Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah Menanti Subuh
"Tidak bisa, aku tidak boleh termakan perhatian Aditia,"
Andira membatin.
Saking kepikiran Aditia, jam udah mau jam 3 subuh, Andira gak bisa tidur.
Dia bolak-balik kiri kanan di kasur. Tapi wajah sama kenangan Aditia tetep aja muter di kepalanya.
"Ahhh sial, kenapa aku terus kepikiran dia... Sadar, Andira, sadar!"
Andira ngomong sendiri ke dirinya. Dia tutup muka pake bantal.
Baru aja merem, Andira dikagetin suara alarm HP.
"Tring tring tring..." Udah pukul 05.30.
Dengan cepat dia bangun terburu-buru. Langsung menuju kamar mandi,
bersihin diri, terus ganti baju seragam guru. Rambutnya diikat asal.
"Aghhh... karena pikiran Aditia bikin aku gak bisa tidur,"
Andira ngomel ke diri sendiri sambil gosok gigi.
Sampe di sekolah, Andira gak bersemangat. Matanya berat banget karena ngantuk.
"Kamu sakit ya, Andira?" tanya Pak Kepsek pas ketemu di gerbang.
"Enggak, Pak. Saya cuma kurang tidur semalam. Gak bisa tidur,"
jawab Andira sambil senyum tipis.
"Kalau gak sehat, boleh istirahat di rumah dulu," ucap Pak Kepsek.
"Terima kasih, Pak. Saya gak apa-apa. Permisi, Pak,"
jawab Andira sambil mohon diri balik ke kelas.
Dengan ngantuk berat, Andira maksain diri masuk ke kelas.
Suara anak-anak ribut malah bikin kepalanya makin pening.
Ting... ting... ting... Bel istirahat bunyi.
Andira langsung keluar dari kelas, bergegas ke kamar mandi.
Dia basuh mukanya pake air dingin biar agak seger.
"Andira, kamu sakit?" ucap Intan pas ketemu di depan kamar mandi.
"Enggak, Intan. Aku cuma kurang tidur aja," pinta Andira.
"Oh ya udah... Aku mau ke perpus. Kamu mau ikut?" ajak Intan.
"Duluan aja. Aku ke kamar mandi dulu, mau basuh muka lagi," jawab Andira.
*_**_***
Andira baru aja keluar kamar mandi, HP-nya getar di saku.
Andira nerima pesan singkat di aplikasi hijaunya:
"Ind, besok aku balik ke kota. Ketemuan ya," tulis Aditia.
"Apa..." Andira kaget pas baca pesan masuk. Jantungnya deg-degan.
"Iya, Dit," balas Andira. Jarinya gemetar ngetik.
"Ya udah nanti share lok ya, biar aku jemput," balas Aditia.
"Emangnya kamu gak capek? Baru sampe langsung kita ketemu?"
goda Andira. Padahal hatinya seneng banget.
"Ya enggak dong. Kan mau ketemu sama pujaan hati aku,"
balasan Aditia. Ada emoji senyum.
"Iya deh. Hati-hati ya. Sampai ketemu besok," tulis Aditia.
Andira senyum-senyum sendiri di depan cermin toilet sekolah.
Sesekali dia cubit tangannya sendiri.
"Oh, ini nyata. Aku gak mimpi. Ternyata laki-laki yang masih ada
sedikit tempat di hati aku tiba-tiba balik," batin Andira.
Matanya berbinar, tapi pipinya panas.
"Andira, pulang bareng?" tanya Intan yang lagi beresin barangnya
siap-siap pulang.
"Boleh, Intan," jawab Andira singkat. Sambil sesekali liat HP-nya,
nunggu notifikasi masuk di aplikasi hijaunya.
"Ya udah, ayo jalan," bilang Intan.
Di perjalanan pake motor Intan, cuma butuh beberapa menit,
mereka udah sampe depan rumah Andira.
"Makasih ya, Ntan," ucap Andira sambil turun dari belakang motor Intan.
"Sama-sama, Besti," goda Intan sambil ketawa.
Intan ngegas motornya, Andira masuk ke dalam rumahnya.
Pintu dikunci rapat.
"Hmmm, sunyi banget hidup aku. Andai Mas Renaldi masih ada,"
Andira membatin. Tiba-tiba dia kangen banget sama sosok suaminya.
Sampe di dalam, Andira ke kamar, ganti baju.
Langsung ke ruang makan buat makan siang.
Dia tau nanti sore bakal repot kalau udah capek dari sekolah.
Makanya tadi sebelum berangkat dia udah masak.
Lauknya seadanya: ada ayam suir-suir sama tumis kangkung.
Andira makan lahap sambil sesekali liat-liat HP-nya.
Clut... Pesan masuk di aplikasi ijo.
"Ind, jam 5 sore aku tiba ya," tulis Aditia.
"Iya, Dit. Hati-hati ya," balas Andira. Cepet banget.
"Ingat, aku jemput jam 7 malam ya," balas Aditia lagi.
"Iya, Dit. Aku tunggu," balas Andira.
"Aduh, kok begini jadinya? Baru tadi aku keinget Mas Renaldi.
Kenapa dengan cepat aku bales dan nerima tawaran Aditia buat ketemu malem ini?
Andira... Andira, kenapa sih sama kamu?"
Andira ngomong ke dirinya sendiri.
Dia letakin sendok. Nasi di piring masih banyak.
Tiba-tiba gak nafsu makan lagi.
Andira lari ke kamar. Dia buka laci, ngambil foto Renaldi.
Diciumnya kaca foto itu pelan.
"Mas, aku salah ya? Aku janji setia. Tapi kenapa pas Aditia chat,
aku langsung luluh, Mas?" bisik Andira. Air matanya netes.
Dia ingat janji di depan penghulu 6 tahun lalu.
"Setia sampe maut memisahkan."
Maut udah misahin. Tapi setianya gimana?
Andira buka diary. Tangannya gemetar nulis:
"Hari ini jam 3 pagi aku gak bisa tidur karena Aditia.
Jam 5.30 aku bangun, masuk kerja ngantuk.
Jam 12 siang Aditia bilang mau ketemu besok.
Jam 1 siang aku bilang iya tanpa mikir.
Mas, aku takut. Takut aku hianatin Mas.
Takut aku lupa sama janji aku.
Tapi Mas, aku juga manusia. Aku sepi, Mas."
Andira tutup diary. Dipeluk ke dada.
Terus dia sujud di lantai kamar. Nangis tanpa suara.
"Ya Allah, aku bingung. Kalo aku tolak Aditia, aku sakit.
Kalo aku terima, aku ngerasa berdosa ke Mas.
Kasih aku petunjuk, Ya Allah."
Jam 3 sore, Andira kebangun dari tidur sebentar.
Mukanya bengkak bekas nangis.
Dia ke depan cermin. Dandan tipis.
Bedak, lipstik nude. Biar gak keliatan capek.
"Mas, maafin aku ya. Aku cuma mau ketemu.
Nggak lebih. Aku janji," ucap Andira ke foto Renaldi.
Jam 6 sore, Andira udah siap. Pake gamis biru muda.
Kerudung segi empat. Wangi parfum yang dulu Renaldi suka.
HP bunyi. "Ind, aku udah di terminal. Setengah jam lagi sampe."
Jantung Andira copot. Dia jalan ke teras. Duduk di kursi kosong Renaldi.
"Mas, temenin aku ya. Aku takut salah langkah," bisik Andira.
Jam 7 pas, ada motor berhenti depan rumah.
Klakson "tit tit".
Andira intip dari balik gorden. Itu Aditia.
Udah gak kayak anak SMA dulu. Lebih tinggi, lebih dewasa.
Aditia noleh ke atas. melambai. Senyumnya masih sama.
Andira pegang gagang pintu. Tangannya gemetar.
"Mas, aku keluar ya. Tapi hati aku tetep punya Mas,"
bisik Andira terakhir kali sebelum buka pintu.
Langkah kakinya pelan. Antara rindu sama rasa bersalah.
Dan malam itu, Andira harus milih:
Nerusin langkah ke Aditia, atau balik ke foto Renaldi.