NovelToon NovelToon
The File Of B

The File Of B

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Pembunuhan / Detektif / Eksplorasi-detektif / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:447.8k
Nilai: 5
Nama Author: Robin.Y

VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)

Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.

Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.

Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

File 32 : Tragedi Terulang Kembali

"Be-benarkah?" Devian menatap Ice penuh tanya.

Pernyataan cinta romantis dari sang Kakak yang sepertinya membuat Devian mulai terbuai. Ice hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman dan anggukan mantap sebelum tangannya tiba-tiva menarik tubuh Devian ke dalam dekapannya. Kedua kakak beradik itu berpelukan seperti sepasang kekasih. Billie dan Ken yang menonton mereka hanya bisa terdiam menahan nafas.

"Kak Ice... hiks! Kenapa? Kenapa baru sekarang kau mengatakannya? Hiks" Tangis Devian akhirnya meledak, dia tak kuasa lagi menahan luapan emosinya. Pemuda itu memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya di dada Ice. Harum cologne dan kehangatan dari pria yang sangat dia dambakan kini menyelimuti tubuhnya. Devian balas memeluknya erat dan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, membiarkan tangan sang kakak membelai rambutnya lembut. Tapi detik kemudian mata Devian terbelalak saat menyadari sentuhan dingin dari tangan Ice meraba pistolnya seolah ingin merebutnya.

"BRENGSEK! BAJINGAN! Kau mencoba menipuku, huh!" Devian melompat mundur dan otomatis kembali mengacungkan pistolnya. Air mata masih mengalir deras di wajahnya. Lagi-lagi hatinya remuk karena merasa sudah dipermainkan.

"Devian, kumohon tenanglah! Turunkan senjatamu sebelum kau menyesal!" Bujuk Ice kali ini sambil mengangkat tangannya ke udara, pertanda menyerah.

"Diam! Ternyata kau pandai berakting juga, Kak Ice! Kau hampir membuatku terlena, tapi aku tidak bodoh! Semuanya belum selesai. Jika kau ingin benar-benar membahagiakanku maka biarkan aku menghabisi mereka semua. Dimulai dari kau detektif yang menyebalkan!" Seringai Devian yang tanpa pikir panjang menarik pelatuknya ke arah Billie.

"DOOORRRR!!!" Suara ledakkan mesiu dari peluru yang dilontarkan memecah di udara.

"A-apa ini?!!" Wajah Billie pucat menatap horor peluru yang melesat secepat kilat padanya.

"BILLIE!!!TIDAAAAKKK!" Ken berteriak sambil berlari secepat kilat untuk menyelamatkan Billie tapi "Blugh!", tubuh Billie jatuh ke lantai bersamanya dan semua sudah terlambat.

"DEVIAANNN?!! APA YANG KAU LAKUKAN! KAU KEPARAAAAT!!!"

Melihat peluru itu menembus tubuh gadis di belakangnya, Ice sontak hilang akal. Dengan nekat dia tiba-tiba menerjang tubuh Devian dan mengajaknya melompat langsung dari atap.

"KYAAAAAARGHHH!!!" Terdengar jeritan para siswa dan guru yang menyaksikan kedua pemuda itu terjatuh diikuti. "BLUUUGHHH Krkkk!" Suara tubuh manusia jatuh menghantam tanah beserta tulang yang retak.

"A-ADA APA INI?!!!"

Caroline dan Thomas yang penasaran melongokkan kepalanya dari jendela sebelum mereka berdua tersentak kaget.

"Hhhhk? Devian? Ice?" Hati Caroline mencelos dan air mata panas seketikq bergulir membasahi pipinya. Dua pemuda yang dia kenal tampak terjatuh dari bangunan tinggi dalam posisi tengah berpelukan. Cipratan darah merah mewarnai tanah sekelilingnya dan mulai membuat genangan.

"BILLIE! Kumohon bertahanlah!" Dalam keadaan panik Ken memeluk Billie protektif dan mengecek luka di tubuhnya.

"Billie! Bangun! Kumohon!" Ken mulai meratap, hatinya dipenuhi rasa penyesalan dan juga rasa takut akan kehilangan.

"ARGH! BRENGSEK! SIALAN!" Umpat Ken yang emosi. Seharusnya dia bisa mencegah gadis ini agar tidak maju paling depan. Kem tak hentinya mengutuk dirinya sendiri dan dia pun tak sanggup lagi membendung air matanya.

Ken terus menerus memanggil Billie dan mencoba menggoncangkan tubuhnya, menghiraukan paramedis yang sudah berdatangan. Tapi tetap tidak ada respon dari gadis dalam pelukannya itu. Darah segar mengalir dari luka tembakan di tubuh Billie tak kunjung berhenti dan mulai membasahi baju Ken. Ini adalah benar-benar mimpi buruk, dia tak menyangka hal tragis ini akan terjadi di depan matanya. Tak hanya dia gagal menangkap si penjahat dia juga gagal melindungi Billie.

...----------------...

Seminggu kemudian

Setelah beberapa hari larut dalam kegalauan akhirnya Ken mulai bisa bernafas lega karena hal yang paling dia takutkan tak menjadi kenyataan. Tepat di hari ke lima Billie akhirnya siuman juga dari tempat tidurnya. Gadis itu merasa tubuhnya kebas terutama di bagian bahu dan lengannya yang dipenuhi balutan perban. Sampai saat ini Billie belum bisa beraktivitas bebas seperti biasa, dan menurut dokter dirinya harus menginap di rumah sakit setidaknya selama satu minggu.

"Kak Ken? Bagaimana kabar Devian dan juga Kak Ice? Apa mereka semua selamat!" Tanya Billie suatu ketika saat Ken datang menjenguk.

"Bodoh, jangan pikirkan soal orang lain, yang harus kau khawatirkan saat ini adalah kesehatanmu. Mengerti!" Jawab Ken sambil menyuapkan sesendok bubur hangat lagi pada mulut Billie.

"Ayo sekali lagi, bilang aah..." Ucapnya lagi memberi isyarat pada Billie untuk membuka mulutnya, dengan refleks Billie menurut saja. Dia memang sudah merasa tak sungkan lagi dengan pria yang sudah dianggapnya bagian dari keluarga ini.

"Ammm! Waah, walaupun masih sakit nafsu makanmu masih besar! Dasar gembul! " Komentar Ken sambil mencubit pipi Billie gemas. Rasa sakit di pipinya membuat Billie mendelikan mata dan memanyunkan bibirnya sebal.

Billie sebenarnya merasa heran mengapa saat ini Kakak yang biasanya cerewet sangat memanjakannya seperti anak kecil. Tapi Billie tidak berpikir terlalu jauh tentang alasannya, dia memilih untuk menikmati saja perlakuan khusus Ken saat ini.

Beruntung peluru itu tidak mengenai organ vitalnya, peluru itu hanya bersarang di bahu kanan Billie. Dia sempat kehabisan darah dan harus dilarikan ke unit gawat darurat dan dirawat secara intensif. Sialnya Billie memiliki golongan darah spesial dan jarang yaitu AB-, jika dia terluka sedikit saja itu akan mempengaruhi jiwanya.

"Tapi aku ingin tahu! Ayolah Kak Ken, ceritakan padaku semuanya! Apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri?!" Rengek Billie lagi mencoba membujuk.

"Hhh...baiklah..." Ken menghela nafas pasrah sebelum akhirnya dia mulai bercerita. Dia memang tidak pernah bisa menolak permintaan Billie apalagi jika gadis itu sudah bertingkah manja. Walaupun awalnya bagi Ken tingkah kekanakkan gadis ini sedikit merepotkan tapi Ken banyak berhutang budi pada gadis ini. Tanpa kehadirannya kasus tempo hari belum tentu bisa dituntaskan.

...----------------...

FLASHBACK seminggu yang lalu

"AMBULAN TOLONG PANGGILKAN AMBULAN!!!"

Teriakan panik orang-orang disekitar dan raungan sirine mobil polisi dan ambulan terdengar menulikan telinga. Ditengah keadaan yang kacau balau disertai kebingungan itu, Devian membuka matanya perlahan.

"Uhk...uhukkk..." Dia terbatuk sambil memuntahkan darah.

"K-Kak Ice..." Panggilnya lirih pada pemuda berambut panjang yang tergeletak disampingnya.

Ice tidak merespon, tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Rambut panjang acak-acakan, darah segar yang mengalir dari kepalanya hampir menutupi sebagian wajahnya. Tapi anehnya bagi Devian luka diwajah kakaknya itu tidak menghilangkan ketampanannya. Justru bagi Devian warna merah darah itu membuat Kakak lelakinya ini tampak semakin tampan sekaligus cantik dan artistik.

"K-kak Ice? Apa k-kau s-sudah m-mati?" Devian berusaha keras menggerakkan kepalanya agar bisa mendekatkan wajahnya ke wajah Ice. Perlahan dia menempelkan bibirnya untuk merasakan nafas dan ciuman Ice yang terakhir kali.

"B-bodoh! Apa k-kau ingin kita mati b-ber sama?" Ucap Devian terbata-bata setelah melepas ciumannya yang tak berbalas. Yang terasa oleh Devian hanya bibir dingin dan asin metalik darah, sepertinya Kakak lelaki pujaan hatinya itu benar-benar sudah menjadi mayat.

"Ha... Romantis sekali... tidak buruk! A-aku memang selalu mencintaimu. T-terimakasih Kak... ini kematian yang indah... Ha..haha...ha...ukh.." Devian tertawa sebelum rasa sesak yang hebat menyerang dirinya dan dia kembali terbatuk memuntahkan darah.

"Hey, disini masih ada yang selamat! Bertahanlah!" Seorang wanita berseragam putih dari tim medis datang menghampiri mereka. Tangannya yang terampil memasang masker oksigen di wajah Devian dan menyuntikkannya sejenis cairan anesthesia untuk menghilangkan rasa sakit sementara.

Ini adalah kedua kalinya Devian jatuh dari tempat yang sama, tapi kali ini berbeda, dia ditemani oleh pemuda yang sangat dicintainya. Pandangan Devian semakin kabur, oksigen seolah telah mengilang dari otak dan juga paru-parunya. Tulang rusuknya yang patah menusuk paru-parunya hingga menimbulkan kebocoran. Masker oksigen dan obat-obatan pun sudah tidak berguna. Semuanya semakin gelap dan sesak. Tubuh Devian tidak sanggup lagi berjuang hingga perlahan namun pasti, detak nadinya semakin menghilang. Sepertinya kali ini Dewa kematian benar-benar telah menjemputnya.

FLASHBACK TAMAT

...----------------...

"Jadi begitulah, Billie! Saat ambulan datang... Mereka berdua tak tertolong lagi..."

Ken menutup ceritanya dengan ekspresi serius, dia kemudian terheran menatap Billie yang entah bagaimana wajahnya sudah berlinang air mata.

Billie sendiri tidak tahu kenapa dirinya menangis. Apa karena dia berempati pada akhir dari dua saudara tiri yang memiliki cinta yang rumit itu? Ataukah karena perasaan cinta yang layu sebelum berkembang? Tidak! Billie sendiri tidak yakin jika perasaannya pada pemuda pencuri ciuman peryamanya itu adalah cinta. Billie sendiri juga tidak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh sementara tidak ada hal baik yang bisa dia ingat tentang pemuda itu.

"Hei, Billie? Kau kenapa?" Tanya Ken khawatir sambil mengusap air mata Billie dengan tissue. Ken tahu gadis ini memang sedikit cengeng tapi kali ini dia merasa ada yang berbeda dengan tangisnya.

"Kak Ken, cinta itu sebenarnya rasanya seperti apa? Apa cinta itu benar-benar menyakitkan?" Tanya Billie tiba-tiba.

"Kenapa kau tanya itu? Aku sendiri tidak tahu." Ken megangkat bahunya mencoba mengelak dari pertanyaan.

"Yaah! Kakak kan sudah sering berpacaran, masa tidak tahu?" Protes Billie dan tatapan polosnya membuat Ken merasa tersudut.

"Oh soal itu... Entahlah Billie, menurutku cinta itu sangat rumit! Lebih rumit daripada kasus misteri apapun... Aku sendiri masih belum bisa memecahkannya! Karena itulah aku masih single hingga saat ini... Hhh!" Ken menutup kalimatnya sambil menghela nafasnya pasrah.

Jawaban Ken itu mungkin kedengarannya ambigu, tapi Billie pikir mungkin ada benarnya juga. Karena baru kali ini dirinya merasa tak berdaya oleh perasaan yang mengganggu dalam hatinya.

TBC

(AN : Apakah ini akhir dari kasus di Diamond High? Apa Ice benar2 sudah tamat? Stay tune terus di episode2 terakhir cerita ini😘 Jangan lupa likes & vote & sharenya, terimakasih!)

1
Akari Yukiya
berarti Billie cewe nih?
Akari Yukiya
gimana itu di cek nya 😭
Dwi Nuryani
Luar biasa
blueface
ceritanya keren, plotnya seperti yang rumit dan berat tapi pembawaannya ringan, cocok untuk bacaan remaja. setiap bab selalu bikin penasaran, plot twistnya juga tidak mudah ditebak.
Clara Safitri
sara kali pembunuhnya?
Clara Safitri
uhh. penasaran kali siapa sebenarnya pembunuhannya..huuu sara?godfre???ntahlah
Clara Safitri
jangan2 si sara. sara mau balas dendam..mungkin mayat gadis 13 tahun itu adiknya..lanjut thor
Clara Safitri
ice kali yang membunuh atau angelena. ahhh lanjut thor seru
Clara Safitri
lanjut thor
Derza Sister
Bagaimana dengan kelanjutan Thor...
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh
robin.y: makasih sudah mampir disini
total 1 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya bagus,penulisannya rapi,bagi yg suka cerita detektif, aku rekomen banget cerita ini
Nor Aida irliyanti: ada karya kamu yg lain kah??
total 2 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya baaaaguuuuus banget....kenapa aku baru Nemu cerita ini
robin.y: makasih udah mampir disini
total 1 replies
Diii
ternyata kakeknya yang berperan di eyes
Diii
yaaaaakkkkm kenapa ikut terjun
Diii
keren...selamat ya Thor....tetep semangat berkarya💪💪💪
Diii
hidup ice jadi penuh selidik dan hampa jadinya
Diii
eh mas es kenalan dong
Diii
keren abis deh....jempol top markotop
Diii
dia yang nyatain cinta...aku yg deg deg an
Diii
ternyata devian otak semuanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!