Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Aku duduk di sebelah kiri kursi Adrian dengan buku catatan dan tablet kantor yang menyala di depanku. Sesuai namanya, rapat operasional siang ini dihadiri oleh jajaran kepala divisi, termasuk Pak Gavin yang duduk tepat di seberang mejaku.
Suasana di dalam ruang rapat terasa sangat formal dan dingin, kontras dengan hawa gerah kantin tadi. Adrian, yang beberapa jam lalu kulihat berantakan dengan kemeja kusut, kini sudah bertransformasi kembali menjadi Direktur Utama yang sempurna. Rambutnya sudah rapi, dan aura diktatornya menguar kuat ke seluruh ruangan.
"Untuk kuartal ini, efisiensi logistik di jalur distribusi wilayah barat harus dipangkas sepuluh persen," suara berat Adrian menggema, menjelaskan poin demi poin perkembangan yang kami kerjakan tadi pagi.
Aku yang bertugas mencatat notulen rapat seharusnya fokus mengetik. Namun, entah kenapa, sepasang mataku malah bergerak mengamati garis rahang tegas Adrian. Pria itu sedang berbicara dengan dahi berkerut serius, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang konstan.
“Gue dukung teori gue seratus persen. Selama ini si Bos Sableng itu sering ngerjain lo... karena dia tertarik sama lo! Atau bisa aja dia sebenernya suka...”
Suara cempreng Mbak Dian tiba-tiba terngiang kembali di kepalaku. Sialan. Kalimat itu berputar seperti kaset rusak, membuatku menjadi bengong. Aku menatap lurus ke arah bibir Adrian yang sedang bergerak menjelaskan grafik di layar proyektor, lalu beralih ke matanya.
Masa sih cowok kaku, galak, dan perfeksionis kayak gini bisa suka sama aku? Nggak masuk akal banget. Tapi kalau diingat-ingat, kenapa tadi di lift dia sewot banget pas Pak Gavin nanya status aku, ya? Apa jangan-jangan—
"Aruna."
"..."
"Aruna!"
"Eh, i-iya, Pak?!" Aku tersentak kaget. Kepalaku langsung menegak sempurna, membuat pulpen yang kupegang sempat terlepas dan menggelinding di atas meja kaca.
Seketika itu juga, seluruh pasokan udara di ruang rapat seperti disedot habis. Semua kepala divisi menoleh ke arahku dengan tatapan ngeri, seolah-olah aku baru saja melakukan dosa besar di depan raja.
Aku melirik Adrian yang berada di sampingku. Pria itu menghentikan kalimatnya. Dia menghela napas panjang, perlahan menutup kedua matanya, lalu menggigit bibir bawahnya sekilas. Gerakan itu, dia kelihatan sangat frustasi, seperti sedang sekuat tenaga menahan amarahnya agar tidak meledak dan menguliti sekretaris barunya ini hidup-hidup di depan umum.
Melihat ekspresi menyeramkan itu, aku langsung gelagapan setengah mati. Jantungku berpacu dua kali lebih cepat.
"M-maaf, Pak Adrian! Maaf, saya agak kurang fokus tadi. Bisa tolong diulang poin terakhirnya?" cicitku panik, buru-buru menyambar pulpenku dengan tangan yang sedikit gemetar.
Sebelum Adrian sempat membuka mulut untuk menyemprotku, aku tidak sengaja melihat ke arah depan tepat ke arah Pak Gavin.
Manajer Operasional itu ternyata sedang menunduk, bahunya naik turun menahan tawa yang meledak di dalam dada. Dia menutup seluruh area mulutnya dengan satu tangan agar tidak bersuara, tapi matanya yang menyipit jenaka menatapku.
Setelah puas menertawakanku dalam diam, Pak Gavin berdeham cukup keras untuk menyelamatkan situasi yang makin canggung ini.
Ehem.
"Maksud Pak Adrian tadi, Aruna..." Pak Gavin bersuara, memotong keheningan dengan nada santai andalannya. "Tolong catat final revisi operasional pergudangan harus dikirim ke meja divisi saya paling lambat jam empat sore ini. Begitu, kan, Pak Direktur?" Gavin melirik Adrian sambil menaikkan sebelah alisnya.
Aku buru-buru mengangguk cepat seperti burung pelatuk, bersyukur setengah mati karena Gavin berbaik hati mengulanginya. "Ah, iya! Baik, Pak Gavin. Sudah saya catat, revisi pergudangan jam empat sore. Terima kasih banyak, Pak."
Aku langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya, berpura-pura sangat sibuk mengetik di tablet padahal wajahku sudah merah padam sampai ke telinga. Sialan, ini benar-benar hari pertama kerja paling memalukan seumur hidupku!
Begitu kalimat penutup rapat diucapkan oleh Adrian, seluruh jajaran kepala divisi langsung merapikan berkas mereka dengan kecepatan cahaya. Mereka keluar dari ruangan satu per satu seolah-olah baru saja dilepaskan dari ruang interogasi. Pak Gavin sempat melemparkan kedipan mata meledek ke arahku sebelum ikut melangkah keluar, menyisakan aku dan Adrian yang masih tertinggal di dalam ruangan yang mendadak terasa sempit ini.
Aku sibuk setengah mati. Tanganku bergerak secepat kilat membereskan tablet, buku catatan, dan pulpen, berusaha terlihat super sibuk demi menutupi rasa malu yang rasanya sudah membakar seluruh wajahku. Bagaimana tidak? Aku ketahuan meratapi dan menatap wajah bos sendiri di tengah rapat formal sampai harus dipanggil dua kali! Mau ditaruh di mana mukaku sekarang?
"Aruna," panggil suara berat itu, memecah keheningan ruang rapat.
Gerakan tanganku langsung membeku. Aku mendongak perlahan, mendapati Adrian yang sudah berdiri di ujung meja kerja kaca, memasukkan satu tangannya ke saku celana sambil menatapku lurus.
"Mikirin apa kamu tadi sampai bengong seperti itu di depan semua orang?" tanyanya datar, tapi matanya yang tajam itu seolah bisa membaca langsung ke dalam otakku.
Mampus. Aku tidak mungkin jujur, kan? Nggak mungkin aku bilang, "Maaf Pak, saya tadi bengong gara-gara mikirin omongan Mbak Dian yang bilang kalau Bapak sebenernya suka sama saya." Kalau aku bilang begitu, opsi hidupku cuma dua, dipecat tidak hormat atau langsung dikirim ke RSJ.
Otak kecilku langsung berputar, mencari alasan paling aman yang bisa menyelamatkan nyawaku sekarang. Dan yah, ingatan tentang roti cokelat tadi pagi mendadak melintas lagi.
"Ah... itu, Pak," aku berdeham, mencoba memasang senyum paling polos dan meyakinkan yang kupunya. "Saya tadi... sebenarnya lagi mikirin Bapak. Eh, maksudnya, mikirin kerjaan Bapak!"
"Kerjaan saya?" Adrian menaikkan sebelah alisnya.
"Iya! Saya kan lihat Bapak capek banget dari semalam lembur sampai berantakan begitu, terus tadi pagi cuma makan roti cokelat sebungkus. Saya jadi mikir... kira-kira besok pagi saya harus bawain makanan apa lagi ya yang cocok buat ganjal perut Bapak supaya Bapak nggak lelah kerja? Nah, pas lagi serius mikirin menu sarapan besok, eh Bapak malah manggil saya. Jadi... kurang lebih begitu alasannya, Pak. Saya mikirin gizi Bapak!" jelasku panjang lebar dengan nada se-meyakinkan mungkin.
Adrian menatapku dalam diam selama beberapa detik. Tatapannya yang tidak terbaca itu membuatku menahan napas, berdoa dalam hati agar bos sableng ini percaya pada bualan amatiranku.
Pelan-pelan, Adrian menghembuskan napas pendek. "Kali ini saya kasih kamu kesempatan, Aruna. Anggap ini peringatan pertama dan terakhir. Kalau di rapat berikutnya kamu sampai terulang bengong dan tidak fokus lagi seperti tadi... tidak akan ada kesempatan kedua. Mengerti?"
"I-iya, Pak! Mengerti sekali. Terima kasih banyak, Pak Adrian," jawabku buru-buru sambil mengangguk patuh.
Adrian berbalik dan mulai melangkah keluar dari ruang rapat menuju korong lantai direksi. Aku mengekor di belakang punggung tegapnya, membawa tas kerjaku dengan perasaan campur aduk. Begitu posisiku sudah aman di belakangnya, aku langsung mencebikkan bibir, membuat gestur mengejek, dan mulai berkomat-kamit menggerutu tanpa suara.
"Kesempatan gigi lo botak! Dasar Bos Sableng, kaku banget jadi manusia. Peringatan-peringatan... dikira lagi ikut balapan apa!" gerutuku dalam hati dengan gemas.
Sembari berjalan kaki di belakangnya, aku memikirkan kembali teori gila Mbak Dian di kantin tadi. Tertarik? Suka padaku? Huh, sama sekali tidak mungkin! Mana ada pria sedingin, secuek, senyebelin, dan sediktator Adrian Wiratama ini bisa menaruh hati pada staf junior berlatar belakang SMA sepertiku. Jangankan suka, yang ada dia sepertinya cuma hobi melihatku menderita dan dijadikan budak korporat di bawah kuasanya. Mbak Dian benar-benar kebanyakan nonton drama fiksi!
Aku terus saja menggerutu, sibuk memaki Adrian di dalam hati sambil menundukkan kepala menatap langkah sepatuku sendiri, sampai aku tidak sadar kalau kami sudah sampai tepat di depan pintu ruang kerjanya.
Dan tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, Adrian mendadak menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat menghadap ke arahku.
BUK!
"Aduh!"
Karena aku berjalan sambil menunduk dan menggerutu, aku sama sekali tidak sempat mengerem. Saking dekatnya jarak kami, wajah dan tubuhku langsung menabrak dada bidang Adrian dengan cukup keras.
Wangi parfum maskulinnya yang mahal seketika menyerbu indra penciumanku, dan sebelum aku sempat kehilangan keseimbangan karena terperanjat mundur, sepasang lengan kokoh terasa menahan kedua bahuku agar aku tidak jatuh terjungkal ke belakang.