Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.
Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Adit bersalaman dengan beberapa klien dengan senyum mengembang. Setelah klien itu pergi, ia menoleh ke arah Kanaya.
“Terimakasih. Berkat kamu meeting kita lancar. Mari kita pulang!” ajak Adit. Senyum Kanaya mengembang. Ia berjalan di belakang Adit keluar dari cafetaria tersebut. Adit memasuki mobil kemudian menatap Kanaya yang berdiri mematung.
“Siapa yang jemput kamu pulang, Nay?” tanya Adit sembari merendahkan kaca mobil. Kanaya menggeleng. Adit berpikir sejenak.
“Ya sudah, masuk ke mobil. Saya akan antar kamu. Ini sudah malam saya tidak berani membiarkanmu disini sendirian.” Mendengar itu Kanaya berdebar. Rasa sukanya terhadap Adit begitu besar.
Mereka sudah sampai di depan kontrakan milik Kanaya. Kanaya menurunkan kakinya lalu menutup pintu.
“Terimakasih, Pak. Bapak gak mampir dulu?” tawarnya. Adit tersenyum.
“Terimakasih atas tawarannya. Saya lanjut pulang.” Jawabnya sambil menghidupkan mesin mobil. Mobil berlalu dari hadapan Kanaya. Kanaya terus tersenyum sambil menatap kepergian Adit.
“Aaaaaaakkhh! Pak Adit romantis banget!” teriaknya. Seperti anak kecil ia loncat kegirangan.
Hari-hari berlalu, Kanaya semakin menyukai Adit. Terlebih saat Adit pernah membela Kanaya yang tidak sengaja membuat karyawan lain marah karena kecerobohannya. Malam ini ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya kepada atasannya tersebut.
“Kanaya? Kamu sakit? Kenapa wajahmu memerah?” tanya Adit.
“Iya, Pak, saya kurang enak badan. Saya boleh izin pulang cepat tidak?” tanya Kanaya sopan.
“Ya sudah. Pulanglah, istirahat yang cukup. Supaya besok bisa kembali bekerja.” Jawab Adit. Kanaya membalikkan badan namun belum beberapa langkah ia meninggalkan ruangan tubuhnya terhuyung. Adit menangkap tubuh Kanaya sehingga posisi wajah mereka begitu dekat. Kanaya menatap Adit dalam-dalam. Sejenak Adit terpaku namun segera di tepisnya. Ia menjadi gugup.
“Baiklah saya akan mengantarmu pulang.” Tukas Adit. Senyum Kanaya mengembang. Ia buru-buru memasang ekspresi tidak berdaya agar Adit memperhatikannya. Adit memapah tubuh Kanaya keluar dari kantor. Beberapa karyawan saling berbisik melihat mereka. Adit berusaha bertahan. Kalau saja ia bisa meninggalkan Kanaya mungkin ia akan di cap lebih buruk lagi oleh orang lain sebagai Bos yang tidak punya hati nuraini terhadap bawahan.
Adit menuntun Kanaya memasuki kontrakan. Kanaya hanya tinggal sendiri. Ia seorang perantauan. Aslinya berasal dari Jakarta. Adit terkejut tatkala Kanaya hendak jatuh ke lantai. Dengan sigap Adit menangkap tubuh Kanaya dan menggendongnya masuk ke dalam kamar. Kanaya tersenyum tipis, tangannya melingkar di leher Adit. Adit merasa tidak nyaman, namun ia serba salah jika mengabaikan Kanaya. Tubuh Kanaya dibaringkan di atas tempat tidur. Adit hendak beranjak namun Kanaya menarik tangannya membuat Adit terjatuh menimpa tubuh Kanaya.
Mereka terkunci dengan posisi seperti hendak mencumbu. Adit berada di atas tubuh Kanaya. Wajah mereka hanya berjarak 10 cm. Adit melotot, ingin berdiri namun rasanya seperti membeku. Bahkan Adit merasa menekan sesuatu yang kenyal di dada membuat bagian bawah Adit menegang. Kanaya berdesir manakala merasakan sesuatu yang menonjol dari balik celana Adit.
“Shit!” makinya sembari memperbaiki posisi. Adit berdiri dengan wajah memerah. Kanaya bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Ia menyentuh telapak tangan Adit. Adit terkejut. Kanaya berdiri menatap Adit. Adit kebingungan.
“I Love You, Pak Aditya.” Bisik Kanaya di telinga Adit. Hembusan nafasnya terasa hangat di leher Adit. Adit tersentak, ia mendorong tubuh Kanaya.
