Kavinder Sarfaraz Natapraja, semua orang mengenalnya sebagai pria tampan dan kaya raya. Kehidupan Kavin tak pernah lepas dari media dan para wanita yang selalu mengincarnya. Menginjak umur dua puluh tujuh tahun, Kavin selalu dipaksa oleh sang ibu untuk segera memiliki seorang istri. Namun Kavin hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Menikah? Kavin tidak berpikiran sampai sejauh itu. Pokok utamanya saat ini hanya terus mengembangkan perusahaannya agar semakin jaya dan sukses. Namun, siapalah yang mampu melawan kehendak takdir yang Tuhan berikan. Di kemudian hari, Kavin dihadapkan pada satu kenyataan di mana dia harus menikahi seorang gadis belia yang umurnya terpaut cukup jauh. Ternyata gadis tersebut adalah pilihan orang tuanya.
Akankah Kavin menerima gadis yang bahkan tidak dia kenal untuk menjadi istrinya? Dan mungkinkah cinta tumbuh diantara keduanya?
cerita murni dari haluan author. cerita kedua aku, batu voting y guys❤️
MLW@JANUARI 2022
Ovie Nur'Aisyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovie NurAisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Back
Happy reading♡
Sesuai dengan perkataan Sarah kemarin. Ia dan keluarganya akan pergi menjenguk Ashel. Kebetulan hari ini semuanya tidak sibuk jadi mereka semua bisa datang ke kediaman Ashel.
Rafello berada di mobil Kavin. Ia menumpang pada mobil abangnya karena ia malas membawa kendaraan sendiri.
Beban!
Mobil Kavin berjalan di belakang mobil papanya, Faraz. Mereka berangkat pukul tujuh malam.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, rombongan keluarga Kavin sudah sampai di pekarangan rumah Prabu.
Mereka satu per satu keluar dari dalam mobil.
Praja jalan lebih dulu dan mengetuk pintu. Berkali kali Praja mengetuk akhirnya pintu terbuka. Seorang Art menyapa mereka dan mempersilahkan masuk.
"Gak nyangka malem malem kedatangan tamu," ucap Prabu.
"Iya, sengaja gak saya hubungin dulu. Maaf mendadak datang," ucap Praja.
"Astaga, santai saja Praja. Ayo silahkan duduk," ucap Prabu. Mereka semua pun sudah duduk.
"Oh iya, Ashel nya dimana? Kok gak keliatan?" Tanya Sarah.
Ningrat tersenyum. "Dia sepertinya masih di perjalanan," ucapnya.
"Memangnya Ashel pergi kemana oma?" Tanya Rafello.
"Dia pulang ke rumah orang tuanya kemarin" ucap Ningrat.
"Memangnya orang tua Ashel dimana? Fello kira mereka di sini," ucap Rafello.
"Kebetulan orang tua Ashel tinggal di Bandung. Mereka belum bisa pindah kesini karena semua pekerjaan Adi ada di Bandung," ucap Prabu.
"Fello baru tahu. Ashel gak pernah cerita," ucap Rafello.
"Ya karna lo gak pernah nanya," celetuk seseorang membuka pintu utama.
Ashel berjalan menuju ke ruang tamu. Ia pun mencium tangan para orang tua disana.
"Malam semuanya," sapa Ashel. Saat ia hendak mencium tangan Kavin, tiba tiba Rafello menahannya.
"Abang gue belum jadi orang tua. Jadi gak usah lo salim sama dia," ucap Rafello.
"Serah lo aja deh," ucap Ashel. Ia pun duduk di sebelah Ningrat.
"Gimana kabar kamu Shel? Kamu udah sehat kan?" Tanya Sarah. Ningrat dan Prabu mengerutkan keningnya.
"Memangnya Ashel kenapa?" Tanya Prabu.
"Riana gak papa grandpa," jawab Ashel cepat.
"Aku baik baik aja tante. Sehat wal afiat," ucap Ashel pada Sarah.
"Syukurlah. Tante sempat khawatir dengar cerita Rafello," ucap Sarah.
Ashel memejamkan matanya. Rafello ember sekali.
"Kamu kenapa Riana?" Tanya Prabu.
Ashel menghela nafasnya. "Maaf grandpa, Riana gak bilang dari kemarin karena Riana takut kalian khawatir. Kemarin Riana cekcok sama temen di sekolah. Tapi gak papa kok," jelas Ashel.
"Cek cok bagaimana?" Tanya Prabu meminta penjelasan.
Saat Ashel hendak menjawab pertanyaan kakeknya, Rafello lebih dulu menyahut.
"Dia di bully di sekolah opa. Bahu kanannya disiram kuah bakso panas. Tapi, Fello udah jamin kok mereka gak bakalan bully Ashel lagi," ucap Rafello.
"Astaga Riana! Kenapa kamu gak bilang? Tahu gitu gak grandma ijinin kamu ke Bandung," ucap Ningrat Khawatir. Ia pun refleks membuka kancing kemeja Ashel untuk melihat lukanya.
"Ih grandma, jangan. Malu," ucap Ashel.
