Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Biru yang sedang menatap langit itu mendengar ponselnya berdering, segera Biru merogoh saku celananya.
Biru menerima panggilan itu yang ternyata dari Hafizah.
''Kamu di mana?'' tanya Hafizah dari sambungan teleponnya.
''Sedang di luar, kenapa? Apa ada yang kamu inginkan?'' tanya Biru masih dengan posisi yang sama yaitu duduk di bagian depan mobilnya menekuk lututnya.
''Iya, sepertinya anak ini membutuhkan ayahnya, aku akan merasa mual dan pusing apabila kamu jauh, Mas,'' rengek Hafizah.
''Ya, tunggu! Aku akan datang.'' Setelah mengatakan itu Biru segera turun dan menuju ke rumah istri mudanya.
''Kenapa aku bersedih, aku masih punya Hafizah yang dapat memahami ku!'' gumam Biru yang sekarang sudah kembali mengendarai mobilnya.
Dan sesampainya di rumah Hafizah, pria itu disambut hangat oleh istri mudanya.
Hafizah membantu Biru melepaskan jas dan menanyakan sudah makan apa belum.
Biru tersenyum pada Hafizah dan menjawab belum.
''Aku masak, yuk cobain masakan aku, siapa tau kamu suka,'' ajak Hafizah dan Biru menganggukkan kepala, keduanya berjalan beriringan ke meja makan.
Di sana sudah tersaji lauk sederhana yang Hafizah siapkan. Ada capcay kuah dan ayam goreng.
''Ini kamu semua yang masak?''
Hafizah menjawab dengan tersenyum seraya mengambilkan nasi dan lauknya.
''Makan yang banyak, aku lihat kamu semakin kurus dan tidak terawat, lihat berewok kamu juga sudah semakin tebal.''
Mendengar itu Biru merasa diperhatikan, pria itu tersenyum pada Hafizah yang terlihat semakin cantik di matanya.
''Terimakasih,'' ucap Biru dan Hafizah tersenyum manis memperhatikan suaminya makan dengan lahap.
Malam ini Biru menginap di rumah Hafizah.
****
Sementara Maya sedang menatap layar ponselnya, melihat kembali semua kenangan yang ada tentang dirinya dan Biru.
Melihat itu semakin membuat Maya bersedih hati, ingin menghapus semua gambar itu tetapi hatinya mengatakan jangan.
''Kenapa kamu jahat sama aku, Mas!''
rintih Maya seraya mematikan ponselnya. Maya menyimpan itu di laci nakas.
Setelah itu Maya mendengar suara berisik dari luar dan Maya pergi untuk memeriksa. Terlihat Bram sedang membuka pintu dan saat itu juga Bram melihat Maya.
''Mau kemana kamu? Malam-malam begini?'' tanya Maya, matanya melirik ke jam yang menempel di dinding dan hari sudah larut malam.
''Gua ada kerjaan, permisi!'' Setelah itu Maya pun menutup dan mengunci pintu itu lagi.
''Kerja apa malam-malam begini!'' gumam Maya.
****
''Hampir aja ketahuan!'' gumam Bram dalam hati, pria itu pergi mengendarai motor sportnya, pergi mengurus pekerjaan yang sama sekali tidak diketahui oleh Gala.
****
Keesokan harinya, Maya memiliki jadwal untuk kontrol dan terapi.
''Gimana, Gala nggak bisa nyetir, kita pesan taksi aja?'' tanya Gala dan Maya mengiyakan.
Belum sempat memesan taksi sudah datang Bram yang sebelumnya sudah Gala hubungi.
''Gua kira enggak bisa datang lu, Bang!'' kata Gala seraya kembali mengantongi ponselnya.
''Datang dong, ya udah yuk jalan.''
Setelah itu Gala mendorong kursi roda Maya dan membantu Maya pindah ke mobil.
''Mbak, Gala nemenin Ifraz aja ya di rumah, Gala khawatir Biru datang buat ambil Ifraz.''
''Tapi...,'' ucap Maya menggantungkan ujung kalimatnya.
''Enggak usah takut sama gua, May!'' timpal Bram yang sudah duduk di kursi kemudi.
Mau tidak mau Maya pun mengiyakan ajakan Bram.
Selama perjalanan itu keduanya saling diam, karena sebenarnya Maya merasa risih pergi bersama dengan Bram hanya berdua aja, tetapi demi ingin sembuh Maya mengiyakannya.
Dengan telaten Bram membantu Maya untuk turun dari mobil dan pergi menemui dokter.
Selesai dengan itu, sekarang Maya dan Bram kembali pulang, tanpa Maya sangka kalau ternyata ada Biru yang juga baru sampai di depan rumahnya.
Biru melihat Bram membantu Maya untuk turun dari mobil ke kursi roda dengan cara dibopong. Melihat itu BIru menjadi terbakar api cemburu.
Biru segera turun dari mobilnya dan menyingkirkan tangan Bram dari gagang kursi roda Maya.
Biru juga langsung meninju wajah Bram membuat pria itu terkejut.
''Siapa lo berani sentuh istri gue!'' ucap Biru masih dengan meninju perut Bram.
Sementara itu, Bram tak tinggal diam diam, pria itu mendorong Biru dan dengan cepat Bram berada di atas Biru, meninju Biru tanpa ampun, sedangkan Maya melihat itu berteriak meminta tolong.
Kemudian datang Gala dan beberapa tetangga yang memisahkan Biru dan Bram.
Sementara Biru mulutnya terus mengoceh mengatai Bram. ''Cari kesempatan dalam kesempitan lo, hah!'' Bentak Biru, ''Dari awal gue emang udah curiga sama lo!'' lanjut Biru seraya melepaskan tangan tetangga dari tangannya.
''Lepas!'' kata Biru yang kemudian membenarkan jasnya. Pria itu mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
Sementara Bram, pria itu merasa kesal dengan tuduhan BIru. Ya, Bram telah menolak permintaan Gala waktu itu karena tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga Maya.
Dan Bram sekarang merasa kalau dirinya telah difitnah Biru.
Sementara Maya, wanita itu mengusap wajahnya, merasa malu dengan Bram dan Biru yang bertengkar karena telah membantu Maya.
Maya memilih untuk pergi meninggalkan mereka masu ke rumah.
Dan Biru melihat itu segera menyusul Maya.
''Jadi ini alasan kamu enggak mau pulang? Biar kamu bisa selingkuh? Kamu mau balas dendam sama aku?'' sergah Biru seraya menarik kursi roda Maya sedikit keras.
''Ini salah paham!'' kata Maya, wanita itu menatap datar Biru.
''Kamu baru liat aku dibantu sama orang lain aja udah kelabakan. Terus gimana sama aku yang udah jelas-jelas kamu selingkuhin, kamu bohongin?'' tanya Maya dan Biru tak dapat membalas ucapan Maya.
''Jadi benarkan kalau kamu mau balas dendam! Oke aku terima May, mungkin dengan cara seperti ini kamu bisa maafin aku!'' kata Biru yang kemudian keluar dari rumah Maya, di sana masih ada beberapa tetangga yang kepo dengan urusan Maya dan Biru, Sementara Gala menahan Bram agar tidak terjadi lagi perkelahian.
Bukannya pulang atau kembali bekerja tetapi Biru pergi menemui RT setempat untuk melaporkan Maya dan Bram yang dianggapnya kumpul kebo.
''Baik, akan saya urus, Pak,'' jawab Pak RT setelah menerima laporan dari Biru.
Setelah itu Biru pergi dari kawasan rumah Maya, pria itu kembali ke kantornya, di sana Biru memerintahkan Ran untuk mengawasi Maya dan Bram.
''Baik!'' jawab Ran dengan santai.
Setelah itu Ran keluar dari ruangan Biru untuk menghubungi anak buahnya, memerintahkan untuk mengawasi Maya dan orang-orang terdekatnya.
****
''Sekarang lebih baik kamu tidak usah menginap lagi di sini, aku yakin dia tidak akan tinggal diam,'' kata Maya yang kemudian meninggalkan Bram yang sedang mengompres lukanya di dapur.
''Hemm,'' jawab Bram.
Visual Bram.
Bersambung.
Jangan lupa untuk klik like setelah membaca ya, terimakasih.