Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Janji Siang
....
Pukul dua belas siang tepat. Dinginnya mesin pendingin ruangan di dalam ruang kerja CEO Arkatama Group seolah tidak mampu mengusir hawa gerah yang membakar benak Zidan. Di balik meja mahoni besarnya yang mewah, tumpukan dokumen audit dan berkas kerja sama yang biasanya menjadi fokus utamanya, kini terabaikan begitu saja.
Zidan menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Wajah tampannya yang biasa memancarkan keangkuhan narsis kini tampak kuyu. Di kepalanya masih terngiang dengan jelas bagaimana tadi pagi, sebelum turun dari mobil di depan gerbang sekolah, Ryan dan Riana serempak menggenggam erat kemejanya.
"Papa, malam ini kita video call Mama lagi, kan? Janji ya setiap malam? Kalau enggak, Riana gak mau masuk kelas."
Tuntutan polos yang sarat akan trauma pengabaian itu terus mengejarnya hingga ke jam makan siang ini. Zidan menghela napas panjang, meraba ponsel pintar di atas meja dengan tangan yang sedikit bergetar. Ada rasa ragu, emosi yang campur aduk, dan gengsi yang perlahan terkikis habis oleh rasa bersalah yang teramat pekat. Pria dingin itu tahu, dia tidak bisa lagi menggunakan nomor anak-anak karena ponsel mereka sengaja disita sementara saat jam sekolah. Mau tidak mau, dia harus menggunakan nomor pribadinya sendiri untuk menghubungi wanita yang telah dia hancurkan hatinya.
Zidan mencari kontak bernama "Pamela" nama yang dulu jarang sekali dia hubungi kecuali untuk urusan mendesak atau sekadar memberikan instruksi dingin. Dengan memantapkan hatinya, jemarinya menggeser tombol panggil.
Di belahan bumi lain, ratusan kilometer jauhnya, suasana di Kedai "Selasih" sedang memasuki puncak kesibukan makan siang. Suara dentang sodet menghantam wajan dari arah dapur berpadu dengan aroma gurih ikan bakar bumbu kuning yang menguar hingga ke teras kedai yang asri.
Pamela berdiri di balik konter dengan celemek cokelatnya yang sedikit basah oleh cipratan air. Tangannya bergerak lincah menata piring-piring pesanan di atas nampan, sementara pikirannya tetap mencoba fokus di tengah rasa pilu batinnya yang belum sepenuhnya sembuh.
Drrtt... Drrtt...
Ponsel murah di saku celemeknya bergetar kencang. Pamela menghentikan gerakannya sejenak, wajah manisnya langsung melunak. Ini pasti anak-anaknya. Sebaris kelembutan seorang ibu seketika terpancar di wajahnya yang pucat tanpa riasan.
Tanpa melihat layar penunjuk nomor terlebih dahulu karena terburu-buru, Pamela langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Riana? Ryan? Kalian sudah pulang sekolah, Sayang?" tanya Pamela cepat, suaranya terdengar begitu renyah, tulus, dan dipenuhi kerinduan yang teramat pekat hingga mampu menggetarkan siapa pun yang mendengarnya.
Keheningan sesaat tercipta di seberang saluran. Bukan suara cicitan manja anak kecil yang menyahut, melainkan desah napas berat dan parau dari seorang pria dewasa yang teramat dia kenali.
"Ini aku, Pam. Zidan."
Suara bariton yang dulu sangat dia agung-agungkan namun kini berubah menjadi racun emosional itu seketika membuat tubuh Pamela kaku seolah dialiri es. Senyuman tulus di wajah manisnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi yang teramat datar, dingin, dan menusuk. Perubahan atmosfer jiwanya begitu drastis.
"Ada apa? Di mana anak-anak?" tanya Pamela, suaranya langsung berubah menjadi sangat dingin, tanpa ada sedikit pun intonasi kehangatan masa lalu. Nada suaranya menegaskan seolah Zidan hanyalah seonggok batu asing yang menghalangi jalannya.
Zidan di seberang sana menelan ludah yang terasa begitu pahit. Hantaman perubahan nada bicara Pamela dari lembut menjadi sedingin es terasa seperti kekerasan psikologis yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang suami yang dulu berkuasa mutlak.
