Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suasana pagi ini amat mendung. Langit yang bergelayut manja di langit, siap menumpahkan riak-riak air kecil untuk membasahi bumi.
Sama seperti seonggok hati yang tengah di dera rasa tak nyaman.
Melati tengah duduk di kursi besi memanjang di halaman belakang. Kedua pahanya memangku kepala Faisal yang merebah nyaman.
Sejujurnya, ada ketakutan tersendiri di hati Melati saat ini. Ia seolah tak rela bila harus berpisah dengan suaminya.
"Sayang..... apa yang kamu pikirkan, hm?"
Fian bertanya lirih. Senyum manisnya tersuguh rapi hanya untuk Melati seorang.
"Mas..... saya.... ikut njenengan saja ke Sydney, nggeh?" Ungkapnya dengan wajah cemas.
"Saya bisa saja membuatkan surat keterangan agar kamu ikut naik pesawat. Tapi.... saya nggak mau nanti kamu...... kelelahan dan mempengaruhi kesehatan kandunganmu. Saya ingin kamu di sini saja".
"Saya dan anak kita akan selalu sehat, mas. Njenengan harus percaya sama saya."
Fian bangkit dan menatap Melati dengan intens.
"Apa yang membuat kamu keras kepala seperti ini?"
"Karna saya khawatir dengan keadaan panjenengan, mas. Saya Ndak mau nanti terjadi sesuatu dengan njenengan dan saya tak ada di sana, mas. Tolong mengertilah dengan..... kekhawatiran saya".
Kalimat Melati melirih di akhir. Ada kekhawatiran yang memang jelas tercetak di wajah ayunya.
Fatin tersenyum lebar. Hatinya demikian bahagia ketika dengan pasti, Melati mulai bisa membuka hati untuknya.
Ini benar-benar membahagiakan.
"Kamu.... mengkhawatirkan saya?"
Melati menunduk dan menganggukkan kepala, ketika Fian menanyai nya.
"Apa itu artinya..... keberadaan saya berarti untuk mu?".
"Bukan hanya untuk saya, mas. tapi juga untuk Gibran dan.....calon anak kita".
Ada perasaan hangat yang sulit di lukiskan dengan banyak kata. Rasa yang dulu mungkin hanya akan menjadi mimpi di malam-malam yang Fian lalui.
Kini, semua itu nampak nyata.
"Saya berjanji.... saya akan sembuh untuk kamu".
Janji Fian terdengar mantap. Sorot matanya menunjukkan tekad yang begitu kuat.
"Saya akan urus keberangkatan kita. Asal.... janji untuk tetap menjaga kandungan kamu, diri kamu, dan Gibran......".
"Saya janji."
~~
~~
Hari ini, adalah hari terakhir Fian berada di Yogya. Ia memang sengaja datang pagi-pagi sekali ke kediaman keluarga Winata. Untuk berpamitan, juga untuk memohon restu pada Pram dan Ratri.
Ada resah sebenarnya dalam hati Fian.
"Ibu tidak mengijinkan Melati untuk ikut. Biar dia di sini saja bersama ibu. Ibu janji akan menjaga istrimu semampu yang ibu bisa.
Dia sedang mengandung, Fian......"
Ratri sungguh tidak bisa menyembunyikan kegundahan dalam hatinya.
"Fian tau, Bu. Tapi Melati sangat keras kepala."
"Ibu akan sendiri lagi. Mas mu juga akan kembali ke Banyuwangi untuk mengurus pekerjaannya."
Ratri hanya bisa menunduk. Kemudian jemari Fian menggenggam erat jemari ibunya.
"Fian mohon doa ibu saja. Itu lebih dari cukup untuk bekal Fian". Lirihnya kemudian, yang mampu membuat Ratri luluh.
"Bagaimana kalau ibu juga ikut, nak?"
"Ibu cukup mendoakan Fian dari jauh. Hanya itu. Fian janji, Fian pasti kembali. Ibu adalah surga tempat Fian kembali setelah ibu kandung Fian. Terima kasih, ibu sudah menjadi ibu yang baik selama ini terhadap Fian".
~~
~~
Melati menatap wajah suaminya yang nampak pucat dan terbaring tak berdaya di atas brankar.
Ini adalah malam ke delapan setelah pengangkatan tumor yang terdapat pada organ dalam perut Fian.
Dua haru lalu, Fian berhasil melewati masa kritisnya.
Dan selama itu pula, Melati telah menyadari, ia benar-benar membutuhkan Fian karna di hatinya, benih cinta sudah mulai tumbuh di hati Melati.
Berapa banyak waktu yang selama ini Melati korbankan untuk menangisi Faisal, nyatanya tak juga membuat Faisal berhenti mempermainkan cintanya.
Tetapi? Bukankah semua tragedi di hidup Melati, berawal dari fitnah kejam Melati terhadap Faisal?
Andai Melati tak melakukannya di masa lalu, bukankah Faisal tak akan berbuat demikian kejam padanya?
Melati telah ikhlas......
Mengikhlaskan Faisal memang tidak mudah, tapi kehadiran sosok Fian benar-benar mampu menggeser posisi Faisal di hati Melati.
Butuh waktu yang sangat lama untuk semua itu.
"Eeeegggghhhhhh......."
Fian bangun dari tidurnya. Melati dengan tanggap berdiri dan mendekat ke arah suaminya, menggenggam jemari kanan Fian yang tak tertusuk jarum infus.
"Mas, njenengan bangun? Apa mau sesuatu?".
Dengan pelan, Fian membuka matanya perlahan.
Senyum hangat itu terpancar jelas di wajah Fian hanya untuk Melati seorang.
"Ha--haus".
Lirihnya. Melati segera meraih gelas di atas nakas dan memyuapkan air sesendok demi sendok ke bibir Faisal.
"Su...dah".
Lantas Melati mengembalikan gelas yang di genggamnya ke atas nakas.
"Sa...ya ngantuk te....rus. Mu...mungkin pengaruh obat.
Kamu tidur, ya..... mata kamu terlihat lelah".
"Saya Ndak apa-apa, mas. Saya Ndak mau terjadi sesuatu sama njenengan saat saya terlelap".
"Kenapa begitu?"
"Karna saya..... membutuhkan panjenengan untuk melengkapi cinta ini".
Jantung Fian seakan berdegup lebih kencang. Emosinya benar-benar nampak. Ia bahagia tidak terkira.
Apa katanya tadi? Cinta?
Oh ya tuhan..... tidak pernah selama ini Fian akan mengira akan mendapat pernyataan cinta dari istrinya secepat ini.
"Be... benarkah?"
"Ya..... saya..... emh...."
"Tidak usah di lanjutkan. Saya tidak tau...Li. Saya bahagia. Terima kasih untuk cinta kamu, Melati".
Di saat yang bersamaan, Panca datang dan membuka pintu tanpa mengetuknya.
Sosok Faisal menjulang.
Baik Fian maupun Melati, bertanya-tanya......
Sejak kapan Faisal berada di sini?
Bukankah Faisal berada di Indonesia?
"Assalamualaikum".
"Wa'alaikum salam"
Melatih dan Fian menjawab lirih bersamaan.
Lantas pandangan mereka terpaku pada sosok wanita yang mengekor di belakang Faisal.
Wanita itu........
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