Sebuah lampu Tumblr yang ia pasang di antara kelambu dipan ranjang nya menyala seperti bintang.
Hanya ini yang Keisha bisa lakukan, menciptakan sebuah bintang yang akan menemani nya di kamar nya.
Saat ini, Keisha tak lagi ingin melawan Syarif. Ia takut jika Syarif benar-benar membuat nya berhenti kuliah. Jika itu terjadi, maka hancur sudah semua cita-cita nya.
Keisha memejamkan mata nya, setetes air mata slalu saja keluar dari pelupuk mata nya setiap malam. Sejenak ia akan bahagia, saat lampu-lampu tersebut menyala. Tapi, Lama-lama saat Keisha memandangi nya, ia merasa bahwa dirinya saat ini sangatlah miris sekali. Takdir begitu kejam kepada nya. Sebelum nya, ia tidur di rumah mewah dengan design kamar atap kaca. Hidup bebas, tertawa, dan bisa pergi ke sana kemari. Tapi, sekarang tidak lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumtazah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluh Kesah
Setelah sarapan, Keisha bersiap-siap untuk membersihkan barang-barang nya. Beberapa santri di minta untuk membantu Keisha pindahan. Walau tadi sempat tak mau, tapi akhirnya Keisha setuju. Setelah di pikir-pikir, ia akan lebih bebas berpakaian jika ia tak tinggal bersama kedua mertua nya.
Syarif sendiri berpikir, lebih baik tinggal berdua saja. Dengan begitu mereka akan mengerjakan apapun berdua, tak tergantung kepada siapapun. Keisha bisa mandiri dan Syarif bisa lebih dekat dengan Keisha.
"Kei, nanti taruh di teras saja. Biar nanti anak laki-laki yang pindahin"
Keisha mengangguk, sedangkan Syarif langsung keluar dari sana. Ia berjalan menemui Arifah yang seperti nya sibuk memilah beberapa peralatan dapur.
"Buat apa, umi?"
"Kalau pindahan, harus bawa peralatan dapur rif. Walau hanya gelas dan piring saja" Jawab nya sambil terus memindahkan barang-barang yang sudah ia bersihkan ke dalam kardus.
"Dosa kah kalau gak bawa umi?"
"Hahah.. kau ini. Ini hanyalah tradisi saja, kalau masalah dosa tidak nya kamu juga mengerti kan?"
"Iya, Syarif akan dosa jika membantah umi" Syarif tersenyum sambil memeluk Arifah.
"Sudah, jangan manja" Arifah menggoyang kan pundak nya agar Syarif segera menyingkirkan kepala nya yang berada di pundak nya.
"Yasudah, Syarif mau ambil mobil dulu"
"Lohh, kemana Edi?" Tanya Arifah, sehingga Syarif berbalik
"Edi pulang, umi. Kan dua minggu lagi bulan puasa, Syarif sudah ada jadwal Tausiah"
Tiba-tiba Syarif teringat dengan istri nya. Bagaimana dengan Keisha jika ia tinggal tausiah.
"Lalu Keisha?" Tanya Arifah
"Iya umi, Syarif lupa."
"Ini udah terlanjur, biar pindah dulu. Nanti kamu bicarakan lagi sama Keisha"
Syarif mengomeli diri nya sendiri, bagaimana bisa dia lupa. Hati nya tentu tak tega jika harus meninggalkan Keisha sendirian di sana.
Sore hari, Mereka baru saja selesai menata rumah baru mereka. Keisha langsung membanting tubuh nya di kasur, badan nya terasa sangat pegal sekali. Seharian penuh ia menata rumah.
"Kei, kamu belum sholat"
Keisha yang tengah terlentang di atas kasur pun langsung menggulingkan badan nya saat mendengar suara Syarif. Ia langsung duduk di tepi ranjang, lalu berseru "Belum"
"Kalau udah lebih lima belas hari, itu darah kotor, kei. Jadi kamu harus sholat walau masih keluar darah nya"
Keisha mengkerut kan dahi nya, apa suami nya ini sekarang lagi mengarang.
"Lusa kita periksa ya, aku takut terjadi yang tidak-tidak" ucap Syarif yang tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap Keisha.
"Periksa apa?" Keisha menjawab dengan bibir sedikit manyun
"Ya di periksakan, kenapa kamu keluar darah terus. Takut nya penyakit"
".... "
Tringggg
Keisha yang hendak menjawab pun tak tersampaikan, karena Syarif menerima telepon.
Keisha sangat kesal sekali dengan Syarif. Emang sering dia haid sampai lima belas hari, kenapa dia ribut sekali pikir nya.
📞Hallo, pa.
Keisha terlihat bahagia, wajah nya langsung berubah saat ia mengangkat telepon dari Aditya.
📞Aku sekarang lagi pindahan, pa. Jadi aku tinggal berdua di rumah Gus Syarif. Walau kecil, tapi setidak nya aku lebih bebas. Tak lagi memakai jilbab walau ke kamar mandi.
.....
📞Oke, pa. Jangan lupa makan ya.
....
📞Waalaikumsalam.
Keisha meletakkan kembali ponsel nya di atas nakas. ia lalu mengambil tumpukan kaos dan beberapa celana pendek yang baru saja ia beli beberapa hari lali lewat online. Keisha sengaja memesan nya, karena sejak awal ia slalu memakai kaos dan celana pendek saat tidur. Itu lebih enak saja di pakai nya.
Setelah mengambil satu setel baju rumahan ala Keisha, ia pun berjalan menuju ke kemar mandi yang terletak tak jauh dari kamar nya.
Keisha menata shampo, conditioner, sabun cuci muka, beberapa botol lulur mandi, dan beberapa sabun cair dengan varian wangi yang berbeda. Ah, ini banyak sekali, bahkan rak yang sudah menggantung di sana penuh dengan perintilan mandi Keisha.
"Lumayan, disini ada shower nya" Gunam Keisha sambil mendongak menatap shower di sana.
Keisha mulai mandi dengan tenang, tidak seperti biasanya yang slalu saja mendapat gangguan dari Anisa. Ia menggosok seluruh badan nya dengan pelan, tidak seperti biasa nya slalu terburu-buru. Mandi segar bagai tuan putri kerajaan, sayang kamar mandi nya kecil, tak ada bath up dan air panas otomatis.
"Kei," Panggil Syarif sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Keisha sangat kesal dengan Syarif. Adik nya sudah tak ada, tapi sekarang kaka nya yang menganggu nya saat mandi.
"Iya?" Teriak Keisha dari dalam.
"Aku pergi keluar dulu, mau bantu mas Rozi"
"Iya"
Keisha pun melanjutkan kembali mandi nya, seharusnya jika mau pergi, pergi saja. Tidak usah menganggu mandi nya. Begitulah gerutu Keisha.
...****************...
Setelah mandi, Keisha merasa sangat lapar sekali. Di dapur milik Syarif memang sudah lengkap. Ada kompor, ada piring, gelas dan lain nya. Ada juga lemari es, tapi di dalam nya tidak ada apapun kecuali air putih.
"Lapar sekali" Ucap Keisha sambil memegangi perut nya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Astaga, siapa sih yang datang!" Keisha langsung berlari menuju kamar nya. Ia segera memakai Abaya tapi model nya seperti kimono, jadi memakai nya pun cepat dan gampang.
"Assalamualaikum"
Keisha langsung tersenyum, ia tau benar suara siapa yang ada di balik pintu.
"Mbak Nur" Keisha langsung melompat, memeluk Nur. "Mbak, aku kangen banget" seru nya
"Kalau kangen kenapa gak telepon, kei. Oh salah" Nur langsung menutup mulut nya "Ning Keisha maksud nya"
"Ahh.. panggil Keisha saja" Keisha menarik Nur masuk kedalam dengan manja, seperti anak kecil yang menarik ibu nya.
Mereka duduk di atas karpet yang di gelar di ruang tamu.
"Mana lihat suami nya? Lihat foto waktu nikah nya dong, pasti cantik deh. Oh iya, rumah mbak dimana?" Keisha tak berhenti bertanya, rupa nya dia benar-benar kangen sama Nur.
"Ceritain dulu, kamu kok bisa menikah sama Gus Syarif" Ucap Nur sambil tersenyum
Keisha langsung membuang nafas nya dengan kasar. Mimik wajah nya berubah menjadi sedih.
"Ceritalah, kei. Siapa tau bisa lega kalau di ceritain unek-unek nya"
Keisha menatap Nur, wanita kalem di depan nya ini memang sosok dewasa yang membuat Keisha sangat nyaman. Dia bukan lagi seperti kakak, tapi sosok nya itu seperti seorang ibu. Jika Arifah juga Keisha anggap seperti ibu karena Keisha merasakan kasih sayang Arifah yang tulus, tapi Keisha tidak bisa menceritakan isi hati nya kepada Arifah. Dia tak berani melakukan nya.
Bibir berwarna merah muda itu bergerak, menceritakan semua kejadian beberapa minggu ini. Keisha menceritakan, bagaimana ia tertekan dengan keadaan. Saat ia di paksa, tidak menolak karena keadaan Aditya yang tiba-tiba sakit. Membuat Keisha menangis karena mengingat nya.
"Aku ingin sekali bekerja seperti papa. Menjadi wanita wanita karir, Tapi.. " Keisha tak sanggup lagi berkata-kata, Nur juga langsung memeluk nya.
"Mbak Nur, aku sejak dulu tak bisa marah kepada papa ku. Walau dia sering sekali tak menghiraukan ku, sibuk bekerja, aku tetap sangat menyayangi nya. Aku tak punya siapapun kecuali papa"
Nur langsung melepas pelukan nya, ia langsung mengusap air mata yang beberapa detik lalu menetes dengan kasar, lalu berseru "Kamu hanya punya papa? kamu gak anggap aku sahabat kamu? Iya?"
