Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Selama makan malam berlangsung, Yurika semakin menyadari satu hal.
Austin memang pantas berada di posisinya sekarang.
Cara berpikirnya tajam, wawasannya luas, dan sudut pandangnya sering kali melampaui orang kebanyakan. Ia mampu menjelaskan hal-hal yang rumit dengan sederhana, membuat lawan bicaranya mudah memahami tanpa merasa direndahkan.
Namun alasan terbesar mengapa Yurika senang berbincang dengannya bukanlah karena kemampuan atau kecerdasannya.
Melainkan karena Austin tidak pernah menunjukkan sikap superior.
Meskipun jauh lebih berpengalaman dan berpengetahuan, ia tidak pernah membuat orang lain merasa kecil di hadapannya.
Berbicara dengannya terasa nyaman.
Seolah apa pun topiknya, Austin selalu mampu membuat lawan bicaranya merasa dihargai.
Yurika berpikir bahwa siapa pun yang menghabiskan waktu bersamanya pasti akan merasa senang.
Tanpa mereka sadari, makan malam pun berakhir.
Saat pelayan datang membawa tagihan, Yurika baru menyadari sesuatu.
Tagihan itu sudah dibayar.
Ia langsung menoleh ke arah Austin.
"Bukankah hari ini aku yang mentraktir?"
Nada suaranya terdengar sedikit kecewa.
Austin tersenyum tipis.
Ujung jarinya mengetuk pelan nampan teh berbentuk kucing yang diberikan Yurika tadi.
"Hadiah ini sudah lebih dari cukup sebagai ucapan terima kasih."
Mendengar itu, Yurika langsung kehabisan kata-kata.
Bagaimanapun juga, semuanya sudah terlanjur dibayar.
Dan sejujurnya, Austin memang tidak terlihat seperti pria yang membiarkan wanita membayar makan malam.
Saat mereka berjalan keluar dari restoran, pemilik restoran tiba-tiba menghampiri.
Ternyata ia mengenal Austin.
Dengan ramah, pria itu memberikan dua botol anggur pilihan dan meminta Austin membawanya pulang untuk dicicipi.
Austin menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
Di satu tangan ia membawa dua botol anggur, sementara tangan kanannya masih dibalut perban.
Melihat itu, Yurika langsung mengambil nampan teh dari tangannya.
"Tanganmu sedang terluka."
Austin tidak menolak.
"Tidak masalah."
Yurika tersenyum.
"Kau tidak membawa mobil sendiri, kan?"
Austin mengangguk.
"Ya."
Yurika segera mengangkat kunci mobilnya dan menggoyangkannya dengan bangga.
"Kalau begitu biar aku yang mengantarmu pulang."
Austin menatapnya sejenak sebelum tersenyum.
"Baik."
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil milik Yurika.
Mobil itu jelas jauh lebih sederhana dibandingkan kendaraan yang biasa digunakan Austin.
Namun pria itu tidak menunjukkan sedikit pun rasa keberatan.
Setelah memasang sabuk pengaman, ia duduk dengan santai dan bertanya,
"Biasanya kau mengemudi sendiri ke kantor?"
"Kadang-kadang."
Yurika menyalakan mesin mobil.
"Kadang naik mobil sendiri, kadang naik transportasi umum. Tergantung suasana hati."
Austin mengangguk ringan.
Perjalanan berlangsung tenang.
Ketika mereka hampir tiba di kawasan vila tempat Austin tinggal, Yurika memperhatikan langit di luar.
Awan hitam telah berkumpul tanpa suara.
Angin bertiup semakin kencang.
Lalu terdengar suara gemuruh dari kejauhan.
Yurika melirik ke luar jendela.
"Sepertinya akan hujan."
Austin mengikuti arah pandangannya.
"Benarkah?"
Nada suaranya tetap tenang seolah cuaca tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Yurika tanpa sadar menambah kecepatan mobil sedikit.
Saat memasuki kawasan vila, ia kembali dibuat kagum.
Meskipun sudah melihatnya sebelumnya, kawasan itu tetap terasa luar biasa.
Setiap sudut memancarkan kemewahan yang sulit disembunyikan.
Harga tanah di sini mungkin cukup untuk membuat orang biasa kehilangan semangat hidup.
Mobil berhenti di depan gerbang vila Austin.
Yurika turun sambil membawa nampan teh.
"Ini lumayan berat. Aku bantu membawanya masuk dulu."
Austin melirik langit yang semakin gelap.
"Hujan tidak akan turun dalam waktu dekat."
Ia menatapnya.
"Nanti saat pulang, hati-hati di jalan."
Yurika mengangguk.
"Tentu."
Begitu memasuki vila, Yurika merasa tempat itu sangat mirip dengan bayangannya tentang Austin.
Dominasi warna hitam dan putih memenuhi ruangan.
Desainnya modern, mewah, dan penuh teknologi canggih.
Semuanya tampak sempurna.
Namun entah mengapa, tempat itu terasa terlalu rapi.
Terlalu tenang.
Seolah tidak pernah benar-benar ditinggali.
Austin memperhatikan tatapannya yang berkeliling.
"Aku jarang tinggal di sini."
Yurika langsung mengerti.
"Pantas saja."
Dari gerbang menuju pintu utama cukup jauh.
Setelah berjalan sambil membawa nampan teh, napas Yurika sedikit memburu.
Austin memperhatikannya.
"Tunggu sebentar."
Ia menunjuk sofa di ruang tamu.
"Duduk dulu."
Lalu ia bertanya,
"Kau ingin minum apa?"
Yurika berpikir sejenak.
Saat ini cuaca sangat panas dan pengap.
"Kalau ada, aku ingin air soda."
Austin berjalan menuju dapur.
Tak lama kemudian ia kembali dengan sekaleng air soda dingin.
Meskipun tangan kanannya terluka, ia membuka kaleng itu hanya dengan tangan kiri.
Gerakannya sederhana.
Namun entah mengapa terlihat sangat elegan.
Klik.
Suara kaleng terbuka terdengar pelan.
Gelembung soda langsung muncul ke permukaan.
Austin menyerahkannya kepada Yurika.
"Silakan."
Yurika menerima kaleng itu lalu meneguk beberapa kali.
Rasa dingin langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.
Ia hampir menghela napas puas.
Cuaca sebelum hujan memang selalu membuat orang merasa tidak nyaman.
Melihat ekspresi puas di wajahnya, Austin tertawa pelan.
"Tenang saja."
"Duduk dan istirahat dulu sebelum pulang."
Yurika sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin terlalu lama merepotkannya.
Namun sebelum sempat berbicara—
Brak!
Hujan turun.
Tanpa peringatan.
Butiran air menghantam jendela kaca besar ruang tamu dengan suara keras.
Dalam hitungan detik, hujan berubah menjadi deras.
Angin bertiup kencang di luar.
Pepohonan dan bunga di taman bergoyang hebat diterpa badai.
Pemandangan di luar langsung berubah menjadi kabur oleh tirai hujan.
Yurika menatap ke luar jendela dengan mata membelalak.
Ini mungkin hujan paling deras yang turun sepanjang tahun.
Dalam kondisi seperti ini, mengemudi jelas berbahaya.
Ia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu.
Namun akhirnya menutupnya kembali.
Austin juga menatap hujan di luar beberapa saat.
Kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk dengan tenang.
Nampan teh berbentuk kucing yang diberikan Yurika diletakkannya dengan hati-hati di atas meja teh favoritnya.
Jelas terlihat bahwa ia sangat menyukai hadiah itu.
Setelah itu, Austin mengangkat pandangan ke arah Yurika.
Tatapannya tenang dan sabar.
"Jadi..."
Ia menyandarkan tubuh ke sofa.
"Apakah kau masih ingin pulang sekarang?"
Pandangan mereka bertemu.
Di luar, hujan masih mengguyur tanpa ampun.
Austin tersenyum tipis.
"Atau kau ingin tinggal lebih lama di sini?"
ditunggu lanjutannya yaaa💞
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