NovelToon NovelToon
PENGANTIN TANPA PENGANTIN

PENGANTIN TANPA PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:105.5k
Nilai: 5
Nama Author: Opie

Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.

Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.

Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.

Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.

Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.

Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA PULUH TIGA - MASIH INGKAR

Bima mematung di ambang pintu tanpa Pak Mahmud yang memang pergi menyusul istrinya di rumah Mbah Uti. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok wanita yang paling ingin ia hindari. Wajah Bima memerah dan tangannya terkepal.

Hanum yang melihat ekspresi tak suka di wajah Bima segera menghampirinya. Ia berjalan ke arah Bima berdiri lalu meraih tangan kekasihnya yang mengundang tatapan tajam dari Ayu. Ia lantas menuntun lelaki kesayangannya untuk duduk terlebih dahulu.

Tak ada obrolan saat Bima sudah duduk. Ia masih berusaha menenangkan diri dengan Hanum disisinya. Sementara Hanum terus meremas tangan Bima supaya emosi lelaki itu mereda. Pandangan Hanum tak lepas dari wajah Bima, ia harus memastikan warna kemerahan di wajah Bima memudar.

Sama dengan Hanum, pandangan Ayu tak lepas dari wajah Bima yang terkadang bergantian memandang Hanum dengan tatapan tajam seperti mata elang yang mengawasi buruannya.

“Ini calon istri saya yang pernah saya bilang.” Ujar Bima pada Ayu. Kata-katanya menohok gadis itu.

Sementara yang dikenalkan sebagai calon istri malah bergeming dan gelisah. Ia tahu kalau perkataan Bima benar adanya, tapi di sisi lain perasaan seorang perempuan juga terluka. Hanum masih merasa tidak enak.

Ayu yang mendengar kata-kata itupun kebingungan untuk menanggapinya. Ia sudah kalah telak dan tak bisa lagi melanjutkan perjuangannya, karena perempuan yang ada di hati Bima, saat ini ada di hadapannya.

“Aku cuma mau main kesini Bim.” Kata Ayu akhirnya.

“Tapi ini bukan yang kamu janjikan” sanggah Bima “terakhir kali kamu kesini. Itulah terakhir kita bertemu. Dengan bertamu seperti ini kamu ingkar dengan janji kamu sendiri.” Sambung Bima bersungut-sungut.

“Bim….” Bisik Hanum menenangkan pacarnya.

Ayu diam lagi. Ia kikuk dan tak tahu harus berbuat apa. Ayu bukan Ayu yang biasanya. Ia selalu mendominasi, namun terlalu lemah di hadapan Bima. Ditambah ia datang sendiri hari ini, bahka ia tak memberi tahu ayahnya karena janji yang sudah dibuat.

Suasana masih dingin dan mencekam, hanya ada hawa megancam dari Bima. Ia benar-benar keberatan dengan keberadaan Ayu di rumahnya. Bima juga sedikit mempertanyakan kenapa Hanum membiarkan gadis ini masuk. Tapi dia lupa kalau Hanum adalah orang yang tidak bisa menolak.

“Sebaiknya kamu pulang.” Nada suara Bima merendah.

“….” Tak ada jawaban dari Ayu.

“Saya nggak nyaman kalau kamu ada disini Yu. Silakan pulang sebelum gelap.” Tegas Bima.

Sudah tak ada lagi tempat bagi Ayu, ia sungguh tak diinginkan oleh pujaan hatinya sendiri. Ia hancur dan terluka bahkan sebelum ia sempat memiliki si lelaki jangkung itu. Air mata mulai turun dari sudut matanya. Ia terisak.

Bima menghela nafas panjang, ia sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk bisa membuat Ayu pergi. Setelah tangisan terdengar beberapa saat, dan tak ada tanda-tanda Ayu akan pergi. Bima bangkit dan menarik tangan Hanum untuk ikut berdiri.

Bima melangkahkan kakinya keluar dari rumah, ia pergi dengan menggandeng tangan Hanum untuk meninggalkan rumah. Sementara Bima membiarkan sang tamu berada di rumahnya sendirian.

Hanum yang cukup paham dengan situasinya tak bisa berbuat banyak. Ia juga merasa yang dilakukan Ayu memang berlebihan. Padahal Bima sudah menyampaikan penolakannya dengan cara yang baik, namun ia meledak lagi hari ini.

Tak ada tempat lain yang bisa dituju. Bima terus melangkahkan kakinya ke arah rumah Hanum berada. Pikirannya sedang tak karuan saat ini. Hanum sempat berpikir untuk menghentikan langkah Bima karena masih belum mau kembali di rumah. Tapi hatinya tak setuju.

Rasa iba dan rasa sayang Hanum lebih besar, hingga ia berani untuk kembali ke rumah agar bisa menemani Bima untuk bersembunyi walau hanya sementara.

Keduanya terduduk di teras. Bima menundukan pandangannya dengan nafas yang memburu, ia masih kesal dengan hal yang baru saja dialaminya. Hanum tak mengeluarkan sepatah katapun, saat ini yang diperlukan Bima hanyalah ketenangan, pikirnya.

Sepuluh menit berlalu, nafas Bima sudah kembali normal dan ia mengusap wajahnya berulang kali sebelum menatap Hanum. Seperti sedang me-reset ekspresi wajahnya agar sesiap mungkin menghadapi kekasih di hadapannya.

“Maafin aku ya. Kayaknya sering banget marah-marah di depan kamu.” Kata Bima menatap lekat mata almond milik kekasihnya.

Si pemilik mata almond hanya tersenyum dengan sangat manis, wajahnya miring sesekali untuk mengamati wajah tegas yang sudah melunak. Hanum mengusap wajah Bima dengan satu tangannya. Ia membelainya dengan lembut.

“Kamu nggak perlu minta maaf.” Suara Hanum begitu menenangkan.

Setelah suara itu terdengar Bima tak lagi berkata-kata. Ia merebahkan tubuhnya diatas ubin yang dingin. Lalu ia meminjam pangkuan Hanum untuk dijadikan bantalan kepalanya. Lelaki itu terpejam. Ia sedang menikmati kedamaian yang selalu ia rasakan saat bersama kekasihnya.

Tangan Hanum masih membelai wajah Bima yang kecoklatan. Pandangannya tak lepas dari wajah itu, sesekali ia menyisir rambut hitamnya ke samping. Senyumpun tak lepas dari wajah keduanya.

Hari semakin sore. Hanum mengingatkan Bima agar ia segera bangkit untuk pulang ke rumah. Merekapun segera mengakhiri kebersamaan yang amat sangat berharga tanpa ada seorangpun yang mengganggu.

Keduanya sudah hampir sampai di jalan besar menuju rumah Bima, mereka melihat lampu-lampu sudah menyala pertanda gelap segera menyapa. Mereka memasuki rumah dan tak melihat keberadaan Ayu. Ia pasti pulang setelah diabaikan pikir Hanum dan Bima.

“Kalian darimana?” Tanya Marini yang menyingkap tirai dapur.

“Habis ngadem bu.” Jawab Bima jujur.

“Kalau mau main ya boleh, tapi pintu ditutup dong” Marini masih ada di ambang pintu dengan setengah tirai terbuka “biarpun cuma ada TV di rumah, itu lumayan berharga loh.” Sambungnya sedikit sewot.

Hanum menatap Bima. Ia menuntut agar Bima menjelaskan situasi yang mereka hadapi. Tapi sebelum Bima menjelaskan, ibunya sudah menyuruh mereka untuk datang ke dapur dan bergabung untuk makan malam sebelum magrib.

Sudah ada Pak Mahmud yang duduk di atas dipan, ia sedang menikmati makanannya. Sayur kacang merah dan ikan mas goreng. Makanan yang selalu ditanyakan Bima.

“Jadi gini bude….” Ujar Hanum membuka obrolan setelah membenahi tempat duduknya.

“Ayu kesini lagi bu.” Timpal Bima gamblang.

Pak Mahmud berhenti menyuap. Marini juga membeku. Mereka cukup terkejut dengan apa yang masuk kedalam indra pendengaran mereka. Setelah suasana tegang itu sedikit mencair, keduanya saling melempar tatap.

Pak Mahmud dan Marini tentunya tak menyangka bahwa gadis dari desa Kalibening itu akan sangat gigih dalam mengejar anaknya. Mereka juga belum memercayai kalau gadis itu telah melanggar hal yang telah dijanjikannya, bahwa ia tak akan lagi menemui Bima.

Atau memang Ayu sudah merencanakan ini semua, bahwa ia akan berhenti menemui Bima tapi datang seenaknya tanpa pemberitahuan. Pak Mahmud dan Marini masih tak habis pikir. Bahkan sudah beberapa hari Pak Mahmud sudah tak berurusan lagi dengan Pak Gondo. Selain menjaga perasaan, ia juga tak ingin istrinya terluka karena tak senang dengan pertemanan mereka yang menurut Marini tidak baik.

1
Saya Sayekti
maaf Thor aku g kuat bacanya .aku mundu.aku kucur jantung ku udah dingin
Saya Sayekti
udah mulai serem nya.td msh penasaran
Saitama Fans
ngeri ceritanya
Saitama Fans
??????
Siti Arbainah
Itu cara bu Ambar ya biar bu Marni mau nerima twarannya
Nur Hasanah
Luar biasa,aku suka sama ceritanya
Shefia Tamara
bagus
Elvisuke
tamat kah ??
aoleng marang alloh
lama bgt g up
Yeyet Suryati
wah gimana kelanjutannya thorrr GK up nich dah lama bangetss
Yumna Faida
kapan lanjut thor, penisirin aq x. ceritanya bagus. moga sukses dan sehat sll
Nenden Solehah
lanjut lagi thor semangat up nya
Santhy Liem
kapall oleng,komandan....
Santhy Liem
lanjut thorr
Yeyet Suryati
up donk authorr
opie evani aprilia: Hallo. Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
aoleng marang alloh
d tggu up x
opie evani aprilia: Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
Yeyet Suryati
ikh kirain lanjut eh malah pengumuman kpn lanjut ..tamatin AZ biar yg baca GK bete nunggu
opie evani aprilia: Dimohon kesabarannya ya kak. Terimakasih sudah support terus 🤍🤍🤍❤️❤️❤️
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
sabar menanti tante Hanum kembali 😌😌😌 aku ga ada pengalaman kyk km thor..mo resign ya resign ajah dulu mah hehehe ..
opie evani aprilia: Iya kak. Maunya gitu. Hehehe
Tapi malah numpuk tugasnya ...
Semoga segera berlalu
Terimakasih sudah support terus ❤️❤️❤️🤍🤍🤍
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
betul itu..yg lalu biarlah berlalu ..hidup hrus brrjln terus...
Yeyet Suryati
up donkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!