"Jika diberi kesempatan mengulang waktu. Hal apa yang akan kamu ubah?"
"Mencegah pertemuan ku dengan suami ku!"
Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang menyangka kesempatan emas itu membuatnya terlempar jauh di masa SMA sebelum semua tragedi dimulai.
Mampukah Ita membelokan takdir yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pertanyaan Bodoh
Wajah Ita merah padam. Bagaimana tidak? Ulah Hesa diketahui Tina.
"I-itu digigit nyamuk tadi," sangkal Ita.
"Hemm.... nyamuknya gede banget ya sampe merah kayak gini."
"Ahaha.... canda aja lo."
"Ini pasti Hesa kan?!"
"Kenapa bawa-bawa gue?" tanya Hesa yang datang di sutuasi tidak tepat.
Terserahlah! Ita pasrah. Toh, ini perbuatan Hesa juga. Tina melirik tajam pada lelaki itu lalu mendekatinya.
"Ngapa?" tanya Hesa polos.
Siapa yang menyangka tindakan Tina selanjutnya menjewer telinga Hesa sampai ia mengaduh kesakitan, "liat aja lo ya! Kalau sampai macem-macem sama Ita. Gua bantai lo sampai mati!"
"S-sakit woi! Lepasin dulu ini!" keluh Hesa.
"Dasar laki-laki!" dengus Tina kemudian melepaskan jeweran mautnya.
Mereka mengobrol bersama hingga di setiap obrolan terselip tawa. Mereka bukan orang yang pandai merangkai kata baik. Namun, di setiap hardikannya tersirat kasih sayang yang tak dapat diukur dengan kata.
Begitulah sahabat. Jangan mengharap kata manis. Karena yang keluar dari mulut sahabat hanyalah ejekan.
^^^^^^
"Bersiaplah!" ujar Raga setelah jemarinya mengetuk meja kerja Ita.
"Kemana Pak?" tanya Ita. Jujur saja ia benar-benar lelah mengikuti schedul orang ini. Menjadi asistennya sebulan saja sudah cukup membuat berat badan Ita turun tiga kilogram.
Sebenarnya pekerjaan Ita tidak berat. Ia hanya perlu mengekori Raga kemana pun ia pergi. Lalu mengingatkan jam makan dan minum obat. Intinya memastikan kesehatannya terjaga. Hanya saja, sejauh ini yang Ita temui dirinya macam pembantu dari pada asisten.
"Rumah sakit," jawab Raga kemudian melengos. Ita langsung menyaut tasnya lesu dan mengekor.
"Bapak mau cek up?" ujar Ita. Langkahnya penuh usaha berkat menyeimbangi langkah besar Raga.
"Bukan. Jenguk kolega," ujaran itu dihadiahi deheman dari Ita.
Selama perjalanan Ita tidak bersuara. Raga pun diam seperti biasa sambil memandangi ruas jalan dari balik kaca mobil.
Ketika berkendara, Raga memiliki sopir pribadi sendiri. Hal itu didesak oleh Reon sejak kecelakaan tempo lalu. Raga pun tidak bisa beralibi dan memilih nurut.
Mereka tiba di rumah sakit. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat kolega yang sakit. Buah tangan pun tak luput dibawa.
Singkat saja, karena waktu Raga bagaikan tambang emas yang tidak boleh disia-siakan. Mereka pamit pulang dengan segala kerendahan hati tidak bisa berlama-lama.
Lalu, masalahnya di sini. Ita berhenti ketika melewati ranah dokter kandungan.
Ah! Sial!
Memori masa itu menyeruak masuk di kala kakinya menapaki tempat ini. Tempat yang sama ketika Ita mengecek janin yang belum sempat ia lihat.
"Ada apa?" tanya Raga ketika menyadari Ita tidak mengekorinya.
"Bukan apa-apa," jawab Ita.
Selama perjalanan ke tempat tujian selanjutnya. Ita masih terpaku dengan kenangan masa itu. Jika janin itu hidup,
Apa jenis kelaminnya?
Bagaimana rupanya?
Apakah akan mirip dengan Raga lagi? Seperti Zera dan Zeno.
Ita tersenyum miris. Dadanya tiba-tiba sesak. Ia tidak bisa menyelamatkan janin itu.
"Kamu baik-baik aja?" interupsi Raga.
"Hum...." diam sejenak. "Anu.... boleh saya tanya sesuatu?" ujar Ita memberanikan diri.
"Tanya apa?"
Mata Ita menatap kedua manik hitam itu. "Saat dihadapkan dua pilihan. Antara anak dan pekerjaan. Mana yang akan Bapak pilih?"
.
.
.
.
"Pertanyaan bodoh, tentu saja pekerjaan."
DEG!
"Oh gitu ya...." saut Ita layu. Dari awal memang tidak ada harapan.
"Itu pemikiran ku saat ini. Karena aku belum berkeluarga. Tapi.... jika suatu saat aku punya keluarga. Tentu saja aku akan mementingkan keluarga ku dulu. Karena tidak ada yang lebih penting dari keluarga."
Ita terperanjat. Menatap lekat wajah Raga yang sejak tadi tidak membalas tatapannya.
"Kalau kamu?" balas Raga.
"Tentu saja saya akan mendahulukan keluarga. Apalagi saya wanita. Mau tidak mau harus ikut suami kan?"
"Mau tidak mau ya? Kedengarannya seperti terpaksa."
"Kebanyakan kayak gitu kan? Kodrat wanita itu nurut suaminya. Makanya itu banyak wanita yang nuntut banyak hal sebelum nikah. Karena seumur hidup baktinya akan berpindah ke suami. Makanya harus cari pasangan yang saling ngerti."
"Hemm.... ternyata pikiran mu lebih dewasa dibanding umur mu ya.... yang dikatakan Sera benar," ucap Raga menggumam di akhir kalimat.
"Ahaha... masak sih...." balas Ita kikuk. Ah! Hampir saja satu orang krusial curiga.
^^^^^^
Sebuah reatoran tradisional dengan dekorasi khas menjadi daya tarik tersendiri. Setiap meja terisi oleh pengunjung yang telah melakukan reserfasi. Sebab untuk mendapat kursi di restoran ini tidak bisa hanya datang dan duduk.
Restoran yang telah menyandang status bintang lima sejak lama ini digemari banyak orang karena sajian rasa yang unik. Menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit Raga untuk melakukan pertemuan dengan kolega.
Hidangan di meja tampak menggiurkan siapa pun yang melihat. Hanya saja salah satu penikmatnya tidak menikmati dengan baik hidangan itu.
Kalau ditanya kenapa? Jelas karena ia merasa dirugikan karena waktu pulangnya direnggut oleh bosnya untuk menemani makan bersama kolega.
"Saya izin ke toilet," ucap Ita kemudian beralih.
Raga mengawasi kepergian Ita. Ia sadar telah membuat gadis itu bad mood. Karena sejak kepulangan dari rumah sakit tadi pagi ia tidak berhenti mengunjungi kolega di tempat tertentu. Dan jangan lupakan Raga yang sudah merenggut jam pulangnya.
Merasa bersalah, Raga berniat mengantar Ita pulang. Walau jalur mereka berlainan arah. Ini sudah tanggung jawabnya. Namun, hal seperti ini terjadi.
"Nggak usah," tolak Ita setelah Raga menawarkan diri.
"Udah gelap. Bahaya."
"Kalau tau bahaya kenapa kasih lembur?!" sulut Ita. Masa bodoh! Ini sudah jam bebas. Ita bukan lagi bawahannya. Hanya seorang manusia yang menuntut protes.
"...."
"Saya naik gojek aja. Lagi pula saya ada janji temu sama orang."
"Siapa?" saut cepat Raga.
Kening Ita mengernyit. "Temen."
"Laki-laki kemarin?" tanya Raga merujuk pada Hesa.
"Bukan.... temen yang lain," ujar Ita. Kali ini ia tidak beralibi untuk menghindar. Tadi, saat ke toilet. Ita dapat pesan dari Tina untuk bertemu di salon langganan mereka.
Sebenarnya Ita sempat bingung. Bukannya Tina sedang di tempat psikiaternya?
Untuk mengikis rasa penasarannya, Ita memutuskan bertanya langsung. Ia hampir memesan gojek sebelum handphone-nya disaut oleh Raga.
"Aku anter. Mau kemana?"
Hah! Ita lupa kalau masih ada manusia angkuh ini. Sudahlah! Ia tidak ada energi bertengkar dengan Raga.
"Mau ke jalan Proklamator. Beauty salon."
Mereka pun ke tempat tujuan bersama. Walau tidak searah dengan rumah Raga. Ia tetap mengantarkan Ita tanpa mengeluh sedikit pun.
"Itaa!" panggil Tina dari dalam salon. Terpantau ia berlari menghampiri Ita setelah turun dari mobil.
"Lo dianter siapa?" lirik Tina pada kaca mobil Raga.
"Bos dakjal," bisik Ita.
Kaca mobil itu terbuka menampakan Raga yang tengah menatap datar, "pulangnya jangan malam-malam," pesannya sebelum mobil itu berlalu.
"Entah ngapa. Kok gua nggak suka ya sama orang itu. Mukanya sombong banget!" ujar Tina.
Ita mengernyit. Di masa ini pun Tina terang-terangan tidak menyukai Raga. Benar-benar mengerikan.
"Udah yuk masuk," ajak Ita.
Tbc
kpn up lg thor
......
hesa apa raga y...🤔🤔🤔🤔🤔⁉️⁉️⁉️⁉️
q kehabisan kata".....
lg dong thor part ny
iini msih pov ita....
pov raga nya blm....😄😄
khidupan sebelum it mninggal raga berkhianat tp stelah kehidupan ke-2 kok raga ud knal ita ....
pusing kn jd ny??? tlong dong buka tabir chaya ny.....