NovelToon NovelToon
Read Zone

Read Zone

Status: tamat
Genre:Patahhati / Permainan Kematian / Teen School/College / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Litlerose

Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.

Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.

Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.

Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan?

​"TES! SATU, DUA! MANA SUARANYA ANGKATAN 25?!"

​Suara Fadhil menggelegar lewat pengeras suara, saking kencangnya sampai bikin dada ikut bergetar. Anak itu memang energinya nggak ada habisnya. Dia lari dari ujung panggung kiri ke kanan sambil melambaikan tangan, benar-benar membakar semangat pagi itu.

​Tapi, Fadhil belum puas melihat lapangan yang belum penuh.

​"Masih kurang keras!" teriaknya lagi sambil menunjuk ke arah stan bazar yang masih ramai. "WOY! YANG DI BAZAR! TINGGALIN DULU SOSIS BAKARNYA! SINI KUMPUL!"

​Fadhil berhenti tepat di tengah panggung. Wajahnya yang biasanya cengengesan tiba-tiba berubah serius. Tatapannya menantang semua orang yang ada di sana.

​"Gue serius nih. Masuk ke bawah terop utama sekarang! Rapatkan barisan ke tengah! Soalnya, gue punya 'Kejutan Spesial' yang cuma bisa dilihat kalau kalian ada di dalam sini. Kalau kalian masih di luar, gue jamin bakal nyesel seumur hidup!"

​Namanya juga manusia, kalau sudah ditantang begitu pasti penasaran, kan?

​Satu per satu siswa mulai meninggalkan jajanan mereka. Gerombolan demi gerombolan mulai memadat ke tengah lapangan, tepat di bawah tenda raksasa. Bahkan para guru dan tamu VIP yang tadinya asyik mengobrol pun ikut mendongak, menunggu ada apa gerangan.

​"Oke! Semua udah masuk? Udah rapet kayak sarden?" tanya Fadhil memastikan.

​"UDAAAH!" jawab ribuan siswa serentak.

​Fadhil tersenyum miring, senyum penuh arti. Dia lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.

​"Kalau gitu... mari kita matikan mataharinya."

​Tak. Fadhil menjentikkan jarinya.

​Seketika itu juga... SREEET! BRUK!

​Gulungan kain hitam tebal yang ternyata sudah disiapkan di sisi-sisi atap tenda, jatuh serentak ke bawah. Kain-kain raksasa itu menutup rapat semua celah cahaya matahari. Dalam sekejap mata, lapangan yang tadinya terang benderang berubah menjadi gelap gulita.

​Bersamaan dengan itu, lampu panggung pun mati total.

​"Waaaah!"

"Eh, kok gelap?!"

"Kejutan apa, nih?!"

​Kepanikan kecil mulai terdengar. Suasana berubah drastis menjadi mencekam. Rasanya persis seperti kita berada di dalam bioskop raksasa yang pintunya baru saja dikunci rapat-rapat. Gelap, hening, dan bikin deg-degan.

​Di tengah kegelapan itu, suara Fadhil kembali terdengar. Tapi kali ini nadanya rendah dan dingin, bikin bulu kuduk merinding.

​"Selamat datang di pertunjukan utama," bisiknya lewat speaker. "Silakan nikmati... kebenarannya."

​BEEP.

​Layar videotron raksasa di belakang panggung tiba-tiba menyala. Cahaya putihnya yang menyilaukan menjadi satu-satunya penerangan di sana, memaksa ribuan pasang mata untuk terpaku menatap layar itu.

​Dan video pun dimulai.

Layar raksasa itu mulai menampilkan gambar.

​Bukan, itu bukan sekadar gambar yang diam. Itu sebuah rekaman video. Bukan video profil sekolah yang membanggakan, apalagi dokumentasi pentas seni yang meriah.

​Sebuah rekaman yang terlihat agak goyang, sepertinya diambil sembunyi-sembunyi dari celah yang sempit. Di sana, terlihat lorong belakang sekolah yang sepi. Dua siswi tampak terpojok di dinding, ketakutan setengah mati. Siapa pun pasti langsung mengenali mereka.

"Hah? Itu... Itu bukannya Manda sama Sarah?"

"Iya, betul, itu mereka!"

​Di hadapan mereka, ada tiga orang kakak kelas laki-laki bertubuh besar yang berdiri di depannya. Mereka mendorong-dorong bahu Manda dengan kasar.

​"Jangan belagu lo berdua! Lo pikir lo siapa berani audit dana?!" bentak salah satu kakak kelas itu dengan garang.

