NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20 Jejak yang Tertinggal

Waktu bergulir tanpa suara, dan tak terasa sudah tiga bulan berlalu sejak Kael pertama kali membuka mata di Desa Sekar. Tiga bulan yang mengubah sang monster bayangan menjadi sosok guru yang dihormati di desa nelayan kecil ini.

Malam itu, Desa Sekar tengah merayakan sesuatu yang sederhana di lapangan kecil dekat pantai. Lampu-lampu minyak digantung di tiang bambu yang tertancap di pasir, menciptakan pendaran cahaya kuning keemasan yang hangat. Aroma singkong bakar dan kopi hitam menguar, berbaur dengan deru ombak yang ramah.

Kael duduk melingkar di atas tikar pandan bersama para petinggi dan tetua desa. Di sana ada Pak Kepala Desa yang tampak berwibawa, Asep sang sekretaris desa yang selalu sibuk dengan catatannya, serta Pak Jalil nelayan paruh baya yang tiga bulan lalu pertama kali menemukan tubuh Kael sekarat di antara batu karang.

Tak ketinggalan, Pak Sabir dan Pak Deden, dua pria bertubuh kekar yang malam itu membantu Pak Jalil menggotong tubuh Kael yang bersimbah darah menuju klinik Dokter Hana.

"Lihatlah dirimu sekarang, Kael. Kulitmu sudah makin gelap seperti kami, tidak lagi pucat seperti mayat saat pertama kali kupungut dari laut," kelakar Pak Jalil. Ia tertawa renyah sambil menepuk-nepuk pundak tegap Kael.

"Betul sekali! Malam itu kami berdua sudah gemetar, mengira sedang menggotong orang mati. Bobotmu berat sekali, Kael," timpal Pak Sabir, ikut terbahak seraya menyeruput kopi hitamnya.

Kael hanya tersenyum tipis, menerima gurauan itu dengan anggukan hormat. "Terima kasih karena tidak meninggalkan saya malam itu, Pak."

"Ah, jangan sungkan! Tapi, kalau dipikir-pikir, pahlawan aslimu itu tetap Dokter Hana. Dia yang begadang semalaman menjahit tubuhmu," sahut Pak Deden dengan kedipan mata yang penuh arti.

"Ngomong-ngomong tentang Dokter Hana, dia belakangan ini sering sekali mampir ke sekolah darurat membawa vitamin, ya?" goda Asep, sang sekretaris desa, sambil menyikut lengan Pak Darno yang duduk di sebelahnya.

"Apalagi kalau bukan untuk melihat Pak Guru kita ini? Dokter Hana itu bunga desa di sini, Kael. Cantik, baik, dan belum ada yang punya. Apa kau tidak tertarik?" timpal Pak Kepala Desa, ikut-ikutan menggoda Kael dengan senyum jenaka yang mengembang di wajah tuanya.

Mendengar godaan bertubi-tubi itu, Kael hanya terdiam. Ia menurunkan pandangannya, menatap riak kopi di dalam cangkir bambunya dengan ekspresi yang mendadak datar dan tenang.

"Dokter Hana orang yang sangat baik, Pak. Dia pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari saya."

Para pria itu kembali tertawa, mengira Kael hanya sedang rendah hati atau malu-malu. Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik ketenangan wajah Kael, ada benteng kokoh yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh siapa pun.

Jauh di dalam lubuk hatinya, ruang itu sudah terkunci rapat. Hanya ada satu nama yang bertahta di sana, wanita yang tewas di pelukannya: Arin. Bagi Kael, cintanya telah mati bersama Arin di malam pelabuhan itu.

"Pak Guru Kael!" seru salah satu murid laki-lakinya yang tiba-tiba berlari menghampiri dari kegelapan, memutus obrolan para tetua desa.

Kael menoleh, menatap bocah itu dengan satu alis terangkat. "Ada apa?"

"Besok aku mau tunjukkan hasil gambar pemandangan yang baru! Jauh lebih bagus dari punya Rani!" ujar bocah itu dengan dada membusung bangga.

