NovelToon NovelToon
Devil Dosen

Devil Dosen

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:967.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rainawjy

Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole

Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!

Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34: Try

Nara duduk bersandar di kasur. Kedua kakinya tak bisa diluruskan, jadi agak dibengkokkan. Dia tak bisa berdiri, berjalan, dan tentu saja tak bisa lari. Dia kalang kabut mencari cara lain untuk melarikan diri. Melarikan diri dengan kursi roda, itu bukanlah hal yang lucu. Memanjat saja tak bisa, bagaimana dia bisa lolos dari pintu keluar rumah ini?

Nara duduk mematung. Dia memikirkan segala sesuatu yang harus ia lakukan dan jantungnya berdebar cepat saat mengingat hukuman dari pria itu. Dia sendiri menjadi lemas, tak berani lagi untuk melarikan diri. Kali ini, situasinya cukup beda. Kalau pria itu tahu Nara hanya berpura-pura hilang ingatan dan berusaha melarikan diri, dia tak segan-segan mengunci Nara di gudang.

“Nara?” suara jantan itu membuat Nara membuka matanya dan memalingkan wajahnya ke asal suara itu.

Mata Nara berbinar-binar. Pakaian formal hitam serta sepatu kilat tampak kokoh di tempat ia berada. Wajah jantan dan seram disertai ancaman-ancaman mematikannya yang sedaritadi Nara ingat. Rambut tanpa pomade-nya, rapi disisir ke kanan. Harum parfumnya menggelikan bulu hidung, wanginya jantan sekali. Nara teringat wangi parfum yang ia pakai saat menemui Nara di lorong. Dia seperti akan menghadiri pesta. Tapi, dia tak mungkin ke pesta hari ini, seperti janjinya tadi. Sekarang, wajahnya tampak cemas sampai alisnya berkerut seperti jeruk purut.

Pria itu berjalan menghampiri Nara, “Apa yang kau lakukan?”

Nara mendongak dengan hati-hati, “A—aku... aku hanya mencoba berjalan.”

Pria itu dengan cepat menggendong Nara dan menempatkannya ke kasur. Kepala Nara dibaringkan di bantal empuk yang bersandar di sandaran kasur. Pria itu duduk di tepi kasur, dekat dengan Nara.

“Apa aku menyuruhmu berjalan?” pertanyaan pertama sangat mematikan bagi Nara.

Nara meneguk ludah. “Tidak.”

“Lalu kenapa kau berjalan? Kalau tadi aku tidak ada di sini, bagaimana? Kau duduk di lantai seperti tadi?” Mimik wajah pria itu terlihat cemas sekali.

“Aku... aku minta maaf,” Nara menjawab kalem.

“Minta maaf saja cukup untuk ini?” Nara tercengang mendengar jawabannya, “kau harus taat padaku, Nara. Jika aku tidak memberikan instruksi apa pun, jangan coba-coba melakukannya. Kalau kau seperti ini lagi, aku takkan memaafkanmu.”

“I—iya... aku hanya mencoba tadi. Jadi, aku tak usah membuatmu susah untuk mengurusku,” Nara berusaha meyakinkannya.

“Aku berhak mengurusmu, kan? Di sini, apa derajatku? Kau lupa dengan cincin pernikahan kita?” pria itu menggenggam tangan kanan Nara, “Cincin pernikahan kita masih indah saja di tanganmu.”

Nara sesak mendengarnya. Dia teringat kisah menegangkan di balik cincin itu. Namun, dia berusaha tenang untuk menjalankan sandiwaranya.

“Iya. Btw, kau tidak bekerja?”

“Hem,” pria itu mengingat percakapannya semalam dengan Nara, “oh, boneka ya?”

“Ha?” Nara bingung mendengarnya, “Boneka apa maksudmu? Aneh sekali.”

“Kau ingin tahu? Nanti juga kau tahu, jadi aku tak perlu memberitahukanmu.”

“Lorence,” jeda sejenak, “kau menyebalkan. Kasih tahu dong.”

“Aku sudah mau bekerja,” pria itu mengalihkan pembicaraan, “saatnya jadi bonekaku.”

“Apa?” Nara bertanya dengan intonasi bingung. Pria itu tak memerdulikan perkataan Nara. Dia berdiri.

“Apa? Katakan, Lorence!” Nara memaksa. Pria itu menggendong Nara lagi dengan model bridal style. “Lorence!”

“Diam,” suruh pria itu. Nara langsung meneguk ludah. Dia tak berani lagi berkata apa pun yang akan membuatnya marah.

-oOo-

Nara duduk di pangkuannya. Perutnya dililit tangan kiri pria itu. Tangan kanannya menuliskan kata-kata di kertas di dalam folder. Punggung Nara bersentuhan dengan dada pria itu, membuatnya tak berani berkutik. Setitik pun gerakan, tak berani ia buat. Nara ingin berhenti bernapas. Menghirup udara bercampur aroma parfumnya, membuat Nara semakin takut. Tenggorokannya sakit sekali, seperti tertahan sesuatu yang tak dapat ia ceritakan.

Ini yang artinya boneka? Tidak bisakah aku jauh darinya? batin Nara.

Nara melihat ke sana kemari, lalu terpaku pada tulisan pria itu yang ibarat tulisan dokter. Terakhir, tanda tangan pria itu yang rumit sekali.

Dia memang orang yang rumit? Dilihat dari tanda tangannya, sepertinya begitu. Kalau seperti ini, rumit juga untuk melarikan diri! batin Nara berkoar.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” pertanyaan itu sontak membuat Nara kaget setengah mati. Suara pria itu besar sekali di telinga kanannya.

“Aku? Memikirkan apa?” Nara berusaha menutupi kebohongannya.

“Mana tahu kau sedang berpikir, bagaimana cara menjauhkan diri dariku,” pria itu menebak.

Deg.

Tebakan pria itu tepat sekali, tapi bagaimana bisa bersamaan dengan pikiran Nara?

“Jadi, ini yang kau namakan boneka?” Nara bertanya.

“Sepertinya,” pria itu menjawab santai.

“Apa aku boleh kembali ke kamar sekarang?”

“Menurutmu?”

Nara terdiam. Tak berani ia jawab pertanyaan pria itu. Sekarang, pria itu berhenti menulis di kertasnya. Kini kedua tangannya melilit perut Nara. Kepalanya sengaja diselipakan di bahu kanan Nara. Bulu kuduk Nara mulai menari. Nara berasumsi, dia akan dalam masalah.

“Apakah aku memberimu instruksi untuk meninggalkan ruangan ini?”

Nara menggeleng kaku. Jantung Nara berdetak kencang. Pria itu takkan marah, namun kata-katanya mematikan.

“Lalu, kenapa kau bertanya lagi?”

“Aku... aku hanya... lupakanlah,” Nara berusaha menenangkan suasana.

“Apa? Berusaha melarikan diri dariku?” tanya pria itu seakan tahu apa rencana Nara.

“Apa maksudmu?” Nara pura-pura bodoh, “Kau terlalu curiga denganku.”

“Aku boleh curiga terhadap seseoeang yang mungkin sedang memasang topengnya,” Nara merasa tersindir oleh ucapannya.

“Apa maksudmu? Kau sedang gila, Lorence?”

“Tidak, aku tidak segila dirimu. Apakah kau benar-benar mencintaiku?”

Deg.

Nara tak tahu apa yang harus ia jawab. Sekarang dia menenangkan dirinya. Tangan kanannya meraba pipi dengan permukaan agak kasar karena bulu-bulu tipisnya.

“Kau tak bisa menutupi segala hal dariku. Katakan saja kau ingin lari karena tak nyaman di sini?”

“Siapa bilang? Kau mengada-ngada.”

“Karena setiap wanita yang dekat denganku, merasakan ketidaknyamanan. Mungkin kau juga demikian.”

“Tidak,” Nara berbohong, “kau nyaman bagiku.”

“Benar?” Pria itu mengeratkan lilitannya, “Berarti kau sudah tka bisa lolos dariku.”

“Apa? Apa maksudmu?” Nara mengelus pipi pria itu sambil bertanya.

“Ya, kau tak bisa lari dariku. Aku adalah jeruji besimu, yang tak membiarkanmu ke mana pun sebelum kuberikan instruksi. Mengerti, Nara?”

“Kenapa kau jauh lebih mengerikan dibanding sebelumnya? Apa masalahku denganmu?”

Pria itu mengecup cuping telinga Nara. “Aku hanya ingin kau mengerti dan tidak melakukan kesalahan yang ke-dua kalinya.”

Nara meneguk ludah. Rasanya bagai neraka menghantui hidupnya.

“Istriku, aku takkan melepaskanmu.”

"Maksudmu?" Nara pura-pura tak mengerti.

"Aku tidak akan melepaskanmu. Kau tahu aku posesif, 'kan?"

"Iya, aku tahu. Btw, kerjakan dulu kerjaanmu supaya tidak ada hambatan nanti."

"Aku sudah siap."

"Ha? Secepat itu?"

"Iya. Aku sudah tidak ada mood mengerjakan hal ini. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama Istriku."

"Mungkin aku bisa membantumu mengerjakan ini," Nara menawarkan diri.

"Kenapa? Kau tidak ingin menghabiskan waktu denganku?" bisiknya. "Kau membenciku, Sayang?"

Nara meneguk ludah. Nara menjawab, "Aku? Aku hanya ingin membantumu."

Tangan Nara mengelus pipi pria itu.

-oOo-

Ada penambahan di chapter sebelumnya. Silahkan cek.

1
Mxxnlight._
terbaikk
Nurul Hofa
kurang suka sama visual lorence
Nisa Larasati
aq benci pada mu lorent ingin rasanya membunuh mu saat kau tertidur 😈🗡🪓
Nisa Larasati
maafin aq kk tapi aq beneran trauma baca nya tapi aq juga selalu penasaran sama cerita nya 😭
Nisa Larasati
HAH sumpah aq bisa mati klo jumpa sama cowok yg modelannya begini 🤬 lagi pula si nara di ksih kebebasan walau hanya 15 menit kenapa gx lari ke dapur aja sih ambil pisau bunuh diri aja 😂 atau bunuh si adam nya aja 😂 canda bunuh diri 😂
n a n a
devan deh kek nya
Yenny Rachman
thor.. ini sudah tamat kah😅😅😅
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
Yenny Rachman
lanjut thor😅😅😅🥰🥰😍...
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
paulaa
seru
Yesika novel03
lanjut donk udh nunggu lama nie
Hesti Sagita
Akhirnya Nara sampe ke tahap itu
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
Hesti Sagita
stress
Hesti Sagita
mengunci diri di dlm kamar mandi
ahh hasil nya sama aja
Hesti Sagita
Adam kah
Hesti Sagita
penasaran awal mula Adam suka ke Nara
Hesti Sagita
kasian si Nara
Hesti Sagita
cinta dan obsesi
Hesti Sagita
mamapir baca kak.
berawal dr WP
lucia de lamendoza
lorence itu adam ?
lucia de lamendoza
kynya adam atasan nya gk sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!