Mengisahkan Tentang Murid perempuan Nakal yang menjadi penakluk hati dari seorang Guru muda berbakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mania Puspa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat
Sebulan berlalu
Vanya kini bekerja di sebuah Toko roti.
Selama sebulan Anam berusaha mencari Vanya namun nihil.
Hingga Infotainment memberitakan kabar pernikahan Jeni dan Anam Wijaya.
Vanya yang sedang mengepel lantai berhenti sejenak melihat berita itu.
Vanya mulai berkaca kaca dan pemilik toko Roti melihatnya.
"Vanya, biarkan yang lalu berlalu".ucap Tomi pemilik toko roti sambil menepuk pundak Vanya.
"Eh, iya Pak, maaf saya permisi".jawab Vanya lalu membawa ember dan alat pel ke belakang.
Tomi pun tersenyum melihat Vanya berjalan ke belakang.
"Kasihan kamu Vanya, Masih muda sudah menjalani kehidupan rumah tangga yang rumit".ucap Tomi lalu keluar toko.
Jeni datang ke toko Tomi, dan Tomi sendirilah yang melayaninya.
"Silahkan dipilih".ucap Tomi ramah.
"Saya akan memesan kue pernikahan termahal disini, saya dengar anda jago dalam hal demikian dan rasa kue anda begitu banyak mendapat ulasan positif dari para pecinta makanan".jawab Jeni
Tomi mengangguk lalu menulis pesanan Jeni.
setelah membayar Jeni pun meninggalkan Toko.
Vanya kembali dari belakang lalu menata kue kue di dalam etalase toko.
Tomi menyerahkan Pesanan pada Vanya.
Vanya membaca tulisan Jeni dan Anam.
"Bisakah kamu membantu saya membuat kue sesuai pesanan?".tanya Tomi
Vanya mengangguk
"Jangan campur masalah pribadi dengan pekerjaan ".ucap Tomi yang membuat Vanya mengerti.
Malam hari Vanya menutup toko lalu hendak pulang, Namun hujan deras turun dan Vanya tidak membawa payung.
Tomi di dalam mobil melihatnya dan bermaksud mengantar Vanya.
Vanya menolaknya, Akhirnya Tomi menemani Vanya hingga hujan reda
"Pak Tomi, Sudah terang, Vanya permisi dulu".ucao Vanya lalu menaiki sepedanya pulang.
Tomi hanya tersenyum melihat kepergian Vanya.
Di rumah
Anam mendapat berbagai macam amarah dari mama Chua.
Mama Chua menangis dan terus menyalahkan Anam hingga Papa Wijaya bingung menenangkannya.
"Mama gak mau punya mantu Jeni Pa, Cari Vanya pa, Mama Gak mau Vanya kenapa napa, Hiks hiks".ucap Mama Chua sambil memukuli dada suaminya.
"Iya ma tenang Ma tenang, Mantu kecil kita pasti ketemu".jawab Papa Wijaya.
"Nam, lakukan sesuatu, bukankah kamu memiliki orang orang yang kompeten mengapa tidak kamu gunakan jasa mereka?".tanya Papa Wijaya
"Anam malu pa, Anam telah menodai Jeni".jawab Anam yang membuat Papa Wijaya murka lalu memukul Anam hingga wajahnya berdarah.
"Kamu keterlaluan Nam, bisanya kamu melakukannya di saat Vanya menghilang, Pantas saja kamu mengusirnya ternyata kamu dan Jeni telah melakukan hal bodoh".ucap Papa Wijaya.
Anam pun menangis lalu memeluk kaki papanya.
"Maafkan Anam pa, semua itu diluar kendali Anam".Jawab Anam sambil terisak.
Selesai mandi Vanya melihat kalender dan Vanya telah telah 2 minggu.
Vanya pun lemas terduduk di tepi ranjang.
Vanya lalu membeli alat cek kehamilan dan benar saja Vanya mengandung alat itu menunjukkan garis dua.
Vanya senang sekaligus terharu.
"Ternyata kamu ada di perut mama ya Nak, Maafkan Mama tidak menyadarinya, Kita berjuang ya nak, Mama pasti bisa".ucap Vanya sambil mengelus perutnya.
Ke esokan harinya Vanya ke rumah Mama Tantri
Melihat Vanya duduk di sofa, Mama Tantri membentaknya.
"Turun".
Vanya pun berdiri lalu menundukkan kepalanya.
Mama Tantri mendekat lalu menampar pipi Vanya "plak".
