikir apakah ia telah mati.

"Sudah sadar?" Suara pelan nan dingin itu membuat Ailin menoleh. Ia menatap pria di sampingnya, namun tidak mengatakan apa-apa.

"Aku akan memanggil dokter." Pria itu menekan sesuatu, lalu berjalan sembari duduk. Apa? Berjalan sambil duduk? Ailin yang sempat menoleh ke tempat lain kembali mencari keberadaannya. Ternyata pria yang tampak tampan itu duduk di atas kursi roda. Hampir saja ia mengira dirinya telah gila, sampai bisa melihat orang berjalan sambil duduk.

Ia kembali memejam, merasakan tubuhnya yang begitu lemah. Juga kepalanya yang sakit luar biasa.

"Padahal dia bisa suruh suster saja," batinnya. Berpikir pria itu kenapa repot-repot sampai harus keluar sendiri.

Hingga beberapa saat kemudian akhirnya seorang dokter bersama dua perawat masuk. Memeriksa dirinya, tetapi pria itu tidak lagi terlihat. Ailin menoleh ke arah pintu, berharap dia datang lagi. Namun hingga pemeriksaan selesai, dia tidak juga muncul.

"Nyonya sedang menunggu tuan Juan, ya?" Seorang perawat mencoba bertanya padanya. Ia tersenyum ramah, namun Ailin belum bisa menjawab. Mulut dan lidahnya masih terasa kaku.

"Suami Anda sedang berbicara dengan seseorang di luar. Mungkin sebentar lagi akan kembali."

"Sua-mi?" Akhirnya ia bisa mengeluarkan suara walau dengan paksa. Suara yang terdengar serak.

"Iya, suami Nyonya, tuan Juan Xie."

"Aku? Su-dah ber-sua-mi?" tanya Ailin lagi. Kali ini kebingungan di wajahnya membuat sang perawat saling memandang dengan dokter dan perawat satunya. Lalu ketiganya kembali menatap Ailin yang wajahnya tampak penuh pertanyaan.

"Dia beneran suamiku?" tanya wanita itu dengan suara rendah yang lebih lancar.

"Benar, Nyonya."

Ailin terdiam, membuat ketiga orang di sana ikut hening. Hingga tiba-tiba wanita itu tertawa kecil.

"Sejak kapan? ... Tapi kalau memang benar, ternyata aku selera cowoknya bagus juga," ujarnya dengan senyum bangga. Kali ini perawat dan dokter di sana yang gantian mengerutkan kening bingung.

...

Saat Juan kembali, dokter dan perawat telah meninggalkan ruangan. Pria itu membawa sebuah dokumen di atas pangkuan, dokumen yang telah berbulan-bulan ia abaikan. Namun dengan enggan ia setujui pada akhirnya.

Sementara Ailin yang telah duduk sembari bersandar itu sedikit senang melihatnya. Setidaknya sejak sadar hanya pria ini yang ada di dekatnya. Sedangkan keluarganya sendiri tidak terlihat satu pun.

"Aku sudah tanda tangan," ujar pria itu rendah, dengan tangan sedikit bergetar ia mengulurkan dokumen yang sejak tadi ia bawa.

Ailin mengerutkan kening, mengambil dokumen dari tangan sang suami sembari bertanya, "Tanda tangan apa?"

"Permohonan cerai."

"Ce-rai?" Ailin menatap pria di sampingnya itu tidak percaya.

"Ya, kamu ... pasti senang."

"Senang? ... enggak, aku baru sadar. Masih bingung, masih syok sudah menikah. Sekarang ditambah ce-rai?"

Juan mengerutkan alis, istrinya ini tampak tidak senang? Pria itu akhirnya menarik napas berat. "Bukankah ini keinginanmu? Sekarang, aku sudah mengabulkannya."

"Haish, aku saja masih kurang percaya sudah menikah denganmu, apalagi mau cerai ... Kak Juan."

Juan mengernyit, membalas tatapan Ailin yang bingung dan polos namun asing itu. "Kamu panggil aku apa?"

"Kakak Juan. Aku sudah ingat, kamu sahabat kakakku yang pendiam tapi suka aku jahilin."

Untuk sesaat, Juan seperti lupa caranya bernapas. Pria itu menatap sang istri, melihat wajah yang selama bertahun-tahun ini menatapnya penuh kebencian. Dan sekarang ... sorot hangat dan panggilan itu?

