Reyna gadis yang sederhana tidak pandai bergaya dan tak banyak teman. Dia hidup bersama ayahnya yang sangat dicintainya. Kegiatan sehari-harinya menjual nasi uduk dan macam-macam gorengan untuk membantu ayahnya agar tidak terlalu lelah bekerja sendian mencari nafkah. Namun sebuah kejadian tragis menimpah ayahnya. Kecelakaan itu tak dapat dihindarkan. Ayah Reyna sekarat dan pria rentah itu sangat mengkhawatirkan putri sulungnya itu. Ia tidak bisa pergi tenang meninggalkan putrinya sendirian. Ayah Reyna meminta Pram bertanggung jawab telah menabraknya dengan menikahi putrinya. Ancaman dari ayah Reyna membuat Pram terpaksa menikahi gadis yang tidak ia cintai.
Pernikahanpun terjadi namun hanya pernikahan di atas kertas. Kedua tidak saling mencintai. Pertengkaran selalu mewarnai pernikahan mereka. Pram selalu bermain dengan banyak wanita. Sedangkan Reyna selalu merasa kesepian. Perlahan cinta itu hadir diantara keduanya. Namun pengkhiatan datang menjadi malapetaka. Bisakah mereka mempertahankan rumah tangga yang baru saja memutik? Apakah Reyna akan menemukan kebahagian dalam pernikahannya? Apakah Pram mau menerima Reyna sebagai istrinya? Dapatkah keduanya menciptakan cinta kembali dalam pernikahan mereka? Yuk ikutin kisah Reyna & Pram menyusuri lautan Pernikahan Di Atas Kertas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Etrora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak siapa?
Kamu dimana? Aku bersama Shera. Mau aku jemput?
Reyna melirik Pram yang ada di sebelahnya setelah membaca pesan dari Tama. Cukup lama ia memandang. Ia sedikit takut mengatakan pada Pram jika Tama akan menjemputnya.
"Suruh saja dia jemput. Tidak perlu menghiraukan saya" ucap Pram menyadari keraguan wanita di sampingnya.
"Kenapa kamu mau mengantarku pulang. Bukankah kamu membenciku?"
" Aku hanya takut saja kamu melakukan hal bodoh. Bunuh diri contohnya" jawab Pram sembari menatap Reyna sekilas.
"Kenapa kamu takut?"
"Banyak tanya. Kamu mau turun dimana?" tanya Pram mengelak.
"Di dekat halte depan" Reyna menarik nafas pendek seraya meluruskan duduknya.
Selang 5 menit, Pram menghentikan mobilnya tidak jauh dari halte.
"Kamu membuatku kehilangan pekerjaan dan aku sangat marah sama kamu tapi aku akan tetap berterima kasih karena kamu mau mengantarku kesini. Terima kasih, Pram "
"Tunggu" cegat Pram menutup kembali pintu mobil yang baru saja dibuka Reyna.
Seketika Reyna langsung berbalik membuatnya tidak sengaja menabrakkan bibirnya yang sudah lama tidak tersentuh ke bibir sensual Pram. Hal itu membuat keduanya canggung dan salah tingkah.
"Hmm kenapa? Ada apa?" tanya Reyna terbata-bata.
"Selamat untuk pernikahan kamu"
Dahi Reyna mengernyit refleks.
"Menikah?"
"Iya, selamat untuk pernikahan kamu dengan Tama. Shera anak kaliankan? Dia anak yang sangat cantik" ujar Pram menahan deburan di dadanya. Berat baginya mengatakan ini. Tapi bagaimanapun sekarang ia harus menyadari sesuatu. Masanya dengan Reyna sudah berakhir. Sekarang Reyna sudah memiliki kehidupan yang baru. Dab kini gilirannya untuk memulai kehidupan yang baru.
"Pram, aku tidak....."
