NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Dominasi & Perubahan

​"Padahal aku telah mengizinkanmu kembali ke negeri itu, tapi belum genap satu bulan kau sudah merangkak pulang kepadaku. Apa kau mulai menyesali semua perbuatanmu, Naru?"

​"Aku justru lebih menyesali diriku sendiri karena baru sadar bahwa aku memiliki seorang adik perempuan, Kakek," sahut Naru dingin, matanya menatap lurus sang tetua tanpa gentar.

"Itu adalah tamparan nyata bahwa Kakek tidak pernah benar-benar memberikan kebebasan hidup untuk kedua orang tuaku. Kakek hanya menanamkan rasa takut yang mencekik kepada mereka!"

​Hiyashi terkekeh pelan.

Sebuah tawa kering yang berbaur antara rasa tak percaya bahwa ia masih memiliki cucu yang tersembunyi, sekaligus tawa kesombongan seorang penguasa klan yang yakin bisa merebut apa pun yang ia inginkan.

​"Bagus, Naru," ujar Hiyashi datar, memiringkan kepalanya dengan tatapan menilai. "Itu artinya ... dia juga bisa dibawa ke sini untuk tinggal bersamamu dan bersamaku."

​"TIDAK!" bantah Naru mutlak.

"Aku sendiri ... aku sendiri yang tidak akan pernah menyerahkan adikku kepadamu, Kakek! Kenapa? Kenapa Kakek harus menawan kami? Menjauhkan kami dari orang tua kami sendiri?! Apa salah mereka? Hanya karena darah? Hanya karena garis keturunan Ayah tidak setara denganmu, Kakek tega melakukan hal sekejam ini?!"

​Hiyashi menyandarkan punggungnya di kursi kayu berukir gaya tradisional Jepang, perlahan menyesap teh primernya yang masih berasap sebelum menaruh cangkir keramik itu dengan dentang pelan yang bergema di ruang tatami yang hening.

​Matanya yang tajam dan tak bergeming mengunci tatapan mata Naru. ​"Sekejam ini, katamu?"

​Hiyashi tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan sedikit pun. ​"Kau masih terlalu hijau dan naif, Naru. Kau menyebutnya 'kekejaman', sementara aku menyebutnya 'kemurnian dan perlindungan'. Garis keturunan Rui bukan untuk dicemari oleh darah rakyat biasa yang lemah dan tak berharga! Ayahmu telah merusak tatanan itu, dan ibumu cukup cerdas untuk tahu konsekuensinya."

​Ia berdiri perlahan, menopang tubuhnya dengan tongkat kayu berujung perak, lalu berjalan mendekat ke arah Naru dengan langkah teratur.

​"Adikmu tidak akan selamat di luar sana tanpa nama besar klan ini. Kau pikir kau bisa melindunginya dengan kekuatanmu yang cuma seujung kuku itu? Di hadapanku, kau dan adikmu hanyalah burung dalam sangkar emas yang aku ciptakan. Jika kau ingin menentangku ..."

​Hiyashi berhenti tepat di hadapan Naru, mengetukkan tongkatnya keras ke lantai.

TAK.

​"... buktikan padaku! Rebut adikmu dari genggamanku jika kau memang merasa sudah menjadi seorang laki-laki sejati, Rui Naru!"

​"Perlawanan apa yang Kakek inginkan?"

​Hanya itu pertanyaan yang keluar dari mulut Naru. Suaranya tidak kencang, namun sarat akan tekanan intimasi yang begitu pekat. Sepasang matanya kini menatap Hiyashi begitu tajam, dingin, dan gelap. Tak ada lagi binar anak kecil yang memohon persetujuan, tak ada lagi keraguan seorang cucu yang takut pada hukuman.

​Pemandangan itu sukses membuat kening Hiyashi berkedut-kedut. ​Garis-garis di wajah tua sang penguasa menegang. Genggaman di kepala tongkatnya kini bergetar samar.

Di hadapannya kini,

cucu yang dulu selalu patuh, cucu yang menjadi bidak paling sempurna dalam membangun tatanan kekuasaan klan Rui, kini berdiri tegak memberikan perlawanan paling keras. Naru tidak gentar. Ia tidak takut sedikit pun. Naru mewarisi kedisiplinan dan mental baja yang ditanamkan Hiyashi, namun menggunakannya untuk menghantam sang mentor.

​"Bagaimana bisa kau memiliki keberanian dan kekuatan sebesar itu, Naru?" bisik Hiyashi, suaranya sedikit bergetar antara amarah dan rasa takjub yang tersembunyi.

"Ba-gai-ma-na?"

​Naru menatap kakeknya tanpa berkedip. "Aku memilikinya karena akhirnya aku memiliki sesuatu yang tidak pernah Kakek izinkan ada di dalam darah ini."

"Cinta?"

​Naru mengangguk yakin.

​"Cinta diam-diam dari seorang Ibu yang selalu percaya dan berdoa bahwa aku baik-baik saja di tempat asing ini. Cinta dan rasa hormat darimu yang, di balik kesadisanmu, telah menumbuhkanku hingga menjadi setangguh sekarang ..."

Naru jeda sejenak, bayangan senyum polos Nuha dan keberanian gadis itu saat menatap matanya mendadak melintas di benak. "... dan cinta dari seseorang yang mengajarkanku bahwa menjadi kuat bukan berarti harus menjadi monster tanpa hati."

​"Gadis itu mengajarkanku bahwa keberanian sejati bukanlah tentang memegang kekuasaan mutlak untuk menginjak yang lemah. Tapi tentang berani berdiri dan mempertahankan apa yang berharga, sekecil apa pun itu. Dia mengajariku cara menjadi manusia."

​Hiyashi terkekeh dingin, menghentakkan tongkat kayunya kembali ke lantai hingga suara TAK! keras bergema di seluruh ruangan.

​"Manusia?!" tembak Hiyashi dengan nada merendahkan. "Perasaan mendayu-dayu seperti itu yang kau sebut kekuatan?! Itu adalah kelemahan, Naru! Cinta, empati, dan gadis jelata itu hanya akan menjadi celah fatal yang membuat musuh-musuhmu dengan mudah menyembelihmu!"

​"Kalau begitu, coba sembelih aku sekarang, Kakek," tantang Naru datar, merentangkan tangannya sedikit.

​"Jika Kakek berpikir bisa menyentuh adikku atau menyentuh gadis itu untuk mengguncangku ... Kakek salah besar. Seluruh aset, jaringan, dan pengaruh Rui Holding yang selama ini Kakek serahkan padaku di Asia Tenggara sudah resmi atas namaku sendiri. Aku bukan lagi sekadar cucumu, Hiyashi-sama. Aku adalah lawan bisnismu yang paling berbahaya."

​Mata Hiyashi membelalak lebar. Kali ini, cangkir kediktatorannya benar-benar retak.

​"Ahah ... ahaha ... hahaha ..."

​Tubuh Hiyashi akhirnya goyah.

Lutut tuanya gemetar hingga ia harus mundur beberapa langkah untuk mencari dan menyandarkan tubuhnya di kursi kayu kebesarannya.

​Naru tetap bergeming di tempatnya, memasang sikap siaga penuh sembari terus menguatkan tekad untuk meruntuhkan dominasi sang kakek. Tatapan matanya masih begitu tajam dan mengintimidasi, menyerupai sebilah katana yang berkilat dingin di tengah kegelapan ruangan tatami itu.

​"Naru ..." suara sang kakek akhirnya terdengar kembali, memecah keheningan yang mencekik.

​Naru makin menegakkan bidang dadanya, mengepalkan kedua tangannya erat di samping tubuh. Ia bersiap menghadapi ancaman atau argumen balasan berikutnya.

​"Kakek tidak bermaksud untuk bertarung melawanmu lagi. Ujianmu ... telah selesai di sini."

​Bahu Naru yang tegang perlahan mengendur. Keningnya berkerut bingung.

"Apa maksud Kakek?"

​Hiyashi menghela napas panjang, tatapan matanya yang biasa keras kini menyiratkan keletihan dari seorang pimpinan yang telah lama digerogoti obsesinya sendiri.

​"Kau telah tumbuh menjadi sosok yang melampaui ekspektasiku, Naru. Kau baru saja membangunkanku dari mimpi buruk panjang ..." gumam Hiyashi lirih.

​Ia menatap langit-langit ruangan sebelum kembali memandang cucunya. "Dahulu, ibumu, seorang putri yang kudidik dan kualiri dengan kehormatan tertinggi klan ini memilih meninggalkan segalanya demi menikahi seorang pria biasa. Bagi tatanan Rui, itu adalah keputusan yang sangat menghinakan garis keturunan kita. Itulah alasanku menarikmu ke tempat ini ... aku berniat memurnikan kembali darah yang telah tercemar itu, bahkan menyiapkan masa depanmu di dalam genggamanku melalui perjodohan politik."

​Hiyashi tersenyum tipis,

Sebuah senyuman getir akan kepasrahan.

​"Namun hari ini, kau membuktikannya sendiri padaku. Darah yang dianggap tidak murni ternyata tidak pernah membatasi kekuatanmu. Aku tidak lagi perlu membentukmu sesuai kehendakku, karena kau telah membentuk takdirmu sendiri. Era di mana klan tua ini memegang kendali mutlak atas kehidupan keturunannya ... benar-benar telah berakhir di tanganmu."

​"Aku percaya padamu, Kakek," ujar Naru pelan, matanya menatap sang tetua dengan ketulusan yang hangat. "Karena aku tahu... di balik semua ketegasan ini, Kakek bukanlah orang tua yang sekejam itu."

​Hiyashi terkekeh, tawa kaku yang perlahan mencair. "Hahaha ... hanya kau yang bisa memahami jalan pikiranku, Naru. Kakek bangga padamu. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, kau tetaplah satu-satunya pewaris utamaku."