"Kalau nanti hasilnya tetap jelek, awas, jangan menangis di kelas," sahut Kael lempeng.

"Pak Guru jahat sekali!" protes bocah itu sambil mengerucutkan bibirnya, yang seketika memicu gelak tawa riuh dari Pak Jalil dan yang lainnya.

Kael hanya menggeleng-gelengkan kepala pelan, sementara seulas senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

Tak jauh dari sana, Hana diam-diam memperhatikan interaksi tersebut dari balik meja konsumsi. Entah sejak kapan, pria yang dulu selalu membentengi diri dengan dinding es itu kini mulai terlihat berbeda. Kael tampak lebih santai, lebih hangat, dan lebih... hidup.

Di sisi lain lapangan, Rani duduk tenang di samping Bu Ratih. Gadis kecil itu tidak berkedip memperhatikan Kael yang sedang mengobrol dengan warga dari kejauhan. Matanya tampak berbinar-binar penuh binar kekaguman.

"ibu..." panggil Rani lirih. Suaranya masih terdengar pelan, namun kini jauh lebih jelas dan teratur.

Bu Ratih seketika menoleh, menundukkan wajah tuanya dengan senyum lembut. "Iya, Sayang? Ada apa?"

Rani terdiam sesaat, meremas jemari kecilnya sebelum akhirnya perlahan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Kael. "...Keluarga..."

Mata Bu Ratih langsung membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak, terkejut mendengar kosakata mendalam yang keluar dari bibir cucunya.

"Kael... keluarga kita..." ulang Rani sekali lagi, kini beralih menatap sang nenek dengan senyuman kecil yang teramat tulus di wajah polosnya.

Air mata kebahagiaan langsung merebak dan memenuhi kelopak mata Bu Ratih. Tanpa sepatah kata pun, ia segera merengkuh tubuh kecil cucunya itu ke dalam pelukan erat, menyembunyikan tangis harunya di balik rambut Rani.

Larut malam, perayaan kecil warga pantai itu akhirnya usai. Satu per satu obor dipadamkan, dan warga mulai melangkah kembali ke rumah panggung masing-masing. Desa Sekar perlahan-lahan tenggelam dalam keheningan malam yang pekat.

Kael berdiri sendirian di tepi pantai, membiarkan sepasang kakinya dijilat oleh buih ombak yang dingin. Tatapannya lurus menatap hamparan laut kelam di depannya. Angin malam bertiup cukup kencang, menerbangkan ujung rambutnya.

Entah mengapa, sejak tadi dadanya terasa tidak nyaman. Sebuah perasaan akrab yang sudah tiga bulan ini berhasil ia tidurkan, mendadak berdesir hebat di tengkuknya.

Insting. Itu adalah insting tempur murni radar bahaya yang dulu berkali-kali menyelamatkan nyawanya di medan perang Shadow Crown. Kael memejamkan matanya erat-erat, namun tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitarnya. Setidaknya, tidak untuk saat ini.

✨✨✨✨

Keesokan harinya, suasana berganti sunyi di puskesmas pembantu desa. Hana sedang merapikan beberapa berkas kesehatan warga yang mulai berdebu di dalam lemari penyimpanan lama.

Namun, saat menarik sebuah map usang bersampul cokelat, selembar kertas terselip dan jatuh ke lantai. Hana berjongkok, memungut kertas tersebut. Detik berikutnya, ia tertegun. Itu adalah lembar rekam medis pertama milik Kael yang ditulisnya tiga bulan lalu.

Hana membaca kembali deretan tulisan tangannya di sana Luka tembak kaliber besar di dada, belasan luka sayatan pisau militer di punggung, bekas patah tulang, dan jaringan parut akibat luka bakar.

"Siapa kau sebenarnya, Kael?" bisik Hana lirih pada ruangan yang kosong.

