Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar apartemen Thomas biasanya membawa ketenangan, namun pagi ini, ketenangan itu dipecah oleh bunyi bel yang ditekan bertubi-tubi. Suaranya bergema di seluruh ruangan yang didominasi interior modern-minimalis itu, menciptakan suasana yang mendadak gaduh dan tidak menyenangkan.
Thomas, yang sudah rapi dengan kemeja kerja yang disetrika sempurna namun masih santai duduk di meja makan sambil menyesap kopi hitam tanpa gulanya, mengernyitkan dahi. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi utama yang masih tertutup rapat—tempat Arunika sedang bersiap mengenakan setelan kantornya—lalu berdiri dengan gerakan malas untuk memeriksa siapa tamu yang sama sekali tidak tahu sopan santun itu.
Begitu pintu berat itu terbuka, wajah yang paling tidak ingin ia lihat muncul di sana dengan raut tanpa dosa.
"Marcell? Ngapain kamu sepagi ini ke sini?" tanya Thomas dingin. Suaranya rendah, sarat akan peringatan. Tangannya masih memegang gagang pintu dengan kuat, seolah-olah memberikan gestur bahwa ia tidak berniat sedikit pun mempersilakan adiknya itu masuk.
Marcell tersenyum lebar, jenis senyum yang terlihat dipaksakan namun tampak sangat santai, tipikal topeng yang biasa ia gunakan untuk menutupi niat terselubung. "Berkunjung ke rumah kakak sendiri. Why not? Masa harus bikin janji seminggu sebelumnya? Kita kan keluarga, Mas," sahutnya enteng. Tanpa menunggu izin atau jawaban, Marcell menyelip masuk ke dalam apartemen, melewati bahu Thomas begitu saja dengan sikap yang sangat tidak sopan.
Matanya langsung berkeliling dengan liar, memindai setiap sudut kemewahan tempat tinggal Thomas yang kini sudah berbau harum aromaterapi pilihan Arunika. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat makhluk berbulu yang sedang asyik mencakar tiang mainannya di sudut ruang tamu yang luas.
"Wah... ada kucing," gumam Marcell, ia berjalan mendekat ke arah Mochi yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri.
"Itu kucing Arunika," sahut Thomas singkat. Ia menutup pintu dengan bunyi dentuman pelan, lalu mengikuti langkah adiknya dengan tatapan waspada, seolah-olah sedang mengawasi seorang penyusup.
Marcell berjongkok di atas karpet bulu, mencoba menyentuh telinga Mochi dengan ujung jarinya. Namun, kucing gembul itu seakan memiliki insting yang tajam; ia mendesis pelan, menunjukkan taring kecilnya, lalu menjauh dengan langkah angkuh ke bawah kursi.
Marcell terkekeh, tidak merasa tersinggung. "Iya, gue tahu. Nika kan emang pecinta kucing dari dulu. Dulu dia sering banget kasih makan kucing liar di kantin kampus, sampai-sampai tas kuliahnya bau ikan semua gara-gara stok makanan kucing yang selalu dia bawa. Dia beneran nggak berubah ya?"
Thomas terdiam. Hatinya sedikit berdenyut setiap kali Marcell menyebutkan detail-detail masa lalu Arunika yang tidak ia ketahui—hal-hal sepele namun bermakna yang menjadi rahasia masa muda mereka. Ada rasa panas yang merayap di dadanya, sebuah kecemburuan yang tidak seharusnya ada. Thomas memilih berjalan menuju dapur, mencoba mengabaikan rasa tidak nyamannya dengan menyibukkan diri.
"Mas, buatin gue jus dong. Haus nih, tadi habis lari pagi langsung ke sini karena lewat daerah ini," pinta Marcell sambil menjatuhkan dirinya di sofa kulit yang mahal. Posisinya terlihat santai, namun matanya terus bergerak aktif, mencari letak ruang kerja pribadi Thomas yang ia yakini berada di koridor sebelah dalam.
Thomas menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak sepagi ini. "Buat sendiri, Cell. Dapur ada di sana, gelas ada di lemari atas. Kamu bukan tamu di hotel berbintang."
"Ayolah, Mas. Masa sama adik sendiri pelit banget sih? Anggap saja ini ucapan selamat karena pernikahan kalian yang... terlihat sangat harmonis," rengek Marcell dengan nada manja yang dibuat-buat, namun terselip nada sarkasme yang tipis. "Gue mau jus jeruk, yang dingin ya. Biar otak gue seger dikit."
Thomas memijat pangkal hidungnya. Ia hanya ingin Marcell segera pergi sebelum Arunika keluar dari kamar mandi. Jika ia membuatkan jus itu dengan cepat, mungkin Marcell juga akan pergi dengan cepat.
"Hanya jus jeruk, setelah itu kamu pergi," ujar Thomas mutlak.
Ia mulai melangkah ke arah dapur yang terletak di area open-space. Thomas mengambil beberapa buah jeruk segar dari dalam kulkas dua pintu yang besar. Suara mesin pemeras jus mulai menderu keras, memenuhi ruangan dengan kebisingan yang cukup untuk mengalihkan perhatian dari suara-suara kecil lainnya.
Marcell menyeringai tipis saat melihat punggung kakaknya yang sibuk di dapur. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu.
"Mas, gue ke toilet sebelah ya! Tiba-tiba perut gue nggak enak, kayaknya panggilan alam!" teriak Marcell sambil berdiri dengan terburu-buru, menunjukkan ekspresi mulas yang sangat meyakinkan.
"Ya, masuk saja," sahut Thomas tanpa menoleh, fokusnya terbagi antara memeras jeruk dan mendengarkan suara gemericik air dari kamar mandi utama tempat Arunika berada.
Begitu Marcell menutup pintu toilet tamu, wajah santainya menghilang seketika. Ia tidak benar-benar menuju toilet. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, ia keluar lagi melalui pintu yang sengaja tidak ia tutup rapat, lalu menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Thomas yang pintunya sedikit terbuka—sebuah keteledoran Thomas yang jarang terjadi.
Jantung Marcell berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya saat ia berada di dalam ruang kerja yang dingin dan berbau kertas baru itu. Ia tahu waktunya sangat terbatas; Thomas tidak akan butuh waktu lama untuk memeras dua buah jeruk. Ia langsung menuju ke balik meja kerja Thomas yang besar, tempat sebuah brankas kecil tersimpan di balik panel kayu yang tersamar.
"Kodenya... sial, kodenya apa..." bisik Marcell dengan tangan gemetar. Ia mencoba tanggal lahir Thomas, namun gagal. Ia mencoba tanggal pernikahan mereka, namun lampu merah di panel brankas masih menyala.
Lalu, sebuah ide muncul. Ia mengingat betapa Thomas sangat posesif terhadap Arunika. Marcell mencoba deretan angka yang ia ingat sebagai tanggal lahir Arunika.
KLIK.
Pintu brankas itu terbuka pelan, memperlihatkan isinya yang rapi. Marcell menahan napas sejenak. Di sana, di antara tumpukan sertifikat tanah dan obligasi, terselip sebuah map cokelat polos dengan stempel firma hukum terkenal. Marcell membukanya dengan gerakan cepat, dan matanya membelalak sempurna saat membaca baris demi baris kata-kata yang tertera di sana.
"KONTRAK KERJASAMA PERNIKAHAN: PIHAK PERTAMA (THOMAS ADIPUTRA) DAN PIHAK KEDUA (ARUNIKA NiRMALA."
"Ketemu lo, bajingan," desis Marcell dengan seringai kemenangan yang mengerikan. Ia membaca poin soal pembayaran bulanan dan durasi kontrak dua tahun itu dengan perasaan puas yang meluap.
Tanpa membuang waktu, ia segera melipat kertas-kertas itu menjadi bagian kecil yang tidak terlalu menonjol, lalu menyelipkannya ke dalam saku rahasia di dalam jaket larinya. Ia menutup kembali pintu brankas dengan hati-hati, memastikan semua barang kembali ke posisi semula agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Marcell keluar dari ruang kerja dan kembali menyelinap masuk ke toilet tamu. Ia menyalakan keran air sebentar dan menyiram toilet untuk menciptakan efek suara yang meyakinkan. Saat ia keluar kembali ke ruang tamu, Thomas baru saja meletakkan segelas jus jeruk dingin dengan bulir-bulir es di atas meja.
"Lama banget," komentar Thomas dingin saat melihat Marcell muncul kembali dari koridor.
"Hehe, maklum Mas, faktor perut. Thanks ya jusnya!" sahut Marcell santai. Ia mengambil gelas itu dan meminumnya hingga tandas hanya dalam satu tegukan, seolah-olah ia baru saja memenangkan maraton.
Tepat saat gelas itu diletakkan kembali ke meja, pintu kamar mandi utama terbuka. Arunika keluar dengan rambut yang masih basah terlilit handuk putih tebal, mengenakan jubah mandi yang menutupi tubuhnya. Ia membeku seketika saat melihat Marcell berdiri di ruang tamunya sepagi ini.
"Marcell? Kok kamu di sini?" tanya Arunika bingung, suaranya mengandung nada waspada. Tangannya refleks merapatkan jubah mandinya lebih kuat.
"Eh, Nika. Pagi," sapa Marcell dengan nada yang sangat ramah—terlalu ramah bahkan. "Gue cuma mampir sebentar liat kucing lo. Baru mau pamit nih."
Thomas segera berjalan mendekati Arunika, merangkul pinggang istrinya dengan sangat protektif, seolah-olah ingin menegaskan wilayah kekuasaannya di depan adiknya. "Dia sudah mau pergi, Nika. Ayo, kamu lanjut siap-siap saja."
Marcell memperhatikan tangan Thomas di pinggang Arunika. Dulu, pemandangan itu akan membuatnya meledak marah, tapi sekarang, ia hanya tersenyum dingin di dalam hati. Nikmatin masa-masa manis ini selagi lo bisa, Mas. Karena bom waktu di saku gue ini bakal hancurin semuanya.
"Gue cabut ya. Mas, Nik, sukses kerjanya hari ini!" ujar Marcell sambil melambaikan tangan dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah ringan.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat, Arunika menoleh ke arah Thomas dengan tatapan heran. "Dia beneran cuma mau liat Mochi?"
"Katanya begitu. Aneh memang, tapi biarkan saja dia pergi," jawab Thomas sambil mengecup kening Arunika, berusaha mengusir rasa tidak nyaman di hatinya sendiri. "Sana lanjut, nanti kita telat ke kantor kalau kamu lama-lama."
Thomas kembali ke meja makan, melanjutkan kopinya tanpa rasa curiga sedikit pun. Ia tidak pernah menduga bahwa benteng pertahanannya yang paling rahasia baru saja dibobol oleh adiknya sendiri. Sementara di dalam lift, Marcell meraba saku jaketnya, merasakan tekstur kertas kontrak yang akan menjadi senjata paling mematikan untuk menghancurkan pernikahan sang CEO.
"Mami pasti bakal kaget banget liat kejutan ini," gumam Marcell dengan mata berkilat penuh dendam saat pintu lift terbuka di lantai lobi. Badai besar sudah siap ia tumpahkan tepat di atas kepala Thomas dan Arunika.
***
Thomas gantengnya pria yang matang, duitnya banyak, bukan cowok bingung, romantisnya jangan ditanya lagi😭🤣 semua love language kayaknya diborong semua sama pria matang satu ini. Minusnya suka cemburuan kayak remaja 🫠😂
disini ada nggak yang bisa bikin ilustrator buat si Thomas. Pengen banget dibuatin jujurly 🫠
Jangan lupa tinggalkan jejak. Ikutin terus ya ada gebrakan apa lagi ini si Marcell??
mending nikah kontrak la ngangkang gratisan gimana ceritanya
untuk pelajaran orang tua zaman now terkadang sering masalah harga diri yg dipikirkan tapi kondisi anak nggak dipikirkan ditanya kek duduk bareng itulah yg terjadi pada orang tua zaman now anak tidak menganggap orang tua rumahnya tempat berkeluh kesah akhirnya banyak perbuatan yg membuat malu keluarga terjadi saat ketahuan sudah tidak bisa diperbaiki lagi