NovelToon NovelToon
My Assistant Husband

My Assistant Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikahmuda / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:219.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dani Dela

Menjadi calon CEO yang akan menggantikan posisi sang ayah di Adhitama Company, membuat Vony gadis cantik berusia 22 tahun dituntut oleh ayahnya untuk menarik perhatian perusahaan-perusahaan besar agar mereka mau bekerja sama dengan perusahannya.

Berawal dari kerjasama dengan Jhonson Company, Vony harus dipertemukan dengan seorang pria yang sangat menyebalkan yang ternyata merupakan Asisten sekaligus sahabat dari CEO Jhonson Company membuat Keduanya terus bertengkar setiap kali bertemu.

Siapa sangka pertengkaran-pertengkaran kecil itu membawa keduanya terlibat dalam perjanjian konyol yang dilayangkan Alan di dalam rumah sakit.



Untuk info update kalian bisa cek ig author.
Dellina_09

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dani Dela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surfing

Hari pertama di Bali, Vony meminta Alan mengajaknya ke pantai, menikmati semilir nya angin pantai yang menerpa tubuhnya.

Mengenakan baju berwarna putih, dan rok belahan sampai batas paha Vony melangkahkan kakinya di tepi bibir pantai membiarkan ombak kecil menerpa kaki jenjangnya. Sedangkan Alan?, pria itu yang tadinya berkata ingin mengganti baju terlebih dahulu sampai sekarang tidak menampakan batang hidungnya, membuat Vony memilih berjalan seorang diri.

Vony menyisir rambutnya kebelakang. "Betapa enaknya jika aku bisa liburan seperti ini setiap minggunya" guman Vony memejamkan mata menikmati suasana di tepi pantai seorang diri.

"Kamu sedang apa?"

Vony mengepalkan tangannya saat suara Alan menganggu ketenangan yang baru saja ia dapatkan. Baru saja mulutnya akan mengeluarkan amarah, matanya harus mendapatkan pemandangan yang begitu eksotis dihadapannya.

Kaos oblong dan celana kolor berwarna putih terlihat sangat sempurna melekat pada tubuh Alan yang sedikit menunjukan dada bidang Alan yang terlihat sangat sixpack. Ditambah dengan papan seluncur di sebelah tangan Alan, sungguh pemandangan yang tidak boleh di lewatkan sedikitpun.

"Kamu mau surfing?" tanya Vony dan Alan mengangguk.

"Aku sudah lama tidak melakukan olahraga ini, jadi saat kamu mengajak ku kesini aku ingin mencoba nya" ucap Alan yang sudah siap dengan papan seluncur ditangannya.

Alan berjalan mendekat kearah pantai bersiap melakukan olahraga yang bisa dibilang sedikit ektrim tersebut.

Dengan cepat tangan Vony menahan pergelangan tangan Alan. "Nanti kamu bisa tenggelam" ucap Vony mulai khawatir.

"Aku bisa berenang, lagian aku tidak akan lama hanya sebentar"

Vony menggeleng cepat, meski ombak tidak terlalu besar hari ini, dirinya masih was-was akan hall yang ingin dilakukan suaminya itu. "Nanti kalo kamu tengelam dan hilang mama pasti akan sedih, dan ayah pasti akan menyalahkan aku, dan aku pasti akan menjadi janda setelah itu"

Alan tertawa terbahak-bahak mendengar bayangan Vony yang terlalu jauh saat dirinya tengelam nanti. "Apa itu artinya kamu mulai takut kehilangan ku?"

Vony dibuat salah tingkah dengan pertanyaan Alan yang sangat menjengkelkan. "Kamu itu di khawatirkan malah bercanda seperti itu!"

Alan berjalan mendekat mengacak-acak rambut Vony yang semakin berantakan karena angin pantai. "Aku sudah besar, jadi aku tau mana yang aman untuk aku lakukan, lagian tadi aku sudah bertanya jika semuanya akan baik-baik saja selama air pantai tidak meluap"

"Lebih baik kamu tunggu aku disini dan lihat bagaimana suami mu ini handal dalam melakukan surfing"

Vony yang sudah tak bisa mencegah suaminya, menatap ke pergian Alan ketengah pantai. Dengan hati yang berdebar Vony terus menatap Alan dari jauh saat suaminya mulai menyeimbangkan tubuh di atas papan selancar.

Awalnya yang sangat menegangkan membuat jantung Vony tak aman saat beberapa kali Alan harus jatuh ke dalam air. Tapi lama-kelamaan ia berteriak kegirangan saat Alan dengan handal nya melakukan surfing membuat rasa inginnya meronta-ronta.

Hampir satu setengah jam lamanya Alan kembali ke bibir pantai, membiarkan seseorang mengambil papan selancar milik dan meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Berjalan menghampiri Vony yang tengah menunggunya dengan senyum merah diwajahnya,berbeda jauh dari tadi saat ia akan melakukan surfing. "Bagiamana?" tanya Alan meminta pendapat akan surfing yang baru saja ia lakukan.

"Sempurna, kamu sangat hebat Alan aku pikir kamu tidak akan bisa saat satu dua kali kamu jatuh ke dalam air, tapi ternyata" Vony menepuk tangannya kencang. "Kamu sangat handal"

Alan terkekeh geli melihat kehebohan Vony dengan tangan yang masih mengeringkan rambutnya.

"Ngomong-ngomong darimana kamu belajar surfing sebelumnya?"

"Dulu saat aku kuliah di luar negeri, awalnya hanya iseng sampai akhirnya aku sedikit menyukai olah raga ini"

"Kalo begitu kamu harus mengajari ku nanti" Alan mengangguk setuju.

Keduanya berdiri di tepi pantai membicarakan hall yang membuat kedekatan keduanya semakin dekat, dan entah kenapa Alan mulai terbiasa dengan sikap crewet Vony yang terus berceloteh dan bertanya ini itu pada nya.

Capek menghabiskan waktu di pinggir pantai Alan mengajak Vony untuk mengisi perut mereka di restoran dekat pantai, menikmati suasana pantai yang semakin ramai menjelang sore hari.

"Oh ya kamu masih punya janji yang harus kamu tepati selama lima bulan kedepan" Ucap Vony di sela-sela makan keduanya, mengingatkan Alan yang masih harus mencarikannya perusahaan yang mau bekerjasama dengannya.

"Sebenarnya sudah ada satu perusahaan yang ingin bekerjasama di Adhitama Company tapi aku lupa memberitahu mu" jawab Alan jujur.

Vony menghentikan memasukan makanan ke dalam mulut nya saat mendengar ucapan Alan. "Kenapa kamu baru memberitahunya sekarang?, kalo tau seperti itu pasti aku tidak akan mau berlibur bersama mu"

"Aku mendapat informasi itu juga saat sedang di kantor, dan pulangnya kita sudah siap-siap untuk berlibur dan hari ini kita ada di Bali, jadi aku benar-benar lupa akan hall tersebut"

Vony menghentikan aktivitas makanannya saat nafsunya tiba-tiba hilang.

"Aku minta maaf Von, aku benar-benar lupa" jawab Alan menyesal yang baru mengingat hal itu sekarang.

"Kamu tau aku sangat ingin menjadi CEO, bukan?, jadi saat ada satu saja perusahaan yang ingin bekerjasama dengan ku itu sangat bermakna dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu"

Alan meraih tangan Vony saat pandangan wanita itu di buang ke arah pantai. "Aku tau kamu ingin menjadi CEO, lagian perusahaan ini belum menentukan jadwal pertemuan kalian jadi kamu masih bisa sedikit tenang"

"Kamu bisa berkata seperti itu karena kamu sudah terbiasa menerima projek besar, sedangkan aku?, mendapatkan projek besar itu juga karena mu bukan hasil kerja keras ku sendiri"

"Aku ingin buktikan sama ayah kalo aku juga bisa menarik perhatian perusahaan besar, setidaknya satu saja tapi kenyatannya aku tidak mampu melakukan hall tersebut" ucap Vony yang merasa gagal akan hall yang selama ini ia lakukan.

Melihat Vony semakin bersedih Alan berpindah duduk ke samping Vony, membawa wajah wanita itu agar bisa ia tatap. "Kamu tau anak bayi?"

"Apa hubungannya anak bayi dengan bisnis?"

"Tentu saja ada. Sekarang begini anak bayi saat di ajarkan berjalan sama ibunya langsung bisa apa jatuh terlebih dahulu?" tanya Alan.

"Tentu saja jatuh, apa kamu pikir dia akan terbang seperti sepaidermen?" ucap Vony memutar bola matanya malas.

"Itu juga sama dengan mu, semua manusia juga butuh proses untuk mencapai hasil yang memuaskan. Kamu bisa menilaiku dengan mudah mendapatkan perusahaan besar karena kamu tidak tau proses sebelumnya, yang kamu lihat hanyalah kemudahannya tanpa tau bagaimana kesusahan dibelakangnya"

"Jadi kalo kamu sekarang belum merasa berhasil tak apa itu wajar, tapi jangan pernah berhenti di tengah jalan saat impian mu saja setinggi gunung. Aku akan selalu bersama mu, menemani mu, dan mendukung mu sampai gelar CEO itu kamu dapatkan" jelas Alan panjang lebar.

Entah kenapa ucapan Alan membuat sudut bibir Vony mengembang membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar. "Terimakasih Alan"

Alan mengangguk meminta Vony melanjutkan makanannya sebelum ia mengajak Vony ke suatu tempat sebelum kembali ke hotel.

1
difkha mnz
baguus ceritanya
Ayu T'lgi RyuZha
bukannya pas cek proyek udah tes pake tepeck ya truz muncul garis 2 kog masih syok klau hamil dan seolah lupa
harusnya udah jalan 3bulanan yg hamil
kumpulin uang buat bayar hutang aja udah 2 bulan
Supriyatijunaidi Wicaksono
Luar biasa
widya
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Qeisha A.F Ladyjane
mampir di mari ahhhh moga bagus nihh
Eridha Dewi
kok tamat thor
Eridha Dewi
next thor jangan lama up nya
Mom Q
lanjut_Thor_kn_blm_tamat______
Lia Liyut
next
Siti Aisah
pertama😚
Siti Aisah
lanjut kak
Lia Liyut
jgn ada pelakor ya tor
Lia Liyut
udah si von km juga anak org kaya kantormu dan kantor BP nya Alan krja sama biar bisa balikin tuh modal
Lia Liyut
jwb dong jujur Voni .. elahhh mana ni Vony yg ku knl bar²
Lia Liyut: dh gitu ini pas tgl AQ baru lahiran ank ke 2 kak 🙏
total 3 replies
Siti Aisah
makin kesini makin greget✌️ jadi betah bacanya
Lia Liyut
lanjut tor 👍👍
Sumi Yati
next
Sumi Yati
seru..
Siti Aisah
next kak
Lia Liyut
lngsung 3...👍👍 lnjut tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!