"Kak Juan?" Panggilan itu menyadarkan lamunan sang pria. Ia berdehem pelan, menarik napas dengan sedikit tidak beraturan.

"Aku keluar sebentar." Juan cepat-cepat menekan tuas kontrol kursi rodanya, melaju meninggalkan Ailin yang bergerutu sendiri. "Heh, jangan pergi!"

...

Ceklek.

"Kau!" Dokter Zilan Ye yang tengah memeriksa rekap pasien itu memandang Juan kesal. Ia tidak menyambut, tetap duduk di depan meja kerjanya.

"Ada apa dengan dia?" tanya Juan tanpa basa-basi. Pria itu mendekat, berhenti di samping meja Zilan dan menatapnya dengan serius.

Sementara Zilan menghela napas berat dulu. "Istrimu sudah sadar dan secara fisik kondisinya stabil. Tapi hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya amnesia."

Juan mengerutkan alis. "Amnesia?"

"Iya, hilang ingatan sebagian. Dalam kasus Ailin, kami perkirakan dia kehilangan memori sekitar lima tahun terakhir.”

"…Lima tahun?"

Zilan mengangguk pelan. "Hem, dia masih ingat hal-hal sebelum itu, keluarga, rumah lama, sekolah lamanya. Tapi memori setelah periode itu… hilang. Untuknya, waktu seolah berhenti lima tahun lalu. Dia bahkan bilang masih berusia 17 tahun saat ditanya."

Juan bergeming sejenak, tanpa sadar jari-jarinya mencengkeram sandaran kursi roda sampai buku-buku jarinya memucat. "Jadi… dia nggak ingat apa yang terjadi di lima tahun terakhir?"

"Belum tentu hilang sepenuhnya. Tapi, kemungkinan besar, dia tidak mengenalimu dan anak-anakmu seperti dulu."

"Apa ... ingatannya bisa kembali?"

"Kemungkinan itu ada. Tapi aku harus jujur, tidak ada waktu pasti. Bisa beberapa minggu, bulan… bahkan tahun. Kadang sebagian ingatan kembali perlahan, kadang tidak sama sekali."

Juan kembali terdiam, kedua matanya tampak kosong dengan pikiran melayang jauh.

"Juan?"

"Hm?"

"Aku bukannya senang melihat istrimu mendapat musibah. Tapi dengan dia tidak mengingat sekarang ...."

"Aku mengerti maksudmu. Tapi ... kalau nanti saat dia ingat?"

"Aku tidak mau terlalu banyak berharap dulu."

...

Di dalam ruangannya, Ailin yang ditinggal menggerutu beberapa saat. Wanita itu lalu menyadari sesuatu yang ia pegang. Tangannya bergerak untuk membuka dokumen, hingga muncul sebuah kertas bertuliskan permohonan cerai.

Keningnya mengernyit, melihat dengan tajam tanda tangan yang telah ia sendiri bubuhkan. "Kak Juan sudah bagus, kenapa aku mau cerai? Dasar Ailin, jadi orang yang pas-pas saja! Jangan rakus-rakus!"

Ia lalu membolak-balikkan kertas, melihat sesuatu yang terselip. Dengan penasaran, wanita itu mengambilnya. "Wah, foto nikah. Jadi aku beneran istrinya?"

"Eh, tapi ini Kak Juan lagi senyum malu-malu." Ailin memiringkan kepala, mengerutkan kening tampak berpikir keras.

Lalu jarinya mengetuk-ngetuk wajahnya sendiri di foto itu. "Aku kok malah pasang muka seperti mau ke medan perang, sih?"

Tatapannya turun ke surat cerai di pangkuannya. Kemudian kembali ke foto itu.

"Jangan-jangan..."

Senyumnya perlahan memudar.

"Aku memang dipaksa nikah?"

.

.

.

Hai semuanya!

Selamat datang di perjalanan Juan dan Ailin.

Kalau suka ceritanya, jangan lupa tinggalkan like dan komentar. ❤️

Oh ya, buat yang merasa pernah baca, kalian nggak salah kok. Ini versi revisi yang author tulis ulang dengan beberapa perubahan pada alur cerita.

Selamat membaca.

See you next chapter.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!