Apa jadinya kalau suamimu tak terlihat orang sekitar dan hanya kamu yang bisa berinteraksi dengannya? Sehingga banyak beranggapan kalau kamu itu gila, seperti pasangan Vanesa dan Rikuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 (Part 11)
Suamiku Tak Terlihat (Season 2)
Part 11
”Maaf, aku tak berminat dengan tawaranmu!” ucap Rikuh sinis sambil membuang wajah, ia jengah melihat tampang bangsa Macan yang mengakui mencintainya itu.
“Rikuh, pikirkan saja dulu tawaranku ini! Aku akan tetap menunggumu, menunggumu membuka hati untukku.” Putri Sahara menatap lembut pria limunan yang telah berhasil menawan hatinya itu.
Tiba-tiba saja, Raja Macan dan Perdana Menteri yang hendak melihat keadaan Rikuh memergoki Putri Sahara yang sedang berada di penjara bawah tanah itu.
“Sedang apa kau di sini, Sahara?!” hardik Raja dengan suara garang.
Putri Sahara menatap ayahnya dengan ketakutan, lalu berlari meninggalkan ruang bawah tanah itu. Namun, ia menghentikan langkah ketika berhasil melewati semua anak tangga. Ia penasaran dengan apa yang akan diperbuat ayahnya kepada pria yang ia cintai itu.
“Prajurit, periksa tubuh pria limunan ini? Apa lukanya telah sembuh atau belum? Aku sudah tak sabar ingin menyantapnya!” ujar Raja Macan sambil tertawa.
Rikuh tersentak kaget mendengar ucapan Raja Macan yang akan menjadikan dirinya santapan itu, ia tak mau mati konyol di sini. Ia masih berharap bisa membawa Vanesa pulang dan berkumpul kembali bersama Qirey, putri mereka.
“Lukanya belum sembuh betul, Paduka. Mungkin tiga hari lagi baru akan sembuh,” tutur seorang prajurit setelah memeriksa tubuh Rikuh.
Raja Macan menatap sinis pria limunan itu, gara-gara penyerangan yang dilakukan oleh Rikuh, calon permaisuri keempat Putri Vane yang cantik jelita itu menghilang. Semuanya hancur berantakan karenanya, apalagi sampai sekarang prajurit suruhannya masih belum bisa menemukan Putri Vane dan Dayang Sari.
“Dengan menyantapku, maka kau akan menjadi musuh besar bangsa limunan. Apa kau sudah siap kalau kerajaan kecilmu ini hancur dan hanya tinggal cerita?” Rikuh membalas tatapan sengit dari Raja bangsa macan itu.
“Aku tak takut dengan gertakanmu! Bersiap saja, tiga hari lagi kau akan masuk ke perutku, hahahaaa .... ” Raja Macan terbahak lalu beranjak meninggalkan penjara bawah tanah.
Putri Sahara gelagapan, saat Raja Macan kini sudah berada di hadapannya lagi. Belum juga rasa kaget akan perihal sang ayah yang akan menyantap pria yang ia cinta, kini ia malah kaget karena lagi-lagi kepergok.
“Sahara, lagi-lagi kamu! Sedang apa kau di sini?” tanya Raja curiga karena melihat gelagat aneh dari putrinya itu.
“Ayahanda, ayo kita bicara ke ruangan ayah saja!” Putri Sahara menggandeng tangan ayahnya.
Sesampainya di ruangan raja, Raja macan langsung duduk di singgasana dan sedang menanti kata-kata dari sang putri yang terlihat kesusahan mengutarakan isi hatinya.
“Putri Sahara, cepat bicara!”
Putri Sahara meremas jemarinya yang mendadak dingin. Ia takut sang ayah malah marah besar jika mengetahui ia mencintai pria limunan yang hendak menjadi santapan itu.
“Cepat katakan, Sahara! Ayahanda masih ada urusan penting lain!” hardik Raja macan geram melihat tingkah putrinya yang mendadak menjadi penakut itu.
“Tapi ... Ayahanda janji dulu gak akan marah!” Putri Sahara melirik sang ayah yang memang uring-uringan semenjak gagal menikahi Putri Vane, si manusia berwajah cantik.
“Bagaimana bisa berjanji untuk tidak marah kalau tidak tahu duduk permasalahannya? Aneh-aneh saja kau ini!” Raja Macan melototi Putri Sahara dengan geram.
Putri Sahara menghela napas berat sebelum memulai permbicaraan penting ini.
“Ayahanda Paduka Raja Macan, bolehkan ananda memohon satu buah permintaan?” tanya Putri Soraya berusaha memberanikan diri dengan sambil manahan debaran jantungnya yang berpacu cepat.
“Apa? Segera katakan!” Raja Macan menatap putrinya dengan penasaran.
“Ayahanda ... ananda mau menikah.” Putri Sahara tersenyum tipis menatap malu-malu sang ayah.
“Apa?!” Raja Macan mengeryitkan dahi, masih dengan tatapan sangar.
“Iya, Ayahanda. Ananda mencintai sesorang yang bukan keturunan dari bangsa macan.”
“Siapa orangnya?”
“Rikuh, Ayahanda .... “ Putri Sahara tertunduk, tak berani menatap wajah ayahnya.
“Apa?! Kamu masih waras, Sahara?” Raja Macan bangkit dari singgananya dan mengepalkan tangan, siap melayangakan pukulan kepada sang putri.
“Iya, Ayahanda, nikahkan ananda dengannya!
‘Plakkk’ sebuah tamparan keras tak dapat dihindari, air mata sang putri luruh seketika dan menatap sang ayah dengan nelangsa.
“Sudah, Paduka, jangan terlalu kasar dengan Putri Sahara, dia masih kecil.” Perdana Menteri berusaha menenangkan Raja Macan.
“Kau ... bocah ingusan tak tahu diri, berlagak bicara masalah cinta! Dasar tak punya otak! Jangan kau dekati pria limunan itu lagi! Atau .... “ Raja Macan menunjuk kepala Putri Sahara dengan geram.
”Ayahanda saja boleh mencintai Putri Vane yang seorang manusia, kenapa ananda tak boleh mencintai Rikuh si orang limunan?!” Putri Sahara menatap sang ayah sambil berurai air mata.
“Hehhh, beraninya kau .... “ Raja Macan hendak menghajar sang putri, namun Perdana Menteri memegangi pundaknya berusaha menengahi perseteruan ayah dan anak itu.
“Putri Sahara sebaiknya pergi dulu dari ruangan ini, Raja sedang emosi. Nanti lagi kita bicarakan masalah ini, berikan waktu berpikir untuk ayahandamu. Jangan menyerang beliau dengan kata-kata yang akan membuatnya semakin berang!” ujar Perdana Menteri mencoba memberikan pengertian kepada Putri Sahara.
Putri Sahara berlari keluar dari ruangan singgana Raja. Hatinya hancur tak berkeping menerima penolakan sang ayah atas keinginannya. Ia rela melakukan apa pun demi bisa bersama Rikuh dan mendapatkan cintanya. Wajah pria limunan itu begitu berbekas di hatinya, ia tak bisa melupakannya walau barang sedetik pun, walau sikap Rikuh selalu dingin dan kasar.
Sedangkan di ruangan singgasan Raja Macan, ia masih tak habis pikir dengan yang diinginkan putrinya itu. Diraihnya gelas minuman, lalu melemparnya ke dinding. Perdana Menteri hanya melengos melihat ulah sang raja.
”Bagaimana menurutmu, Perdana Menteri, permintaan Putriku ini?” Raja Macan berusaha meredam emosinya.
Perdana Menteri menghela napas panjang lalu menjawab, “Nanti saja kita bicarakan masalah ini, Paduka. Sebaiknya Paduka bersenang-senang saja dulu, sebentar lagi para selir akan ke mari!”
Raja Macan mengusap wajahnya dengan kasar, Perdana Menteri memang selalu mengetahui cara menyejukkan kepalnya yaitu dengan cara bercinta.
Tak selang beberapa lama, tujuh orang selir dengan berpakaian sexi masuk ke ruangan raja dengan sambil menyuguhkan sebuah tarian. Senyum Raja langsung mengembang disuguhi yang segar-segar begini, senjata pamungkasnya langsung ikut menari-nari juga. Percintaan super panas pun dimulai. Raja mata keranjang itu memang tak pernah bisa mengontrol napsunya yang selalu membludak.
Perdana Menteri yang hanya menjadi penonton adegan mesum itu tak sedikit pun tergoda untuk bergabung, meski dua orang selir sudah berusaha menggodanya untuk turut serta dalam permainan mereka.
*****
Sudah berhari-hari, Vanesa dan Sari dikurung nenek tua di kamarnya dan boleh keluar kalau sudah saatnya makan saja. Mereka semakin merasakan keanehan dengan sikap sang nenek, yang seperti ingin menahan mereka selamanya digubuk itu.