"Ampun, Kak... Kami cuma jalanin tugas..." ​Sarah menangis gemetar sambil memeluk tasnya erat-erat.

​"Tugas mata lo! Mundur dari jabatan sekarang atau habis lo pulang sekolah!"

​Belum sempat rasa kaget penonton hilang, videonya berganti lagi. Kali ini lokasinya di area parkir guru yang sepi.

​Tiga kakak kelas yang tadi mem-bully Sarah dan Manda, sekarang terlihat berdiri menunduk hormat. Di depan mereka, ada seorang pria dewasa yang menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.

​Saat pria itu berbalik, wajahnya tersorot jelas oleh kamera.

Beberapa siswi langsung menutup mulut tak percaya.

"Itu... Itu Pak Dimas?"

"Jangan bilang kalau.."

Dalam video, ​Pak Dimas tersenyum puas sambil menepuk bahu si pembully tadi.

"Kerja bagus. Pastikan mental mereka hancur. Jangan sampai mereka berani pegang proposal lagi."

​Seketika, lapangan itu hening. Benar-benar sepi. Saking sepinya, rasanya tidak ada satu pun orang yang berani bernapas. Bahkan Bapak Kepala Sekolah yang duduk di barisan VIP sampai ternganga, matanya membelalak tak percaya melihat kelakuan guru kepercayaannya.

​Di kursinya, Pak Dimas membeku. Wajahnya pucat pasi. Dan tangannya mencengkeram lengan kursi begitu kuat.

​Tapi teror itu belum selesai. Video kembali berganti. Dan ini yang paling mengerikan.

​Kualitas gambarnya sangat jernih, diambil tepat di dalam ruang Pembina OSIS.

​Di layar, terlihat Sarah dan Manda duduk di kursi sambil menunduk dalam-dalam. Pak Dimas berdiri menjulang di depan mereka. Wajah ramah yang biasa ia pamerkan lenyap sudah, digantikan oleh ekspresi dingin dan kejam yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.

​Tiba-tiba...

BRAK!

​Pak Dimas membanting sebuah map ke meja dengan keras.

​"Dengar baik-baik, kalian tanda tangani laporan fiktif ini, atau kalian keluar dari sekolah ini dengan catatan hitam." Suara Pak Dimas menggema jernih lewat sound system, membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.

​Sarah mencoba mendongak, wajahnya basah oleh air mata. "T-tapi Pak... ini salah... kami... kami takut..."

​Tanpa ampun, Pak Dimas mencengkeram dagu Sarah dengan kasar, memaksanya mendongak.

​"Takut?" Pak Dimas tertawa. "Kalian harusnya lebih takut sama saya. Kalau kalian berani buka mulut ke siapa pun... saya pastikan bukan cuma nilai kalian yang hancur."

​Pak Dimas mendekatkan wajahnya. ​"Kalian bisa celaka. Kecelakaan motor, keracunan makanan... siapa yang tahu? Nyawa kalian taruhannya kalau berani melawan saya. Paham?!"

​Layar videotron itu mendadak mati.

​Hening lagi.

​Satu detik berlalu.

Dua detik.

​Tiba-tiba, sebuah lampu sorot tunggal menyala terang dari atas panggung, menembak lurus ke arah barisan tamu VIP.

​Cahaya itu tidak menyorot ke Bapak Kepala Sekolah. Tidak juga ke Ketua Yayasan.

​Cahaya putih terang itu jatuh tepat di satu titik.

​Menyorot Pak Dimas yang kini duduk gemetar hebat dengan keringat dingin membanjiri wajahnya.

​Pak Dimas menoleh panik ke arah kiri, berniat kabur.

​Tapi di pintu keluar kiri, Satria sudah berdiri bersedekap bersama anggota geng nya. Rahang mereka terlihat mengeras menahan amarah. Di belakangnya, berbaris puluhan anggota OSIS laki-laki kelas satu dan dua.

​Pak Dimas buru-buru menoleh ke kanan.

​Sama saja. Di pintu keluar kanan, Fitri, Ani, Resti, Talita, dan beberapa anggota OSIS yang cewek sudah berdiri memblokir jalan. Mereka menatap Pak Dimas dengan pandangan jijik dan marah.

​Dia terkepung. Benar-benar terkepung.

​Di tengah ketegangan itu, terdengar suara Fadhil dari pengeras suara.

​"Gimana filmnya, Pak? Ending-nya bagus, kan?"

-BERSAMBUNG

1
icaaaa
😭
Vena
Masih sempet" nya ya
Vena
Awal yang menyedihkan tor
Vena
Tuh kannnnn
Vena
Hmmm seperti ada firasat buruk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!