NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:147k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku akan selalu ada untukmu

Hari yang begitu berat dan panjang untuk Nindi, dia tidak pernah melalui hari seperti ini sebelumnya, dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil Bima, kemudian menghembuskan nafas beratnya, memejamkan matanya, merasakan lelah disekujur tubuhnya. Tiba-tiba saja sekelebat kejadian hari ini satu persatu bermunculan di benaknya. Nindi tidak menyangka dirinya bisa melalui ini semua, apa itu artinya sekarang dia sudah menjadi perempuan dewasa karena telah berhasil menyelesaikan masalah?

Tidak! Kamu bisa melalui ini semua karena bantuan dari Bima Nindi, coba bayangkan jika Bima tidak ada, kamu tidak akan mampu mengurusi perkara dengan polisi, urusan rumah sakit ayah Sheerin, mengurus jenazah om Arya sampai almarhum di makamkan.

Bima yang berada di kursi kemudi bisa dengan jelas melihat itu, matanya yang terpejam, menggambarkan jika pemilik mata itu begitu kelelahan.

Kasihan juga anak itu, di saat tersulit nya seperti ini tidak ada satupun keluarga yang mendampinginya. Ayahnya sedang terbaring lemah dirumah sakit, bersamaan dengan itu pamannya tiada, sedangkan ibunya terlihat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Bahkan sekarang entah dimana dia berada.

Entah dari mana datangnya rasa empati itu?Mungkin jauh dari lubuk hati Bima yang paling dalam.

"Aku berjanji She, akan selalu ada disampingmu, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian. Sebagai sahabat, ya, sahabat." Ucap Bima tiba-tiba.

Mata Nindi yang semula terpejam, dalam sepersekian detik langsung terbuka lebar ketika mendengar ucapan itu. Apa dia sedang bermimpi kak Bima bicara seperti itu?

"Kakak tadi bilang apa?" Padahal Nindi bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Bima dalam keheningan yang tercipta, Nindi bertanya hanya untuk meyakinkan dirinya jika dia tidak sedang salah dengar.

"Ya, aku akan selalu ada untukmu sebagai seorang sahabat."

Bagai diterbangkan keatas awan yang tinggi lalu dihempaskan kedasar jurang terdalam Nindi mendengar penuturan Bima, kenapa kata-katanya itu terdengar manis diawal, tapi begitu pahit di akhir.

Nindi tersenyum getir kearah Bima.

"Terimakasih ya kak, aku nggak tau bagaimana jadinya kalau nggak ada kakak." Ucap Nindi berusaha menutupi rasa kecewa di hatinya karena hanya dianggap sebagai seorang sahabat. Senyum palsu terpaksa dia ukirkan.

Tanpa sadar Bima membalas senyum Nindi, ehh, jarang-jarang lho Bima mau memberikan senyumannya untuk orang lain, Nindi adalah orang pertama yang bisa membuat perasaannya berkecamuk. Bisa merasakan haru, empati, bisa membuatnya tertawa dan tersenyum dengan tingkah anehnya.

"Kita pulang sekarang, habis mandi aku akan menjaga ayahmu dirumah sakit." Bima kemudian menyalakan mesin mobilnya.

"Kakak nggak cape apa?" Tanya Nindi.

"Dirumah sakit aku bisa istirahat." Jawabnya mulai menarik gas.

Nindi hanya manggut-manggut saja.

Kemudian tanpa sengaja matanya menangkap objek yang tadi dia letakkan sembarangan didepan bagian mobil Bima. Ya, itu adalah makan siang yang tadi Nindi belikan untuk Bima. Berarti kak Bima telah melewatkan makan siangnya, bahkan sekarang hari sudah mulai gelap. Betapa jahatnya Nindi setelah apa yang telah Bima lakukan untuk nya.

Diapun meraih kantong plastik itu dan membuka isinya.

"Kakak belum makan dari tadi." Ucap Nindi.

"Tidak apa." Jawab Bima tanpa memalingkan pandangannya dari jalanan.

"Pokoknya kak Bima harus makan sekarang!" Seru Nindi.

