NovelToon NovelToon
Mutiara Di Balik Lumpur

Mutiara Di Balik Lumpur

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:272.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arion Alfattah

Season 1

Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.



Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.

Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?

Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.

Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Pah, buruan bertindak, dong! Aku tidak mau wanita itu masih ada di sini." Sergah Eliza, datang menghampiri hotel yang di tempati Austin.

"Sabar dulu, Eliza. Papa lagi menyiapkan strategi untuk menculiknya. Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak. Santai namun aman." Balas Austin sambil berpikir cara menangkap wanita yang tidak di sukai Eliza sesekali menyesap rokok yang tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengah.

"Ya, tapi kapan? sudah satu hari belum juga beraksi. Lama-lama aku kesel sama Papa, bukannya membantu malah menghabiskan uangku," gerutu Eliza merasa terbebani oleh Papanya.

Austin mendelik tajam pada Eliza. Dia merasa tidak di hargai oleh anaknya sendiri. Entahlah, sifat Eliza begitu keras sampai dia dan Elena tidak mampu membuat Eliza menurut.

Eliza yang di tatap tajam seperti itu tak sedikitpun gentar ataupun takut. Dia malah berbalik menatap tajam. "Ngapain Papa menatapku seperti itu?"

"Anak durhaka, kalau kau tidak nurut sama Papa, Papa tidak akan membantumu menculik wanita yang kau benci!" pungkasnya mengancam.

"Ck, ok, ok, Eliza akan nurut. Tapi, Papa harus bertindak sekarang! Aku sudah menyiapkan rencananya."

Austin mematikan rokoknya di asbak. "Apa rencanamu?" pada akhirnya Austin kalah dengan perintah Eliza.

"Aku sudah mencari pria yang akan menjadi pelanggan pertama. Dia menghargai wanita itu 5000 dolar dalam satu malam."

"Baiklah, Papa ikuti perintahmu."

***********

"Kalian pulanglah ke Amerika serikat! Ibu takut Austin sudah mulai beraksi." Ujar Rebecca menggenggam tangan Bian menatap penuh khawatiran.

"Benar, Bian. Jangan biarkan mereka menyakitimu. Meskipun kau memasang bubuk arang hitam, mereka akan menangkapmu karena mereka pasti mengenalimu sebagai Bian Almeta," sahut Abraham.

Bian menatap ke arah Nathan, dia meminta persetujuan suaminya.

"Kita akan pulang sekarang juga. Tapi, aku dan Sean ingin bermain dulu dengan mereka." Nathan menatap Bian lalu beralih menatap Sean dengan tatapan penuh makna.

"Kau jangan aneh-aneh, Nathan! Jangan kau permainkan pernikahan kalian meskipun hanya bermain dengan Eliza," sahut Meta tidak ingin Nathan berbuat hal gila.

"Mama yang jangan aneh-aneh! Aku ataupun Sean tidak akan melakukan hal sekotor itu dengan Eliza."

"Kalian tenang saja, ini hanya sebuah jebakan yang akan Nathan mainkan. Dan, kami membutuhkan Bian tanpa pewarna hitam," timpal Sean.

"Tidak! Daddy tidak mengizinkan Bian terlibat dalam urusan yang kalian buat!" Daniel menyauti dan menolak tegas ide Sean.

"Ck, Dad. Ini hanya permainan saja. Begini...@@@@@@@@" Sean menceritakan idenya dengan serius menatap silih berganti orang-orang yang ada di sana.

"Apa kau yakin akan berhasil?" tanya Abraham.

"Yakin! Nathan, kau hubungi Eliza dan ajak dia ketemuan di restoran!" kata Sean.

"Ck, kalau bukan demi Bian, mana ku mau di suruh oleh kau." Cebik Nathan mulai melakukan panggilan.

********

Eliza yang sedang dalam mobil pun mengangkat panggilan telponnya. Bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Sudah ku duga jika kau tidak akan bisa melupakanku."