Keisha langsung memeluk Nur kembali. "Tidak mbak, bukan seperti itu"
"Sabar, kei."
"Aku kesal kepada nya, Mbak" Keisha melepas pelukan nya.
"Siapa?" tanya Nur sambil menaikan satu alis nya
"Ihhh, aku tak suka menyebut nama nya"
"Papa kamu?" rupa nya Nur sengaja menggoda Keisha.
"Mbak Nur, ah" Sifat manja Keisha mulai keluar, dia memang dasar nya sangat manja. Tapi jika di depan orang lain, atau bahkan di depan kedua sahabat nya, Keisha slalu menunjukan bahwa dia adalah gadis kuat, jutek, judes, dan cuek.
"Siapa sih, kei" Nur tetap tak merubah mimik wajah nya, walau sebenar nya ia ingin sekali tertawa.
"Gus Syarif!"
"Ohh.. ati-ati, kei. Benci jadi cinta"
Keisha malah tertunduk, seperti masih ada sisa unek-unek nya, tapi Keisha tak mengatakan nya kepada Nur. Keisha pikir, biar ini menjadi rahasia nya.
Tak lama, Nur berpamitan karena hendak mengajar ngaji. Keisha sendiri tak berani mencegah nya, meski sebenar nya rasa rindu nya belum berkurang, dan masih banyak yang ia ingin katakan dan yang ia ingin dengar.
...****************...
Syarif sendiri saat ini baru saja selesai merazia santri-santri. Setelah meletakan barang-barang sitaan ia taruh di kantor, Syarif di minta untuk memeriksa pagar batas asrama laki-laki. Di sana sering sekali santri bersembunyi dan menyembunyikan barang-barang.
Syarif berjalan dengan pelan dan hati-hati, dari beberapa meter ia mendengar ada beberapa santri yang sedang mengobrol. Syarif pun bersembunyi, entah kenapa ia ingin sekali mendengar apa yang sedang santri nya itu bicarakan.
"Kamu tau istri nya, Gus Syarif?"
"Taulah, itu kan gadis yang tinggal di ndalem"
"Beruntung ya, Gus Syarif. Dapat gadis bohay gitu, heheheh"
"Iya, kalau boleh milih sih. Aku tetap akan memilih istrinya Gus Syarif dari pada Ustadzah Najwa, anak nya Ustadz Akhmad"
"Ih, dia menurut ku gak cantik, cuma pintar saja. Cantikan Istrinya Gus Syarif ke mana-mana, apalagi body nya juga aduhh, sexy"
Syarif langsung mengepalkan tangan nya. Betapa kurang ajar nya tiga santri nya yang duduk jongkok di sana. Entah karena mereka mengatakan Najwa jelek atau karena mereka membicarakan tentang body istrinya. Memang benar, bahwa tubuh Keisha memang padat berisi, tapi tidak gemuk.
"Ekheemmm" Syarif berdehem, membuat ketiga santri yang masih jongkok itu langsung kaget.
"Ikut saya sekarang" Tegas Syarif.
"Matilah kita" Seru salah satu santri sambil berjalan mengikuti Syarif dari belakang.
Syarif menyerahkan ketiga nya kepada Rozi dan Ustadz Akhmad. Ia langsung kembali ke rumah dengan keadaan masih kesal.
"Astaghfirullah, kei" Syarif langsung memalingkan pandangan nya saat ia berpapasan dengan Keisha.
"Kenapa kamu gak pakai baju?"
"Ini pakai baju"
"Kei, jangan pakai ginilah, kei"
"Aku suka gini, kan kalau di jogja aku juga pakai gini"
Syarif menghela nafas nya "Bagaimana kalau nanti ada orang yang lihat"
"Gak akan ada, kan hanya di dalam rumah saja" Keisha berlalu pergi masuk ke dalam kamar, ia tak ingin terlalu banyak bicara dengan Syarif.
Tetapi tak lama, ia keluar kembali lalu berkata "Aku belum makan, mau go food jaringan ponsel ku gangguan"
"Aku akan belikan makanan, kamu jangan keluar rumah!" Syarif mengatakan nya dengan nada tegas, lalu berjalan melewati Keisha begitu saja. Sepertinya dia marah.
Keisha mengkerut kan dahi nya saat mendengar kata-kata terakhir Syarif. Tapi ia tak mau di buat pusing dengan nya, perut nya sudah sangat lapar. Dia tak mau menambah pikiran nya dengan hal-hal tak jelas seperti Syarif.
...****************...
**SELAMAT MALAM, EPISODE KALI INI AUTHOR UDAH TAMBAHIN YA.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK.
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN NYA ❤❤**
biar Najwa tambah kepanasan...
knp. GK di ajarin puasa. malah sengaja di buatin nasgor tengah hari bolong
inget waktu dulu aku pernah tinggal di kampung suami
lebam 👉 krna habis terkena pukulan / jatuh atau sejenisnya
sembab 👉 krna habis nangis