Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ragu
Kring ... Kring ... Kring ....
Ponsel Louis tiba-tiba saja berdering. Dia yang saat ini sedang duduk santai dengan ditemani secangkir kopi hangat pun seketika meraih ponsel lalu mengangkat telpon.
📞 "Halo, Jod. Ada apa?" Tanya Louis kemudian.
📞 "Iya halo, bang. Saya ada kabar baik buat Abang."
📞 "Kabar baik apa?"
📞 "Saya sudah menemukan Bunda Annisa."
📞 "O ya? Syukurlah, sekarang juga kamu ke rumah saya ya."
📞 "Ini saya lagi diperjalanan ke rumah Abang. Sebentar lagi sampai ko."
📞 "Oke, saya tunggu kamu di rumah."
Ucapan terakhir Louis sebelum dirinya menutup sambungan telpon.
Setelah itu, Louis pun segera bangkit seraya berteriak memanggil Arista sang istri. Dia berjalan dengan tergesa-gesa mencari keberadaan sang istri.
"Arista, sayang!'' teriak Louis.
"Ada apa si, Mas. Gak usah teriak-teriak kayak gitu dong,'' jawab Arista berjalan menghampiri.
"Jodi, sayang."
"Jodi kenapa? Kalau ngomong itu yang jelas dong."
"Dia sudah menemukan bunda Annisa."
"Serius?"
Louis menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.
"Tere dimana? Dia pasti senang banget mendengar kabar ini,'' tanya Louis kemudian.
"Dia ada di kamarnya, Mas. Kita kasih tahu kabar bahagia ini sama dia."
Louis pun kembali menganggukkan kepalanya lalu berjalan secara beriringan bersama sang istri menuju kamar menantunya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu kamar pun di ketuk.
"Tere, ini Mommy sama Daddy. Boleh kamu masuk?" tanya Arista.
Ceklek ....
Pintu kamar pun di buka. Tere berdiri tepat di belakang pintu kini.
"Iya, Mom, Dad. Ada apa?" Tanya Tere tersenyum ramah.
"Kami punya kabar bahagia buat kamu, sayang."
"Masuk dulu, Dad. Kita bicara di dalam,'' ucap Tere mempersilahkan.
Louis dan juga Arista pun masuk ke dalam kamar.
"Dad, Mom. Tadi kalian bilang punya kabar bahagia. Kabar apa?" Tanya Tere merasa penasaran.
"Kami sudah menemukan Bunda Annisa ibu kamu, Re." Ucap Arista tersenyum senang.
"Benarkah? Kalian tidak bercanda 'kan?''
"Tentu saja tidak, sekarang Jodi sedang dalam perjalanan ke sini,'' Louis menambahkan dengan begitu antusias.
"Syukurlah, akhirnya aku tahu kalau beliau masih hidup. Tapi, Dad. Apa Daddy yakin kalau Bunda Annisa yang Daddy maksud itu adalah Bunda Annisa ibu aku?'' Tanya Tere, rasa ragu pun seketika menyelimuti hatinya kini.
"Seperti itulah yang Daddy dengar dari Jodi. Kita tunggu saja, dia sedang dalam perjalanan sekarang. Mudah-mudahan dia tidak salah ya."
Tere menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Tidak lama kemudian, yang ditunggu pun akhirnya datang. Suara Jodi terdengar memanggil nama Louis. Tere dan kedua mertuanya pun seketika keluar dari dalam kamar dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.
"Gimana, Jod. Kamu beneran udah tahu dimana keberadaan Bunda Annisa 'kan?" Tanya Louis.
"Sudah, Bang. Alamat lengkapnya juga sudah saya pegang. Kalau kalian mau, kita ke sana sekarang juga." Jawab Jodi masih dalam keadaan berdiri.
"Om Jodi yakin kalau Bunda Annisa yang Om maksud adalah Bunda Annisa ibuku?'' tanya Tere ingin lebih memastikan.
"Tentu saja. Beliau baru saja pulang dari luar negeri, saya sudah menyewa detektif swasta, dan dia bilang kalau beliau benar-benar Bunda Annisa ibu kamu,'' jawab Jodi meyakinkan.
"Gimana, sayang. Apa kamu ingin kita ke sana sekarang juga?"
"Gimana sama David? Aku harus izin dulu sama dia."
"Tentu saja, kamu telpon dia sekarang juga,'' pinta Arista kemudian.
Tere menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah kamar untuk menelpon David sang suami. Tere meraih ponsel lalu segera melakukan sambungan telpon.
Tut ... Tut ... Tut ....
Suara telpon yang belum diangkat.
📞 "Halo, Mas. Mas dimana? Masih di kantor?"
📞 "Iya, sayang. Mas masih di kantor. Ada emang, kangen ya?"
📞 "Om Jodi udah dapatin alamat Bunda Annisa, Mas."
📞 "Benarkah? Syukurlah, Mas pulang sekarang juga kalau gitu. Kita ke sana sekarang juga."
Tere pun seketika langsung menutup telpon.
Sesaat Tere pun nampak termenung duduk di tepi ranjang. Apakah dia siap bertemu dengan sang ibu? mengingat selama ini, ibunya sama sekali tidak pernah mencari keberadaan dirinya. Dari semenjak kedua orang tuanya berpisah lebih dari 10 tahun yang lalu, Bunda Annisa sama sekali tidak pernah berkunjung ke rumahnya apalagi menanyakan kabar dirinya.
Rasa gundah pun menyelimuti hati seorang Tere kini.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan seorang Teresia.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arista sang ibu mertua masuk ke dalam kamar.
"Hah ... Eu ... Iya, Mom. Aku baik-baik saja,'' jawab Tere tersenyum hambar menatap wajah sang ibu.
"Mommy tahu bagaimana perasaan kamu, sayang. Mommy pernah merasakannya juga dahulu, kamu pasti ragu untuk bertemu sama Bunda Annisa. Betul?"
Tere kembali tersenyum hambar.
"Mungkin Bunda Annisa punya alasan tersendiri kenapa beliau tidak pernah mengunjungi kamu. Mungkin juga beliau ingin sekali bertemu dengan kamu sebenarnya, hanya saja keadaan tidak memungkinkan. Kamu dengar apa yang Jodi katakan tadi? Bunda Annisa baru saja pulang dari luar negeri. Itu artinya selama ini beliau tidak tinggal di negara ini,'' jelas Arista memberi pengertian.
"Benarkah?" lirih Tere dengan bola mata memerah.
"Kamu bisa tanya itu nanti ketika kamu bertemu sama beliau. Sambil nunggu suami kamu pulang, bagaimana kalau kamu siap-siap aja dulu, biar nanti kita bisa langsung berangkat kalau David sudah datang."
Tere menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
♥️♥️
Bunda Annisa nampak menatap secarik Poto putri yang sangat dia rindukan. Teresia Anindya Putri, gadis yang dia tinggalkan sedari remaja itu pun pasti sudah terlihat berbeda dengan apa yang ada di dalam Poto tersebut.
"Kita akan segera bertemu, Nak. Berkat Kaka tiri kamu, akhirnya Bunda bisa menemukan alamat kamu. Ya meskipun Bunda harus membayar dia dengan uang yang cukup banyak, tapi Bunda senang karena Bunda bisa memeluk dan meminta maaf sama kamu nanti,'' gumam Bunda Annisa.
Saat ini wanita berpenampilan elegan itu nampak sudah duduk di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan ke kota dimana sang putri berada. Dia pun mengecup Poto tersebut lalu memeluknya. Rasa tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang putri pun memenuhi relung hatinya kini.
Butuh waktu sekitar 5 jam untuk sampai di tempat tujuan, mobil yang ditumpanginya pun sudah hampir sampai.
"Apa alamatnya masih jauh?'' tanya Bunda Annisa menatap sang supir.
"Sebentar lagi, Nyonya. Kita hampir sampai."
"Baiklah," jawabnya mulai memejamkan kedua matanya.
30 menit kemudian, mobil pun memasuki area perumahan mewah. Bunda Annisa menatap sekeliling dimana rumah-rumah bertingkat juga berukuran besar berjejer rapi begitu sedang dipandang.
"Apa kamu nikah sama orang kaya? Kalau iya, Bunda senang sekali mendengarnya. Bunda harap kamu tidak hidup serba kekurangan, Nak." Gumamnya lagi tersenyum lega.
Sampai akhirnya, mobil yang ditumpanginya itu melipir dan berhenti tepat di depan rumah besar juga mewah. Rumah berlantai dua yang memiliki pagar tinggi lengkap dengan satu pos satpam tepat di depan pagar.
Dengan begitu antusias, Bunda Annisa pun segera turun dari dalam mobil.
"Ini rumah suaminya Tere? Astaga, besar sekali? Suami Tere ternyata lebih kaya dari yang Bunda bayangkan,'' ucap Bunda Annisa berjalan menuju pintu pagar.
Ting ... Tong ....
Bunda menekan bel yang berada tepat di depan pintu pagar. Tidak lama kemudian, Satpam pun membuka pintu pagar tersebut.
Ceklek ....
"Maaf, Nyonya. Anda mencari siapa ya?" tanya sang satpam.
"Apa betul ini kediaman keluarga David Gabriel?"
"Betul, Nyonya. Anda ke sini mau mencari siapa?"
"Saya ke sini mau mencari putri saya, istri dari David. Ini potonya, Bapak pasti kenal dia."
Bunda Annisa menyerahkan Poto sang putri dan segera diterima oleh Satpam tersebut. Pak Satpam nampak menatap Poto tersebut dengan seksama. Meski terlihat sedikit berbeda, tapi akhirnya dia yakin kalau wajah wanita yang ada di dalam Poto tersebut adalah Teresia istri satu majikannya.
"Betul, Nyonya. Wanita di dalam Poto ini adalah istri Tuan David."
"Syukurlah, bisa izinkan saya masuk saya ibunya? Saya ingin bertemu dengan putri saya,'' pinta Bunda Annisa akhirnya bisa bernapas lega karena akan segera bertemu dengan sang putri.
"Mohon maaf, Nyonya. Tuan sama Nyonya Tere baru saja keluar. Tuan besar sama Nyonya besar juga. Sepertinya mereka mau keluar kota,'' jawab Satpam tersebut membuat Bunda akhirnya menelan rasa kecewa.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️