​Naru mengulas senyum tipis yang sarat akan kebanggaan. "Tentu saja. Aku tidak akan pernah menyerahkan takhta itu kepada siapa pun. Memangnya Kakek rela memberikan dinasti ini kepada orang lain?"

​"Berani sekali kau bicara seperti itu?!" sahut Hiyashi cepat. Nada bicaranya tak lagi dingin dan bernada mendikte, melainkan ada sedikit nada merajuk khas orang tua yang tak terima digoda oleh cucu kesayangannya.

​Hiyashi menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya dengan rileks. "Takhta itu memang milikmu sejak awal, Naru. Kakek ini sudah tua. Hanya kau satu-satunya orang yang Kakek percaya untuk memegang tatanan ini."

​"Baiklah, Kakek. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanmu," pukas Naru mantap. "Meskipun aku mungkin tidak akan menetap di tempat ini lagi, aku berjanji akan membawa nama besar Rui dengan terhormat ke mana pun aku melangkah."

​Hiyashi menatap cucunya dengan pandangan menyelidik yang setengah geli. "Kau ... benar-benar tega meninggalkan kakekmu yang sudah renta ini hanya demi seorang gadis biasa?"

​Naru mendongak, matanya berkilat penuh keyakinan. "Dia bukan gadis biasa, Kakek. Dia sangat luar biasa. Bahkan jika suatu saat nanti Kakek penasaran dan ingin menemuinya ... aku tidak akan membawanya berlutut di hadapan Kakek di sini, melainkan Kakek sendiri yang harus datang menemuinya secara langsung."

​Hiyashi terpaku sejenak, sebelum akhirnya tawa lebarnya pecah menggelegar memenuhi ruangan tatami tersebut.

​"Hahaha! Lancang ... lancang sekali caramu berbicara sekarang, Naru! Hahaha..." Hiyashi menyapu sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa. Ia menatap Naru dengan binar mata seorang mentor yang puas.

"Sikap berani dan sombongmu itu ... benar-benar membuat Kakek ingin hidup lebih lama untuk melihat sejauh mana kau bisa melangkah."

.

.

. NEXT》Bab 28. Sampai jumpa besok 👋

1
Filan
tapi pada akhirnya dia bucin ya... ga melakukan apa gitu sebagai keluarga Rui... Cuma hidup buat menopang Nuha.
Filan
si kakek masih sayang cucu
Filan
jadi maksudnya apa?
Filan
si kakek terlalu ekstrem. Apa dia Yakuza?
Sarifah_Aini97
Hayo loh... wangi parfum si cowok ketinggalan ya?!
Sarifah_Aini97
Lahhhh, ninjatsu apa gimana tuh?! Cepat banget ngilangnya😭. Nuha udah siap-siap mau ngomel eh pelakunya malah udah kabur duluan. Bikin makin gemes aja
Sarifah_Aini97
Astaghfirullah, body shaming berkedok perhatian nih namanya! 🤣 Bikin emosi tapi kok gemes ya? Tipikal cowok yang suka ngejekin ceweknya cuma buat nyari perhatian wkwk...
Sarifah_Aini97
Nuha representasi kita banget pas lagi dibilang iseng sama orang random wkwk. Cuek dulu, padahal sebenarnya penasaran siapa tuh yang ganggu! 😆
Muft Smoker
kak nama2 tokoh ny semua identik banget ma org jepang ,,
apa kk org jepang atau ad keturunan dsna ,,
atau mungkin kk juga tinggal or pernah tinggal dsnaa ,,
biasa cerita2 yg aq baca paling negara barat atau china yg sering aq temuin ,,
baru ini cerita kk yg bau2 jepang ,,

semangat trus menulisny kak
dtggu kelanjutan ny ,,
-Thiea-
pikiranmu selalu negatif Muha...😄
-Thiea-
sepertinya rencana kalian justru akan menjadi bumerang untuk kalian sendiri 😁
Xlyzy
Iya tuh Bun ga kira banget si Naru anak orang Sampek picet di bikin nya
Xlyzy
udah Sampek kayak gitu loh masih di tanyak lagi kelewatan apa enggak
Mingyu gf😘
nahh kan mampus, kayak kalian punya bakat aja menghina orang
Mingyu gf😘
nahh baguss,ketua osisnya tegas gak mwnye mwnye
Three Flowers
soalnya Nuha imut n santai, dia seperti dunia lain bagi Naru
Three Flowers: iya, nggak nyangka seceria itu.. kukira introvert sampai kayak pemurung gitu. ternyata memang karakter nya mirip zara yang di lingkaran cinta
total 2 replies
Three Flowers
Muha jauh lebih manusiawi dari kakeknya soalnya 😅
Three Flowers
trik licik yang nggak gentleman sama sekali... main fitnah aja
Filan
ga ada kapok-kapoknya dia.
Filan
jadi aslinya kamu ga punya apa-apa kan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!