Tok tok tok
Terdengar ada seseorang mengetuk kaca mobil dari luar. Reyna pun tidak sempat menyelesaikan ucapannya. Dan ternyata orang itu Tama. Mata Tama melotot tajam begitu menyadari orang yang mengantar Reyna ialah Pram. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Ia mulai muak melihat Pram kembali hadir di hidup Reyna.
"Kenapa kalian bisa sama-sama?" tanya Tama dengan mimik kesalnya.
"Tama ceritanya panjang..."
"Kalau begitu persingkat saja" sambar Tama tak sabar.
"Shera di mobilkan? Tama, kita pulang saja ya. Aku akan jelasin di mobil. Ayo" Reyna menarik lengan keras Tama agar mengikutinya.
Pram berdiri mematung di tempatnya merasa dejavu dengan situasi tadi. Situasi dimana ia pernah berada di posisi itu dan sekarang ia cukup puas melihat keadaan Tama. Pram menggelengkan kepalanya tak percaya dengan pikiran liciknya saat ini. Ia merasa perannya berubah antagonis sekarang. Dulu ialah tokoh yang tersakiti. Dan mungkin sekarang ialah tokoh yang akan menyakiti. Pram berdecak gelisah. Reyna selalu berhasil membuatnya tertarik dan tenggelam dalam lautan perasaan yang membingungkan. Kata-kata Reyna yang mengatakan jika ia membencinya membuat Pram berpikir keras. Mungkin cintanya yang tersisa membuatnya benar-benar akan menjadi tokoh antagonis. Karena sekarang ia ingin memiliki Reyna kembali.
"Kamu sudah gila, Pram" gumam Pram tersenyum miring. Ia memandang nanar mobil yang membawa Reyna menghilang. Ada rasa perih di hatinya melihat Reyna pergi bersama pria lain. Pria yang sudah menghancurkan mahligai pernikahannya.
...-------------------...
"Kenapa kamu bisa bersamanya?"
"Aku dipecat. Aku bingung dan aku gak lihat ada mobil di depanku. Tapi untungnya ada Pram. Terus nawarin ngantar aku pulang"
"Apa kamu mengatakan yang sebenarnya? Bisakah aku percaya dengan yang kamu katakan? Kenapa kamu bisa dipecat?" tanya Tama beruntun. Ia tidak bisa percaya begitu saja. Ia melihat ada kebohongan dari sorot mata Reyna.
Hahhh
Reyna membuang nafas lelah. Matanya mengelas malas.
"Tama, sudahlah gak usah diperpanjang..."
"Kamu tidak bisa menganggap semuanya sepeleh, Reyna. Selama ini aku sudah cukup sabar sama kamu. Selama 6 tahun ini aku..."
"Aku tidak menganggap ini sepeleh. Aku tidak pernah meminta kamu sabar menungguku" potong Reyna terbawa emosi. Ia bosan setiap bertengkar, Tama selalu mengunkit hal yang sama.
"Apa? Kenapa kamu bicara begitu?" ucap Tama kecewa. Matanya berbinar seiring dadanya yang terasa sesak.
Reyna memejamkan mata sebentar untuk meredam emosinya. Ia tidak bermaksud mengatakan itu. Biar bagaimanapun Tama yang selama ini menemaninya di masa-masa sulitnya terutama saat ia mengandung Shera. Tapi ia tidak bisa membohongi hatinya. Ia sudah berusaha mencintai Tama tapi tetap saja ia tidak menghilangkan jejak Pram di hatinya. Nama itu masih tertanam kokoh disana.
"Tama, maafin aku" ucap Reyna menggapai tangan pria di depannya.
"Aku mau pernikahan kita dipercepat. Dan kamu jangan coba-coba mengundurkannya lagi" kata Tama tegas.
