Dia terlihat piawai bermain dengan ekspresi dan gesture tubuhnya. Bergaya dengan busana elegant dan mewah. Ketampanannya adalah anugerah dan ekspresi adalah bahasa jiwa. Membuat semua wanita dan rekan bisnisnya berdecak kagum.
Namun siapa sangka, di balik kegemilangan kariernya, ia menyimpan sisi gelap yang hidup di alam bawah sadarnya. Latar belakangnya Kesepian dan kepedihan hidupnya ia sembunyikan dengan sekeras-kerasnya hingga nyaris tidak memiliki kehidupan pribadi. Bahkan ia tidak mengerti apa itu cinta. Yang ia pahami hanya rasa sakit dan tersisih.
Dalam perjalanan alam bawah sadar ia menciptakan pribadi lain di saat ada guncangan emosional datang. Entah saat sedih atau gembira, bahkan saat bercinta,
ia menjelma menjadi pribadi lain yang bernama Rava Alexi Ortama, dengan sifat yang sangat cerdas, licik, dingin, psikopatik dan sangat bengis.
Saat menjadi Rava, yang ia pikirkan adalah mencari teman untuk dirinya di masa lalu. Semua orang harus mengalami rasa sakit, penderitaan, kesepian, ketakutan, sama seperti yang dirasakannya selama ini.
Penasaran dengan kisahnya, yuk simak jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap basah
Rava terbangun karena sinar cahaya matahari yang masuk lewat celah pintu jendeka, terasa hangat di wajahnya. Perlahan ia bangun lalu duduk di tepi tempat tidur, ia merasakan masih pusing akibat mabuk semalam. Kemudian ia beranjak berdiri, melangkah pelan menuju kamar mandi.
Satu jam berlalu ia telah selesai dengan dirinya, bergegas keluar kamar menuju kamar Keyla. Rava bermaksud mempertanyakan kemana tiga wanita semalam dan kenapa vila itu terlihat bersih tidak ada bekas minuman yang berserakan.
Pintu kamar Keyla yang tak terkunci, membuat Rava dengan mudah masuk ke kamar gadis itu. Namun sesampainya di kamar, ia tidak menemukan Keyla.
"Kemana dia?" tanya Rava dalam hati, terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. "Ternyata dia sedang mandi."
Rava duduk di tepi tempat tidur, ia melihat majalah pria dewasa tergeletak di atas tempat tidur. Lalu mengambil majalah itu, memperhatikan cukup lama.
"Bukankah dia laki laki? kenapa dia membaca majalah pria? atau jangan jangan dia gay? " pikir Rava seketika membayangkan kalau Keyla bukan pria normal.
Suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Keyla berdiri menatap tajam ke arahnya hanya menggunakan balutan handuk layaknya wanita.
"Huaaaaaaaaa!!!'" pekik Keyla menutupi dadanya dengan kedua tangan dengan reflek.
Rava mengerungkan alisnya menatap bingung Keyla. "kau menjerit seolah olah melihat hantu?"
"Sedang apa kau disini?" tanya Keyla gugup.
Rava berdiri, lalu mendekati Keyla dengan tatapan aneh. "Memangnya kenapa? bukankah kita sama sama pria?"
"A, akku-?"
"Aku apa?" potong Rava memperhatikan tubuh Keyla lalu menghirup aroma wangi sabun di tubuh gadis itu, membuat Keyla semakin gugup.
"Menjauh dariku!" bentak Keyla takut.
Namun tangan Rava menyentuh pundak Keyla. "Kulitmu halus seperti perempuan, "
"Hei jangan sentuh aku!" Keyla bergeser dari tempatnya berdiri.
"Kau ini pria aneh!" ucap Rava. "Sudahlah, ayo cepat pakai pakaianmu. Kita pulang!"
"Bagaimana aku mau ganti pakaian? kau saja masih berdiri di sana! Keyla mulai kesal.
"Oke, maaf!" sahut Rava begidik lalu beranjak pergi dari kamar Keyla.
Beberapa menit kemudian, Keyla sudah selesai dan mereka bersiap siap untuk kembali ke Jakarta.
***
"Kita mau kemana Pak?" tanya Keyla.
"Aku mau menemui Beby." Kata Rava.
"Siapa Beby?" tanya Keyla menoleh ke arah Rava sesaat.
"Mangsaku!" sahutnya ngasal.
"Mangsa?" Keyla mengulang kata kata Rava.
Rava hanya mengangguk pelan, ia memutuskan untuk menemui Beby dan memintanya untuk bekerja. Entah mengapa Rava menjadi iba kepada gadis itu, tapi yang pasti bukan iba karena kasihan. Tetapi ia sudah lama tidak mrndapatkan korban lagi.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman rumah Beby. Di dalam mobil, Rava melihat Aira dan tiga pria tengah berbicara kasar dengan Beby. Rava bergegas keluar dari pintu mobil bersamaan dengan Keyla.
"Aira hentikan!" seru Rava menatap tajam ke arah Aira.
"Rava?" Aira terkejut melihat kedatangan Rava yang tiba tiba.
"Hahaha, aku sudah menduganya sejak awal. Kau hanyalah wanita bayaran!" Ledek Rava.
"Pak, mereka hendak menculikku.." Beby berjalan terhuyung mendekati Rava dan Keyla. Menahan rasa sakit di perutnya akibat di tonjok oleh Aira.
"Siapa yang menyuruhmu? katakan!" bentak Rava mulai marah.
"Tidak ada!" sahut Aira.
"Bohong!" sergah Rava tidak percaya.
Aira yang sudah tertangkap basah tidak dapat bersilat lidah lagi. Akhirnya ia memerintahkan tiga pria yang bersamanya untuk menyerang Rava.
"Habisi dia!"
Melihat Rava di serang tiga orang sekaligus, Keyla tidak tinggal diam.
"Kau diam di sini, aku membantu Pak Rava dulu." Ucap Keyla kepada Beby yang hanya mengangguk pelan.
Beby berjalan mundur menjauh dari mereka, memperhatikan Keyla dan Rava melumpuhkan tiga pria itu sekaligus. Sekilas Beby melihat Aira hendak melarikan diri. Dengan tenaga yang tersisa ia mengejar Aira dan menarik rambutnya mundur ke belakang.
"Mati saja kau, wanita iblis!"
"Bukk!!"
Perkelahianpun tak dapat di elakkan, Beby mati matian melawan Aira yang memang bukan tandingannya. Beruntung Keyla membantu Beby meringkus Aira dengan mudah. Karena Aira tidak mampu menandingi kemampuan bela diri gadis kurus kering itu.
"Ikat dia!" perintah Rava menatap marah ke arah Aira. "Licik! kau pikir aku bodoh?" Rava tersenyum sinis. Kemudian ia menghubungi anak buahnya untuk menjemput Aira dan mengurungnya di penjara bawah tanah.
"Terima kasih!" ucap Beby. "Kau telah menyelamatkanku."
"Di mana ibumu?" tanya Rava.
"Ibuku meninggal dua hari yang lalu akibat kecelakaan di jalan raya." Ungkap Beby.
Keyla yang mendengarkan cerita Beby, dengan spontan merangkul bahu Beby dan mendekapnya erat.
Rava menautkan kedua alisnya menatap ke arah Keyla, lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum penuh arti.
Tak lama kemudian anak buah Rava datang ke tempat itu, membawa Aira dalam keadaan tetikat ke dalam mobil. Rava juga meminta Keyla untuk membawa Beby ke rumahnya. Sementara dirinya sendiri, pergi ke rumah Aditya untuk menemui Avram.