Monika seorang mahasiswi jurusan kedokteran disuatu universitas swasta yang bolak-balik harus berurusan dengan pihak kepolisian karena melanggar aturan lalu lintas, membuatnya bertemu dengan Evan seorang polisi tampan yang membuatnya terjebak dalam situasi yang sulit. Namun dari situasi sulit itulah yang membuat mereka harus berpura-pura untuk saling mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alesha Neova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menepati Janji
Pagi hari, seperti biasa Evan bangun pagi untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Selesai sholat subuh ia kembali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, mungkin karena hari ini jadwal ia dinas siang jadi Evan merasa sedikit santai dibandingkan dengan hari biasa saat ia dinas pagi.
Evan mengambil ponsel pintarnya, lalu membuka lock screen pada layar ponsel itu. Kali ini ia membuka aplikasi instagram miliknya, ia menscroll layar untuk melihat feeds terbaru yang ada diberandanya. Seperti biasa, saat ia membuka instagram sudah pasti gambar yang pertama kali akan ia lihat tentu gambar Diana. Berderet beberapa upload gambar Diana disana, memang dalam hal bermain sosial media Diana memang tergolong aktif dan eksis. Selain karena ia model yang harus mengendors beberapa produk, ia memang suka memposting setiap moment yang ia lewati.
Sesekali dipandangi foto Diana yang ada diakun instagramnya, ia melihat beberapa foto dirinya dan juga Diana yang Diana unggah disana. Terbelesit dalam hati ia memuji kecantikan dan juga keanggunan Diana.
Evan semakin memantapkan hati untuk ingin segera meminangnya, menjadikannya sebagai pendamping hidup dalam menjalani hari-harinya.
Evan tiba-tiba ingat dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya tentang rumah yang rencananya akan dibeli Evan, ia akan menggunakan moment kali ini untuk menanyakannya dengan Diana tentang desaign yang seperti apa yang diinginkan Diana.
Hari semakin siang, Evan bangun dari tempat tidurnya dan beranjak dari sana. Ia berjalan membuka pintu kaca yang mengarah pada balkon kamarnya, membiarkannya terbuka lebar agar sejuknya udara pagi masuk kedalam kamar tidurnya. Lalu Evan berjalan ke ruang ganti yang berada di dalam kamarnya untuk menyiapkan baju yang akan ia kenakan nanti siang saat akan jalan bersama Diana, setelah itu Evan mandi dan bersiap. Selesai mandi Evan segera bersiap, ia memakai baju yang telah ia siapkan sebelumnya. Kali ini ia akan mengenakan kaos berwarna hitam yang dipadu dengan celana jeans warna biru tua, itu membuat Evan terlihat sangat tampat dengan perawakan yang mendekati sempurna. Selesai mandi ia turun dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Saat Evan tiba diruang makan, pak Erlangga dan juga bu Nirmala sudah duduk bersiap disana.
“Pagi Evan.” Sapa bu Nirmala sembari menuangkan segelas air putih untuk suaminya.
“Pagi mah, pah.” Jawab Evan sembari berjalan menuju tempat duduknya.
“Pagi ini kamu terlihat santai sekali Van, enggak kerja?” tanya pak Erlangga pada Evan sembari meminum teh manis dalam cangkir yang ada di hadapannya.
“Hari ini Evan piket siang pah.” Jawab Evan.
“Lalu kenapa sepagi ini sudah berdandan rapi seperti ini?” tanya pak Erlangga menelisik.
Belum sempat Evan menjawab, terdengar nada dering ponsel Evan yang berbunyi, dan dengan segera Evan beranjak dari tempat duduknya untuk segera menjawab panggilan itu.
“Evan angkat telpon dulu ya mah, pah.” Ucap Evan.
Kemudian Evan berjalan sedikit menjauh dari ruang makan untuk menjawab panggilan masuk dalam ponselnya, yang tak lain adalah telepon dari Diana.
Di ruang makan pak Erlangga dan juga bu Nirmala melanjutkan sarapannya, sarapan pagi ini dengan menu nasi goreng seafood kesukaan Evan.
“Lihat lah mah, itu pasti telepon dari Diana. Sepertinya mereka sedang berkencan.” Ucap pak Erlangga yang sedikit terkekeh.
“Papah ini seperti tidak pernah muda saja.” Ucap bu Nirmala menimpalinya.
Selesai berbicara ditelepon Evan kembali ke meja makan, ia segera mengambil nasi goreng yang sudah tersaji diatas meja.
“Mau kencan Van?” ucap pak Erlangga yang meledek putranya.
Dengan wajah yang malu-malu Evan tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan dari ayahnya ia segera memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Selesai sarapan pagi Evan langsung bergegas menuju rumah Diana, ia melajukan mobilnya dengan sedikit cepat, mengingat tadi Diana sudah menelponnya dan memintanya untuk segera datang kerumah.
Jarak dari rumah Evan menuju rumah Diana lumayan jauh, kurang lebih sekitar tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk kerumah Diana. Dalam perjalanan paginya Evan memutar lagu diplay box musiknya untuk menemani perjalanannya. Dalam perjalanan tiba-tiba Evan menghentikan laju mobilnya saat ia melewati toko bunga, ia menepikan mobilnya dipinggir jalan kemudian Evan turun dari dalam mobil dan berjalan keseberang menuju toko bunga tersebut.
