NovelToon NovelToon
Sentuhan Semalam

Sentuhan Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.

Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.

Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan yang Sama

"Kenji! Kiana!"

Suara Eli terdengar melengking di antara riuh rendah pengunjung mal. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat menyadari kedua anak kembarnya tidak lagi berada di dekat kasir. Dengan napas memburu dan wajah pucat pasi, Eli berlari membelah kerumunan orang, mengikuti arah insting seorang ibu. Langkah kakinya mendadak terpaku di lantai marmer ketika melihat sekelompok pria berjas hitam sedang membuat barikade di dekat pintu masuk utama.

Di tengah barikade itu, Eli menangkap sosok Kenji yang sedang berdiri tegak, merentangkan kedua tangan kecilnya untuk melindungi Kiana yang terduduk di lantai.

Namun, bukan itu yang membuat darah Eli mendadak berdesir dingin hingga ke ujung kaki. Pandangan Eli perlahan bergeser naik, menatap pria jangkung yang sedang berdiri di hadapan anak-anaknya. Pria dengan setelan jas abu-abu gelap potongan desainer ternama, dengan postur tegap yang luar biasa, dan sepasang mata elang yang sangat dia kenali.

Xavier Arisatya.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Eli. Lututnya seketika terasa lemas seperti jeli. Aroma maskulin yang mewah, campuran kayu cendana dan tembakau premium yang pernah menguar di Kamar 909 enam tahun lalu, seakan kembali menusuk indra penciumannya. Ketakutan terbesar yang selama ini dia kubur dalam-dalam di kota kecil, kini menjelma menjadi kenyataan pahit di depan matanya. Xavier ada di sana, hanya berjarak beberapa meter dari darah dagingnya sendiri.

"Siapa nama ibumu?"

Pertanyaan bernada rendah dan penuh penekanan dari Xavier terdengar sampai ke telinga Eli. Xavier masih terpaku, matanya tidak berkedip sedikit pun menatap Kenji. Ada riak emosi yang tidak biasa di wajah dingin sang CEO. Keangkuhan yang biasanya melekat erat pada dirinya mendadak luntur, digantikan oleh rasa syok yang teramat sangat. Bocah laki-laki di hadapannya ini bukan sekadar mirip, tapi seperti cermin yang memantulkan masa kecilnya sendiri.

Kenji tidak menjawab. Bocah itu justru memperdalam kerutan di dahinya, menatap sepatu Xavier yang kotor karena es krim adiknya. "Kami tidak boleh bicara dengan orang asing. Dan paman berjas hitam ini menakuti adikku," jawab Kenji dengan suara kekanak-kanakan namun sarat akan ketegasan yang mutlak. Rasa takut seolah tidak ada dalam kamus hidup bocah lima tahun itu.

Xavier hampir saja mendengus kagum. Keberanian bocah ini benar-benar tidak wajar untuk anak seusianya.

Melihat situasi yang semakin kritis, Eli tahu dia tidak bisa diam saja. Jika dia berbalik dan kabur, Xavier pasti akan membawa anak-anaknya. Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Eli memaksakan kakinya untuk melangkah. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, membiarkan rambut panjangnya terurai ke depan untuk menyembunyikan wajahnya dari tatapan Xavier.

"Maaf! Mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan!" Eli langsung berhambur berlutut di lantai, merangkul Kenji dan Kiana ke dalam pelukannya. Tubuhnya gemetar hebat, murni karena ketakutan rahasianya akan terbongkar.

"Anak-anak saya tidak sengaja. Saya akan mengganti biaya pembersihan sepatu Anda," ucap Eli dengan suara yang sengaja disamarkan, agak serak dan bergetar. Dia tidak berani mendongak sama sekali. Fokusnya hanya satu: membawa Kenji dan Kiana pergi dari tempat ini secepat mungkin.

Xavier mengalihkan pandangan tajamnya dari Kenji ke arah wanita yang baru saja datang berlutut itu. Kerutan di dahi Xavier semakin dalam. Mengapa wanita ini tampak begitu ketakutan? Dan yang lebih aneh lagi, suara wanita ini... entah mengapa terdengar tidak asing di telinganya. Ada getaran samar yang memicu ingatan Xavier pada malam satu-satunya yang pernah dia habiskan bersama seorang wanita misterius enam tahun lalu. Wanita yang meninggalkannya begitu saja setelah malam yang panas dan membuatnya terobsesi setengah mati.

"Angkat wajahmu," perintah Xavier dengan nada dingin yang tidak membantah. Aura posisif dan intimidasi seorang penguasa langsung keluar, membuat suasana di lobi mal itu mendadak mencekam.

Jantung Eli berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Tidak, aku tidak boleh mendongak. Kalau dia tahu aku adalah wanita malam itu, tamat riwayatku, jerit Eli dalam hati.

"Maaf, Tuan, kami harus segera pergi. Anak saya trauma," sahut Eli cepat. Tanpa menunggu izin dari Xavier, Eli segera berdiri, menyambar tubuh Kiana ke dalam gendongannya, dan menggandeng erat tangan Kenji. Dia membalikkan badan dan berjalan setengah berlari menjauhi rombongan berjas hitam itu, membaur ke dalam kerumunan mal yang padat.

Xavier tidak mengejar, namun matanya terus mengawal punggung wanita itu hingga menghilang di belokan koridor. Tangan Xavier mengepal kuat di dalam saku celananya.

"Tuan Xavier, apa perlu kami menahan mereka?" tanya asisten pribadinya, Daniel, yang sejak tadi menyadari keanehan sikap bosnya. Daniel sendiri sempat melongo melihat kemiripan luar biasa antara bocah laki-laki tadi dengan Xavier.

Xavier menarik napas dalam, mencoba menguasai kembali emosinya yang sempat berantakan. "Tidak perlu di sini. Cari tahu siapa wanita itu, di mana dia tinggal, dan bawa sampel apa saja yang ditinggalkan anak itu ke laboratorium. Aku ingin hasil tes DNA dalam waktu dua puluh empat jam."

"Baik, Tuan," jawab Daniel patuh.

Xavier menunduk, menatap noda es krim stroberi di sepatu mahalnya. Setitik rasa penasaran dan gairah yang sudah mati selama enam tahun kini mendadak berkobar kembali. Jika bocah itu benar-benar anaknya, maka wanita yang melarikan diri tadi adalah buruan yang selama ini dia cari. Dan kali ini, Xavier tidak akan membiarkan mangsanya lolos lagi.

1
Bu Dewi
seru kak 👍👍👍👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!