Umumnya hari pertama masuk sekolah itu mendebarkan di barengi dengan rasa antusias.
Namun hal itu tidak berlaku kepada Hani. Hari pertama sekolahnya mengenaskan. Bagaimana tidak, baru saja melangkahkan kaki ke depan sekolah, dia sudah berpapasan dengan mayat yang di angkut oleh petugas otopsi.
Tidak sampai di situ, Hani pun juga ketempelan arwah Nana korban pembunuhan. Hani yang baru mendapatkan kemampuan sixth sense pun menjadi sasaran empuk Nana sebagai perantara pengungkap pembunuh kasus ini.
Parahnya arwah Nana mengancam Hani dengan kematian, jika Hani tidak membantunya.
Bagaimana cara Hani menuntaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eiiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32 Flashback (2)
“Kenapa... papa gak... bilang dari awal?” Ucap Ratih bergetar.
“Papa gak mau mama khawatir. Karena kondisi mama....”
“Papa seharusnya jujur dari awal pa. Pokoknya sekarang mama mau lihat keadaan Lanzo.” Ucap Ratih di barengi dengan tangisan.
“Kenapa Lanzo bisa koma?” Lanjut Ratih.
Kemudian Beni menjelaskan kejadian kemarin secara detail yang sempat terekam CCTV. Tidak lama kemudian ada suster keluar dari ruang ICU. Suster itu langsung menghampiri Beni dengan wajah sumringah.
“Bapak Beni, saya mau menginformasikan jika anak Lanzo sudah siuman.” Ucap suster itu.
Mendengar itu Ratih dan Beni tersenyum lebar.
“Boleh saya sama istri saya masuk?”
“Boleh pak silahkan.”
Beni dan Ratih pun masuk dengan sedikit tergesa – gesa. Sampai di dalam, air mata Ratih tidak bisa di bendung. Dia menangis sambil menggenggam tangan Lanzo.
“Mama, papa.” Ucap Lanzo lemah.
“Mama di sini nak. Terima kasih ya nak. Sudah tolong mama.”
Lanzo hanya bisa tersenyum. Kemudian tangan yang di genggam oleh Ratih mulai melemas. Lalu, Lanzo mengarahkan tangannya ke perut Ratih dengan susah payah.
“Ma, Lanzo janji akan menjaga adek sampai adek menikah. Lanzo bersyukur bisa di adopsi sama mama dan papa. Hanya ini yang bisa Lanzo lakukan untuk mama papa.” Ucap Lanzo semakin lemas dan lirih.
Deg!
Mendengar itu hati Ratih langsung terasa pedih bagai teriris, bahkan Beni pun mendapati firasat tidak enak karena mendengar itu. Benar saja, setelah mengucapkan itu. Lanzo sudah tidak sadarkan diri. Beni panik langsung bertanya kepada dokter yang kebetulan masih di sana.
“Kenapa ini dok?” Tanya Beni.
“Maaf, bapak dan ibu mohon keluar dulu. Kami akan melakukan penangan untuk anak Lanzo.” Ucap dokter.
“Suster siapkan alat kejut jantung.” Perintah dokter.
“Baik dok.” Jawab salah satu suster.
“Maaf bapak ibu silakan keluar.” Ucap suster lainnya.
Di luar ruangan...
Ratih dan Beni sangat khawatir mereka hanya bisa berdoa dan berharap di bangku panjang di depan ruang ICU.
Selang tiga puluh menit dokter yang menangani Lanzo keluar dari ruang ICU. Beni langsung berdiri dan menuntun Ratih menuju dokter.
“Kami mohon maaf bapak Beni. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun nyawa anak Lanzo tidak bisa....”
“dokter! dokter kenapa gak bisa? apa ini yang di sebut dokter?” Teriak Ratih
Beni hanya bisa memeluk dan menenangkan Ratih. Dia tidak menyangka jika tadi adalah pertemuan terakhir kalinya.
****
Lima bulan kemudian....
Ratih sudah melahirkan Hani. Usia Hani saat ini satu bulan. Tapi entah kenapa setiap malam Hani menangis lama. Bahkan sudah di ganti popok dan di beri asi pun dia juga masih tetap menangis.
Kemudian banyak yang menyarankan untuk membawa Hani kecil ke orang pintar. Mungkin saja dia sawan. Akhirnya Ratih dan Beni membawa Hani kecil ke orang pintar.
“Anak ibu bapak itu memiliki sixth sense dan dia sekarang sedang di ganggu oleh arwah keluarganya. Dia anak – anak laki – laki mungkin berusia sepuluh atau sebelas tahun. Makanya dia sering menangis saat malam tiba.” Ucap orang pintar itu.
