Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 ( Pindah )
Maher tiba di rumahnya saat malam hari. Ia mengerutkan keningnya melihat rumahnya dalam keadaan gelap.
" Pasti perempuan ceroboh itu lupa lagi beli token listrik. Menyebalkan, hal sepele kaya gini aja ga bisa ngurus...," gerutu Maher sambil membuka pintu rumah.
Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat lampu di kamar anaknya menyala. Maher pun bergegas menyalakan lampu di seluruh ruangan. Saat melangkah tak sengaja kakinya menginjak mainan Marshel hingga membuat mainan itu pecah. Melihat lantai masih dipenuhi mainan membuat emosi Maher memuncak.
" Apa aja sih yang dilakuin perempuan itu. Masa jam segini rumah masih berantakan...," gumam Maher geram sambil melangkah ke kamar dan siap memarahi Mutia.
Saat tangannya berhasil membuka pintu kamar, dilihatnya kamar dalam keadaan gelap gulita. Maher merasa ada sesuatu yang terjadi karena sejak tiba di rumah dia belum mendengar suara anak dan istrinya. Maher bergegas memasuki kamar sang anak sambil memanggil nama kedua buah hatinya itu.
" Miko, Marshel. Papa udah pulang nih. Dimana Kalian...?!" panggil Maher.
Sepi tak ada jawaban. Maher mendekat ke lemari pakaian dan melihat beberapa lembar pakaian kedua anaknya tak ada lagi di tempatnya. Ia menggeram kesal karena mengira Mutia telah membawa anak mereka menginap di rumah mertuanya tanpa pamit. Maher mengecek isi pesan di ponselnya. Tak ada satu pun panggilan atau pesan dari Mutia untuknya.
" Apa-apaan ini. Kenapa bawa Anak ga bilang dulu. Apa dia ga tau kalo Anak-anak harus sekolah besok...," gumam Maher sambil mencoba menghubungi Mutia.
Karena tak berhasil menghubungi istrinya, Maher kesal dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur Marshel. Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil meremas rambutnya. Tak lama kemudian Maher pun tertidur nyenyak.
Sementara itu Mutia membawa kedua buah hatinya pergi ke sebrang pulau. Ia memilih menyusul sahabatnya yang sekarang tinggal di Papua mengikuti suaminya yang bertugas di sana. Mutia menggunakan pesawat dan malam itu mereka telah tiba di bandara Sentani dengan selamat. Selanjutnya Mutia mencari hotel terdekat untuk mereka beristirahat malam itu.
Tak butuh waktu lama untuk Mutia dan kedua anaknya memejamkan mata setibanya mereka di hotel. Rasa lelah yang mendera membuat mereka tertidur nyenyak hingga pagi hari.
Setelah sarapan pagi, Mutia menghubungi sahabatnya dan mereka bertemu di loby hotel.
" Aku ikut prihatin atas nasibmu Mutia...," kata Hani sambil memeluk Mutia.
" Makasih Han. Sekarang Aku perlu bantuanmu untuk mencarikan tempat tinggal, sekolah Anak-anak dan kerjaan buat Aku...," kata Mutia jujur.
" Kalian bisa tinggal di rumahku dulu untuk sementara...," kata Hani menawarkan.
" Ga usah. Aku ga mau jadi duri dalam rumah tanggamu...," sahut Mutia.
" Apa maksudmu...?" tanya Hani tak mengerti.
" Sering kan kejadian skandal antara Suami dan sahabat gara-gara tinggal seatap. Dan Aku ga mau itu. Kamu juga harus lebih waspada sama pelakor Han. Kadang dia bisa verwujud sahabat atau bahkan saudara...," sahut Mutia datar.
" Ih, ngeri banget sih. Ya udah, Kita langsung ke kontrakan aja deh. Aku udah bilang sama yang punya kontrakan kalo Kamu datang hari ini...," ajak Hani sambil menggamit tangan Marshel. Lalu mereka pergi menuju rumah yang dimaksud oleh Hani.
\=\=\=\=\=
Mutia dan kedua anaknya saling menatap dan tersenyum saat mereka tiba di rumah yang akan mereka tempati. Rumah mungil dengan lingkungan yang nyaman.
" Gimana Anak-anak, suka ga...?" tanya Hani sambil menatap Miko dan Marshel bergantian.
" Suka Tante. Makasih...," sahut Miko dan Marshel bersamaan.
Mutia tersenyum mendengar jawaban kedua anaknya. Mereka pun masuk ke dalam rumah yang memiliki dua kamar tidur itu. Mutia nampak terharu melihat kebahagiaan kedua anaknya.
Setelah puas melihat isi rumah, Hani pun membawa Mutia melihat-lihat keluar rumah.
" Sekolah Anak-anak ga jauh dari sini. Tuh, dekat masjid besar yang ada di sana. Aku bakal antar Kamu buat daftarin Anak-anak besok...," kata Hani menawarkan.
" Iya. Makasih ya Han. Maaf, udah ngerepotin Kamu...," sahut Mutia dengan mata berkaca-kaca.
" Ssstt, ga usah kaya gitu. Kita kan sahabat...," kata Hani sambil menepuk punggung tangan Mutia.
Mutia mengangguk dan segera mengusap sudut matanya yang basah. Dia sudah berjanji tak akan menangis lagi. Dia hanya ingin memulai hidup baru bersama kedua anaknya di tempat baru itu. Dengan suasana baru dan status baru yaitu single parent. Rupanya Mutia sudah memutuskan akan mengakhiri pernikahannya dengan Maher.
Pernikahan yang terjadi karena perjodohan keluarga malah membawa derita berkepanjangan untuknya. Dia bisa bertahan andai kedua anaknya tak menjadi korban. Tapi saat menyaksikan kedua anaknya juga tak bahagia, Mutia tak punya alasan lagi untuk bertahan.
Mutia menghubungi pengacara keluarga agar mengurus perceraiannya. Ia juga meminta kepada sang pengacara untuk menyembunyikan tentang gugatan cerainya dari pihak keluarga. Mutia tak ingin melibatkan keluarga besarnya dalam prahara rumah tangganya kali ini. Dan sang pengacara pun menyanggupi walau dengan resiko tak akan bisa bekerjasama lagi dengan keluarga Mutia setelah ini.
" Makasih Om...," kata Mutia sebelum percakapannya dengan sang pengacara bernama Sofyan itu berakhir.
" Sama-sama Nak. Jangan sungkan. Om akan selalu berada di pihakmu. Andai keluargamu mengetahui penderitaanmu, Om yakin mereka akan menyesal telah membuat keputusan ini dulu. Memaksamu menikahi pria yang tak mencintaimu. Setelah semua pengorbananmu selama ini, tapi dia masih saja memperlakukanmu seperti itu bahkan lebih parah. Bersabarlah, biar Om yang akan selesaikan semuanya nanti...," kata Sofyan menenangkan Mutia.
" Aku akan kirim alamatku, tapi tolong jangan kasih tau siapa pun. Meski Papa dan Mama memaksa. Biar Aku yang akan mengatakan semuanya setelah Aku siap nanti...," kata Mutia lagi.
" Baiklah, hati-hati...," sahut Sofyan di akhir petcakapan.
Mutia menatap ponselnya dengan perasaan tak karuan. Lalu ia beralih menatap kearah kedua anaknya yang tertidur lelap di atas tempat tidur. Mutia tersenyum melihat dua jagoannya itu ada bersamanya.
" Bersama Kalian Mama akan kuat. Mama akan berikan apa pun yang tak bisa diberikan oleh Papa Kalian. Percaya lah Nak, meski sulit di awal tapi semua akan baik-baik aja nanti. Mama akan ajarkan bagaimana caranya berjuang hidup dan menghormati wanita karena Mama ingin Kalian jadi pria yang tangguh dan lebih menghargai wanita...," gumam Mutia sambil menyelimuti tubuh kedua anaknya.
Mutia menutup pintu kamar anaknya lalu menuju ke kamarnya sendiri. Dengan sigap Mutia menyiapkan beberapa dokumen milik kedua anaknya. Ia berencana mendaftarkan mereka sekolah besok. Mutia juga menyiapkan beberapa berkas lamaran pekerjaan untuk dirinya sendiri. Mutia memutuskan bekerja, karena dia tak mungkin terus mengandalkan uang tabungannya untuk biaya hidupnya dan kedua anaknya itu.
Malam itu untuk pertama kalinya Mutia merasa punya harga diri dan motivasi untuk maju melangkah ke depan. Meninggalkan semua kenangan pahit di belakangnya tanpa ingin menoleh lagi.
\=\=\=\=\=