NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:49.5k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Lampu kristal di langit-langit lobi villa mewah keluarga Dirgantara bergoyang pelan, memantulkan pendar kuning yang bergetar akibat hentakan angin pegunungan yang menderu di luar. Di ruangan berlantai marmer itu, waktu seolah berhenti berputar. Udara subuh yang sedingin es terasa kian mencekam, sarat akan muatan ketegangan emosional yang siap meledak kapan saja.

Mahendra berdiri mematung dengan rahang yang mengeras, sementara Stella di sampingnya masih menatap tajam, melempar pandangan merendahkan yang penuh racun ke arah pelayan yang berdiri di undakan tangga.

Di belakang mereka, oknum pejabat teras dinas agraria wilayah Barat mulai menyeka keringat dingin di dahinya. Kehadiran mereka di tempat terpencil ini semula diniatkan untuk mengeksekusi sebuah penyegelan fisik yang mutlak, menghancurkan martabat Arlan Dirgantara melalui rekam jejak kelam masa lalu Gita Ivara.

Gita—atau sosok yang mereka kenal sebagai pelayan bersahaja itu—melangkah maju tanpa ada setitik pun keraguan di matanya. Sepasang tangan yang biasa memegang sapu dan nampan kayu kini bergerak dengan keanggunan yang teramat murni, mengeluarkan sebuah amplop tebal dengan segel perak resmi bermaterai khusus dari balik saku sweater rajutnya. Gerakannya lambat, terukur, dan sarat akan wibawa dingin kelas atas yang tidak bisa dibeli dengan uang.

"Tuan-tuan yang terhormat," suara Bianca mengalun rendah, memecah kesunyian dengan artikulasi yang sangat tertata. Ia mengabaikan tatapan syok dari Arlan yang berdiri beberapa senti di sampingnya.

"Sebelum Anda semua melangkah lebih jauh untuk merusak properti milik Dirgantara Group, alangkah baiknya Anda memeriksa legalitas hak sewa lahan yang baru saja disahkan malam tadi."

Gita menggeser amplop segel perak itu di atas meja marmer, tepat di hadapan sang oknum pejabat agraria. "Silakan dibuka, Tuan. Lihat dengan mata kepala Anda sendiri keaslian dari keputusan Mahkamah Agung ini."

Dengan tangan yang sedikit gemetar akibat atmosfer intimidasi yang mendadak berbalik, pejabat agraria itu meraih amplop tersebut. Lembar demi lembar dokumen berkekuatan hukum tetap itu dibuka dengan tergesa-gesa. Begitu matanya membaca baris demi baris ketetapan hukum di atas kertas berlogo garuda emas itu, kedua matanya membulat sempurna. Wajahnya seketika kehilangan rona darah, berubah pucat pasi seputih kapas.

Pengacara korporat di samping Mahendra ikut melongok, dan dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi ketakutan yang mencekam.

Mereka saling pandang dengan tubuh yang mendadak kaku. Di lembar paling krusial berkas tersebut, tertera dengan sangat jelas bahwa seluruh hak ulayat dan batas tanah perkebunan teh hulu ini berada di bawah kepemilikan mutlak Adytama Properti—sebuah raksasa penguasa tanah dari Surabaya—yang di dalam draf konsorsium terbarunya secara legal beraliansi penuh dengan Raditya Mahardika, sang raja properti nasional yang tidak tersentuh oleh hukum mana pun. Di bagian paling bawah, tertera nama pemilik hak perwalian penuh: Bianca Adytama.

"I-ini... ini tidak mungkin," bisik sang pejabat agraria, suaranya bergetar hebat. Kepalanya mendongak kaku, menatap Gita dengan pandangan yang dipenuhi kengerian luar biasa.

Di matanya, wanita berseragam pelayan ini bukan lagi seorang pelayan desa miskin; cara wanita ini berdiri dan ketenangan dewasanya yang kaku mencerminkan bahwa dia adalah utusan langsung, atau bahkan tangan kanan dari dinasti Adytama yang paling berbahaya.

"Ada apa?!" bentak Mahendra, suaranya meninggi akibat rasa panik yang mulai menjalar di dadanya. Ditengoknya berkas itu dengan kasar. "Dokumen apa itu? Jangan mau ditipu oleh gertakan seorang pelayan murah, sialan!"

"Maaf, Tuan Mahendra... saya... saya tidak bisa melanjutkan urusan ini," potong pejabat agraria itu dengan suara parau.

Ia melangkah mundur dengan tergesa-gesa, melipat tangannya di depan dada seolah mencoba melindungi dirinya sendiri dari kehancuran karier yang sudah di depan mata.

"Ini melibatkan nama keluarga Adytama dan konsorsium Mahardika. Menyentuh tanah ini sama saja dengan bunuh diri politik. Saya mengundurkan diri dari kesepakatan kita!"