"Anak-anak... mereka masih di sekolah, baru pulang satu jam lagi," ucap Zidan, suaranya terdengar parau, tertekan oleh emosi pekat yang bergolak di dadanya. "Aku meneleponmu sekarang karena... karena tadi pagi mereka meminta sesuatu."
Zidan menjeda kalimatnya sejenak, meremas pinggiran meja kerjanya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka menangis, Pam. Mereka meminta... tidak, mereka menuntut agar setiap malam bisa video call denganmu sebelum tidur. Riana bahkan mengancam tidak mau belajar jika malam ini tidak bisa melihat wajahmu lagi."
Mendengar kondisi psikologis anak-anaknya yang kian rapuh, dada Pamela kembali terasa seperti diremas tak kasat mata. Rasa perih menjalar ke ulu hatinya, memicu kesedihan yang mendalam sebagai seorang ibu yang terpaksa terpisah jarak dari darah dagingnya sendiri. Keluarga Arkatama yang bodoh telah menumbalkan mental anak-anak yang tidak berdosa, dan itu membuat emosi Pamela sedikit tersulut.
"Kenapa kamu baru memikirkan mental mereka sekarang, Zidan?!" desis Pamela lirih namun sarat akan penekanan yang tajam, matanya menatap kosong ke dahan pohon ketapang di luar jendela kedai. "Tujuh tahun aku bertahan di rumah neraka itu salah satunya demi menjaga agar mereka tidak mengalami kehancuran ini. Tapi perlakuan ibumu, adikmu, dan... sikap acuhmu yang narsis itu yang sudah mengusirku keluar!"
"Aku tahu, Pam... Aku tahu. Maafkan aku," bisik Zidan parau, suaranya bergetar hebat menahan badai penyesalan suami yang kian menguliti jiwanya. Pria dingin yang biasa mendikte ribuan karyawan itu kini terdengar begitu rapuh dan mengemis di depan telepon. "Aku tidak sedang memintamu kembali untukku. Aku tahu aku tidak pantas. Tapi demi anak-anak... tolong setujui permintaan mereka. Luangkan waktumu setiap malam untuk melihat mereka, meski hanya sebentar."
Pamela memejamkan matanya erat-erat, menghirup napas dalam-dalam untuk menahan getaran di dadanya. Jika menuruti ego dan rasa sakit hatinya, dia ingin sekali mematikan sambungan telepon ini dan mengabaikan pria narsis di seberang sana selamanya. Namun, wajah polos Ryan dan Riana yang tertidur sambil memeluk ponsel semalam kembali membayang di pelupuk matanya. Jiwa seorang ibu mengalahkan segalanya.
"Aku menyetujuinya bukan karena permintaanmu, Zidan. Tapi murni karena aku adalah ibu mereka," ucap Pamela dengan ketetapan hati yang dingin dan mutlak. "Hubungi aku setiap jam sembilan malam, saat kedai sudah tutup. Dan ingat, jangan pernah biarkan ibumu atau Keysha ikut campur atau berada di sekitar anak-anak saat mereka berbicara denganku. Aku tidak sudi mendengar suara mereka lagi."
"Iya, Pam. Aku janji. Aku sendiri yang akan memegang ponselnya dan memastikan tidak ada yang mengganggu kalian," jawab Zidan cepat, ada secercah keaktifan emosi dan rasa lega yang amat sangat menyusup di dada bidangnya yang hampa.
"Bagus. Hubungi aku malam nanti," ucap Pamela datar sebelum akhirnya langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak, tanpa memberikan kesempatan bagi Zidan untuk mengucapkan kata penutup.
Zidan menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar yang kini menampilkan panggilan telah berakhir. Meskipun diputus secara kasar, sebaris senyuman tipis penuh rasa syukur yang terlambat terukir di bibirnya yang kering. Untuk pertama kalinya, dia merasa diberi kesempatan terkecil, bukan untuk dimaafkan, melainkan untuk melihat wanita itu kembali meski dari balik layar kaca di bawah alur lambat penebusan dosa yang menyiksa.
Sementara itu di kedai, Pamela memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celemek dengan gerakan tenang namun dingin. Jiwanya merona perih, namun dia segera menghapus sisa emosinya, kembali mengangkat nampan makanan, dan melangkah tegar menemui pelanggan demi masa depannya yang mandiri.
...
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🤭🤭🤭🤭🤭
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \