NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembicaraan Dari Hati Ke Hati***

Siang itu mendung. Angin dari arah sawah masuk ke halaman rumah Umi Zahra.

Pintu pagar kayu berderit.

Mpok Rini nongol dari dapur. Lap tangan ke daster. "Saqir? Silakan masuk Nak."

Saqir mengangguk. Baju kemeja putih lengan digulung. Rambut panjangnya agak basah kena gerimis. "Assalamualaikum Mpok."

"Waalaikumsalam. Masuk. Mbak Sulis lagi nyetrika di dalam." Mpok Rini geser pintu. "Kirana di teras belakang. Lagi baca."

Saqir jalan pelan. Sepatu dicopot di depan.

Teras belakang sepi. Hanya ada pot bougenville, kursi rotan, dan meja kayu kecil.

Kirana duduk. Gamis biru langit. Jilbab senada. Pangkuan ada mushaf kecil terbuka. Tapi matanya tidak ke huruf. Keluar jendela.

Langkah Saqir berhenti tiga meter. "Kirana."

Kirana menoleh. Kaget. "Mas Saqir." Buku ditutup pelan. " Silakan Duduk."

Saqir duduk di kursi seberang. Jarak satu meja. "Maaf ganggu Ra."

"Enggak." Kirana geleng. "Ini lagi baca mushaf. Mpok Rini sama Mbak Sulis di dalam."

Hening dua detik. Hanya suara daun bergerak.

Saqir tarik napas. "Aku kesini bukan hanya berkunjung Ra."

Kirana angkat alis. "Lalu?"

Jari Saqir mainin ujung meja. "Aku mau Ngobrol. Serius." . "Soal kita Ra."

Kirana diam. Tatapannya lurus. "Apa yang mau dibicarakan Mas?"

Saqir mendekatkan bangku kemeja lagi. "Perasaan." Suara Saqir rendah. "Selama ini kita bertahan berdua. Kamu jaga aku dari amarah dari paman Syarif, bik Asih dan orang-orang yang membenci ku. Aku jaga kamu dari orang orang yang memandangmu sebagai barang pertukaran. Kita saling butuh. Saling melindungi."

Kirana mengangguk pelan. "Iya mas."

Saqira melanjutkan ucapannya."Tapi aku takut." Saqir jujur. "Takut yang kita punya cuma rasa terimakasih. Bukan cinta."

Kirana menunduk. Jari mainin ujung jilbab. "Apakah Mas pikir begitu?"

"Aku harus mastiin Ra" Saqir menatap. "Kirana. Jujur ya Kamu ngerasa apa ke aku?"

Kirana tidak langsung jawab. Matanya ke bougenville yang layu kena hujan.

"Aku bingung MasSaqir." Akhirnya bicara. "Sejak aku keluar dari pondok. Sejak kamu lawan Ustadz Yusuf, bik Asih dan paman Syarif demi aku. Sejak kamu bantuin aku. Aku ngerasa aman."

"Aman itu beda sama suka." Saqir motong pelan.

"Justru itu." Kirana nengok. "Awalnya cuma aman. Lama lama jadi kangen. Kalau sehari kamu enggak lihat kamu Kirana kangen mas. Hati terasa kosong."

Dada Saqir naik turun. "Kangen?"

"Iya." Kirana jujur. "Kangen obrolanmu. Kangen kamu marah kalau aku bandel. Kangen kamu diem kalau aku nangis."

Saqir senyum tipis. Tapi tidak lega sepenuhnya. "Terus itu cinta?"

"Aku enggak tahu namanya." Kirana geleng. "Aku cuma tahu. Aku enggak mau kamu pergi."

Saqir mengusap wajahnya. "Aku juga."

"Apa?". Kirana terkejut.

"Aku juga enggak mau kamu pergi." Ulangnya. Lebih jelas. "Sejak hari kamu panggil aku mas. Bukan Saqira. Sejak kamu tidak memandang ku aneh. Sejak kita bersama di kontrakan itu. dan sejak kamu membela mas di depan dunia. Sejak hari kamu bilang lebih milih miskin daripada dijual. Aku ngerasa... ini perempuan yang aku cari. yang bisa menerima keadaan ku apa adanya"

Kirana terkejut. " Mas Saqir."

"Kirana." Saqir maju. Siku di meja. "Aku bukan orang kaya. Kerjaanku serabutan. Nge MC. Kadang ke konveksi. Masa depanku enggak jelas."

"Terus?". Tanya Kirana jantungnya berdebar.

"Terus aku tetap mau kamu." Ucap Saqir tegas. "Kalau kamu mau. Kalau kamu yakin. Kita enggak main-main lagi."