“Nek, keadaan kami sudah benar-benar pulih. Terima kasih atas bantuan nenek selama ini. Besok pagi kami akan mohon diri untuk melanjutkan perjalanan,” ucap Vanesa dengan hati-hati, setelah menyudahi makan malamnya.
Nenek tua itu hanya diam, sambil menyibukkan diri dengan mengemasi piring-piring kotor dan perlengkapan lainnya.
Vanesa yang berusaha ingin membantu mencuci piring, hanya mendapati pelototan mata darinya.
“Tidak usah, biar aku saja! Sebaiknya kalian berdua segera kembali ke kamar!” teriak sang nenek dengan marah.
Sari mencolek bahu Vanesa dan mengajaknya meninggalkan dapur. Kini mereka duduk meleseh di ruang tengah yang hanya berukuran 2mx2m itu.
“Kita harus bisa melarikan diri dari sini,” bisik Vanesa.
Sari mengangguk dan mengacungkan jempol tanda setuju.
“Malam ini juga,” bisik Vanesa lagi.
Sari mengeryitkan dahi, dan menatap Vanesa sambil meringis.
Taklama kemudian, nenek tua menghampiri Vanesa dan sari sambil membawa tempat sirihnya lalu meracik sesuatu kemudian mengunyahnya.
“Segera masuk kamar dan tidur!” perintah sang nenek sambil menatap tajam keduanya.
Vanesa dan Sari langsung bergegas meninggalkan nenek tua itu, lalu masuk ke kamar. Namun, keduanya tak lantas tertidur. Mereka akan pergi malam ini juga, tinggal menunggu sang nenek terlelap.
Tengah malam pun tiba, suara langkah kaki sang nenek sudah tak terdengar lagi. Vanesa dan Sari membuka pintu kamar perlahan, lalu mengintip keluar. Terlihat sang nenek sedang tertidur di ruang yang tadi, dengan menyelimuti wajahnya saja, sedang bagian kakinya tak kebagian selimut kain itu.
Vanesa merapatkan kembali pintu kamar lalu mendekati jendela, kemudian membukanya sedikit. Cahaya bulan begitu terang, seakan merestui rencana pelarian mereka. Sari yang terlebih dahulu melompati jendela, lalu disusul oleh Vanesa.
Dengan sambil bergandengan tangan, Vanesa dan sari menyusuri hutan itu dan beraharap bisa menemukan rumah penduduk lainnya untuk meminta bantuan. Namun, lelah sudah kaki melangkah, hutan itu belum juga menemui tepinya.
“Sari, kamu ‘kan Siluman Macan, coba keluarkan kekuatanmu agar kita bisa keluar dari hutan ini!” usul Vanesa disela keputus asaannya.
Sari menggigit bibirnya, lalu berkata, “Selain ilmu penyamaran, aku tak punya ilmu lain lagi.”
“Ah, payah kamu!” gerutu Vanesa kecewa.
Tiba-tiba saja, langkah Sari dan Vanesa malah membawanya kembali ke gubuk sang nenek tua.
“Kok kita malah balik ke sini lagi sih?” tanya Vanesa heran.
“Sari tak tahu, sepertinya si nenek bukan manusia biasa, dia telah mengelilingi rumahnya dengan ilmu gaib.” Sari mencoba menerka-nerka.
“Hihihiiii ... mau ke mana kalian?” suara tawa sang nenek terdengar dari arah atap rumah.
Sontak, Vanesa dan Sari langsung menengadahkan kepala ke atas.
“Ya ampun, itu apa?” Sari mencengkram bahu Vanesa.
Vanesa juga ketakutan, melihat kepala sang nenek terbang dari arah atap rumah, sebuah kepala dengan isi perut yang terburai.
“Nenek itu seorang ‘Penanggal’, Sari .... “ Vanesa menarik tubuh Sari untuk mundur, sebab kepala terbang itu perlahan turun mendekati mereka.
“Hihihiiiii, segera kembali masuk ke gubuk kalau kalian tak mau berurusan denganku!” ancam sang nenek dengan darah yang belepotan di sudut bibirnya.
“Tidak mau! Jangan ganggu kami, biarkan kami pergi!” teriak Vanesa sambil melotar sebatang kayu ke arah si nenek.
Kepala si nenek malah terbang menghindar dan mengelilingi mereka sambil tertawa dengan suara yang mengerikan.
Vanesa kembali mengambil kayu dan berusaha menyerang kepala terbang itu, namun sang nenek malah selalu bisa menghindarinya dan membalikkan arah kayu.