"Grandma mau lihat lukanya," ucap Ningrat.
"Ningrat, istriku, hei," panggil Prabu.
"Apa sih mas?" Tanya Ningrat.
"Kasian Riana, disini banyak tamu." Ningrat baru tersadar. Ia pun melepaskan tangannya dari bahu Ashel.
"Maaf, grandma refleks."
"Iya," ucap Ashel. Sarah, Nata, Praja, dan Faraz hanya tertawa melihatnya.
"Kamu masih sama seperti dulu Ning, kalo lagi khawatir pasti aja langsung lakuim," ucap Nata.
"Aku bener bener kaget Nat. Bisa bisanya cucu ku ini menyembunyikan hal ini. Pantas waktu dia berangkat sekolah tasnya ia jinjing bukan di gendong," jelas Ningrat.
"Ya maaf. Kan aku gak mau buat kalian khawatir. Terlebih aku udah punya rencana mau ke Bandung. Kalo aku cepu soal di sekolah bisa bisa aku gak jadi ke Bandung," ucap Ashel.
"Memangnya ada hal penting apa nak? Sampai sampai kamu harus ke Bandung?" Tanya Nata.
"Kangen ayah sama bunda aja. Pengen lihat mereka secara nyata gitu. Gak lewat panggilan video," ucap Ashel.
"Kamu pasti cape ya?" Tanya Ningrat.
"Gak terlalu kok," ucap Ashel.
"Ya sudah kamu bersih bersih sana. Nanti turun lagi kita makan sama sama ya," ucap Ningrat. Ashel pun mengangguk dan pamit ke lantai atas menuju ke kamarnya.
"Aku tinggal ke belakang ya, mau siapin makan malam," pamit Ningrat.
"Aku ikut Ning," ucap Nata.
"Ajak Sarah juga dong ma," ucap Sarah pada Nata. Ningrat pun meengangguk. Mereka bertiga pun berjalan meninggalkan ruang tamu.
Kini tersisa Prabu, Praja, Faraz, Kavin dan Rafello.
Sebenarnya Rafello sudah bosan dengan pembahasan para orang tua ini. Abangnya mengerti bisnis, jadi ia ikut nimbrung.
"Oh iya nak Kavin, bagaimana tentang produk baru yang akan segera launching?" Tanya Prabu.
"Semuanya berjalan lancar. Persiapannya sudah hampir selesai. Mungkin dalam waktu dekat ini akan segera meluncur," ucap Kavin.
"Bagus. Kamu sangat hebat. Di usia yang masih terbilang muda, kamu sudah mengepakan sayap diatas kaki sendiri," puji Prabu.
"Anda terlalu memuji. Semua ini berkat bantuan papa dan kakek juga anda," ucap Kavin.
"Oh iya? Apa kau sudah memiliki kekasih? Ku lihaat selama ini kamu selalu kemana mana sendiri," ucap Prabu.
"Dia terlalu sibuk di kantor sampai sampai tidak ada waktu mencari pendamping hidup," sindir Faraz.
Prabu hanya tertawa mendengarnya.
"Itu benar. Mungkin aku harus menjodohkannya saja," ucap Praja.
"Menurut mu bagaimana Prabu? Apa kau ingat saat kita masih kuliah dulu?" Tanya Praja. Prabu mengernyitkan keningnya.
"Sudah ku duga kau pasti melupakannya. Apa perlu ku ingatkan?" Tanya Praja.
"Mungkin iya. Memangnya apa?" Tanya Prabu.
"Sebaiknya kita membicarakan ini nanti saja di kantor. Supaya lebih nyaman," ucap Praja. Sejak tadi Kavin dan Rafello menyimaknya. Kavin menjadi penasaran, sebenarnya ada apa antara keduanya.
"Idih, para opa disini so misterius," ucap Rafello. Kavin menyenggol tangan Rafello.
"Apa sih bang?" Tanya Rafello.
"Jaga sikap lo. Ini bukan di rumah kita," bisik Kavin.
"Ya elah bang," ucap Rafello.
Sedangkan di dapur, para ibu ibu sedang sibuk bergosip sejak tadi. Banyak sekali yang mereka bahas. Entah itu mengenai barang branded atau tentang gosip yang sedang hangat.
"Oh iya Nat, Sarah," ucap Ningrat.
"Kenapa Ning?".
"Kenapa Bu?" Tanya Sarah.
"Memangnya benar Kavin belum punya pasangan? Aku melihatnya di berita tadi," ucap Ningrat.
"Ya begitulah bu, aku juga sudah kesal sebenarnya anak itu masih saja sendiri. Padahal dia sudah mapan tapi masih belum juga punya pasangan," jelas Sarah.
"Ya sabar aja lah, mungkin anak kamu belum nemu yang cocok," ucap Nata.
"Bisa jadi sih itu. Kan kita gak tahu juga kriteria Kavin seperti apa," ucap Ningrat.
Sarah nampah berfikir. "Aku sih setuju banget kalo Kavin milih Ashel," ucap Sarah membuat Ningrat menghentikan kegiatannya.
Tbc.
lanjut thor semangat terussss