“Kamu berlebihan, Kanaya! Aku masih mencintai istriku sampai kapanpun!” teriak Adit. Ia melangkah meninggalkan Kanaya yang terpaku menatapnya dengan mata yang memerah.
“Sial!” Adit meninju stir mobil. Di remasnya rambut kepalanya kuat-kuat. Ia hampir saja terlena dengan bujuk rayu Kanaya. Untung saja bayangan tentang Luna masih selalu menghantuinya membuat ia segera tersadar.
“Luna.” bisiknya lirih. Ia merindukan Luna. Hanya Luna satu-satunya wanita yang ia sentuh.
“Aku harus kembali ke Luna!” ia melajukan mobil dengan penuh semangat. Senyum manis Luna tergambar jelas dalam ingatannya.
*****
Adit sudah berada di depan rumah kedua orang tua Luna. Kakinya berat melangkah. Setelah menarik nafas berkali-kali dan menghembuskannya, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Selang 10 menit pintu terbuka. Ibu terkejut. Sorot matanya terlihat sayu.
“Ibu, dimana Luna? Adit ingin bertemu Luna?” tanya Adit. Ibu menatapnya sejenak.
“Luna tidak tinggal di sini. Luna dan Mentari tinggal di Jerman.” Jawab Ibu.
“Apaa?!” Adit terkejut.
“Ibu, berikan nomor kontak Luna. Luna telah mengganti nomor. Adit ingin menelpon Luna.” pinta Adit. Ibu menggeleng pelan.
“Adit, jangan ganggu Luna dulu. Luna ingin sendiri. Tolong beri waktu untuk Luna. Luna sudah terlalu banyak menderita selama ini. Bahkan Ayah dan Ibu tidak pernah mengetahui penderitaan yang Luna alami.” Kata Ibu. Tubuh Adit mendadak lemas. Ia menunduk sambil menutupi wajahnya.
“Maafkan Adit, Bu.” Rintihnya. Air mata perlahan menetes. Ibu menepuk bahunya.
“Ibu tidak marah. Ibu cuma meminta kamu untuk memberikan waktu kepada Luna.” pinta Ibu. Adit terdiam lesu.
Adit pulang dengan membawa luka yang mendalam. Harapannya untuk kembali kepada Luna telah sirna. Luna sudah berada jauh dari jangkauannya. Perpisahan yang benar-benar nyata.
“Maafkan aku, Luna.” sesalnya.
‘Ciiiiitttt’
Adit mengerem motornya tiba-tiba, ia melihat Gandhi yang hendak menuju rumah kedua orang tua Luna. Adit memutar motornya mengejar mobil Gandhi. Gandhi sudah berhenti di depan rumah Luna. Ia keluar dari mobil. Dengan cepat Adit menariknya kebelakang.
“Mau apa kamu ke sini?!” teriak Adit.
“Sudah jelas ingin membawa Luna dan anak kandungku, aku akan menikahinya!” teriak Gandhi tidak mau kalah.
‘Bugh!’
Adit memukul wajah Gandhi. Emosinya membara.
“Luna masih menjadi istriku! Kami belum bercerai!”
“Tidak ada alasan. Mentari itu sudah jelas anak kandungku. Aku berhak mengambil hak kepada Luna.” Gandhi bersikukuh.
Ibu dan Ayah keluar dari dalam rumah karena mendengar suara orang berkelahi di depan rumahnya. Ayah menjadi murka begitu melihat dua orang lelaki yang menyakiti Luna berada di depan rumahnya.
“Pergi kalian dari sini!” bentak Ayah dengan wajah memerah.
“Jangan pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga Erlangga!” Ayah menunjuk Gandhi. Gandhi berlutut.
“Maaf, Om. Tapi saya...”
“Tutup mulutmu! Sejak dulu saya tidak pernah menyukaimu!” bentaknya. Gandhi tersentak. Ia berdiri lalu masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan mereka. Adit masih menunduk.
“Pergilah, Dit. Pergilah.” Kata Ayah dengan suara melemah. Ayah membalikkan tubuh kembali masuk ke dalam rumah. Adit menaiki motor dan menghidupkan mesin. Ibu memandang Adit dengan tatapan sedih. Adit berlalu dari hadapan Ibu. Air matanya mengalir deras di pipi. Penyesalan yang begitu mendalam karena telah meninggalkan Luna.
“Aku akan selalu menunggumu kembali, Luna. Aku sangat mencintaimu, Luna Amaris Erlangga.” Bisiknya dengan hati yang sesak.
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
udah gag suci
gag tau malu pula
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk