"Aku merindukan mu"
itulah ungkapan setiap malam. Kanza Mahendra
saat harus berjauhan dengan Rasyi Syakilla.
Gadis ceria yg berhasil mengambil hati manusia dingin. yg bahkan tak tersentuh. namun kini saat berjauhan hati Kanza selalu merindukan nya.
Setelah melewati banyak perjuangan. hingga kini mereka telah benar benar bersama. membuat Kanza ingin selalu bersama dengan wanita yg saat ini telah memenuhi hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiia sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 33
*
Pagi sudah menunjukan sinar mataharinya. namun Rani yg sudah terjaga dari subuh tadi masih terus mengotak ngatik ponselnya menghubungi orang yg dari semalam belum juga dia dengar kabar nya.
''Rass, lo dimana siih??''
gerutu nya sedari tadi. namun kegiatan nya terhenti ketika seseorang ada yg mengetuk pintu kamar nya.
''Masuk''
"nona, di bawah ada tuan muda Damian yg menunggu anda"
"Damian"
"iya nona" ucap pelayan
"kalau begitu, suruh masuk saja kesini"
"baik nona"
pelayan pun turun kebawah. dan kembali naik membawa Damian sampai ke kamar Rani.
Tanpa mengetuk Damian yg langsung masuk. melihat bayangan Rani yg berjalan mondar mandir di balkon kamar nya.
"Rann" panggil Damian
"iya"
"lo gak tidur apa?" tanya Damian yg melihat wajah lesu Rani
"Gua tidur kok, cuma terbangun subuh"
"ya ampun, karena Rasyi lagi??"
"i-iya, gua takut dia kenapa-kenapa"
"gua yakin, Rasyi pasti baik-baik aja. kan gua dah bilang Rasyi juga gak sendiri ada tuan Kanza dan asistennya tuan Edo yg bersama mereka" jelas Damian yg kini memegang wajah Rani
"Tapi Dam, kenapa sampek sekarang ini anak gak bisa di hubungi. emang dia kemana sama makhluk astral itu keluar planet" protes Rani yg mulai frustasi
"Kita tenang dulu, segala kemungkinan bisa aja kan terjadi"
"atau jangan jangan. Rasyi di mutilasi gimana dong"
Rani yg mulai menghentak hentakan kaki nya ke lantai dengan omongan ngawur nya yg membuat Damian geram melihat nya.
"Dasar" ucap Damian dengan menjentikkan jarinya ke jidat Rani yg membuatnya meringis kesakitan.
"Sakiiit, tahu !"
"lagian lo, kalau ngomong sembarangan. yaudah yuk sarapan dulu. lo pasti belum makan kan"
"Gua gak selera"
"lo milih turun jalan dengan kaki lo sendiri, apa milih gua angkat terus banting lo di meja makan" ancam Damian
"Lo kejem amat sih. jadi orang"
"jadi loh pilih mana?"
"iya, iya gua jalan. berisik lo," ketus Rani yg berjalan keluar dengan sengaja menyenggol bahu Damian.
Damian yg melihat tingkah Rani hanya menunjukan senyum tipisnya. sebelum mengikuti langkah Rani turun tangga menuju meja makan.
Saat di meja makan. cuma terlihat beberapa pelayan yg sedang mengerjakan pekerjaan mereka. seperti tidak ada yg lain di dalam rumah.
"Yg lain pada kemana Ran??"
"maksud lo, mama papa gua"
"iya"
"ohh, mama sama papa gua pagii ini terbang ke bali karena ada acara bisnis" tungkas Rani
"Berarti lo sendir"
"lo buta apa gimana sih, gua kan gak sendiri ada beberapa pelayan dan penjaga di rumah. dan lagian sekarang ada lo disini" jelas Rani dengan panjang lebar nya tak lupa dengan nada kesalnya.
