Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Someone from Past
Sabrina melirik kaku ke arah pintu untuk sesaat. "Pangeran Noah jauh lebih tampan jika bertemu langsung."
Lilly mengangkat sebelah alisnya. Netra hazelnya turun, memperhatikan Sabrina yang masih sibuk merapikan gaun.
"Kalian bertemu?"
"Tentu saja. Dia mengangguk kaku waktu aku memberi salam. Tapi Lilly, suamimu itu benar-benar seperti pangeran dongeng yang keluar dari dunia nyata!" Sabrina menjeda kalimatnya sesaat. "Oh, ya. Ly, kemarin aku bertemu Christ."
Tatapan Lilly seketika berubah agak dingin. "Ada apa?"
"Dia mencarimu. Dia bertanya soal kebenaran berita pernikahanmu dengan Noah." Sabrina menatap Lilly intens. "Mungkin dia menyesal karena sudah membuangmu, lalu malah memungut gadis penggoda itu."
Lilly tidak menyahut. Ia melangkah menuju ruang ganti, lalu mulai melepas pakaiannya dengan dibantu oleh beberapa pelayan di balik tirai.
"Jangan dibahas lagi. Aku akan menikah."
"Tapi, Lilly ..."
"Sabrina, kita bisa membahasnya nanti," potong Lilly pelan. Ia merasa tak nyaman, mengingat mereka tengah berada di dalam ruangan yang sama dengan para pelayan.
Menjaga nama baik Noah adalah tugasnya sekarang.
"Baiklah."
Sedang di ruang kerja Noah. Jendela terbuka membiarkan cahaya musim gugur jatuh ke meja kerjanya.
Noah tengah duduk di kursi ruang kerjanya. Sesekali jemarinya mengetuk permukaan meja, sementara matanya menatap layar tablet yang terus menyala—menampilkan berita tentang pernikahannya esok hari.
"Pangeran." Morgan berdiri di dekat ambang pintu, memegang sebuah amplop cokelat.
"Ada apa?" tanya Noah tanpa repot-repot menoleh.
"Ada pergerakan aneh dari Tuan Albert."
Noah mengernyit samar. "Apa?"
"Dia merekrut seorang staf penjaga untuk acara pernikahan esok, tetapi orang ini sama sekali tidak masuk kualifikasi. Tanpa sertifikat, ataupun melalui lembaga penyalur resmi yang kita sewa."
"Siapa?"
"Christian." Morgan melangkah lebih dekat. "Saya dengar dia adalah mantan kekasih Lady Lillyane."
Rahang pria itu seketika mengeras. Tatapannya menukik tajam pada selembar foto yang baru saja dikeluarkan dari dalam amplop cokelat tersebut.
"Kita harus bergerak?" tanya Morgan pelan.
"Tidak perlu."
"Lalu?"
"Kita akan menyelidikinya saat hari pernikahan."
...----------------...
Hari pernikahan telah tiba. Ibu kota dipenuhi gemerlap kesibukan, dengan warga yang antusias menyaksikan royal wedding dari sang pewaris takhta.
Lilly sedang berdiri di kamar hotelnya, tepat di depan cermin besar yang menampilkan seluruh penampilannya hari ini. Madam Elish berdiri tak jauh dari sana, sementara Sabrina sibuk mengambil foto hingga galeri ponselnya penuh.
"Kau benar-benar pengantin tercantik hari ini!" ucap Sabrina senang seraya memeluk Lilly erat.
Namun, Madam Elish segera memisahkan keduanya. "Maaf Nona, gaun Lady Lillyane bisa kusut."
Sabrina mencebik kesal. "Baiklah, baiklah."
"Lady, silakan duduk di sini." Madam Elish menunjuk ke sebuah sofa besar.
Setelah itu, para pelayan, Madam Elish, dan Sabrina berlalu dari sana, meninggalkan kesunyian di lantai atas hotel.
Gereja katedral berada tepat di seberang jalan. Warna cokelat keemasannya tampak megah. Area jalanan yang biasanya bersih dari kerumunan, hari ini cukup padat oleh warga yang menanti royal wedding dan kereta legendaris kerajaan.
Suara pintu terbuka terdengar pelan. Lilly menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di sana dengan tatapan dingin.
"Lilly, lama tidak berjumpa?" Suara pria itu terdengar pelan, sarat akan kekesalan.
Christian. Pria itu berpakaian serba hitam dengan monitor kendali di telinganya, serta sebuah emblem penjaga di saku kiri rompi yang ia kenakan.
"Bagaimana kau bisa masuk?"
"Hanya masalah kecil," jawab pria itu sambil berjalan mendekat ke arah Lilly.
"Aku lebih penasaran, bagaimana gadis sepertimu bisa benar-benar menikah dengan seorang pangeran." Christian menyunggingkan senyum sinis. "Seorang Pangeran Mahkota."
"Apakah dia tahu ... kita pernah tidur bersama?"
Tubuh Lilly seketika membeku. Rasa dingin menjalar ke dadanya dengan cepat. Ketakutan akan masa lalu yang kelam itu kini kembali muncul ke permukaan.
"Apa maumu?"
"Melihat mantan yang pernah ku tiduri berhasil memanjat tembok tinggi."
...----------------...