Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tempat atau yang lainnya, penulis mohon maaf.
Devina pov
Devina, itu namaku. Dan dengan nama ini aku mencoba menerjang hidup bagaikan badai lautan ini. Menjadi seorang janda yang harus membesarkan seorang anak sendirian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shoffan Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Devina menoleh ke belakang karena suara Rippo barusan. Tapi tangannya malah di tarik paksa oleh Raka untuk masuk ke dalam lift khusus.
"Aw," Pekik Devina lantaran kaget tiba-tiba saja dirinya ditarik ke dalam lift.
"Hah? maaf." ungkap Raka tak lupa memencet tombol lift agar mereka segera turun.
"apa aku menyakitimu?" tanya Raka sedikit panik.
Tanpa ia sadari barusan, saa menarik tangan Devina, ia mencengkram dengan cukup kencang. Raka memperhatikan pergelangan tangan Devina, memastikan tidak ada bekas atau luka di sana.
"Iy, iya. Aku nggak kenapa-napa. Cuman agak kaget aja barusan." Jawab Devina langsung menarik lengannya, rasanya sedikit risih dengan tingkah laku Raka yang memperhatikan lengannya.
"Syukurlah kalau begitu," Balas Raka sekenanya.
Suasana pun berubah hening. Raka menjadi kikuk, binggung harus membahas apa. Terlebih lagi baru saja ia membuat Devina tak nyaman karenanya.
Suara lift yang bekerja menjadi satu-satunya suara untuk keduanya. Jika si Raka kebingungan harus berbuat apa, Devina malah merasa tak nyaman berada dalam lift itu. Dari dulu ia memang tak mudah untuk nyaman dengan orang yang baru dikenal.
Bahkan Erpan sekalipun perlu berbulan-bulan lamanya agar Devina mau untuk membalas sapaannya.
Hingga tanpa terasa, lift terbuka. Tanda bahwa mereka sudah sampai di lantai 2.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, pak." Pamit Devina saat pintu lift terbuka di lantai 2 perusahaan.
"biar aku antar!" pekik Raka menahan lengan Devina.
Devina yang lengannya tertahan berhenti di tempat dan menoleh ke belakang. Tatapan sinis dan tak nyaman ia layangkan ke arah Raka. Sontak hal itu membuat Raka sadar diri dan tak enakan kepada Devina. Pria itu langsung melepaskan genggaman tangannya.
"ehm, kebetulan arah jalan pulang kita searah. Kurasa tak masalah untuk pulang bersama." Ucap Raka berusaha menyakinkan Devina agar mau pulang bersamanya.
"maaf, pak. Bukannya saya merasa kurang ajar, hanya saja saya tak mau merepotkan bapak. Saya bisa pesan ojek atau taksi untuk pulang. Terimakasih atas tawarannya." Tolak Devina untuk kesekian kalinya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Devina langsung beranjak pergi dari hadapan Raka. Di kesempatan kali ini raka tidak menahan Devina. Pria itu membiarkan Devina pergi begitu saja.
Devina tak memusingkan lagi pria itu sekaligus berharap pria berstatus bosnya itu tak mengikutinya. Dan untungnya doanya terkabul. Raka tak terlihat berjalan mengejarnya. Namun hal itu tak serta merta membuat Devina tenang. Dengan langkah cepat Devina berjalan ke arah escalator untuk turun ke lobby perusahaan yang ada di lantai satu.
Sesampainya di lantai satu, Devina kembali berjalan menuju pintu keluar yang ada tak jauh dari escalator tempat ia berada sekarang. Begitu keluar, dirinya berhenti di trotoar depan perusahaan. Mata melirik ke berbagai arah, lalu terpusat ke arah halte bus letaknya ada di seberang jalan. Tak mau menunggu lama, Devina kembali berjalan ke arah halte bus itu. Rencananya ia akan pulang menggunakan bus umum sebab hari ini dia tidak membawa mobil kemari.
“Haih,,,, ada apa sih dengan pria itu?!” Batin Devina setelah sampai di halte bus untuk menunggu bus seperti beberapa karyawan yang lain. Devina cukup kesal dengan insiden tarik tangan di lift barusan. Sebagai atasan dan bawahan, seharusnya pria itu boleh menarik tangannya seperti itu. Setidaknya mereka bukanlah orang sudah sangat dekat. Namun, perlahan emosi Devina melambung ke atas langit. Pikirannya kini teralihkan kepada buah hati kecilnya yang sudah menunggunya di rumah. Dirinya sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Lissa.
Saat tengah melamunkan anaknya, Devina di sadarkan dengan kedatangan sebuah bus di depannya. Bersamaan dengan beberapa orang yang menunggu bus di halte tersebut, Devina ikut masuk ke dalam bus. Begitu masuk ke dalam bus, terlihat banyak sekali bangku yang kosong. Alhasil ia dapat memilih tempat duduk yang ia inginkan. Devina memilih untuk duduk tak jauh dari sang supir. Di kursi pojok agar dapat menyenderkan kepalanya ke jendela.
Baru saja menempelkan kepalanya di jendela, bus yang ia tumpangi langsung melanjutkan perjalanannya menuju perberhentian selanjutnya. Devina tersenyum tipis melihat bus itu berjalan. sebentar lagi ia akan melihat putri kecilnya. Namun di tempat lain. Tepatnya di depan perusahaan, sebuah mobil mewah berhenti di sana. Begitu pintu mobil itu terbuka, seorang pria yang tak lain adalah pemilik perusahaan ini keluar dari dalam mobil tersebut. Raut wajah pria itu terlihat panik ketika keluar dari mobil.
“Hais,, kemana wanita itu pergi? Cepat sekali hilangnya!” Batin Raka mencari sosok Devina di sekitar jalanan depan perusahaan. Tanpa ia ketahui, Devina ternyata sudah pulang menggunakan bus beberapa saat yang lalu.
blm di lanjut ya
saya berharap devina sama Daniel jadian aja
blm di lanjut ya
blm di lanjut ya