Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.
Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 – Ujian Dari Senopati (2)
Baik bagi Surodipo maupun si Topeng Bagong lebih berusaha menyerang lawannya dengan pukulan-pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga dalam tinggi. Ledakan-ledakan gegap gempita terjadi memeriahkan malam dingin yang sepi di Mataram tersebut, tapi anehnya tidak ada seorang pun yang terbangun untuk menghampiri ataupun menyaksikan pertempuran kedua orang ini. Hingga tak terasa belasan jurus pun sudah berlalu ketika tiba-tiba si Topeng Bagong melemparkan lima bilah pisau kecil yang merupakan senjta rahasianya.
“Hiiiaaahhh!” Surodipo membentak nyaring, tubuhnya berkelebat secepat kilat, kedua tangannya dengan sigap dapat menangkap kelima pisau yang dilemparkan si Topeng Bagong!
“Ini kukembalikan kontan dengan bunganya!” bentak Surodipo sambil melemparkan kembali lima bilah pisau si Topeng Bagong beserta tiga biji mutiara setan yang menyasar delapan anggota tubuh manusia misterius tersebut. Si Topeng Bagong kebutkan kedua tangannya yang mengeluarkan angin deras mengandung tenaga dalam tinggi
hingga kelima pisaunya yang dikembalikan oleh Surodipo rontok semuanya, tinggalah tiga butir mutiara setan yang tak dapat dihalau oleh pukulan tenaga dalamnya.
Tapi rupanya ilmu meringankan diri si Topeng Bagong ini sungguh luar biasa, ia menggenjotkan kakinya lalu bersalto di udara bagaikan sebuah daun kering yang tertiup angin untuk menghindari serangan maut senjata rahasia milik Surodipo yang ia warisi dari Ki Suryo Alam, ketiga mutira setan tersebut lewat dan menancap di sebatang pohon di belakang manusia misterius ini.
“Siapa kamu?! Berani masuk ke halaman majikanku!” bentak Surodipo yang akhirnya baru mendapatkan kesempatan untuk bertanya setelah sedari tadi si Topeng Bagong terus mencecarnya hingga belasan jurus.
Si Topeng Bagong pun tertawa bekakan sebelum menjawab pertanyaan dari Surodipo tersebut, suaranya berat dan dalam, bagaikan berbicara dari lobang sumur yang teramat dalam. Jelaslah orang ini menyamarkan suaranya menggunakan tenaga dalamnya yang sangat tinggi. “Hahaha… Kau tidak pantas untuk tinggal di Bumi Mataram ini! Sekarang juga angkat kakimu dari sini!”
Surodipo berdecih mendengar ejekan si Topeng Bagong tersebut. “Yang berhak memutuskan aku untuk tinggal atau pergi dari sini adalah Gusti Senopati. Aku sudah mendapatkan izin dari Gusti Juru Mertani untuk menunggu keputusan itu.”
Kembali suara tawa si Topeng Bagong yang aneh terdengar. “Hehehe… Bohong! Ki Juru tidak pernah gegabah untuk mengizinkan tinggal orang yang belum kenal asal-usulnya seperti kamu! Sekarang juga kau harus minggat dari Bumi Mataram!”
Kini giliran Surodipo yang tertawa mengkehkeh sambil bersidekap. “Hehehe… Tidak sobat! Aku tidak akan pergi!”
“Kau punya hak apa untuk berani menolak perintahku?!”
“Aku punya tekad untuk mengabdi kepada Gusti Senopati dan negeri Mataram sesuai dengan amanat Guru dan Almarhum Ayahku! Apapun tantangannya!” tegas Surodipo.
Pemuda ini kemudian menunjuk batang hidung si Bagong sambil menyeringai. “Aku tahu, kau pasti mempunyai maksud tertentu untuk menghalangi aku!”
“Kurang ajar! Berani kau menghina Wong Mataram?!” si Topeng Bagong langsung angkat tangan kanannya ke atas, tangan kanannya langsung memancarkan cahaya merah membara yang teramat panas.
“Aji Lebur Saketi!” ucap Surodipo yang mengenali ajian yang akan dikeluarkan oleh si Topeng Bagong tersebut, maka ia pun melakukan hal yang sama dengan si Topeng Bagong yakni bersiap memanggil Ajian Lebur Saketi.
“Heeeaaah!” Surodipo membentak nyaring seraya mendorongkan tangan kanannya ke muka, si Topeng Bagong pun melakukan hal yang sama. Dari kedua tangan kanan mereka masing-masing, menderulah sinar merah yang teramat panas disertai gelombang angin topan yang juga teramat panas untuk kemudian saling memapasi di udara!