"Hahaha, iya juga ya"
"gak lucu" potong Rani
"lo marah marah terus, lagi pms ya" goda Damian
"Sok tahu lo"
"ya walaupun gua gak terlalu tahu tentang wanita. tapi gua pernah denger wanita yg lagi pms itu lebih serem daripada singa" jelas Damian dengan memperagakan gimana singa mengamuk yg membuat Rani tertawa dengan menahan perut nya.
"Haah, kalo lo ketawa gini kan gua seneng liat nya"
ucap Damian dengan memandang Rani yg membuat nya malu hingga menunjukan Rona pink di pipi nya.
"Lo kan tahu, gua gak pernah jauh jauh dengan Rasyi dari dulu. tiba-tiba dia ngilang gini saat gua mau nyampein kabar gembira dia gak ada kan gua jadi kecarian" lirih Rani
"Iya lo tenang ya, gua akan nyari Rasyi sampai ketemu. lagian lo hari ini juga harus ngantor kan??"
"iya"
"kalau gitu lo harus siap-siap biar gua anter ke kantor"
"yaudah kalau gitu. gua ganti baju dulu"
ucap Rani yg melepaskan tangan Damian yg tadi memegangnya. dan berjalan kembali menaiki tangga menuju kamar nya.
Damian yg masih di meja makan. mengambil ponsel di saku jaz nya. untuk menghubungi seseorang.
"Aku sudah mengirimkan kode IP kalian lacak titik nya dan kabari aku secepatnya" setelah memberikan perintah Damian memutuskan panggilan. dan melihat ke arah tangga yg sudah ada Rani siap dengan pakaian kantor nya.
"Hey, nona manis sudah terlihat cantik kenapa harus murung"
ucap Damian dengan mengangkat wajah Rani agar menatap nya.
Tanpa izin Damian langsung memeluk tubuh Rani. yg di sambut oleh Rani
"Gua janji, hari ini kita akan dapat kabar soal Rasyi"
"benarkah"
"iya, tapi untuk itu aku ingin melihat senyummu"
Damian kembali mengangkat wajah Rani. kali ini Rani menunjukan senyum nya. yg di balas senyuman hangat oleh Damian.
"Kalau begitu, ayo"
Damian langsung menarik lembut tangan Rani keluar rumah nya menuju mobil dan siap mengantar nya ke kantor. selama perjalanan Rani sama sekali tidak mengeluarkan suaranya hanya diam dengan memandangi luar jendela saja.
"Oke, kita sampai" ucap Damian
"kalau gitu gua masuk ya, dan terima kasih Dam"
"iya, semangat ya"
"iya, dan lo inget janji lo sama gua"
"iya, gua inget"
"bey, Dam"
Dengan melambaikan tangan nya Rani masuk ke dalam kantor papa nya. meninggalkan Damian yg masih melihat nya dari mobil sampai benar benar masuk dalam kantor.
Dering ponsel Damian mengalihkan pandangan nya. dari memandangi Rani yg sudah masuk dalam kantor.
"Bagaimana??"
"kami menemukan titik nya tuan, ta-tapi tuan"
"ada apa?"
"apa tuan tidak salah memberikan kode IP nya pada kami"
"aku yakin tidak salah, karena aku sendiri yg pernah menyalin link nya. apa ada yg aneh?"
"Tidak tuan, cuma titik nya setelah kami selidiki ada di daerah gudang gudang bekas pabrik yg tidak terpakai. dan saya sudah menyuruh mata mata untuk melihat lokasi disana" jelas orang dari sebrang sana. tampak wajah pikir Damian
"Apa kau yakin?"
"saya yakin tuan, anda tidak mungkin saya kecewakan"
ucap orang suruhan Damian. sebenarnya Damian mengirim kode GPS ponsel Rasyi pada anak buah nya.
"Kalau begitu kita harus kesana"
"iya tuan, saya sudah menunggu anda di depan kantor anda tuan"
"baiklah, aku akan segera kesana"
Damian pun mematikan panggilan nya dan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju Kantornya. karena ini masih terlalu pagi hingga membuat jalan belum begitu macet. tidak sulit untuk Damian agar cepat sampai di kantor papa nya.
