NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Setelah perdebatan panjang malam itu, tidak ada lagi kata yang tersisa di antara Clay dan Nindi.

Keduanya hanya diam.

Diam yang tidak lagi netral, tapi penuh sesuatu yang tidak selesai.

Clay berdiri sedikit menjauh, tangannya terlipat tanpa sadar. Nindi tidak bergerak banyak, hanya menunduk sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah ruang di antara mereka terlalu padat untuk ditatap langsung.

Di sekitar mereka, Maron dan Cris yang sejak tadi berada tidak jauh mulai merasakan perubahan itu. Awalnya hanya intuisi kecil, cara Clay tidak lagi menanggapi candaan ringan seperti biasanya, dan cara Nindi tidak lagi sesantai saat pertama mereka datang.

“Mereka kenapa lagi?” tanya Maron pada Cris, suaranya rendah.

Cris menggeleng pelan. “Tidak tahu. Tapi rasanya berbeda dari biasanya.”

Maron mengamati keduanya lebih lama. “Sepertinya kali ini lebih serius daripada yang kemarin-kemarin.”

Cris menoleh sedikit. “Maksud kamu?”

Maron mengusap dagunya pelan, ragu. “Entah. Tapi bukan hal biasa.”

Cris mengernyit. “Apa Clay sudah ditolak?”

Maron langsung menggeleng cepat. “Tidak mungkin.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan lebih pelan, “Menurutku ini lebih dari sekadar penolakan.”

Cris masih terlihat tidak mengerti. “Maksudnya?”

Maron menghela napas kecil. “Ini… masalah berat.”

Sebelum Cris sempat bertanya lagi, pintu kafe kembali terbuka.

Bunyi lonceng kecil terdengar, tapi kali ini tidak lagi menarik perhatian biasa, karena sosok yang masuk langsung mencuri fokus ruangan.

Seorang lelaki asing.

Tampan, tinggi, rapi, dengan langkah yang tenang seperti seseorang yang terbiasa berada di tempat mana pun tanpa merasa asing. Matanya menyapu ruangan sebentar, lalu berhenti tepat pada satu titik.

“Nindi,”

Suara itu membuat Nindi yang sejak tadi dipenuhi oleh pikirannya sendiri menoleh.

“Erik…?” Nindi menatapnya tak percaya.

Hingga sedetik kemudian. Senyum lebarnya muncul dibibirnya.

Nindi bergerak. Langkahnya cepat. Lalu berlari taanpa sadar. Tanpa perhitungan. Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu, ekspresi Nindi benar-benar berubah. Bahagia.

Clay yang berdiri di meja bar tidak bergerak. Tangannya yang tadi memegang gelas berhenti di udara. Matanya mengikuti arah Nindi pergi. Lurus. Tanpa berkedip lama.

Erik.

Nama itu baru saja masuk ke ruang yang sama dengannya. Dan sekarang, pria itu berdiri di tempat yang sama, dengan sesuatu yang jelas bukan sekadar “tamu”.

Clay tidak langsung bereaksi. Tapi rahangnya mengeras pelan.

“Erik!” Nindi hampir menabraknya saat sampai di depan. Mereka berpelukan untuk sesaat.

“Gue kirain lo gak bakalan kaget kayak gini,” katanya ringan.

Nindi masih menatapnya, seolah memastikan ini bukan mimpi. “Lo … gimana bisa sampai sini?”

Erik mengangkat bahu santai. “Sonya yang kasih alamatnya.”

Kalimat itu membuat Nindi langsung terdiam sepersekian detik. “Sonya?” ulangnya pelan.

“Iya,” jawab Erik.

“Dia bilang kalau lo kerja di cafenya.”

Nindi menghela napas kecil, antara tidak percaya dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Lalu akhirnya, ia tertawa pelan. “Sonya tuh benar-benar…”

Erik tersenyum kecil. “Lo gak marah kan?”

Nindi menggeleng cepat. “Gak lah ngapain?.”

Dari kejauhan, semua itu terlihat jelas. Clay tidak bergerak dari tempatnya. Tapi matanya tidak lepas. Setiap detail. Setiap perubahan ekspresi. Setiap jarak yang hilang antara Nindi dan pria itu.

Di belakangnya, Cris, berbisik pelan. “Itu siapa?”

Maron mengangkat bahu kecil. “Tamu yang bukan tamu biasa.”

Cris melirik lagi ke arah Nindi dan Erik. Lalu ke arah Clay. Dan mengerti tanpa perlu penjelasan panjang.

Seorang pelanggan masuk. Nindi menyadarinya. Insting kerjanya langsung kembali. “Eh, bentar ya,” katanya pada Erik, masih dengan nada ringan.  “ada yang datang.”

Erik mengangguk pelan. “Oke.”

Nindi tersenyum singkat, lalu melangkah pergi. Sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sebentar di tengah langkahnya, menoleh lagi ke Erik. “Lo bisa duduk dimana aja.”

Erik mengangguk lagi. “Oke.”

Barulah Nindi benar-benar berbalik dan menuju kasir. Langkahnya cepat kembali ke ritme kerja. Seolah percakapan tadi hanya jeda kecil di antara rutinitas.

Erik melangkah masuk sedikit lebih dalam. Matanya menyapu ruangan. Lalu berhenti. Di satu titik.

Clay.

Pria itu masih berdiri di dekat area bar. Tidak bergerak banyak. Tapi juga tidak terlihat santai. Seolah sejak tadi ia memang hanya menunggu satu hal. Dan sekarang, ia sudah mendapatkannya.

