Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa harus menanggung perjodohan yang di sebabapkan Ardi, sang papa memiliki banyak hutang kepada seorang pengusaha kaya raya, sebagai ganti tidak bisa membayar utang tersebut, Raisa harus menjadi pengganti atau jaminan semua utang keluarganya.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Kepergian Tanpa Kabar
Bab 27 - Kepergian Tanpa Kabar
Keesokan harinya, saat Raisa terbangun, ruangan itu sunyi senyap—tak ada siapa-siapa di sisinya. Anehnya, ini sama sekali bukan kamar hotel tempat acara berlangsung semalam. Kepalanya penuh tanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun saat ini belum ada satu pun orang yang bisa ia tuju.
Tok... tok... tok...
Dari luar terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa?" seru Raisa dengan suara yang masih berat.
"Saya Bi Lastri, Nyonya!"
"Bi Lastri?" Raisa mengerutkan kening sejenak, lalu menyahut, "Masuklah, Bi."
Bi Lastri masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman. Ia meletakkannya di atas meja, lalu menghampiri Raisa yang masih terduduk di tepi kasur, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.
"Nyonya, bagaimana keadaan Nyonya sekarang?" tanya Bi Lastri dengan nada khawatir.
"Kepala saya masih terasa sangat pusing, Bi," jawab Raisa sambil menahan rasa sakit. "Bi, bukannya semalam saya berada di hotel ya? Kok sekarang saya ada di rumah ini?"
Rasa penasaran itu makin memuncak saat ia menyadari sosok Senopati tak terlihat di mana pun.
"Nyonya semalam pingsan di hotel karena kelelahan setelah acara pernikahan. Setelah diperiksa dokter, Tuan Senopati yang membawa Nyonya pulang ke sini. Lalu tak lama kemudian, beliau langsung berangkat ke bandara," jelas Bi Lastri. Ia sengaja tak menceritakan kejadian sebenarnya yang menimpa Senopati semalam—hal yang seharusnya tak diketahui Raisa untuk saat ini.
"Ke bandara?" Raisa menatapnya bingung.
Tak pernah ada pembicaraan sebelumnya kalau Senopati akan pergi setelah resepsi. Padahal, mereka baru saja sah menjadi suami istri kemarin.
"Tuan Senopati berangkat ke Swiss, Nyonya. Ada urusan pekerjaan mendadak yang harus beliau selesaikan sendiri."
"Tapi kenapa tidak memberitahu saya, Bi? Bagaimanapun, sekarang saya adalah istrinya."
"Kepergiannya sangat mendadak, Nyonya. Beliau juga takut mengganggu istirahat Nyonya yang belum pulih," ujar Bi Lastri pelan. Ia tahu sebaik apa pun penjelasannya, pasti ada rasa kecewa—rasa tak dianggap—yang menyelimuti hati wanita muda itu.
"Sepenting itukah urusan itu, sampai saya yang sedang sakit pun harus ditinggal tiba-tiba?" Raisa menunduk lesu. Memang benar pernikahan ini bukan berlandaskan cinta, tapi ia tetaplah istrinya.
"Entahlah, Bibi pun tidak tahu banyak. Sebelum berangkat, beliau hanya berpesan agar Bibi merawat dan menjaga Nyonya dengan sebaik-baiknya."
Bi Lastri pun pergi setelah memastikan Raisa mau makan dan meminum obatnya. Meskipun hanya menyantap sedikit, setidaknya ia menuruti saran itu. Bagaimana mungkin ia bisa lahap, sedang tubuhnya masih terasa lemas dan hatinya terasa sempit karena ditinggal suami yang baru dinikahinya kemarin?
Di belahan dunia lain, tepatnya di sebuah rumah sakit besar di Australia, Senopati terbaring tak sadarkan diri. Semalam di tengah perjalanan, ia akhirnya kehilangan kesadaran setelah kehilangan banyak darah. Kepergiannya yang mendadak ternyata menyimpan rahasia kelam: ia tertembak di perut dan punggung. Dua peluru itu nyaris merenggut nyawanya.
Saat resepsi usai, sekelompok orang menyerangnya secara tiba-tiba menggunakan senjata api. Entah apa motif di balik serangan itu, namun Senopati yakin itu adalah ulah salah satu musuh bebuyutannya di dunia bisnis.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang rawat. Radit yang setia menunggu di luar segera menghampirinya dengan wajah cemas.
"Dokter, bagaimana keadaan Tuan Senopati?" tanyanya dalam bahasa Inggris.
"Kami sudah selesai melakukan operasi dan berhasil menghentikan pendarahan. Satu-satunya yang bisa dilakukan sekarang adalah berdoa agar beliau segera sadar. Jujur saja, peluangnya sangat kecil—semuanya bergantung pada seberapa kuat keinginan beliau untuk bertahan hidup," jelas dokter dengan nada serius namun penuh perhatian.
Kaki Radit lemas seketika, ia jatuh berlutut di lantai dingin.
"Kami turut prihatin. Tim medis sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya," tambah dokter sambil menepuk pundak Radit pelan sebelum beranjak pergi.
Ya Allah, selamatkan Tuan Senopati... Tolong jangan ambil beliau secepat ini. Beliau berhak merasakan kebahagiaan setelah semua yang beliau lalui. Hidupnya sudah cukup penuh luka, biarkan setidaknya kali ini beliau bisa bahagia, batin Radit sambil menahan isak tangisnya.
Bagi Radit, Senopati bukan sekadar atasan. Sudah lima belas tahun ia melayani dan menemani pria itu—di saat senang maupun susah. Radit sudah menganggap Senopati sebagai kakak kandungnya sendiri.
Ia kemudian mengintip lewat kaca jendela ruang rawat, melihat sosok Senopati yang masih terbaring diam dengan mata terpejam rapat. Dokter belum mengizinkan siapa pun masuk selain tenaga medis yang bertugas.
Alasan mereka memilih membawanya ke Australia adalah atas permintaan Senopati sendiri. Kondisinya semalam terlalu kritis; fasilitas dan tim medis di dalam negeri belum tentu mampu menangani kasus seberat ini. Meski peluang di sini pun kecil, setidaknya ada harapan nyata.
Kembali ke kediaman Senopati, Raisa baru keluar dari kamar pada pukul dua siang. Sebenarnya ia sangat malas beranjak dari kasur, namun semakin lama ia berbaring, kepalanya terasa semakin berputar. Berkali-kali ia mengecek layar ponselnya, berharap ada pesan singkat dari Senopati—meski hanya sekadar kabar. Namun harapan itu tetaplah harapan; tak ada satu pun pesan masuk.
Bi Lastri yang melihat Raisa duduk melamun di ruang tengah segera membawakan sepiring potongan buah dan jus segar. Ia meletakkannya di atas meja kopi dan mempersilakan Raisa untuk memakannya. Raisa hanya mengangguk pelan tanpa berniat menyentuhnya dulu.
"Nyonya masih merasa kurang enak badan?" tanya Bi Lastri hati-hati.
"Saya tidak apa-apa, Bi. Hanya... saya ingin menyendiri sebentar," jawabnya dengan nada lemah namun sopan, memberi isyarat halus agar dibiarkan sendiri.
"Baiklah, Nyonya mengerti. Bibi permisi dulu."
Setelah Bi Lastri pergi, Raisa menatap layar televisi yang menyala tanpa benar-benar melihat apa yang ditayangkan.
"Kamu sebenarnya di mana sekarang? Kenapa tak memberi kabar sama sekali?" gumamnya pelan dengan wajah lesu.
Jujur, ia berusaha tak memikirkannya berlebihan. Namun rasa tidak tenang itu tak kunjung hilang—entah karena ia khawatir ada hal buruk yang menimpa Senopati, atau karena rasa sayang itu perlahan mulai tumbuh di hatinya.
Pergi tanpa memberi kabar sama sekali bukanlah alasan yang bisa diterima. Seburuk apa pun keadaannya, setidaknya ada kabar yang perlu disampaikan—agar orang yang menanti tak terus berharap pada hal yang belum pasti, dan tak menunggu sia-sia tanpa kejelasan.
Tanpa sepengetahuan Raisa, sosok suami yang ia khawatirkan itu kini sedang berjuang sekuat tenaga di antara batas hidup dan mati.
Sementara itu, Radit mengirimkan kabar terbaru lewat Bi Lastri, namun meminta agar hal ini belum disampaikan kepada Raisa. Mendengar bahwa Senopati kini terbaring koma, hati Bi Lastri terasa sangat perih. Bagaimanapun juga, ia sudah merawat Senopati sejak pria itu masih kecil. Meski status mereka hanyalah majikan dan pelayan, bagi Bi Lastri, Senopati adalah seperti anak kandungnya sendiri.
Ya Allah, tolong selamatkan Tuan Senopati... Biarkan beliau hidup lebih lama, merasakan kebahagiaan yang dulu sempat hilang dari hidupnya, doa Bi Lastri dengan sepenuh hati.