Tentang rasa dan tujuan yang tak pernah selaras dengan kenyataan, dimana keduanya bertolak belakang, lalu memilih tak searah. Adella ayu Prasetyo, gadis malang yang terombang-ambing antara keluarga dan cintanya.
Harapan untuk menemukan dalang dalam rencana pembunuhan sang Ayah kandas ketika hatinya berperan dalam pencarian tersebut serta sebagai ajang balas dendam untuk mendapatkan keadilan untuk sosok pahlawan dalam dunianya.
Begitu pula dengan Alaska Regantara, yang mencoba mencari seseorang yang membuat keluarganya hancur lebur, dan bersumpah akan menghancurkan keluarga itu seperti kehancurannya. Kisah ini seperti benang kusut yang sulit dilerai namun memiliki kemungkinan, kedua insan yang terlibat memiliki teka-teki yang sulit ditebak dan dipecahkan.
Akan kah dua orang yang memiliki tujuan balas dendam itu dapat memecahkan perihal hati mereka? Atau justru mereka terfokus untuk tujuan yang sama?
Inilah kisah terumit yang mereka buat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmadila Adelia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemunculan Rafka (revisi)
Alaska terus berusaha memejamkan matanya, tapi ia tetap saja gelisah. kalimat Adella begitu menusuk tepat di jantungnya hingga mulai bermunculan penyesalan yang mungkin sudah ada ketika ia membuat keputusan.
Adella benar, Jakarta-Singapura tidak terlalu jauh, lalu apa yang sebenarnya menjadi alasan dirinya tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh?
Alaska bangkit dari berbaringnya, lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya di wastafel, kemudian ia melihat wajahnya yang basah di cermin, "Ga tau diri Lo Alaska," ujarnya pada dirinya sendiri lewat cermin.
"Dan dengan egoisnya Lo lebih milih gua mati dibunuh di sini dari pada harus pisah negara."
kalimat itu terngiang di telinganya, seolah ada perekam suara yang terus memutar kalimat Adella yang membuatnya sadar telah melakukan kesalahan hingga ia kehilangan kesempatan dan kepercayaan.
Alaska mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasurnya, ia menghubungi seseorang, mungkin ada sedikit harapan untuknya lagi.
***
"Lo ngapain ke rumah gua?" tanya Alaska pada gadis yang kini berdiri di depannya dengan wajah yang tak berdosa.
"Aku mau ketemu kamu lah Alaska."
"Lo gila? "
"Hari ini kan hari Minggu, aku mau ngajak kamu jalan, anggap aja lagi pdkt." Alaska memutar bola matanya, tidak ada habisnya meladeni gadis seperti Fany.
"Hai Tante," sapa Fany. Alaska membulatkan matanya ketika mendengar kalimat sapaan Fany, apakah ibunya tengah memperhatikan mereka?
Alaska langsung menarik Fany ke dalam pelukannya membuat sang ibu yang melihat itu justru mengerutkan keningnya, tapi Alaska lupa jika mereka berada di depan gerbang yang bisa di lihat siapa saja
Alaska jadi teringat perkataan ibunya dan ayahnya yang tidak percaya jika hubungannya sudah berakhir dengan Adella. seketika terbesit sebuah ide untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia memang sudah berakhir.
Alaska menarik lengan Fany untuk masuk ke dalam rumahnya, kebetulan hari ini kedua orang tuanya serta kakaknya tengah berada di rumah dan sedang menghabiskan waktu dengan menonton tv. Sepertinya setelah melihat kejadian ia memeluk Fany, ibunya langsung pergi .
"Mah, pah, kenalin ini pacar aku namanya Fany."
sangat di sayangkan ternyata keputusannya saat itu justru membawanya ke masalah besar.
"Bagi Adel, Lo adalah laki-laki terbrengsek yang pernah dia miliki," ujar Rafa.
Alaska dan Rafa tengah berada di tribun lapangan basket, mereka tengah berlatih basket sepulang sekolah, tentunya karena sang ketua basket tengah patah hati, jadi Alaska membuat latihan dadakan sebagai penghilang rasa sakit atau sebagai pelampiasan untuk emosi yang ia pendam.
"Karena keputusan Lo yang terlalu terburu-buru, Lo malah mempersulit diri Lo sendiri, di hadapkan dua masalah sekaligus, hebat Lo Al," kata Rafa lagi sebagai sindiran untuk Alaska. "Kehilangan orang yang Lo cintai, dan semakin di kejar sama sosok yang udah Lo kasih harapan." Rafa terkekeh sinis, lalu meninggalkan Alaska yang termenung di tempatnya.
***
Hari ini adalah hari ketiga Adella berada di Jakarta, ia sungguh bosan menunggu Rafa yang tengah bersekolah. Seharian ini ia hanya berguling-guling di kasur tanpa memiliki rencana apapun, ia tidak berniat untuk pergi ke mall hanya sekadar mencuci mata, ia juga tidak ingin berjalan-jalan seorang diri di kota sebesar ini.
Ia mengambil ponselnya kemudian mencari nama Rafa di sana, mungkin sebentar lagi laki-laki itu pulang sekolah.
Rafa
^^^bawain gua makanan dong ke markas, gua mau latihan udah lama banget ga latihan.^^^
Adella langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia pakai ketika latihan. ia mendengar dari salah satu sepupunya yang mengatakan jika anggota penjaga telah bertambah, entah siapa yang membuka perekrutan. Mengingat keluarga Prasetyo itu besar jadi ia tidak tahu siapa yang berinisiatif menambah anggota.
Setelah selesai, ia mencari kunci motor nya tapi Adella tidak kunjung menemukan benda yang ia cari itu.Ia berdiri sejenak sambil mengingat terakhir kali ia menggunakan motor.
Adella menepuk dahinya, Rafa menceramahinya tadi pagi karena sudah ikut balap motor meskipun di menangkan oleh dirinya, bahkan Rafa menyita motor nya setelah mengadukan dirinya pada Gavin.
Terpaksa ia harus menggunakan taksi dari pada harus berjalan kaki, jarak markas dari rumah Rafa sangatlah jauh tidak mungkin Adella kuat berjalan kaki.
***
Sepulang sekolah Rafa langsung menuju tempat yang menjadi rumah keduanya, ya tentu saja karena Adella memintanya untuk datang, jika tidak maka gadis itu akan ngambek dan berujung perang dingin dengannya.
Rafa tidak datang seorang diri hari ini, karena dua sahabatnya memaksa untuk ikut, kalo Alaska sudah pasti ingin melihat Adella, sedangkan Alfi? entah siapa yang ingin di lihat oleh Alfi.
"Rafa, liat noh kelakuan sepupu Lo," kata salah satu laki-laki seusia Rafa sambil terkekeh. buru-buru Rafa masuk untuk mengecek apa yang dilakukan Adella di dalam.
Rafa terkejut melihat seseorang yang tengah di ikat dengan wajah yang sudah penuh dengan lebam, di hadapan laki-laki yang diikat itu, Adella tengah berkacak pinggang seraya mengomel.
Rafa mengedarkan pandangannya menatap satu per satu orang yang berdiri di sana seperti patung, tidak ada yang memberitahu Adella atau menghentikan aksi brutal gadis itu.
"Adel," panggil Rafa.
Adella menoleh dan melihat Rafa berdiri dengan alis yang berkerut, ia langsung berjalan menuju sepupunya itu, "Ada penyusup Raf, pasti dia suruhan musuh nya Gavin," kata Adella sambil menunjuk laki-laki yang terikat.
Rafa menoyor kepala Adella hingga gadis itu terhuyung ke belakang, "Dasar bocah kemplang," ujar Rafa. Adella melotot mendengar umpatan Rafa, ia menoleh ke belakang Rafa karena suara tawa yang mengusik pendengarannya, ternyata suara itu berasal dari Alfi, dan lihat ada siapa lagi di sana selain Alfi.
Entah kapan Rafa melepaskan orang yang ia ikat, kini orang itu berdiri di hadapannya dengan tangan yang dilipat di atas perut, matanya menatap dirinya dengan tajam seolah ingin mengulitinya hingga habis. mendadak nyalinya menciut melihat tatapan tajam orang itu, biasanya ia tidak pernah merasa seperti ini selain dengan Gavin.
"Ga mau nonjok gua lagi?" tanya orang itu.
"Del, bukannya udah ada yang bilang ke Lo kalo kita baru ngerekrut beberapa orang, dan dia salah satu nya," ujar Rafa.
"abis mukanya kaya penyusup ya gua kira dia mata-mata makanya gua tonjokin."
"Terus kenapa ga ada yang ngelarang Lo?" tanya Rafa.
"Karena gua ancam ga ada yang boleh ngomong atau belain dia."
"Emang putus cinta bikin bego."
"Lo lebih bego dari gua," kata Adella merasa tersindir, lalu meninggalkan mereka semua menuju ring tinju. ia tidak memedulikan kehadiran Alaska di sana.
Baginya, Alaska hanya angin lalu yang pernah membuatnya merasa nyaman,tapi saat ini Alaska tidak lebih dari angin yang tak pernah bisa ia lihat dan tak pernah bisa ia genggam.
Hatinya masih terlalu perih untuk menerima kembali kehadiran Alaska meskipun untuk sebuah pertemanan.
"Oh iya kenalin dia namanya Rafka," kata Rafa pada Alfi dan Alaska, "Denger ga Del? namanya Rafka, dia masih 18 tahun," kata Rafa sedikit berteriak pada Adella yang sudah memulai kembali latihannya.
"Gua tim Adelrafka dari pada Adelaska," kata Alfi. seketika perkataan Alfi membuat Adella menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam ke arah Alfi, " Bercanda Del, peace." Jika sudah ditatap seperti itu, mana Alfi berani, bisa-bisa ia bernasib sama dengan Rafka.
sukses selalu buat author na 🙏🤗
papaygo😙
oklh sukses selalu buat author 😌