Tama menutup kuat pintu mobilnya berlalu pergi dengan perasaan marah. Mata Reyna mengerling memandang sembarang. Situasi membingungkan ini membuatnya semakin penat. Di tambah lagi sekarang ia sudah kehilangan pekerjaannya. Bagaimana mengatakan pada Tama bahwa ia belum mencintainya. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan kebaikan Tama selama ini padanya.
...---------------...
Tok tok tok
Reyna segera bergeges ke daun pintu. Ia dan Shera sudah siap.
"Kamu sudah siap?" tanya Tama begitu pintu terbuka.
Reyna tidak mau masalahnya dengan Tama berlarut-larut. Karena itu ia mengajak Tama pergi berlibur ke wahan Fantasi Anak bersama Reyna sebagai permintaan maaf atas ucapannya semalam.
"Shera sayang ayo kita pergi" ajak Tama riang seraya menggendong tubuh kecil Shera.
"Ok" balas Shera menggemaskan
"Tunggu bentar" Reyna merogoh ponselnya yang berdering.
📞 Hallo bu Farah"
Reyna memandang Tama lama setelah Farah mematikan sambungan telpon. Ia tidak berani mengatakan kalau ia harus berangkat kerja sekarang karena Farah mantan bos nya memintanya untuk datang ke toko.
"Tama...hmm"
"Ada apa? Kenapa muka kamu gitu? Katakan ada apa?"
"Sepertinya aku tidak bisa ikut. Bu Farah barusan telpon. Dia memintaku bekerja lagi" jelas Reyna bimbang.
Dan akhirnya Reyna pergi bekerja. Sedangkan Tama dan Shera tetap pergi liburan sesuai rencana awal. Reyna tidak tahu jelas alasannya kenapa Farah memintanya bekerja lagi di toko. Sempat terbersit olehnya, ini ada kaitannya dengan Pram.
"Bukankah Pram membenciku. Dia yang meminta bu Farah untuk memecatku. Masa dia juga yang minta sama bu Farah agar menerimaku lagi. Kalau iya berarti sifat anehnya tidak berubah. Awas saja kalau aku bertemu dengannya lagi" racau Reyna sembari mengecek masa kadarluarsa barang-barang di toko.
"Kalau ketemu lagi memangnya kamu mau ngapain saya" sambung Pram.
Kehadiran Pram yang tiba-tiba ada di belakangnya sontak membuat Reyna terperanjat.
"Astaga" ucap Reyna kaget. Tubuhnya refleks mundur ke belakang. "Kamu ngapain sih disitu?"
"Makanya kalau kerja itu fokus jangan ngomel. Saya mau beli ini. Berapa harganya?"
Pram meluruskan tangannya ke depan dan disambut tanpa ragu oleh Reyna.
"Saya tadi dengar suara di dekat kasir. Mungkin itu ponsel kamu?"
"Oh ya" sahut Reyna singkat. Ia pun langsung mengecek ponselnya. Dan benar saja ada puluhan panggilan tak terjawab dari Tama. Tanpa pikir panjang, Reyna mendial balik panggilan Tama.
📞 Reyna, aku minta maaf. Shera hilang" ucap Tama panik di ujung telpon.
Wajah Reyna berubah pucat pasih. Matanya berbinar cepat. Terlihat jelas kepanikan di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Pram.
"Pram, tolong anterin aku ke wahana Fantasi Anak" airmata Reyna mengalir begitu saja.
"Reyna, tenang dulu. Aku pasti nganterin kamu. Katakan dulu ada apa?" tanya Pram berusaha menenangkan Reyna.
"Shera hilang"
Mobil Pram melaju kencang menyusuri jalanan ibu kota yang tampak ramai meskipun jam makan siang sudah berlalu. Reyna yang duduk bersebelahan dengan Pram terus menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia berusaha menyembunyikan tangisnya yang tidak mau berhenti.
"Reyna kamu tenang ya. Shera pasti ketemu"
"Aku takut banget, Pram. Aku tidak mau kehilangan Shera"
"Reyna sini tangan kamu" Pram merekatkan jemarinya di sela-sela jari Reyna. "Saya janji sama kamu. Saya akan menemukan Shera" ucap Pram yakin.
Janji Pram membuat Reyna sedikit lebih tenang. Tangisnya tak sederas tadi. Reyna berusaha berpikir jernih dan meyakinkan dirinya kalau Pram akan menepati janjinya.
Begitu sampai di wahana Fantasi Anak, Reyna langsung menghambur keluar dari mobil tanpa menunggu Pram lagi. Ia berlari tanpa tujuan mencari Shera kemana saja.
"Shera kamu dimana sayang?" gumam Reyna khawatir. Ia mengedarkan matanya ke segala penjuru.
Kepada orangtua Shera Pramana Adyguna diharapkan segera datang ke area pintu masuk.
Petugas wahana mengulangi tiga kali kalimat yang sama melalui alat pengeras suara. Hanya berselang menit, Reyna dan Tama datang bersamaan ke area pintu masuk. Namun seketika Reyna dan Tama langsung terpaku begitu melihat Shera sudah ada dalam gendongan Pram.
"Shera sayang ayo kita pulang" ajak Tama sambil mengambil alih tubuh Shera dari pelukan Pram. "Reyna kamu juga pulang" sambungnya melewati Pram.
"Tunggu" cegat Pram menghampiri.
Suara berat itu membuat dada Reyna berdebar tak karuan. Ia gugup, deg degan, takut, semua bercampur menjadi satu membuat isi kepalanya terasa sangat penuh.
"Kenapa namanya Shera Pramana Adyguna?"
"Shera ayo kita pulang?" ajak Tama lagi. Ia tak nyaman dengan pertanyaan Pram.
"Kamu diam dulu. Jangan ikut campur" kecam Pram menunjuk tegas wajah Tama.
"Tama tolong bawa Shera pergi dari sini?" pinta Reyna memohon.
"Aku akan bawa Shera pergi tapi sama kamu..."
"Tama, please. Kali ini dengerin aku" potong Reyna geram dengan sikap Tama yang semakin posesif.
Tama pun menurut patuh begitu melihat pancaran sedih dari bola mata Reyna. Dengan berat hati ia meninggalkan Reyna bersama Pram.
"Shera anak siapa?" tanya Pram tak sabar menunggu jawaban Reyna. Ia penasaran kenapa Reyna mengambil nama belakangnya sebagai nama lengkap Shera.
"Pram sudahlah"
"Hei kamu jangan coba-coba mempermainkan saya lagi. Kenapa kamu suka sekali mempermainkan saya hah?" teriak Pram lantang sambil memegang kuat lengan Reyna. "Shera anak siapa?" tanya Pram ulang.
Reyna memandang intens mata abu kekuningan milik pria di hadapannya. Sudah lama ia tidak menatap mata itu dari jarak sedekat ini. Hatinya terus berdebar. Hal yang sudah lama tidak ia rasakan. Dadanya bergerak naik turun dengan mata tak lepas menatap wajah Pram.
"Jawab saya. Shera anak siapa?"
"Anak kita"
reyna x pram kalian lihat hanya jeleknya pram saja apapun pu yang dilakukan pram semua salah dan kalian kebaperan dengan pria lain dan kalian elu2 tama
reyna x tama disini berbalik lagi tama yang jadi jahat dan pram yang kalian elu2 kan
dari novel ini disini terlihat sekali karakter kalian yang selalu memandang lebih lelaki lain dari pada pasangan kalian sendiri, kalian selalu kebaperan dan memuja2 pria lain daripada pasangan kalian
ingat thor novelmu bisa memperlihat karaktermu
kok skrng marah reyna diganggu?
kenapa sih Reyn plin plan gitu...kok jd kayak.perempuan murahan kesana iya, kesini iya
trus labil banget. jd ga respek
Terima kasih tak terhingga untuk kalian semua🙏🤗