Hai dukung ceritaku ya.
SETELAH MEMBACA BIASAKAN LIKE.
LIKE, KOMENTAR, FAVORIT JUGA.
Cerita ini hanya kehaluan author saja ya.
Cerita ini kelanjutan Benih Tuan Muda Kejam.
Menceritakan kisah cinta anak ketiga Abraham dan arin.
Ya Andra harus menikah dengan seorang wanita cantik bernama Syafi yang ternyata anak dari pak Andi dan Veli. Arin yang sudah suka dengan Syafi pun meminta pak Andi untuk menjodohkan keduanya. Apalagi Syafi baru saja putus dengan sang tunangan karena penghianat.
Bagaimana serunya rumah tangga keduanya, apalagi Andra ternyata musuh bebuyutan Syafi selama di kampus.
Yuk kepoin ceritanya 🙏.
Setelah membaca biasakan like ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Akhirnya Syafi dan Andra sudah sampai di tempat yang di tuju.
"Kamu masuk duluan saja," kata Andra saat Syafi masih terdiam ragu untuk turun dari mobil.
"Ya sudah, aku duluan," kata Syafi beranjak turun dari mobil.
"Oh ya, apa nanti kamu ikut menyusul ku kesana?" Tanya Syafi kembali membuka pintu mobilnya.
"Kenapa?" Tanya Andra, sebenarnya ingin mengerjai istrinya saja. Dia ingin mendengar dari mulut Syafi sendiri mengatakan agar dia ikut masuk.
"Em apa kamu tidak ingin masuk kedalam? Apa kamu mau menunggu di sini saja," tanya Syafi dengan ragu-ragu.
"Iya nanti aku akan ke sana? Sekarang kamu masuk duluan," Kata Andra meyakinkan Syafi agar dirinya cepat masuk kedalam menemui teman-temannya.
"Dadah Andra, jangan lupa ya nanti kamu masuk ke dalam cafe," kata Syafi sebelum meninggalkan Andra.
"Ck dasar, sudah jadi istri masih saja memanggil ku Andra," gerutu Andra saat Syafi sudah pergi masuk ke dalam cafe.
Syafi pun masuk ke dalam cafe dengan langkah riang, entah apa yang membuatnya bahagia. Syafi berjalan terus menuju tempat mencari di mana meja teman-temannya sedang menunggu.
Syafi semakin tersenyum lebar melihat meja dimana ada Lila dan Gina.
Syafi melambaikan tangannya saat Lila dan Gina melihat kedatangannya saat ini.
"Hayy akhirnya kamu datang juga," seru Lila menampilkan wajah sumringah langsung menghampiri Syafi dengan begitu gembira menyambut sahabatnya yang sedari tadi di tunggu-tunggu.
"Iya dari tadi ku tungguin sampai nih habis 1 gelas minuman," gerutu Gina memperlihatkan gelas miliknya yang kosong.
Syafi tersenyum kikuk merasa tak enak karena terlambat datang.
"He he he he, maaf ya," kata Syafi langsung mendaratkan tubuhnya di kursi kosong di depan kedua sahabatnya.
"Nih cepat pesan,'' perintah Lila menyodorkan buku menu kepada Syafi.
Syafi pun memesan 2 minuman.
"Lho kok cuma minuman 2?" Tanya Lila heran.
"Iya satu buat ku dan satu buat Andra, kalau makanan nanti saja lah biar dia pesan sendiri takutnya bukan selera dia," jawab Syafi membuat kedua sahabatnya saling berpandangan.
"Ommmmgg kamu kesini sama Bambang Andra," seru Gina menutup mulutnya tak percaya.
"Iya, aku di antar dia. Tadinya aku sudah menolak tetapi dia kekeh ingin mengantarku daripada aku gak jadi berangkat mending berangkat bareng dia," kata Syafi menjelaskan alasan dia harus ke sini dengan Andra.
"Ciee diantar ayang," ledek Lila membuat pipi Syafi merona.
"Wajah Syafi malu nih, jangan-jangan dia sudah begituan dengan Andra. Ish kepo ah pengen tanya dia," batin Gina menatap Syafi intens membuat Syafi langsung menoleh ke arah Gina.
"Kenapa?" Tanya Syafi dengan sorot mata penasaran.
"Em itu, itu em em," Gina gelagapan sendiri binggung dan sedikit malu menanyakan hal bersifat rahasia.
"Apaan sih?" Tanya Syafi sedikit kesal.
Lila memilih dia mendengarkan saja, dia juga ingin tahu apa yang ingin di bicarakan oleh Gina sat ini.
"Itu.... Mana Andra?" Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Gina.
"Ha kirain apa," ceplos Lila mengelengkan kepalanya, dia sudah berfikir ke sana-kemari tentang apa yang ingin di tanyakan oleh sahabatnya itu karena terlihat begitu kesulitan untuk berbicara dari tadi, ternyata cuma menanyakan keberadaan suami sahabatnya itu, ck sungguh menjengkelkan.
"Ada kok mungkin masih di parkiran, tadi dia minta aku turun duluan," kata Syafi.
"Ohhh....." Seru Lila dan Gina bersamaan.
"Eh lihat tuh, sepertinya dia si Miko," seru Lila menunjuk ke arah meja tak jauh dari sana.
"Ha? Siapa?" Tanya Gina yang masih belum tahu.
"Itu tuh, lihat yang ada di kursi pojokan yang pakai baju warna coklat," Lila masih berusaha menunjukkan dimana keberadaan Miko saat ini.
Syafi hanya melirik sekilas, dia begitu malas melihat pria yang sudah menorehkan luka di hatinya.
"Ah biarin saja lah," kata Syafi dengan cuek.
"Iya, ngapain juga kamu kasih tahu Syafi sih kalau ada pria tukang selingkuh itu. Lagian Syafi sudah menikah dengan Bambang Andra yang tampan itu," sungut Gina kesal.
"Eh iya ngomong-ngomong tentang si Andra, bagaimana? Itu tadi malam," sahut Lila dengan antusias.
"Iya bagaimana, ayo cerita," ternyata bukan Lila saja yang penasaran namun Gina juga ikut di buat penasaran karenanya.
"Ha? Maksudnya?" Tanya Syafi dengan binggung menatap keduanya bergantian.
"Ck masa kamu tidak mengerti sih, itu yang malam pertama kalian," kata Gina dengan suara pelan mengingat ini adalah tempat umur takutnya ada yang mendengar ucapan Gina itu.
Sedangkan di tempat yang sama salah satu teman Miki melihat keberadaan Syafi dan mecolek lengan Miko.
"Apaan sih," seru Miko.
"Syafi? Mana?" Seru Miko dengan gembira, sedari kemarin dia begitu sulit untuk bertemu dengan Syafi.
"Itu ada Syafi," katanya menunjuk di mana deretan meja yang ada Syafi dan kedua temannya.
Wajah Miko bersinar terang menyilaukan. Dia langsung berdiri dan ingin berjalan menuju arah Syafi.
Salah satu temannya mencekal tangan Miko. "Kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Ya tentu menghampiri Syafi, apa lagi," kata Miko dengan enteng seakan dia melupakan sesuatu.
"Memang kamu yakin," tanya temannya dengan ragu.
"Tentu dong, cepat lepaskan tangan ku," seru Miko membuat temannya itu baru sadar kalau dia belum melepaskan tangan Miko.
"He he he he, maaf," katanya dengan cepat melepaskan tangan Miko.
Miko pun berjalan dengan percaya dirinya menemui Syafi.
"Hay...." Sapa nya saat dia sudah berada di depan meja Syafi.
Syafi yang asyik bercerita dengan Gina dan Lila pun menoleh, dia menatap malas ke arah pria di depannya, pria masa lalu dengan segudang rasa sakit akibat perselingkuhan, ah lebih tepatnya penghianatan dengan mantan sahabatnya. Sahabat kepercayaan dan pacar setia ternyata semua itu hanya kebohongan saja di depan mata Syafi selama ini, Syafi pun engan untuk bertanya atau meminta penjelasan karena jujur melihat wajah pria ini saja dia sudah muak.
"Ck tukang selingkuh datang," sinis Gina mendapat plototan dari Miko.
"Benalu, paling juga dia mau ngemis-ngemis ke sini," ejek Lila yang juga tahu bagaimana Syafi dengan rela membiarkan Miko tinggal di apartemen milik Syafi dan bebas menggunakan mobil Syafi.
"Dasar miskin gaya, sudah ketahuan selingkuh masih saja ngejar-ngejar Syafi," kata Gina.
"Iya gak tahu malu banget sih," gerutu Lila ikut menyuarakan kata-kata sinis.
"Apa dia lupa Syafi sudah menikah," sinis Gina.
"Maklum urat malunya sudah putus," sahut Lila.
Tangan Miko terkepal erat menahan amarah mendengar perkataan keduanya, dia menahan diri agar Syafi tidak semakin membencinya.
"Ya begitulah sudah benalu tukang selingkuh tidak sadar diri," lanjut Gina semakin membuat Miko geram dengan kedua teman Syafi.
Sedangkan Syafi tak berniat ikut campur, dia memilih diam dan melihat mulut kedua temannya yang seperti cabe itu menyerang Miko.
"Hei jaga mulut kalian," Miko dengan murka menunjuk ke arah Gina dan Lila.
Bersambung....
Hadeh Abraham dari dulu gak berubah, masih aja posesif sama cemburuan🤣🤣