Setelah memasuki area parkir. terlihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam memberi nya bow setelah melihat Damian turun dari mobil.
"Silahkan tuan" ajak salah satu dari mereka yg membiarkan Damian berjala di depan mereka.
Mengikuti anak buah nya hingga sampai menempuh hampir satu jam untuk ke lokasi. mobil yg Damian tumpangi berhenti di area gudang gudang tidak terpakai. Damian melihat sekeliling nya dengan wajah heran nya.
"Apa yg Rasyi lakukan disini" ucapnya yg terdengar pengawalnya
"ayo tuan kesini,"
Damian pun mengikuti anak buah nya. hingga memasuki salah satu gudang yg sudah tidak layak pakai. sampai ada seseorang yg lebih dulu sampai memberikan sebuah tas pada Damian.
"Tuan, ini"
"ini, milik Rasyi" ucap Damian yg kaget
"kalian berpencar cari petunjuk yg lain" teriak nya
"baik tuan" para pengawal kompak menjawab
Damian memeriksa tas Rasyi yg masih utuh isi di dalam nya. dan melihat ternyata ponsel Rasyi yg mati
"Lo dimana Rass" lirih nya menggenggam erat tas di tangan nya.
"Tuan"
"bagaimana?"
"selain hanya beberapa jejak ban mobil. kami menemukan peluru tuan. seperti nya disini sempat terjadi aksi saling serang tuan" jelas pengawal yg memberikan beberapa sisa peluru.
"Sepertinya ini bukan senjata biasa"
ucap Damian dengan melihat seksama peluru di tangan nya
"benar tuan, ini peluru yg merupakan produksi ilegal saya pernah melihat nya. tapi tidak di ibu kota tuan"
"Lalu"
"di paris tuan"
"paris" ulang Damian
"iya tuan, saya pernah melihat hanya beberapa mafia yg berpengaruh besar yg bisa menggunakan peluru ini di paris tuan"
"Kanza Mahendra, siapa kau sebenar nya"
dengan aura dingin nya Damian menunjukan sisi lain dari biasa nya. jika orang biasa yg hanya akan melihat Damian tenang dan selalu tersenyum. tapi kali ini Damian benar menunjukan sisi gelap nya.
"Kalian selidiki tentang Kanza Mahendra dan berikan aku hasilnya malam ini" perintah Damian dengan membuang Kasar peluru di tangan nya ke tanah.
"Baik tuan"ucap pengawal
Damian pun kembali berjalan keluar. dengan memegang tas Rasyi di tangannya.
Pengawal yg tadi menjemput Damian. kini membawa tuan muda nya kembali ke tempatnya. setelah sampai mereka berlalu untuk menyelesaikan tugas yg di berikan tuannya.
*
Di villa,
Nani yg sudah di kamar Kanza menatap heran Rasyi yg masih belum bangun juga. tapi Nani masih setia menunggunya bangun dengan duduk di ranjang.
Tak berselang lama. terlihat Rasyi yg berusaha menggercapkan mata nya. menandakan bahwa dirinya berusaha untuk sadar.
"Nyonya, anda sudah bangun" ucap Nani ramah
"Nani" panggil Rasyi dengan nada khas bangun tidur nya
"iya nyonya"
"dimana Kanza??" tanyanya setelah benar benar membuka mata nya.
"Aah tuan"
"iya, dimana Kanza?" tanya ulang Rasyi. namun karena Nani yg seperti nya mau menjawab apa. Rasyi memilih ingin bangun dan turun dari ranjang nya. namun baru akan berdiri. sakit di kepalanya menyerang nya hebat yg membuat nya oyong. dan di tangkap oleh Nani dan membantunya duduk kembali di ranjang.
"Anda sebaiknya istirahat dulu nyonya" ucap Nani
"aku tidak apa-apa Nani, aku hanya ingin mencari Kanza"
"ta-tapi tuan"
"apa dia tidak disini??"
