Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Malam Pertama
"Aku tidak akan membiarkan siapapun yang melukaimu hidup, akan kuhabisi bahkan sampai tulang dan sendirinya memohon ampun."
Wanqing yang masih berada dalam pelukan pria itu hanya bisa mengangguk lemah. Ia menatap pria di hadapannya yang terlihat sangat kelelahan dan kotor. "Ayo Kita bersih-bersih dulu?" Wanqing mengajak pria kekar itu mengikutinya. Di belakang, Ajudan Han berteriak kecil, "Hey! Aku juga datang menyelamatkanmu Wan'er!"
Wanqing dan Jingyuan terus berjalan pergi tanpa menghiraukan teriakan kesal dari Ajudan Han itu. Lagipula, sekarang pikiran Jingyuan terpaku pada kalimat yang dilontarkan Wanqing barusan. "Kita bersih-bersih?"
Jingyuan yang tak ingin terlihat memikirkan hal aneh mencoba untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Wanqing dan dirinya kini sampai di sebuah kamar yang berukuran sederhana dengan kasur dan beberapa rak buku yang berisikan novel-novel entah dari mana. Wanqing membuka pintu kamar mandinya dan mempersiapkan air panas. Ia membiarkan Jingyuan duduk di atas kasur tanpa melakukan apapun, meskipun jelas terlihat Wanqing pun tubuhnya dipenuhi dengan perban.
Wanqing kembali dari kamar mandi dengan wajah sumringah. "Semuanya sudah siap, Jenderal--eh- Ayuan silahkan mandi."
DEG
Mendengar panggilan itu, Jingyuan langsung berdiri kaget. "Ayuan?!"
Wanqing tersipu malu, pipinya memanas. "Kau yang duluan memanggilku Qing'er, apakah Ayuan tidak suka?"
Jingyuan menggeleng, ia dengan cepat menghampiri istrinya dan menggendongnya bagaikan menggendong seorang bayi, tubuhnya yang ringan itu dengan mudah ia bawa masuk ke dalam kamar mandi yang suhunya memanas dengan air panas di bak.
Jingyuan menutup pintu kamar mandi itu dengan tubuhnya sembari menggendong Wanqing yang terlihat sangat malu dan bingung. Pria itu berhenti di depan bak mandi dan menurunkan istrinya, perlahan ia menuntun tangan Wanqing memasuki bak mandi itu bersamanya.
Tatapannya penuh harap, tapi juga penuh khawatir dan tidak memaksa. Merasa aman, Wanqing mengikuti Jingyuan memasuki bak mandi itu. Masih lengkap dengan pakaiannya, Jingyuan dan Wanqing bersandar menikmati panasnya air yang menghangatkan tubuh mereka berdua.
"Qing'er.."
Wanqing menoleh, "Ya?"
"Hanya ada satu orang dalam hidupku yang memanggilku dengan sebutan itu, Ayuan." Ujarnya berbisik.
Dalam hatinya yang dalam, Jingyuan berharap dengan sungguh-sungguh bahwa Wanqing lah yang selama ini ia cari. Sosok dari masa lalunya yang hangat dan dekat dengan dirinya.
"Ayuan.. Hari itu, Kau lah Ayuan yang menolongku di taman kan?" Wanqing berkata perlahan sembari menatap penuh harap.
Mendengar itu, Jingyuan langsung mendekati Wanqing yang berada di sebelahnya dan mengangkat tubuh mungilnya untuk duduk di atas tubuhnya dalam balutan air hangat di bak itu.
Menatapnya intens, Jingyuan menyampirkan rambut Wanqing yang sudah basah setengahnya dari wajahnya yang pucat. "Qing'er, ternyata itu benar Kau."
Jingyuan membenamkan kepalanya dalam pelukan Wanqing. Mendapatkan pelukan dari Wanqing, Jingyuan langsung menumpahkan semua emosinya selama ini, cover Jenderal kuat dan kejam yang selama ini membalutnya seketika runtuh, ia menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak menyangka, orang yang kutinggalkan selama ini ternyata ada di hadapanku saat ini." Jingyuan terus mengucapkan kalimat yang sama. Wanqing yang tidak mengerti apa maksudnya hanya bisa mengelus punggung pria itu perlahan. Jingyuan tanpa sadar menyandarkan kepalanya pada dada Wanqing yang tengah terduduk di atas tubuhnya.
Wanqing yang merasakan kedekatan intimate mereka ini sangatlah hangat, terus tersenyum. Menatap senyuman indah Wanqing, salah satu lengan Jingyuan yang tak ia gunakan untuk menopang tubuh Wanqing dari belakang ia arahkan pada tengkuk perempuan itu.
Perlahan tapi pasti, ia dorong maju wajah Wanqing beserta wajahnya sehingga jarak di antara mereka hanyalah beberapa sentimeter. Menganalisa ekspresi Wanqing yang terlihat malu, Jingyuan perlahan menutup matanya dan mulai mencium bibir mungil nan lembut milik Wanqing.
Mendapatkan ciuman pertamanya, Wanqing tidak tahu harus apa selain terdiam dan ikut memejamkan kedua matanya, ia menikmati kehangatan dan kedekatan yang mereka berdua jalani saat ini.
Ciuman Jingyuan yang semula perlahan tanpa paksaan, kini mulai memanas dan lapar. Perlahan tapi pasti ia mulai mengajari Wanqing merespon ciumannya dengan permainan yang ia lakukan.
Tak berselang lama, tangan besar nan kokohnya pun mulai berlarian kesana kemari menelusuri setiap inci lekukan tubuh istrinya yang selama ini memang ia dambakan.
Kamar mandi itu syukurnya kedap suara, jika tidak, mungkin Han, Xien, dan Ibu Yunting sudah mendengar kegaduhan dan teriakan Wanqing dari dalam kamar mandi itu. "Mandi apa sih sampai tiga jam gini?" Tanya Ajudan Han polos di atas sofa itu.
Ibu Yunting yang terkekeh kecil hanya berjalan mengambil beberapa camilan dari dapur. "Kau belum pernah berpacaran atau pun menikah ya?" Tanya Ibu Yunting.
Ajudan Han menggeleng kecil. "Pantas terlalu polos, wajar jika suami dan istri baru terpisahkan dengan banyaknya tragedi yang menakutkan, memakan waktu lama berdua kan?" Ujar Ibu Yunting sembari menyajikan kue osmanthus yang masih hangat dan baru selesai dia buat bersama Wanqing pagi tadi.
"Istirahat dan bersih-bersihlah kalian berdua, kamarnya ada di lantai satu ini, kamar kedua dan pertama di ujung lorong sana ya." Ibu Yunting menjelaskan.
"Jangan lagi ditunggu Jenderal kalian itu, tidak akan dia keluar dari kamarnya sampai esok." Ibu Yunting pergi meninggalkan dapur menuju salah satu ruangan tertutup lainnya di sayap berlawanan dari kamar kedua ajudan itu.
Sementara itu, malam itu adalah malam pertama sesungguhnya bagi kedua pengantin yang telah menikah hampir dua bulan itu. Malam itu, Wanqing tidak dibiarkan tidur sama sekali oleh Jingyuan yang terlihat sangat lapar dan sangat ingin mencintainya.
Berbagai posisi dan tempat sudah mereka nikmati bersama, sampai akhirnya, ketika jam menunjukkan pukul 3 dini hari, tubuh kekar sang Jenderal tumbang di atas kasur sendiri, Wanqing yang berada dalam pelukannya pun ikut tidur dengan nyenyak sampai matahari siang menyinari tubuh mereka yang masih berpelukan tanpa kain sehelai pun.
TOK TOK TOK
Bunyi ketukan halus terdengar dari pintu, mata Wanqing yang masih setengah tertutup hanya bisa melihat ke arah pintu, sementara suaminya masih tertidur pulas dan memeluk dirinya erat.
"Wanqing, Jingyuan, turunlah untuk makan siang, kalian tidak mungkin melewatkan makan siang lagi setelah melewatkan sarapan kan." Suara Ibu Yunting terdengar lembut di balik pintu. Mendengar itu, Wanqing terbangun, ia duduk dan berkata, "Iya Ibu."
Namun, tangan besar dan kekar milik sang Jenderal menariknya kembali dalam pelukan hangatnya. Matanya yang masih merah dengan rambutnya yang acak-acakan itu membuat Wanqing sedikit tertawa melihat suaminya.
"Ayo sikat gigi dan bersih-bersih, Ibu sudah memanggil." Ujar Wanqing.
Pria itu menggumamkan jawabannya seolah berkata iya, masih menatap dalam-dalam sosok istri dihadapannya, ia mengecup kening Wanqing sekali dan mengecup bibirnya sekali.
Wanqing tertawa kecil. "Ayooo!" Ia mulai menarik tubuh besar itu untuk bangkit bersamanya. Hari itu, hari yang baik, ia yakin. Namun ia juga tidak yakin bisa pulang hari itu juga, bagaimana mungkin dia berjalan dengan lancar ketika saat ia turun dari kasur dan mencoba berjalan satu langkah saja rasanya sangat sakit dan ngilu.
Jingyuan yang terkekeh menggendongnya menuju kamar mandi, sambil berbisik dia bilang, "Akan kubuat Kau lumpuh setiap hari."
*BERSAMBUNG*
HUFT.. Panas euy di sini XOXO