“Pa, gimana ini?” Tanya Ratih.
“Jangan – jangan itu Lanzo?” Gumam Beni.
“Jadi gimana pak?” Tanya Beni ke orang pintar.
“Saya bisa menutupnya, dan juga memberi pagar adik ini supaya tidak di ganggu. Dan saran saya bapak pindah dari sini. Agar arwah itu tidak menggangu, karena saya akan memenjarakannya di rumah bapak.”
“Baiklah lah kan saja.”
“Tapi ada syaratnya pak. Bapak tidak boleh kembali ke sini sebelum anak bapak benar – benar bisa mengendalikan kelebihannya itu. Karena jika tidak dia akan ketempelan lagi.” Lanjut orang pintar itu.
“Baik.”
Setelah itu Hani kecil sudah tidak menangis saat malam tiba, dia menangis jika merasa lapar atau sedang buang air kecil dan besar. Tidak lupa keluarga Beni pindah ke kota lain. Membuka cabang di kota itu untuk usahanya dan jika ada urusan pun hanya Beni yang datang ke kota ini.
Empat belas tahun kemudian....
Ratih tiba – tiba sangat rindu kepada Lanzo. Setelah sekian lama dia tidak ziarah ke makam anak angkatnya itu. Di pikir Hani sudah cukup besar dan tidak akan ada masalah jika di bawa ke sana.
“Pa, ayo kita Ziarah ke Lanzo.” Ajak Ratih.
“Kamu yakin?” Tanya Beni.
“Iya pa, meski anak angkat, kita sudah merawat dia selama satu tahun pa. Masa papa tega sih? Papa gak inget dulu Lanzo pernah nolongin papa waktu tas papa ketinggalan di bis.”
“Tapi papa kan setiap ke sana selalu mampir ke makam Lanzo.”
“Kan yang mampir papa aja, mama gak.”
“Ayolah pa.” Pinta Ratih.
“Baiklah.”
“Oke. Tapi kalau Hani tanya kita jawab apa?”
“Yah kita jawab itu kakak angkatnya. Jujur saja lah. Kita sudah terlalu lama menyembunyikannya. Lambat laun Hani juga akan tau.” Jawab Beni santai.
Kemudian keluarga Beni berangkat ke kota itu. Perjalanannya cukup lama. Memakan waktu dua jam lamanya. Sampai di makam kebetulan Hani masih tertidur pulas di mobil. Karena tidak tega, akhirnya kedua orang tuanya tidak membangunkanya.
Lima belas menit kemudian Ratih dan Beni kembali. Saat masuk ke mobil ternyata Hani sudah terbangun. Wajahnya terlihat lesu sekali. Mereka pikir Hani kelelahan dalam perjalan. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang.
Sampai di rumah ekspresi Hani masih sama. Namun kali ini ada yang aneh, dia menjadi pendiam. Mereka masih berpikir bahwa Hani kelelahan. Maka mereka menyuruh Hani segera mandi dan tidur.
Satu hari, dua hari Hani masih saja seperti itu. Merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Hani. Akhirnya ratih kembali memanggil orang pintar ke rumah.
Benar saja saat ini hani sedang di ikuti arwah yang mengaku menjadi mendiang kakak angkatnya Lanzo. Entah orang pintar itu tidak cukup ilmu atau bagaimana. Dia tidak bisa menutup kelebihan Hani. Dia hanya bisa menyadarkan Hani seperti semula dan saat sadar Hani akan tidak tau apapun yang terjadi dua hari lalu. Namun arwah yang menempel padanya tidak bisa hilang.
Ratih sedih, dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Yang terpenting sekarang Hani sadar terlebih dahulu.
Setelah itu Hani normal seperti biasanya, namun entah kenapa Hani selalu merasa sedang di awasi. Maka dari itu Ratih menyuruh Hani untuk ikut bela diri agar dia bisa melindungi dirinya sendiri dari rasa was-was yang merasa selalu di awasi itu.
Tidak hanya itu, bahkan tidak jarang dia mengalami hal hal buruk seperti melihat kecelakaan di depan matanya langsung, atau bahkan dia juga mengalami kecelakaan namun tidak berakibat fatal baginya. Itulah cara paling ekstreem si arwah Lanzo yang menjaga Hani.
Flashback End
~ Terima kasih, sudah mampir baca~
~ Terima kasih juga untuk teman - teman yang sudah tekan tombol👍 dan tombol ❤️~
thor, si hani mo sampe kapan di bikin ktakutan dan linglung ? ga maju2 cerita nya