Kirana menutup mata sebentar. " Mas Saqir. Kamu tahu aku baru keluar dari trauma pondok. Aku takut dijodohkan. Takut dipaksa. Takut dijual."

"Aku tahu." Jawab Saqir cepat. "Makanya aku enggak minta jawaban sekarang. Aku minta kepastian. Kamu ngerasain yang sama enggak? Butuh aku bukan karena kasihan?"

Kirana buka mata. "Enggak karena kasihan."

Saqir diem.

"Karena aku lihat kamu." Lanjut Kirana. "Kamu capek. Kamu marah. Kamu takut. Tapi kamu tetap berdiri. Kamu enggak lari waktu aku diusir. Kamu enggak ninggalin aku waktu hidup ku lagi hancur."

Air mata jatuh. Satu. "Itu yang bikin aku jatuh hati pada mu Mas Saqir Indrawan."

Saqir terdiam. Tenggorokannya kering. "Kirana."

"Jadi jawabanku iya." Kirana usap air mata. "Aku suka kamu. Bukan karena butuh dilindungin. Tapi karena aku mau bareng kamu."

Angin kenceng. Bougenville rontok satu kelopak. Jatuh di meja.

Saqir ambil kelopak itu. Letakkan di telapak tangan. "Kalau gitu kita sepakat."

"Sepakat apa?"

"Kita serius." Saqir menatap. "Enggak sembunyi. nunggu Umi pulang. Kita bicara baik ke Umi. Minta restu. Jalan yang benar."

Kirana gigit bibir. "Umi mungkin bisa mAs tapi paman Syarif......"

"3 hari lagi umi pulang.Dua minggu itu kita siapin diri. Kamu siapin hati. Aku siapin kerjaan yang tetap." Saqira menyakinkan Kirana.

"Kerja apa mas?". Tanya Kirana

"Aku udah daftar di koperasi BMT." Saqir bilang. "Temen ngajak jadi admin lapangan. Gaji UMR. Tetap. InsyaAllah bulan depan mulai."

Kirana kaget. "Kamu serius?"

"Serius." Saqir angguk. "Aku enggak mau kamu ragu karena dompetku kosong."

Kirana ketawa kecil. Nangis. " Mas Saqir bodoh."

"Kenapa?"

"Aku enggak butuh Mas kaya." Suaranya pelan. "Aku butuh Mas jujur."

Saqir diem. Terus meraih tangan Kirana di atas meja.

Kirana tidak nolak. Jari mereka saling genggam.

Saqir bisik. "Hangat."

Kirana mengangguk. "Iya."

Hening lagi. Tapi heningnya tenang. Bukan canggung.

Dari dalam, suara Mpok Rini. "Nak Kirana. Ada tamu?"

Kirana cepat lepas tangan. "Iya Mpok. Mas Saqir."

Mpok Rini muncul di pintu. Bawa nampan. "Bawa teh anget."

"Terimakasih Mpok." Saqir geser duduk. Jaga jarak.

Mpok Rini letakkan teh. Liatin mereka sebentar. Senyum tipis. "Ngobrol yang baik ya. Umi titip Kirana."

Masuk lagi.

Kirana ambil gelas. "Minum."

Saqir nyeruput. Panas. "Enak."

"Resep Umi." Kirana juga minum. "Kamu tadi bilang mau bicara apa lagi?"

"Ada." Saqir letakkan gelas. "Soal Ustadz Yusuf."

Wajah Kirana berubah. "Jangan."

"Harus." Saqir serius. "Dia belum berhenti Kirana. Aku dengar dia masih nanya kamu ke beberapa ustadz lain."

Kirana pegang dadanya. "Aku enggak mau."

"Aku tahu." Saqir cepat. "Makanya kita harus cepat halalin. Biar dia enggak punya celah."

Kirana menggeleng. "Nikah karena takut?"

"Nikah karena cinta. Dilindungi karena takut." Saqir lurusin. "Beda."

Kirana mikir. "Umi setuju enggak ya?"

"Umi sayang kamu. Ma yakin. Umi juga benci cara Ustadz Yusuf. InsyaAllah setuju."

"Kalau enggak?"

"Ya kita tetap minta." Saqir tegas. "Kita dewasa Kirana. Kita enggak kabur."

Kirana mengangguk pelan. "Oke."

Saqir lega. Bahunya turun. "Terimakasih."

"Untuk apa?"

Sakit menatap mata Kirana. "Karena mau percaya lagi." "Setelah semua yang kamu alamin."

Kirana menatap Saqir lama. "Kamu juga percaya aku?"

"Percaya." Tanpa ragu. "Percaya kamu enggak akan ninggalin aku pas susah."

"Aku janji." Kirana angkat sumpah dengan jari. "Enggak akan."

Saqir ketawa kecil. "Kekanakan."

"Tapi tulus." Kirana balik ngeledek.

Mereka ketawa bersamaan. Pertama kali setelah sekian lama.

Hujan makin deras. Tapi teras tetap kering.

Mbak Sulis nongol. "Mpok Rini manggil. Ada telpon dari umi."

"Sebentar Mbak." Kirana berdiri. " Mas Saqir tunggu ya."

Saqir juga berdiri. "Enggak." . "Aku pamit. Biar kamu fokus."

"Udah ngobrol segini doang mas?" Kirana protes.

Saqir senyum. " Udah cukup.Yang penting jelas."

Kirana diem. Terus maju setengah langkah. "Mas Saqir."

"Iya?"

"Jaga diri." Bisiknya. "Aku enggak mau kehilangan kamu lagi."

Saqir mengangguk. "Kamu juga."

Dia jalan ke depan. Sepatu dipakai.

Di pagar, Saqir nengok sekali. "Dua minggu ya."

Kirana angkat tangan. "Dua minggu."

Pintu ketutup.

Kirana duduk lagi. Tangan masih hangat.

Mpok Rini muncul. "Ngobrol apa lama banget?"

Kirana menunduk. Malu. "Ngobrol masa depan Mpok."

Mpok Rini ketawa. "Bagus. Umi pasti senang dengernya."

Kirana lihat ke langit. Mendung mulai terang.

Di hatinya, tidak ada takut lagi. Hanya yakin.

Dia bisik pelan. "Saqir. Aku pilih kamu."

Angin bawa bisikan itu ke arah pagar.

---

Sore itu Saqir pulang dengan motor bututnya. Di kepala cuma satu kalimat yang muter.

"Kirana mau aku. Bukan karena butuh. Tapi karena mau."

Dia berhenti di jembatan. Liatin air mengalir

"Ya Allah. Jaga dia. Sampai aku bisa halalin dengan benar."

Hujan berhenti. Matahari nongol. Jalan Saqir lebih ringan.

...****************...

1
Sarah
*Saqir Indrawan, dong... bukan Saqira lagi.
Sarah
Gak bakal mau, Bu. Kan mintanya 20 - 25 tahunan + sholehah.
Miss Danica
Aqil @Sarah
Sarah
Umur 8 thor... 😭
Terus ini namanya Agil atau Aqil sih? Bingung gue... 😭
@Miss Danica
Sarah
Kakaknya thor, bukan adiknya. 😭
@Miss Danica
Sarah
Lho? Bukannya sebelumnya pada nyalahin Kirana juga yah sambil maksa nikah pas demo?
Sarah
Masa wudhu bareng? Kalau wudhu bareng atuh auratnya Kirana kelihatan dong gak pake kerudung jadinya?
🗿
@Miss Danica
Sarah
Mana bisa umroh 40 hari langsung pulang gitu aja?! 😭 @Miss Danica
Sarah
Berarti Saqir udah dateng sebelum Kirana dateng dong?
Sarah
Makasih, semuanya... karena sayang sama akuuu. 😇😂
@Miss Danica
Sarah
Pantesan Bik Asih sama Paman Syarif kayak gak punya anak.
Sarah
Bu... aktor sinetron, bahkan idol K-pop juga dandan, Bu. Tebel. Cuma gak keliatan aja karena make-up natural. 🗿
Sarah
Apaan? Emang lu punya mobil? 😂
Paman Syarif awalnya masih rada bener, ke sini-sini mulai sedeng juga. 😌
Sarah
Mending kemeja pink-lah, daripada sebelumnya dress kan? 😂
Sarah
Akhirnya ada orang yang berpendidikan beneran. 😌
Sarah
Justru Paman Syarif kurang tegas karena gak bisa didik istrinya sendiri selama ini.
Sarah
Woo... rupanya... 😂😌
Sarah
Gak kuat, nih cewek baik banget. 😭
Sarah
Kalau apa bener Mas Saqira dosa itu urusan, Allah. Tapi kalau Kirana sayang sama Mas Saqira itu gak dosa.
Sarah
Bodoh.
Secara undang-undang tindakan mereka namanya “Menyekap”. Itu menyalahi hak asasi manusia, ustadz.
Orang berilmu dari mana-lah kalian? Sejauh cerita ini jalan yg masih waras cuma Ustadz Sobri.
Harusnya tambahin tag “Konflik etika” di novel toon, thor. Ini ceritanya cocok banget masuk tag itu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!