Papa Banu yang melihatnya menjadi marah akan kelakuan istrinya itu.
Vanya memegang pipinya sambil menahan rasa sakit dan air matanya.
"Ma, Vanya kesini"...ucap Vanya namun dipotong Mama Tantri
"Aku bukan mamamu, Kamu tidak tahu terimakasih, kamu itu selalu bikin ulah".jawab Mama Tantri
Angga dan Vania yang mendengar keributan berlari ke ruang tengah.
Angga melihat Pipi Vanya merah, sementara Vania berusaha menahan air matanya.
"Vanya, kamu kemana saja dik?".tanya Angga lalu memeluk Vanya.
"Lepaskan , dia bukan adikmu".ucap Mama Tantri.
Angga melepas pelukannya namun mengajak Vanya duduk
Mama Tantri segera menarik tangan Vanya dan membawa Vanya keluar rumah lalu menghempaskan tangan Vanya dengan kasar yang membuat Vanya terjatuh.
"Kamu jangan pernah kesini lagi, ini bukan rumahmu, Kami bukan keluargamu, ".ucap Mama Tantri
Vanya berdiri dengan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dan berusaha tersenyum.
"Vanya akan pergi, terimakasih selama ini telah sudi merawat Vanya, maafkan Vanya yang tidak dapat membalas kebaikan kalian semua, Kak Angga kak Vania semoga bahagia selalu, Papa Banu jaga kesehatan dan ma..maaf Anda Nyonya Tantri semoga setelah saya pergi anda selalu bahagia".ucap Vanya lalu meninggalkan rumah itu.
Vania dan Angga mengejar Vanya dan berusaha menahan Vanya agar tidak jadi pergi.
"Maaf, Vanya bukanlah anggota keluarga ini kak, Vanya hanya akan membuat Mama Tantri Kecewa, Vanya mohon pamit ya Kak".jawab Vanya lalu membalikkan badannya.
Mama Tantri memanggilnya, Vanya tersenyum lalu balik badan
"Bawa semua berkas mu itu Saya tidak mengijinkan kamu kuliah di kampus suami saya".ucap Mama Tantri sambil melempar surat pendaftaran Vanya.
Vanya pun memungutnya lalu mengangguk kemudian Vanya meninggalkan rumah itu.
Papa Banu sangat kecewa dengan ulah mama Tantri.
Vanya pun menangis sambil berjalan di tengah perjalanan ia bertemu dengan Reta.
"Vanya Putri, ".ucap Reta
"Reta".jawab Vanya
"Hahaha nangis di jalanan ngapain?Oh ya selamat ya atas rencana pernikahan suami mu".ledek Reta.
Vanya tidak menanggapinya dan Reta menjegal Kaki Vanya hingga Vanya jatuh dan Lututnya berdarah.
"Maaf ya Nya, Aku sengaja, bye".ucap Reta lalu meninggalkan Vanya.
Anam yang lewat jalanan iti melihat Vanya di tepi jalan dengan lutut berdarah.
Anam menepikan mobilnya lalu menghampiri Vanya.
Anam memeluk Vanya
"Akhirnya aku menemukanmu ".ucap Anam
Vanya terbatuk karena eratnya pelukan Anam.
Anam pun melepas pelukannya.
"Ayo pulang, maafkan ucapanku waktu itu".Ajak Anam
"Hem, tidak Mas, Mas harus menikahi mbak Jeni, selamat ya mas".jawab Vanya yang membuat Anam merasakan sakit di hatinya.
Vanya lalu membersihkan darah di lututnya dengan air mineral, Anam pun mencoba membantunya namun Vanya menahannya.
"Jangan kotori tanganmu Mas, Pergilah mas, kita bukanlah suami istri lagi tidak patut dipandang orang, apalagi mas sekarang adalah publik figur".jelas Vanya yang membuat Anam semakin sakit hantinya.
Vanya berdiri lalu berjalan dan tanpa disadari Vanya ada mobil melaju lalu menabraknya.
Vanya pun terkapar dan ada darah segar mengalir di kakinya.
Anam berteriak melihat Vanya tertabrak dan tidak sadarkan diri.
terlebih Anam melihat darah segar mengalir di kakinya.
Anam pun membawa Vanya ke rumah sakit.
msak dlm 1 episode bisa merubah dlm skjap anehh..brusan brkelahi,,ga mau ngakuin vanya,eeh 10 mnit udh berubah,,ada ya gitu
mas kamu nakalll 😘😘