NovelToon NovelToon
Benih Bayaran

Benih Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahkontrak / Duda / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Pengantin Pengganti Konglomerat / Tamat
Popularitas:447k
Nilai: 5
Nama Author: Ollane

Farhan, divonis mandul. Agar bisa mempertahankan Marla, Farhan rela membayar adik tirinya Agustin untuk menikahi Marla selagi Marla dan Farhan bercerai sementara.
Sesuai perjanjian Agustin harus menghamili Marla, setelah mengandung dan melahirkan Marla akan dikembalikan ke Farhan.
Awalnya, Agustin setuju karna bayaran. Tapi lambat-laun berangsur berubah pikiran. Agustin malah berubah haluan, dan ingin menjaga keluarga kecilnya. Anaknya dan Marla istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nggak Ada Rasa

Agustin mendekati tubuh Marla yang masih terkapar nyenyak di atas ranjang sempit. “Astaga, istriku. Masih tidur saja kamu,” ditumpunya tangan dan menyapukan bibir ke dahi Marla. Ditutupinya tubuh Marla dengan selimut lalu membawanya ke dalam gendongan. Berjalan ke kamar sebelah yang lebih luas dan membaringkan Marla ke kasur yang luarbiasa empuk.

Agustin mengelus pipinya, lalu berlalu ke dapur. Ingin memasak nasi dan apapun yang bisa disediakan untuk makan setelah Marla bangun, setidaknya Marla tidak perlu repot saat perutnya lapar.

“Aku adalah suami yang baik,” gumam Farhan dengan senyum percaya diri.

.

.

Tunggu!

Marla langsung terlonjak bangun ….

Dia merenung sebentar … ada yang aneh. Benar, ada yang aneh.

Beberapa kali mereka berhubungan, seperti ada yang aneh. Marla terdiam dan memikirkannya. Dipikirkannya ulang dan terdiam. Ah, diacaknya rambut. Sepertnya hanya perasaannya saja, lalu setelah itu mengedarkan pandangan ke sekitar, terdiam sejenak. Dia sudah berpindah lokasi, sepertinya Agustin yang memindahkannya. Lalu dimana Farhan? Marla suram saat memikirkan lelaki yang dicintainya itu.

Nampaknya Farhan sudah pergi lebih dahulu, padahal Marla ingin sekali melihatnya.

Setidaknya obat rindu untuk beberapa minggu ke depan, karena mereka jarang bertemu. Nyaris tidak pernah lagi bertemu.

Marla mandi dan berpakaian. Setelah itu ke dapur, menongolkan kepala ke ambang pintu yang terbuka. Didapatinya Agustin yang tengah menunggu di meja makan, tersenyum manis, menunggu Marla sedari tadi. “Udah bangun sayang--Mbak?” Agustin menepuk mulut, lalu memamerkan masakannya, “makan, yuk.” Ajaknya bersemangat.

“Kok, kamu yang masak, Tin?”

Marla terlihat heran. Melangkah mendekat dan duduk menghadap Agustin.

“Sesekali lah Mbak, jadi suami serasa istri. Makan, yuk!” Agustin meraih piring dan mengisinya untuk Marla. Marla menerimanya, dan memakan masakan Agustin. Marla bergumam, terlihat takjub. “Em, enak loh.”

“Bener?” Agustin tersenyum lebar.

“Iya, bener.”

“Perpaduan rasa cokelat dan gulai mungkin lebih enak, loh Mbak?”

Agustin mulai mengerjainya lagi, mengerjap ke arah Marla dengan mata berbinar. Jika Agustin meminta imbalan, kalimat itulah yang selalu dia katakan. Intinya sama, dengan beberapa kata yang sedikit berubah.

Marla mendelik, “untuk sekarang, mulutku nggak berasa apa-apa, Tin. Rasa pasta gigi.”

“Kupikir perpaduan rasa gulai dan pasta gigi, tidak buruk.” Agustin bergumam menyebalkan. Masih melirik Marla, dengan pandangan penuh harap dan kode-kode yang menyebalkan tapi dapat ditebak.

Marla pasrah dan melayangkan kecupan singkat di pipi Agustin, lalu lanjut makan.

“Nggak berasa loh Mbak,” Agustin protes, dengan bibir mengerut.

“Tambahin aja laukmu dengan pasti gigi, mudah ‘kan? Jadi perpaduan rasa gulai dan pasta gigimu seperti apa? Kamu bisa rasakan sendiri, tanpa mengajakku.” Marla membalas cuek, membuat Agustin cemberut.

“Okelah,” Agustin mengangkat bahu, “terserah kau kata, istriku.” Diaduknya nasi yang dicampur gulai. Agustin suka makanan lembek yang penuh kuah, lalu melahapnya dengan rakus. Sesekali melirik Marla yang makan dengan pelan dan tenang. Dengan perlahan Agustin meniru cara makan Marla, separuh waktu mereka di meja makan, Agustin menghabiskannya untuk memandangi Marla, mengikuti gerak-gerik dan makan dengan caranya.

Sumpah demi Tuhan. Segalanya yang ada pada diri Marla membuatnya tergila-gila. Sekalipun hanya sedikit gerakan tubuh saat melakukan sesuatu.jadi tidak wajar ‘kan bagi Agustin, melepaskan perempuan semenggilakan ini hanya karena rasa simpatik kepada Farhan? Oke, oke. Agustin tahu, dia terlalu egois. Sejak awal Marla bukan miliknya, sejatinya Marla milik Farhan. Dia yang merebut Marla secara tidak langsung, sekalipun dia dituntut untuk mengembalikannya.

Tapi Agustin menganggap dirinya tidak waras jika melepaskan perempuan …

Yang benar-benar membuatnya tergila-gila.

Saat Marla menyudahi makannya, Agustin melakukan hal yang sama.

Marla mencuci tangan di wastafel. Agustin mendekatinya dan menangkup tangan Marla. Masih dengan keran yang mengalirkan air, Agustin membawa kedua tangan mereka untuk saling membersihkan satusama lain. Sedikit dikasih sabun, dan menggosok kulit tangan satusama lain. Marla melirik Agustin yang mengusap tangan Marla hingga bersih, lalu setelah tangan keduanya bersih Agustin meraih wajah Marla. Tangannya yang basah menyapu sudut bibir Marla yang basah terkena air, lalu bertanya.

“Berkenan atau tidak berkenan?”

Marla memicingkan matanya, “apanya?”

“Untuk menciummu. Berkenan, tidak?”

Agustin terlihat tidak sabar.

“Bersihkan dulu mulutmu.” Suruh Marla, seperti titah menggerakkan dagunya. “Kumur-kumur sana.”

“Mbak benar tidak mau mencoba perpaduan rasa gulai dan gulai?”

“Cuci mulutmu, Tin.”

Suruh Marla dengan nada mendesak. Tubuh Agustin lemas dan pasrah, lalu menampung air keran ke dalam mulut, berkumur-kumur hingga bersih dan setelah itu kembali tersenyum semringah.

“Rasanya hambar, dong Mbak. Nggak ada rasa samasekali ‘lah kalau udah sama-sama cuci mulut.” Keluh Agustin, terlihat sedikit kecewa.

“Diam, dan kemarikan wajahmu.”

Sekalipun sempat mengeluh, Agustin tetap menurut. Kepalanya merundung, kedua rahangnya ditangkup oleh Marla. Kening mereka bertubrukan, Marla mengalungkan lengan ke leher Agustin lalu menyapukan bibirnya sejenak dan menarik diri. “Cukup, ‘kan?”

“Nggak ada rasa, Mbak.”

Keluh Agustin, sekalipun mulutnya tidak mencerminkan wajahnya. Wajah Agustin masih terlihat bahagia dan semringah, terlalu berseri-seri.

“Apanya yang kurang?”

“Kamu sudah menciumku, belum cukup. Karena aku juga harus menciummu. Baru sempurna.”

Agustin mengangkat dagu itu. Gantian, kini Agustin yang mencium Marla.

1
Fitri Merry Lesar
endingnya mengecewakan
Fitri Merry Lesar
hampir setahun agak enggan buka NovelToon karna blum dapat cerita yg pas...
kali ini bersemangat lagi...tank you thoor🙏
Ollane
Cek cek
Uniie Gentra
namanya aga mirip² ya jadi kalo typo lumayan pusing
Zhifa Donat
lanjut....
Zenira Leony Fernandaz
lanjut dong Thor bagus ni ceritanya
penasaran dgn lanjutannya😭😭
Fitri Ichal
ditunggu selanjutnya
Sumiyati Ade Rombli
KK tolong nulis tuan izar di sinih
Sumiyati Ade Rombli
KK tolong si KK tulis cerita tuan izar
Lenabid Daeng Lumang
mampir Thor...semangat💪
Yuyun Haryanto
hubungannya kaku banget. bahasanya bersedia / tdk bersedia.
Vivi Dewi
👍👍👍👍👍
Juliha
kenapa nga di madu 😁😁😁😁sekali2 cowo di madu 😂😂😂
ida siz
lanjutt...bagus bngt novel nya
Riwid
pasti lucu ya , aq bacanya geli 😀😀
Shelvi Selly
Farhan aku mencintaimu......
plis deh jdi ikut sakit hati...
Shelvi Selly
dari FB cus...meluncur...
rinny
ayo semangat Augustin..... papa mertua mendukungmu 💪💪💪💪💪
Sitimusmiroh
farhan mempermainkan ikatan suci pernikahan
Sitimusmiroh
farhan egois
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!