"Bajingan! Kau sudah menerima uang dariku!" raung Mahendra, emosinya pecah seutuhnya di tengah lobi villa. Sifat liciknya tidak lagi tertutupi oleh topeng pengusaha sukses. Mukanya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol tegang akibat rasa malu dan kekesalan yang teramat sangat karena rencananya yang matang mendadak hancur berantakan di tangan seorang pelayan.

Arlan Dirgantara berdiri bergeming di samping meja marmer, matanya tidak lagi tertuju pada Mahendra ataupun berkas perak itu. Sepasang mata elangnya yang tajam dan dingin terkunci sepenuhnya pada profil samping wajah Bianca. Sisi pengusaha suksesnya yang dingin mendadak lumpuh, digantikan oleh berkecamuknya rasa syok, ketidakpercayaan, dan getaran posesif yang teramat ekstrem.

Arlan tahu betul siapa Raditya Mahardika dan seberapa mengerikannya dinasti Adytama dari Surabaya. Fakta bahwa dokumen sepenting ini bisa berada di tangan pelayan villa nya secara instan pada jam tiga pagi adalah sebuah anomali yang meruntuhkan logikanya.

Siapa kamu sebenarnya, Gita? batin Arlan, jemarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sifat skeptisnya berteriak bahwa wanita ini menyimpan rahasia besar yang sengaja disembunyikan darinya, memicu gejolak tarik-ulur emosional yang kian menyiksa hatinya yang terlanjur jatuh cinta secara tulus.

Sebelum Mahendra sempat melontarkan makian berikutnya, suara raungan sirine massal memecah keheningan subuh dari arah halaman luar. Sorot lampu merah dan biru dari belasan mobil patroli Polda Jawa Barat menembus kabut tebal, memantul kasar pada kaca-kaca jendela villa.

Pintu depan yang rusak berderit terbuka lebar ketika belasan aparat kepolisian bersenjata lengkap masuk dengan langkah taktis yang teratur. Di barisan paling depan, seorang komisaris polisi melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat disiplin.

Bianca melangkah maju satu langkah, mengambil posisi tepat di depan para aparat, seolah dialah pemegang otoritas tertinggi di dalam bangunan mewah ini. Wibawa murni yang dipancarkannya begitu kuat, mendikte seluruh atmosfer ruangan dengan ketenangan seorang putri mahkota yang sedang mengendalikan papan catur hukumnya sendiri.

"Selamat pagi, Komisaris," ujar Bianca, suaranya terdengar sangat manusiawi namun memiliki ketegasan yang mutlak, membuat sang perwira polisi segera memberikan anggukan hormat yang sangat patuh—sebuah gestur yang biasanya hanya diberikan pada lingkaran elite tertinggi.

"Orang-orang ini telah melakukan tindakan penerobosan paksa, intimidasi properti, dan yang paling krusial, pejabat di belakang mereka telah menerima suap korporasi terkait pemalsuan draf agraria wilayah Barat."

Bianca menunjuk ke arah meja marmer. "Semua bukti audio dan draf transaksi keuangan mereka sudah dikirimkan secara langsung ke sistem data pusat Polda oleh perwakilan hukum kami di Surabaya semenjak tiga puluh menit yang lalu. Saya meminta Anda melakukan penangkapan dan penyelidikan secara menyeluruh tanpa pengecualian."

"Baik, segera laksanakan!" perintah sang Komisaris tegas. Dua orang aparat langsung bergerak maju, mengeluarkan borgol baja dari saku pinggang mereka.

"Apa-apaan ini?! Lepaskan aku! Aku adalah pemilik Mahendra Corporation! Kalian tidak punya hak menangkapku atas ucapan pelayan gila ini!" teriak Mahendra, tubuhnya meronta kasar saat sepasang aparat mengunci kedua lengannya di belakang punggung. Suara gemerincing besi borgol yang mengunci pergelangan tangannya terdengar begitu memuakkan di tengah kesunyian subuh.

Di halaman villa yang basah oleh embun dan dilingkupi kabut tebal, Stella yang melihat Mahendra diringkus langsung berteriak histeris. Mantel bulu mewahnya yang mahal terseret di atas tanah merah yang basah ketika dia mencoba menerobos barisan polisi.

"Arlan! Kamu sengaja menjebak kami, bukan?! Kamu menggunakan pelayan jalang ini untuk menghancurkan kami!" jerit Stella dengan suara melengking penuh keputusasaan, air matanya merusak riasan tebal di wajahnya. Wajah cantiknya kini dilingkupi oleh rasa hancur yang teramat sangat ketika dia menyadari bahwa seluruh pengaruh bisnis mereka di Jakarta telah runtuh dalam satu malam.