Ia perlahan menutup map itu kembali dengan tangan yang sedikit gemetar. Semakin hari, Hana kian sadar bahwa Kael bukan orang biasa. Namun, ada ketakutan besar di hatinya bahwa suatu hari nanti, masa lalu berdarah pria itu akan datang menjemput dan merenggutnya paksa dari kedamaian Desa Sekar.

Sore menjelang, langit barat mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Di tepi dermaga, Kael sedang membantu Pak Darno membetulkan rajutan jaring nelayan yang rusak. Karena pikirannya sedikit teralih oleh firasat semalam, Kael kurang fokus.

SREET!

"Ah," desis Kael pelan.

Sebuah kawat pengikat jaring yang tajam menggores dalam telapak tangannya. Saat setitik darah merah segar menyembul keluar, sekelebat memori mengerikan mendadak menghantam kepalanya tanpa ampun. Wajah pucat Arin, pelabuhan yang meledak, dan darah hangat yang membanjiri jarinya.

Kael seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Napasnya memburu, dan aura membunuh yang pekat mendadak menguar dari tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa, Kael? Wajahmu pucat sekali," tanya Pak Darno yang menyadari perubahan drastis itu dengan raut cemas.

Kael tersentak, memutus paksa kilas balik di kepalanya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memandangi Pak Darno dengan senyum kaku yang dipaksakan.

"Aku baik-baik saja, Pak. Hanya tergores sedikit."

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Kael tahu pasti. Monster di dalam dirinya tidak pernah benar-benar mati.

Malam kembali turun mendekap bumi. Namun, bermil-mil jauhnya dari ketenangan Desa Sekar, suasana kontras terjadi di sebuah kota pelabuhan besar yang bising.

Di dalam sebuah ruangan kantor yang luas dan temaram, seorang pria tua berambut putih duduk diam di balik meja kerjanya. Di hadapannya, berserakan berbagai dokumen intelijen dan sebuah foto digital beresolusi rendah yang baru saja dicetak beberapa jam lalu.

Foto seorang pria tegap yang sedang berdiri dengan tenang di depan sebuah bangunan bambu sederhana. Kualitas gambarnya buruk, namun garis rahang dan sorot mata pria di foto itu tidak mungkin salah.

Pria tua itu mendadak membeku di kursinya. Tangannya yang mulai keriput perlahan bergerak meraih lembaran kertas foto tersebut.

"...Kael..." bisik pria tua itu dengan suara yang bergetar penuh penekanan.

Keheningan mencekam seketika menyelimuti ruangan besar itu. Beberapa pria berjas hitam yang berdiri di sekeliling meja saling berpandangan dengan wajah tegang.

Mereka tahu pasti, nama yang baru saja diucapkan adalah nama sang legenda, pemimpin tertinggi Shadow Crown yang mereka yakini telah tewas dalam pengkhianatan di pelabuhan.

Pria tua itu perlahan bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. "

Jika foto ini bukan rekayasa... maka Shadow Crown belum kehilangan Rajanya. Dia masih hidup!"

Di sisi lain meja, salah seorang agen berjas hitam memberanikan diri maju satu langkah sambil menelan ludah dengan gugup.

"Lalu... apa perintah Anda selanjutnya, Tuan?"

Pria tua itu kembali menatap tajam foto Kael, sebelum akhirnya menjawab dengan nada dingin yang mutlak.

"Kerahkan tim intelijen terbaik. Cari tahu semuanya. Di mana koordinat tepatnya dia berada, siapa saja orang-orang di sekitarnya, dan apa alasan yang membuatnya tetap hidup selama ini."

Angin malam yang kencang berembus masuk melalui jendela kantor yang terbuka lebar, menerbangkan sedikit sudut kertas foto di atas meja. Di sana, di latar belakang siluet tubuh Kael, kamera tanpa sengaja menangkap sebuah papan nama kayu sederhana yang tergantung di dinding sekolah, tertulis samar namun terbaca jelas.

"Sekolah Darurat Desa Sekar."

Dan tanpa disadari oleh seisi penduduk desa nelayan yang damai itu... jejak persembunyian Kael akhirnya telah resmi ditemukan.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!