"Hmmm halo, ada apa, Nathan?"

"Aku ingin bertemu denganmu di hotel Plaza. Bisakah kita bertemu? aku merindukanmu." Ucap Nathan di ujung telpon dengan suara serak seperti seseorang menahan sesuatu.

( Hotel? ini kesempatanku untuk menjerat Nathan dengan tubuhku agar dia semakin mencintai dan menggilaiku. )

"Ok, aku akan datang ke sana sekarang juga. Tunggu aku, sayang!" Eliza mematikannya.

"Pucuk di cinta ulampun tiba, Nathan masih mencintaiku dan ini kesempatan Papa untuk menculik benalu itu tanpa di ketahui olehnya."

"Ok, Papa akan melakukannya dengan apik. Tapi, sebelum di jual, Papa akan menyicipinya terlebih dulu," ucap Austin menyeringai.

"Ck, terserah kau saja."

*********

"Uuwooooo... rasanya ingin muntah bilang rindu pada wanita itu," gerutu Nathan.

"Masa? pasti kau senang akan bertemu dengan kekasih yang kau cintai dan menghabiskan waktu bersama." Celetuk Bian menyindir Nathan. Nathan menoleh ke samping, sudut bibirnya terangkat sedikit tersenyum usil.

"Kenapa? kau cemburu? hmmm pastinya aku akan menghabiskan waktu ber..." belum juga selesai bicara, Bian sudah menyela ucapannya.

"Tidur di luar dan tidak ada jatah untuk satu Minggu kedepan!" sergah Bian memberenggut kesal.

Sean yang ada di sana mengulum senyum supaya tidak tertawa melihat raut wajah Nathan yang terkejut.

"Jangan gitulah, aku tidak bisa sehari tanpa menyentuhmu. Kau bagaikan candu untukku." Nathan gelagapan, dia merasa Bian sudah menjadi kewajiban saat malam.

"Sudah, sudah! Sekarang kita ke posisi rencana. Kau dan Bian disini sampai Eliza tiba. Lalu, Nathan pura-pura memilih Eliza dan pergi ke kamar yang ku maksud, dan Bian ke kamar kalian. Aku yakin Eliza dan Austin datang bersama dan aku yakin Austin akan mengikuti Bian," ucap Sean.

Sedangkan para orang tua sudah standby di tempat mereka untuk memantau pergerakan musuh. pasangan Abraham dan Meta menunggu di lobby hotel, pasangan Daniel dan Rebecca menunggu tak jauh dari kamar Bian.

Drrrrrttttt...drrrrrttttt...

"Halo, Om."

"Mereka sudah sampai. Kau benar, Sean. Jika Eliza datang bersama seorang pria." ucap Abraham melihat Eliza turun dari mobil bersama Austin.

"Baiklah. Kita mulai sandiwara ini." Sean mematikan panggilannya menatap Nathan. "Kau siap?"

Nathan mengangguk.

"Semoga berhasil!" Sean menepuk-nepuk pundak Nathan dan satu tangannya menggenggam tangan Bian. Lalu berdiri dan mengecup sebentar pucuk kepala adik wanitanya. "Jaga dirimu, Dek. Kakak menyayangimu!"

***********

"Kau yakin Nathan meminta ketemuan di sini?" tanya Austin memastikan lagi. Dia begitu terperangah akan kemewahan hotel bintang lima itu.

"Yakin. Papa bersembunyi dulu, jika aku melihat benalu itu baru Papa bertindak!" kata Eliza sambil berjalan ke restoran yang di tuju.

"Ok."

"Itu Nathan." Eliza melihat Nathan bersama istrinya. "Kebetulan sekali ada dia juga. Sepertinya Nathan menyuruhku kesini untuk menunjukan jika akulah yang paling berharga. Lihat saja raut wajah wanita itu begitu menyedihkan dan sepertinya mereka sedang bertengkar."