"Aku sedang mengemudi." Balas Bima.

"Biar aku yang suapi, kak Bima fokus aja nyetir, ya!" Pinta Nindi. Bima tidak bergeming, merasa permintaan Nindi itu benar-benar aneh.

"Pliiis." Bima menoleh sedikit ke arahnya, wajahnya begitu melas.

"Baiklah." Akhirnya setuju.

Nindi dengan bersemangat menyiuk nasi beserta rendang dengan menggunakan sendok bebek, kemudian mengarahkannya kepada mulut Bima. Itu adalah nasi Padang, entah bagaimana rasanya sekarang, itu kan makanan sudah dibungkus selama berjam-jam. Tidak apa Nindi, makanan gosong saja Bima mau memakannya, apalagi ini nasi beserta rendang yang baru beberapa jam.

Meskipun aneh rasanya disuapi oleh perempuan, tapi Bima tetap menerimanya, tidak ingin menolak kebaikan orang lain.

Nindi tersenyum kegirangan melihat Bima makan dari tangannya langsung. Rasanya itu fantastis, luar biasa. Nindi terus melakukan hal serupa sampai nasi Padangnya benar-benar habis.

Entah makanannya memang enak atau karena Bima benar-benar sedang lapar sekarang, dia dengan lahapnya makan disuapi Nindi sambil tetap fokus menyetir. Kok Bisa ya dia melakukan hal aneh seperti ini? Mungkin keanehan pada diri Nindi sudah mulai menular kedalam diri Bima? Entahlah!

***

Mobil Bima memasuki pekarangan rumahnya, dengan perut yang sudah terisi penuh, dia tinggal mandi, shalat magrib lalu berangkat kerumah sakit.

Nindi dan Bima turun bersamaan dari mobil, senyum penuh kemenangan terus Nindi ukirkan karena berhasil membuat Bima menghabiskan makanannya selama diperjalanan.

Seketika senyum yang mengembang dibibir Nindi memudar saat melihat hal janggal yang ada didepan matanya. Saat hendak memasuki rumah, Nindi dan Bima berpapasan dengan mama Anya dan Luis didepan pintu utama. Dan hal janggal yang membuat Nindi bertanya-tanya kenapa rambut keduanya basah seperti habis mandi.

Nindi terus menatap kedua orang dihadapan nya dengan penuh selidik.

"Aku pulang sekarang Luis." Kemudian tanpa memperdulikan pasangan pengantin baru itu, mama Anya pergi begitu saja melewati mereka.

"Hati-hati Anya!" Ucap Luis sebelum akhirnya dia kembali masuk kedalam rumah, diapun sama halnya seperti mama Anya, mengabaikan Bima dan Nindi yang jelas-jelas nyata ada di hadapannya. Mereka seperti sepakat untuk sama-sama menganggap Bima dan Nindi tidak ada.

"Kak, mama Anya kok bisa ada disini?" Tanya Nindi.

"Aku juga tidak tau." Jawab Bima.

Kenapa kak Bima menutup mata tentang mama Anya dan Luis? Apa dia tidak merasa jika ada sesuatu yang terjadi diantara mereka? Atau sebenarnya Bima tau dan menutupi hal yang sebenarnya dari Nindi?

Nindi begitu bimbang, yang dia ketahui tentang Bima adalah dia orangnya sangat jujur. Mana mungkin orang sejujur itu bisa berbohong. Nindi memutuskan untuk percaya jika Bima memang tidak tau apapun.

"Ayo kita masuk!" Bima berjalan duluan, meninggalkan Nindi yang masih berjibaku dengan pikirannya sendiri.

***

Sheerin berjalan seorang diri dibawah remangnya sinar rembulan, jaket yang sedari tadi dia gunakan untuk penyamaran dia lepas dan dia dekap dengan erat di kedua tangannya, masker wajah juga telah di buangnya, kemudian di hirupnya dalam-dalam udara malam ini. Terasa sangat segar, bisa sedikit mengurangi beban yang ada di hatinya.

Sengaja dia berjalan kaki untuk pulang kerumah, dia ingin berintrospeksi diri dalam keheningan. Mungkin cara seperti ini bisa membuatnya sedikit lebih tenang. Memang jarak rumah Nindi terbilang cukup jauh, tapi Sheerin hanya sedang ingin melakukan hal ini. Jika dia mulai lelah, dia tinggal naik ojek atau angkot saja.

Sementara itu, dari arah yang berlawanan, Levin sedang berjalan menyusuri trotoar sambil menggerutu sendiri. Dia sedang sangat kesal kepada kakaknya, berbagai caci maki dan sumpah serapah dia lontarkan begitu saja untuk sang kakak tanpa memikirkan efek kedepannya.

"Kalau nggak lagi hamil, ogah gue disuruh ini, disuruh itu. Lakinya kemana coba? Pengen enaknya aja. Nggak sadar apa loe itu nyusahin gue terus? Gue nggak ikut-ikutan lho waktu bikin itu bayi, tapi kenapa selalu aja gue yang repot sama ngidamnya yang aneh-aneh itu."

"...gue sumpahin anaknya nggak mirip sama bapaknya. Dia harusnya mirip sama gue."

Kira-kira begitu terdengar Levin mendumel sendiri dijalanan, sudah seperti orang tidak waras.

Hana, kakak perempuannya benar-benar membuat Levin kerepotan semenjak dia dinyatakan hamil. Nafsu makan Hana mendadak hilang, tidak sembarangan makanan yang bisa masuk kedalam perutnya. Jika tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, maka makanan itu akan kembali dia muntahkan.

Kali ini kakaknya itu sedang ingin makan rujak jambu kristal, jambu yang tanpa biji itu, tapi yang menjadikannya tidak lazim adalah jambu itu harus dipetik secara dadakan dari pohonnya, lalu harus diracik oleh pedagang rujak jambu kristal yang sering mangkal dipinggir jalan.

Jika Levin membohongi dirinya maka Hana akan tau, entah dari mana Hana selalu tau jika Levin membohongi dirinya, dia seperti memiliki Indra keenam, atau insting seorang ibu hamil memang begitu kuat? Jika hal itu terjadi maka Hana akan semakin menjadi-jadi meminta Levin untuk memenuhi keinginannya yang lebih menggila.

Akhirnya dengan terpaksa Levin mendatangi rumah Aldi, teman SMPnya dulu, sengaja dia tidak mengendarai motor karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh. Si Aldi ini pernah posting foto tanaman jambu cangkok nya, untung saja Levin masih ingat, jadi dia tidak perlu jauh-jauh mencari jambu kristal itu, dia tinggal membawanya ke tukang rujak jambu yang bertebaran dipinggir jalan. Meskipun sempat malu karena permintaannya ini terbilang tidak lazim, tapi Levin berusaha untuk menebalkan muka.

Dengan sengaja dia menendang kerikil yang menghalangi jalannya dengan sangat kesal, seolah batu kecil itu adalah ayahnya si bayi yang malah harus bekerja di luar kota disaat istrinya sedang hamil muda (masa ngidam).

"Aww." Sheerin mengaduh kesakitan saat tiba-tiba sebuah kerikil menyentuh betisnya dengan cukup kencang. Dia mengusap-usap betisnya yang terasa ngilu, ambyar sudah semua lamunannya.

Levin terkesiap saat menyadari seseorang terkena tendangan kerikilnya. Diapun dengan niat baiknya menghampiri orang itu untuk meminta maaf.

"Sorry ya, gue nggak sengaja." Ucap Levin setelah berada dihadapan orang yang sedang menunduk mengusapi betisnya itu. Levin tidak bisa dengan jelas melihat wajah orang itu karena minimnya pencahayaan.

Sheerin seperti tidak asing dengan suara itu, suara itu sering menghiasi telinganya beberapa hari terakhir ini. Dia mendongak untuk meyakinkan jika pemilik suara itu adalah orang yang dia pikirkan.

"Loe!" Ucap keduanya bersamaan, saling menunjuk satu sama lain.

-----------------------

Budayakan meninggalkan jejak setelah membaca, berupa like komentar atau rate bintang 5,,

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!