“Awwww!!!” Vanesa terduduk karena kayu berbalik menghentam tubuhnya.
Melihat perlawanan Vanesa yang alakadarnya, Sari terpanggil juga untuk melawan kepala si nenek. Ia melompat dan menendang kepala terbang itu dengan sekuat tenaga, yang membuat kepala itu tepental membentur tanah.
“Ayo lari!!!” Sari menarik tangan Vanesa untuk berlari memasuki hutan kembali.
Si nenek menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, lalu kemudian terbang lagi mengejar Vanesa dan Sari.
“Hihihiii, kalian tak akan bisa lari dariku!!!” teriaknya sambil mengejar keduanya.
Vanesa dan Sari berlari semakin kencang, dan kini berhenti di bawah pohon dengan napas ngos-ngosan. Sari meraih kayu panjang dan besar lalu menghadangkan di atas, di saat sang kepala terbang hendak menghampiri mereka.
“Aghhhh!!!” Isi perut si kepala terbang tersangkut kayu, ia menjerit kesakitan.
Sari kambali menarik tangan Vanesa untuk berlari, menyusuri hutan yang semakin gelap sebab cahaya bulan terhalang daun pepohonan.
“Vanesa, apa kamu tak bisa mengusir hantu kepala itu dengan bacaan-bacaan suci yang dari alammu?” usul Sari karena sudah kewalahan menghadapi serang-serangan dari si nenek.
“Aku lupa bacaannya, Sari. Tapi akan kucoba-coba untuk mengingat ayat-ayat Al-quran itu.” Vanesa mencoba mengingat semuanya.
Terjebak di Kota gaib bertahun-tahun, membuatnya lupa akan bacaan-bacaan suci itu.
Tiba-tiba, kepala sang si nenek yang tersangkut sudah bisa melepaskan diri dan kini siap menghantam pungung Vanesa yang sedang bersembunyi di balik pohon itu.
“Aggghhhh!!!” jerit Vanesa karena kepala si nenek telah menggigit punggungnya.
Sari kebingungan sambil mencari kayu untuk memukul si nenek, tapi semburan cahaya panas malah dikeluarkan si nenek dari arah matanya yang membuat tubuh Sari terpental.
Darah segar mengalir dari punggung Vanesa, ia masih berusaha mendorong kepala si nenek dari punggungnya. Dengan tubuh sempoyongan Sari kembali mendekat ke arah kepala yang sedang menikmati darah Vanesa dengan nikmatnya.
“Lepaskan temanku!!!” teriak Sari sambil berusaha menarik kepala itu dari punggung Vanesa.
Vanesa yang semakin melemas karena darahnya sudah terhisap banyak, mencoba membaca Surah Al-Fatihah, satu-satunya bacaan yang diingatnya.
“Bismillaahir rahmaanir rahim. Alhamdu lillahi rabbil ‘aalaminn. Arrahmaanir rahim. Maaliki yau-middin. Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in. Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shirathal ladziina an’amta ‘alai-him, ghairil maghdhuubi ‘alaihim, waladhdhaalliin. Amin.”
Vanesa membaca surah itu sambil mengucurkan air mata, antara rasa sakit di punggungnya dengan rasa penyesalan kepada Ilahi karena ia tak bisa mengingat surat lainnya.
“Agghhhh, panaaaassss .... “ Kepala si nenek melepaskan gigitannya, lalu terbang ke atas sambil terus berteriak kesakitan juga kepanasan.
Vanesa bernapas lega, ia terduduk lemas di bawah pohon besar itu, sambil memegangi bahunya yang berdarah. Kemudian ia baru teringat akan keberadaan Sari.
“Sari, kamu di mana?” teriak Vanesa.
Berkali-kali Vanesa berteriak menyerukan nama Sari, tapi ia tak menyahut juga. Fajar sudah hampir menyingsing, bulan mulai menenggelamkan diri dan kini matahari mulai mengintip dari dari arah timur.
Vanesa tersenyum senang, gelapnya malam telah beranjak pergi dan taklama lagi siang akan menjemput. Ia masih celingukan mencari keberadaan Sari, Siluman macan yang telah menolongnya keluar dari kerajaan yang hampir membuatnya menjadi budak napsu oleh penguasa yang gila wanita itu.
Bersambung ....
( Kalau suka dengan cerita ini, jangan lupa like, koment dan votenya, ya, gaes 🤗
Salam kechup manja dariku, Author amatiran modal halu wae 😘 )
segitu lamanya ngegantung pecintamu thooorrr