"Cantik sekali. Kau kalah cantik."

"Ck, bukan saatnya memuji benalu itu, Papa tunggu, duduk di sini! Kalau wanita itu pergi, ikuti dia dan bawa dia ke Las Vegas!"

"Ok. Papa mengerti." Austin pun duduk di bangku agak jauh dari Nathan. Sedangkan Eliza melangkah anggun ke arah Nathan. Dan pergerakan mereka di perhatikan oleh Sean.

( Masuk jebakan Batman. ) batin Sean menyeringai.

"Nathan, aku merindukanmu." Ucap Eliza memeluk Nathan secara tiba-tiba dan juga mengecup pipinya di depan Bian.

Nathan terbelalak, dia melihat mata Bian yang sudah tidak bersahabat. ( Jangan marah, ini hanya sandiwara. )

"Hehehe a-aku juga merindukanmu, Eliza." jawab Nathan gugup seraya melepaskan pelukan Eliza. Eliza tersenyum lalu duduk di dekat Nathan.

"Jadi kau masih mencintainya?" tanya Bian kecewa.

Nattan mengernyit. ( Kenapa jadi bahas ini? tadi tidak seperti ini skenarionya?) batin Nathan heran.

"Aku masih mencintai Eliza. Kau memang istriku tapi aku tidak mencintaimu!" ucap Nathan serius.

"Istri yang tidak di anggap. Jika kau mencintainya lepaskan aku! Lebih baik aku mundur dari pada harus menjadi pemuas nafsumu saja." Bian berkata serius menatap kecewa dan tanpa di duga air matanya melesat membasahi pipi putihnya. Dia merasa jika Nathan memang mencintai Eliza dan dirinya hanyalah pelampiasan nafsunya saja.

"Kau dengar, Nathan mencintaiku. Lebih baik kau enyah dari sini!" usir Eliza.

Bian berdiri sambil menghapus kasar air matanya. "Ya, kau benar, lebih baik aku pergi daripada kehadiranku tak di inginkan." Bian pergi dari sana. Nathan menatap sedih, merasa Bian seperti bicara serius.

Eliza memberikan kode kepada Papanya dan di angguki oleh Austin.

Bersambung.....

1
Devi Novita
kyk dr Indonesia ke Amerika aja 19 jam 😂 kyknya pesawatnya bolak balik berhenti deh mknya 19 jam
juwita
mampir
Dyah Oktina
Luar biasa
Dyah Oktina
lah daddy sendiri datang k pusat pelacuran... bagaimana ngak memberi contoh... 🤭
Yanti Yanti
Luar biasa
Indah Maya Sari
orang tia serakah .. seperri hartax dia bawa mati saja, 🤭
Putri Minwa
Dibalik kesetiaan Nayla mampir ya thor
Def-rehanQu
lanjut
Daniela Whu
jangan" bapkx kandung x bian ini
Unknown
Nevada itu Amerika Thor hahaha, lu kira Nevada itu Meksiko
Unknown
apa bedanya las Vegas sama Amerika serikat Thor 🥴🥴🤣🤣 soalnya las Vegas juga USA
Ashraf Syafikah
wow banyaknyaaaa
Novianti Ratnasari
harus nya Anggelia jangan.mau melakukan hubungan suami istri klw blum nikah
Novianti Ratnasari
kaya nya kekasih nya Sean lg hamil ank orang
Novianti Ratnasari
cinta belum kelar
Novianti Ratnasari
knp ya laki2 pd takut am kecoa ketimbang tikus.
Novianti Ratnasari
tinggal Sean yg nikah am Mila
Novianti Ratnasari
Billi keren
Novianti Ratnasari
jangan2 Aiden mantan nya Nathan
Novianti Ratnasari
gila si Austin.bukan nya menjaga dn melindungi istri ini malah di jadikan pelacur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!