"Kalian berdua akan membusuk di neraka! Aku bersumpah akan membalas ini, Arlan! Gita Ivara, kamu tidak akan pernah bisa hidup tenang!"

Umpatan, makian, serta sumpah serapah yang kotor terus mengalir dari mulut Mahendra dan Stella saat tubuh mereka didorong masuk ke dalam jok belakang mobil patroli hitam. Raungan mesin mobil polisi itu perlahan bergerak menjauh, membelah gulungan kabut pegunungan, meninggalkan halaman villa yang kembali sunyi berwibawa.

Setelah kepergian para aparat, keheningan yang jauh lebih berbahaya kini menguasai lobi villa. Para pelayan seperti Isah dan Minah sudah mundur ketakutan ke arah dapur belakang, menyisakan dua figur yang berdiri berhadapan di dekat meja marmer.

Arlan melangkah mendekat. Setiap ketukan langkah kakinya terdengar seperti detak bom waktu yang siap meledak. Wajahnya yang tegas tampak begitu kaku, sepasang mata elangnya menatap Bianca dengan campuran rasa kecewa, amarah yang tertahan, dan sebentuk cinta yang teramat posesif yang tidak bisa lagi dia sembunyikan.

"Gita," suara bariton Arlan terdengar sangat parau, bergetar menahan gejolak emosi yang pas di dalam dadanya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Bianca dengan pegangan yang kuat, protektif, namun sarat akan luka batin yang mendalam.

"Lihat aku. Tatap mataku sekarang juga."

Bianca menepis perlahan genggaman itu, mempertahankan otonomi dan jarak yang selama ini menjadi benteng kedamaian hidupnya. "Masalah sudah selesai, Tuan Arlan. Anda tidak perlu khawatir lagi tentang kelangsungan proyek resort hulu ini."

"Persetan dengan proyek itu!" bentak Arlan lirih, matanya berkilat emosional di bawah temaram lampu lobi. "Kamu mendikte kepolisian Polda seolah kamu adalah pemilik hukum di tempat ini! Kamu memegang dokumen rahasia dari Adytama seolah itu adalah kertas catatan harianmu! Siapa kamu sebenarnya, Gita?! Siapa wanita bernama Bianca Adytama yang namanya selalu kamu bawa untuk menyelamatkanku?!"

Arlan memajukan tubuhnya, mengunci ruang gerak Bianca di sudut meja marmer, napasnya yang hangat dan berat menerpa permukaan kulit wajah Bianca.

"Jangan katakan lagi bahwa kamu hanya seorang pelayan desa. Sifat skeptisku mungkin bisa dibohongi oleh seragam yang kamu pakai, tetapi hatiku tidak bisa ditipu. Kamu menyembunyikan identitasmu dariku karena kamu menganggap perasaanku ini hanya sebuah eksperimen sosial, bukan?"

Bianca menatap balik sepasang mata Arlan yang terluka. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada denyut perih yang luar biasa melihat pria sedingin es ini hancur demi memikirkan ketulusannya.

"Saya melakukan ini semua demi penebusan dosa masa lalu saya sendiri, Tuan Arlan," jawab Bianca, suaranya melembut, mengalun dengan kedewasaan seorang wanita yang sudah tegar diterjang badai hidup. "Rasa suka Anda pada saya... sebaiknya disimpan saja. Di usia saya yang sekarang, saya tidak ingin bermain-main dengan komitmen yang lahir dari rasa penasaran."

Bianca memutar tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan Arlan yang berdiri mematung sendirian di tengah lobi, menatap punggung pelayannya yang menjauh dengan rasa frustrasi yang kian meruncing menjadi sebuah obsesi murni untuk memiliki wanita itu sepenuhnya.

***

1
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: pelan² lah ya, masalah mahendra dan stella kan baru selesai. setelah ini fokus ke mereka, lebih ke sikap posesif Arlan 😄
total 1 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
fatmawati (pipit)
gita harus jujur saja bahwa dia adalah Bianca aditama yg menyamar sebagai gita ivara
untuk doni harus secepatnya menemukan kejanggalan tentang gita dan bianca adytama
ryuka
bianca.. gapapa kok jujur. kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠
Tangsah Jagad
Bianca apa salah nya sih jujur, dan arlan ngapain juga ngotot hbngan mereka hanya batas pekerjaan
Verawati Naycyl
sudah Bi...jangan maen teka teki terus ...kasihan Arlan sampai puyeng cari tau identitas kamu yg sebenarnya..
Mukeseh
deg deg thor 😂😂tp cepat atau lmbt pasti aksn tsu arlsn
Sri Murtini
pak Haryo memang top markotop dlm geraknya melindungi Byanca dlm penyamaran sbg Gita .
makin percaya aja deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!