"tidak nyonya, tuan sudah pergi dengan tuan Edo tadi malam dengan beberapa pengawal" jelas Nani
Rasyi yg kaget langsung berlari kecil ke balkon untuk melihat keadaan luar. dan melupakan sakit kepalanya. terlihat jelas tempat yg di tempati Rasyi di kelilingi kebun bunga dan sayur. dan juga beberapa pengawal yg berdiri berjaga di setiap sudut villa.
"Kenapa dia bohong" lirih Rasyi yg mulai terduduk lemas di lantai.
"Nyonya" teriak Nani yg berlari kecil mendekati Rasyi
"nyonya, ayo bangun dan istirahat di dalam"
"dia akan kembali kan?"
"iya nyonya, tuan pasti akan kembali. nyonya harus tenang"
Nani membantu Rasyi berdiri. dan membawa nya kembali ke dalam kamar. terlihat jelas wajah khawatir Rasyi
"Nyonya minum lah, ini saya buat kan teh krisan agar nyonya sedikit rilex" ucap Nani dengan memberikan gelas pada Rasyi
"Terima kasih Nani"
"iya, sama-sama nyonya"
"baiklah, kau boleh keluar aku ingin mandi" ucapnya
"baik nyonya, saya akan menyiapkan sarapan anda. panggil saja saya jika anda butuh sesuatu" jelas Nani
Melihat Nani yg sudah keluar. Rasyi berjalan ke kamar mandi yg ternyata sudah ada handuk dan juga perlengkapannya dan juga air yg sudah di sediakan Nani.
Tak butuh waktu lama. Rasyi selesai siap siap. dengan memakai gaun selutut berwarna piece dan potongan sabrina. terlihat jelas wajah cantik Rasyi. berjalan keluar kamar menuju dapur. beberapa pengawal yg melihat Rasyi berjalan menuruni tangga yg di kelilingi jendela transparan. memutar kembali kepala mereka. karena tidak berani menatap wanita tuannya.
"Nyonya" sapa Nani yg mendekati nya
"anda tidak perlu turun, saya bisa membawakan sarapan ke kamar anda"
"Tidak apa-apa Nani, aku ingin makan disini" ucap nya
kembali terbayang di matanya bagaiman Kanza memasak untuk nya tadi malam di dapur hingga membuat wajah cantik nya berubah sendu.
"Nyonya" panggil Nani yg melihat Rasyi seperti hampir menangis.
"i-iya"
"anda beneran tidak pa-pa??"
"iya, aku tidak pa-pa Nani"
"kalau begitu ayo duduk nyonya" ucap nya lalu membiarkan Rasyi duduk.
Terlihat beberapa menu makanan yg di buat oleh Nani. seperti Rasyi kurang gizi karena harus memakan nya sendiri.
"Nani"
"iya nyonya"
"kenapa banyak sekali menunya??"
"kemarin malam, tuan meminta saya memasak semua yg bisa membuat anda tetap sehat nyonya"
"Tapi tidak perlu sebanyak ini"
"maafkan saya nyonya. lain kali akan saya tanyakan pada anda"
"tidak, bukan seperti itu Nani. aku tidak menegur mu hanya saja akan mubajir jika makanan ini tidak di habis kan"
terdapat senyum di wajah Nani mendengar ucapan Rasyi
"Pantas saja tuan begitu mencintai anda, ternyata anda memang orang yg lembut nyonya" ucapnya
"maksud nya, siapa yg mencintaiku?"
"apa anda tidak merasa nyonya. tuan begitu mencintai anda"
"mungkin itu hanya perasaan mu saja Nani"
"saya sudah mengenal tuan Kanza bertahun tahun nyonya. tapi baru kali ini tuan Kanza melindungi wanita nya bahkan dari pandangan pengawalnya" jelas Nani
"Apa kau tahu Nani, manusia aneh itu bahkan tidak pernah berkata romantis apa lagi mengatakan apalagi mencintaimu bagaimana kau bisa mengatakan dia mencintaiku"
Rasyi yg sebenarnya sudah tersipu malu. tapi berusaha menutupi nya dengan membalas perkataan Nani.
"Nyonya mungkin akan segera mendengarnya nyonya"
"mungkin"
masih dengan pandangan nya pada makanan. tidak ada satu pun yg membuat nya selera. lalu di teringat masakan Kanza tadi malam.
"Nani, apa masakan Kanza tadi malam masih ada??"
"masih ada nyonya. saya menyimpan nya di kulkas"
"kalau begitu biar aku panas kan"
baru akan ke dapur Nani langsung menghadang Rasyi.
"Nyonya duduk lah, biar saya yg panas kan"
"tidak perlu, biar aku saja"
"saya mohon nyonya. tuan Kanza tidak akan senang melihat nya"
"baiklah, kau menang" Rasyi yg malas berdebat memilih kembali duduk di kursi nya. dan melihat Nani tersenyum kemenangan karena bisa menahan Rasyi agar tidak di dapur
Tapi melihat makanan yg masih tak tersentuh. pandangan kembali menatap ke arah pengawal yg berjaga di luar melalui jendela.
"Nani,kenapa tidak kau suruh mereka masuk"
"siapa nyonya?"
"mereka" tunjuk nya ke arah jendela
"tidak bisa nyonya, mereka di larang masuk nyonya"
"kenapa?"
"tidak tahu, tapi tuan melarang mereka masuk tuan"
"dasar makhluk astral, memang aneh"
"nyonya mengatakan sesuatu" tanya Nani dengan memberikan makanan yg sudah siap di panaskan nya.
"Tidak ada, makasih" ucapnya melihat makanan yg di masak Kanza meskipun tadi malam.
Rasyi pun memakan lahap makanan nya. dengan senyum Nani yg melihat Rasyi yg mau makan. meskipun Nani tahu Rasyi hanya menutupi rasa khawatir nya pada Kanza.
Setelah sarapan. Rasyi menyusun makanan yg di masak Nani. yg membuat Nani memandang nya heran.
"Untuk apa nyonya??"
"untuk mereka"
"biarkan saya yg memberikan nya nyonya. lagian tuan juga sudah melarang mereka masuk"
"Iya, aku tahu Nani makanya aku akan membawa nya keluar untuk mereka. tuanmu melarang mereka masuk tapi tidak melarang ku keluarkan" tukas Rasyi
"Sudah lah jangan banyak berpikir. bantu aku membawa ini untuk mereka" jelas Rasyi yg lalu berjalan keluar meninggalkan Nani
Setelah keluar Rasyi membuat beberapa pengawal kaget yg lalu berlari mendekati nya.
"Ada apa nyonya??" tanya pengawal
"tidak ada, kalian belum makan kan?"
"belum nyonya"
"kalau begitu makan lah"
ucapnya lalu menyusun makanan nya di meja yg ada di taman
"Tidak nyonya, sekarang sebaiknya nyonya masuk akan bahaya kalau nyonya terlalu lama di luar"
"Ternyata bukan tuan kalian saja yg dingin rupanya. ternyata kalian pun sama" ketus Rasyi
"Maafkan kami nyonya, tapi keselamatan anda adalah prioritas kami" jelas pengawal
"Aku tahu, tapi aku minta kalian sekarang makan lah. atau aku akan mengadu pada Kanza saat dia kembali kalau kalian mengganggu ku" ancam Rasyi yg menahan tawanya
"Tidak nyonya, kami akan makan" pengawal pun berjalan satu satu mendekati meja mengambil makanan yg di sediakan Rasyi. terlihat jelas senyum lebar Rasyi dan juga Nani yg melihat tingkah nyonya nya.
"Anda memang berbeda nyonya" bisik nya dalam hati dengan menunjukan senyum tulus nya. memandang Rasyi
happy reading😊
mampir juga yuk keceritaku
RAIN BUKAN HUJAN
terimakasih