Erik berhenti beberapa meter dari Clay. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah. Sunyi. Bukan sunyi biasa. Tapi sunyi yang terasa “terisi”. Seperti ada sesuatu yang tidak diucapkan, tapi sudah dipahami kedua pihak.

Clay menatap lebih dulu. Lurus. Tidak menghindar. Erik membalas. Tenang. Tidak agresif. Tapi juga tidak mundur. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Dan di sela itu tidak ada yang benar-benar terlihat bergerak. Tapi suasana berubah.

Maron yang dari kejauhan melihat itu langsung menurunkan pandangannya lagi ke meja. Seolah tiba-tiba pekerjaannya jadi lebih penting. Cris berhenti sejenak mengelap gelas. Lalu pelan-pelan melanjutkan lagi. Lebih lambat dari sebelumnya. Seakan keduanya sama-sama tahu: ini bukan interaksi biasa.

Clay akhirnya mengalihkan pandangan lebih dulu. Bukan karena kalah. Tapi karena memilih. Erik tersenyum tipis. Bukan mengejek. Lebih seperti. mengukur. Dan di momen itu, tanpa kata apa pun diucapkan, keduanya sudah saling membaca sesuatu yang sama: ini bukan sekadar pertemuan kebetulan. Ada nama yang sama-sama mereka jaga di tengah situasi itu.

Nindi.

Di sisi lain café, suara mesin kasir mulai terdengar lagi. Nindi sudah kembali bekerja. Tidak tahu, atau mungkin belum sepenuhnya sadar, bahwa di belakangnya, dua pria sedang berdiri dalam diam yang jauh lebih berisik dari percakapan mana pun.

Nindi sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia segera Kembali ke tempat Erik berada.

“Jadi lo cuma transit di sini?” suara Nindi terdengar ringan.

“Iya,” jawab Erik santai. “Tapi gue bisa tinggal beberapa hari di sini.”

Nindi mengangguk pelan. “Berapa hari emang?”

“Dua hari,” kata Erik santai, lalu menambahkan, “sampai besok siang.”

“Oh.” Nindi mengangguk lagi, lebih pelan. “Ya, lumayanlah ya. Kita masih bisa ketemu sampai besok siang.”

Erik tersenyum kecil. “Iya, gue juga mikir gitu.”

Ada jeda kecil di antara mereka. Erik menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menatap Nindi sejenak.

“Dan lo tahu gak…” katanya, nadanya sedikit lebih ringan, “gue udah ngantongin ijin dari Sonya.”

Nindi langsung menoleh. “Ijin?”

“Erik mengangguk santai. “Iya. Katanya gue boleh ‘main’ ke sini.”

Ia berhenti sebentar, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Terus… gue bisa sekalian nyulik lo buat nemenin gue jalan-jalan.”

“Serius?” Nindi menatapnya tak percaya. Baru kemudian ia tertawa kecil. Lebih ringan. Lebih lepas.

Erik mengangguk santai. “Kalau lo gak percaya, tanya aja Sonya. Dia juga bakal nyusul bentar lagi ke sini.”

“Wow…” Nindi mengangguk kecil, terlihat sedikit takjub.

Erik hanya tersenyum. Beberapa detik kemudian, Nindi seperti teringat sesuatu.

“Eh, kalau gitu…” kata Nindi tiba-tiba, “gimana kalau kita ke rumah Arum aja?”

Erik langsung mengangkat alis. “Arum? Bukannya dia di New York?”

Nindi mengangguk cepat. “Iya.”

Erik mendengus pelan, lalu tertawa kecil, seperti baru sadar arah pembicaraan ini akan ke mana. “Gue baru aja terbang dari New York ke sini btw,” katanya, “terus sekarang lo mau gue balik lagi?”

Nindi tertawa kecil, tidak merasa bersalah. “Ya kan sekalian aja. Lagian besok lo transitnya pasti lewat New York juga kan?”

Erik menatapnya sebentar, lalu menggeleng pelan. “Lo tuh…” gumamnya, “kayaknya gak mikirin tenaga orang lain ya.”

Nindi langsung menyela, nadanya lebih lembut kali ini. “Erik… please deh. Gue juga kangen Arum.”

Ada jeda kecil.

Erik menghela napas, kali ini lebih panjang. “Gue ngerti lo kangen,” katanya akhirnya, “tapi gue bukan kurir antar-benua ya.”

“Ya siapa suruh lo tiba-tiba datang,” saut Nindi, nada suaranya ringan, masih disertai senyum kecil.

Erik mendecih pelan. “Tahu gitu gue gak kesini.”

Kalimat itu terdengar setengah serius, setengah bercanda. Sementara Nindi hanya tertawa kecil, santai, seolah tidak merasa tersinggung sama sekali.

Kembali pada Clay, yang sejak tadi hanya bisa mengamati dari kejauhan.

Matanya tidak bergeser dari Nindi dan Erik yang masih berbicara di salah satu kursi tak jauh dari meja bar. Ada satu hal yang mengganggunya sejak awal, ia tidak benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan.

Bahasa yang digunakan keduanya membuat percakapan itu seperti berada di ruang lain. Tertutup. Hanya milik mereka berdua.

Dan itu… membuat Clay semakin sulit membaca situasi.

Yang ia tangkap hanya satu hal yang jelas.

Mereka terlalu akrab.

Tawa Nindi terdengar lebih lepas dari biasanya. Cara tubuhnya menoleh ke arah Erik pun berbeda, tidak ada jarak, tidak ada kewaspadaan. Seolah pria itu bukan orang asing yang baru datang, tapi seseorang yang memang sudah lama ada di hidupnya.

Clay diam.

Tangannya yang tadi sibuk di area bar berhenti sepenuhnya. Tapi wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang. Hanya tatapannya yang tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!