“Selamat pagi kak, ada yg bisa dibantu?” sapa ramah pramuniaga yang bekerja di toko bunga tersebut.
“Mmm.. mba kalau bunga untuk simbol permintaan maaf bagusnya bunga apa ya?” tanya Evan pada pramuniaga toko itu.
“Untuk pacarnya ya kak?”
“Mmm.. iya.”
“Duh kakaknya romantis banget si, pasti yang jadi pacarnya bahagia banget. Udah ganteng, romantis lagi.”
Mendengar ucapan pramuniaga toko itu Evan hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian ia berdehem untuk menanyakan lagi bunga apa yang cocok untuk ia beli.
Kemudian pramuniaga itu mengambilkan buket bunga mawar yang berisikan mawar merah dan juga mawar putih, ia mengatakan kalau bunga ini cocok bila dijadikan sebabai simbol permintaan maaf. Karena mawar putih yang mengisyaratkan ketulusan dan kesucian, sedangkan mawar merah adalah tanda cinta yang penuh dengan romantisme.
Tanpa lama-lama akhirnya Evan mengambil buket bunga yang disarankan oleh pramuniaga tersebut, setelah melakukan pembayaran Evan segera kembali masuk kedalam mobil dan kembali melajukan kemudinya menuju rumah Diana.
Sebuket bunga mawar ia letakkan disamping kursi kemudinya, aroma wangi khas mawar tercium semerbak pada indra penciumannya. Sambil melirik sedikit kearah kursi penumpang yang ada disampingnya, ia pun berharap dalam hati semoga Diana akan menyukainya.
Kini Evan telah sampai dihalaman depan rumah Diana, ia segera turun dari dalam mobil sembari membawa buket bunga yang tadi dibelinya. Tangan kirinya ia sembunyikan dibelakang dengan sebuket bunga yang ia bawa, berharap ini akan menjadi kejutan yang cukup romantis untuk Diana. Mengingat Evan memang jarang memperlakukan Diana secara manis, apalagi romantis.
“Tingtoong..” Evan menekan bel yang berada tepat disamping pintu masuk rumah Diana.
Tanpa menunggu lama Diana pun membukakan pintu untuk Evan, terlihat sangat jelas rona bahagia yang terpancar dari wajah Diana.
“Evaaann.. sungguh aku sangat merindukanmu.” Ucap Diana yang langsung menghambur kedalam pelukan Evan.
Evan pun membalas pelukan Diana, lalu ia mengusap pucuk kepala Diana sembari memberikan sebuket bunga yang ia bawa.
“Ini untukmu, maafin aku ya.” Ucap Evan saat memberikan bunga mawar itu.
“Waaaoow, it’s so beautiful Van. Right, aku sudah maafin kamu kok.” Ucap Diana sembari mengecup pipi Evan secara tiba-tiba.
“Ya sudah sana kamu siap-siap dulu, tadi kamu bilang kamu sudah siap. Aku tunggu disini” Kata Evan sembari berjalan kearah sova yang ada diruang tamu.
Diana pun melangkahkan kakinya menuju pintu, ia menutup pintunya lalu menguncinya.
“Sebentar lagi, kamu mau minum apa biar aku buatkan.” Ucap Diana.
“Apa aja. Tumben kamu yang buatkan, bibi kemana?” tanya Evan.
“Bibi sedang berbelanja ke pasar, kebetulan stok sayuran dirumah habis.” Ucap Diana yang kini duduk disamping Evan sambil bergelayut pada pundaknya. Diana menyandarkan kepalanya dibahu Evan, ia memandangi paras tampan milik kekasihnya itu.
Sempurna, kamu memang sempurna Van. Dalam hati Diana bergumam.
Tanpa disangka-sangka Diana tiba-tiba menyambar bibir Evan, ia menciumnya. Menciuminya dengan hasrat yang memuncak, merengkuh tubuhnya dan menariknya hingga posisi menindih. Namun dengan cepat Evan menarik tubuhnya, ia segera melepaskan pelukan Diana.
“Hentikan Diana, apa yang kamu lakukan?” ucap Evan dengan suara meninggi.
“Ayolah Evan, kita sama-sama dewasa.” Ucap Diana yang duduk disamping Evan.
“Bukankah sudah ku katakan, aku tidak akan menyentuhmu sebelum kita menikah?”
“Tidak perlu semunafik itu Van, kita sudah sama-sama dewasa. Lagipula kita berhubungan juga suda cukup lama, bukankah itu menjadi hal yang wajar?”
“Tidak Diana, aku sudah berjanji dengan diriku sendiri. Aku tidak akan melakukan hal itu sebelum menikah, pada siapa pun itu.”
“Ya sudah, tunggu disini aku ganti baju dulu.” Ucap Diana dengan nada kesal, dan ia berjalan menuju kamar tidurnya untuk bersiap-siap.
Setelah menunggu beberapa saat, kini Diana sudah selesai bersiap dan mereka langsung keluar meninggalkan rumah.
Dalam perjalanan suasana menjadi sedikit berbeda, terasa hening. Mereka saling diam, mungkin karena kejadian tadi yang membuatnya seperti itu.
padahal dah ditungguin lho😪
kok blm up lagi sich?