Jelleeggeerrr!!! Satu ledakan dahsyat yang mengguncang bumi di sekitarnya terjadi, percikan-percikan bunga api berterbangan ke mana-mana membakar rumput-rumput dan daun kering!
Surodipo terjajar tujuh langkah ke belakang, sementara si Topeng Bagong hanya terjajar empat langkah ke belakang. Surodipo segera mengatur nafasnya yang tersenggal dan menyalurkan tenaga dalamnya ke dadanya yang berdenyut sakit, telapak tangan kanannya pun terasa panas dan nyeri seperti di tusuk-tusuk jarum, sementara si Topeng Bagong nampak tak kekurangan suatu apapun juga, dia malah tertawa mengkehkeh.
“Cuma segini ilmu andalanmu? Aku heran kalau Ki Juru Mertani memberimu izin menginap disini kepadamu Hehehe… Kalau kau masih punya ilmu andalan, ayo segera keluarkan!”
“Baik… Baiklah…. Kalau kau memaksa!” Jawab Surodipo yang langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, dari kedua tangannya nampaklah cahaya biru pekat yang diserta kabut putih, sontak udara di sekitar mereka berubah menjadi dingin, rupanya ia mengeluarkan ajian inti es yang bernama Ajian “Rajah Penyangga Langit” yang diwarisinya dari Kyai Suryo Alam.
“Nah ini… Ini sudah mulai serius!” ucap si Topeng Bagong yang juga mengangkat kedua tangannya ke atas, dari kedua tangannya nampaklah percikan-percikan cahaya kilat berwarna perak yang teramat panas, suaranya menggemuruh bagaikan suara petir di angkasa. Nampaklah si Topeng Bagong ini mengeluarkan ajian yang sangat
dahsyat yang merupakan warisan turun temurun dari Ki Ageng Selo yakni ajian “Gelap Ngampar”.
Lagi-lagi terdengar suara bentakan dari kedua orang tersebut, dari tangan Surodipo menderulah sinar biru yang teramat dingin disertai pusaran angin topan yang juga teramat dingin, sementara dari tangan si Topeng Bagong menderu sebuah halilintar raksasa berwarna perak yang teramat panas yang menggelegar bagaikan petir menyambar!
Duuaarrrrr!!!!! Kembali suara ledakan dahsyat terjadi bagaikan suara tembakan meriam! Langit seolah robek! Bumi di sekitar mereka berguncang hebat! Nampak embun yang berubah seolah menjadi gerimis diantara tempat beradunya kedua pukulan sakti tersebut sebagai akibat beradunya pukulan berinti hawa dingin yang menghamparkan udara sangat dingin dan pukulan inti api berwujud halilintar yang menghamparkan udara yang sangat panas, ketika keduanya beradu di udara maka munculah percikan-percikan air seolah hujan gerimis.
Surodipo terlempar jatuh terduduk tujuh langkah kebelakang kemudian terbatuk-batuk mengeluarkan darah, dengan jantung berdenyut sakit dan nafas tersenggal, telapak tangannya terasa amat panas sakit seolah ditusuk-tusuk paku.
Begitu pula si Topeng Bagong terlempar jatuh terduduk tujuh langkah kebelakang dengan jantung berdenyut sakit dan nafas tersenggal, cairan asin yang merah sedikit mengalir dari sela-sela mulutnya,kedua tangannya terasa kebas dan mati rasa oleh hawa dingin yang luar biasa, sekujur bajunya nampak basah oleh percikan air gerimis dari embun dingin yang menjadi air daru Aji Rajah Penyangga Langit.
“Bagus… Bagus… Di mataku hanya Ajian Rajah Penyangga Langit itulah yang berarti…” ucap si Topeng Bagong setelah menormalkan denyut jantungnya dan mengatur nafasnya.
“Ikut aku!” perintahnya pada Surodipo setelah pemuda itu bangkit berdiri. Surodipo hendak bertanya tapi si Topeng Bagong keburu melesat secepat kilat meninggalkannya, maka mau tak mau ia pun mengejarnya, hingga ia melihat si Topeng Bangong mendaratkan kakinya di rumah Ki Juru Mertani.
Sesepuh Mataram ini nampak sudah berdiri di langkan rumahnya seolah sedang menunggu kedatangan si Topeng Bagong serta Surodipo. Senyum di wajahnya langsung merekah ketika Si Topeng Bagong dan Surodipo mendarat di depan rumahnya. Orang tua ini mengangguk-ngangguk dan mempersilahkan si Topeng Bagong masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya.
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
matur nuwun 🙏🌷
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali