Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Tahta Tertinggi
Mereka semua menyambut kedatangan Sashi dengan penuh suka cita. Satu per satu keluarganya memeluk dan mengecup wanita yang baru saja mendapatkan gelar baru sebagai Ibu.
Tak hanya Sashi, Gama pun mendapat perlakuan yang sama. Mereka semua memeluk dan mengucap selamat pada si Ayah baru.
"Selamat ya, Sayangku. Udah berjuang melahirkan Keponakanku yang In Syaa Allah, kelakuannya kayak aku." Kata Arjuna sambil memeluk dan di akhiri dengan kecupan di puncak kepala Mbaknya itu.
"Heh!" Seru Raina dan Saira sampai bersamaan sambil memelototi Arjuna.
"Amit - amit jabang bayik!" Seru Arsha.
"Pait... Pait... Pait..." Kata Aksa hampir bersamaan juga dengan saudara kembarnya. Tak ayal, hal itu langsung memecah tawa seisi ruangan.
"Malah Akung sama Opa nya yang sawan." Kata Ashoka sambil tertawa.
"Ayah sama Bopo kok gitu banget, sih. Aku lho ada nurut - nurutnya dikit." Kata Arjuna di sela - sela tawanya.
"Kalo sampe ada tanda - tanda kayak Arjuna atau Dipta kelakuannya, langsung tak ruwat Cucuku." Kata Aksa.
"Ini lho, anak wedok. Mosok polahane ape koyo kowe to, Nang. Sing nggenah to lah (Masak kelakuannya mau kayak kamu to, Nang. Yang bener to lah)." Imbuh Aksa kemudian.
"Lho! Malahannya. Biar makin menyala. Kan gak ada yang berani macem - macem. Wani nyenggol, srampang arit. (Berani senggol, lempar sabit)." Sahut Arjuna.
"Mulai aneh - aneh, Arjuna." Kata Runi sambil geleng - geleng kepala.
"Halah! Jangan gitu to, Nang. Kalo kayak kamu gitu, jangan kan mau macem - macem. Mau deket aja, merinding duluan." Kata Abimanyu sambil terkekeh.
"Kata Yang Kung sama Mbah Kung aja, aku kayak Ayah sama Bopo. Berati udah genetik to." Kekeh Arjuna.
"Genetik dari Mbah Kung mu, bukan Yang Kung." Abimanyu membela diri yang justru membuat istrinya mencebik.
"Nah ini, harus di putus genetik yang kayak gini. Kalo ada ruwatan yang bisa mutus genetik ini, rela Ayah jalaninnya. Mumpung kamu belum punya anak." Kata Arsha.
"Mas Abi sama Agil tuh sama aja. Klop kalo usil, sebenernya. Cuma yang satu mode silent, yang satu mode bar - bar. Persis Arshaka sama Aksara." Kata Runi.
"Itu Ayahmu saking traumanya berati sama kelakuanmu, Mas. Sampe rela melakukan apa aja biar genetiknya yang rusuh terputus." Sahut Falih yang sedari tadi terkikik geli.
"Soalnya turun ke Arjuna sama Dipta, dua - duanya bar - bar semua. Gak ada yang mode silent." Kata Saira.
"Bopo... Bopo..."
"Dalem, Cah Ayu."
"Kalo gitu, adek kayak Cima aja ya, Po?" Kata Shima yang langsung membuat Aksa kebingungan.
"Nah loh, Bopo. Kayak Mbak Cima gak tuh, Po." Kekeh Nala.
"Emang Bopo gak suka, kalo adek bayinya kayak aku?" Tanya Shima dengan bibir merengut.
"Lho, ya suka lah! Semoga adek bayi pinternya, cantiknya, sama penyayangnya kayak Bulik Cima. Wes, iku wae. Liyone adoh - adooohh! (Sudah, itu aja. Lainnya jauh - jauhhh!)." Kata Aksa yang kembali memecah tawa mereka.
Tak lama, bayi mungil yang di nanti - nanti itu pun akhirnya datang dengan di antar oleh dua orang Perawat ke ruangan Sashi.
Kedatangan bayi mungil itu pun tentu langsung membuat heboh. Mereka berebut ingin menggendong anggota baru yang menggemaskan itu.
"Stoop! Stooop! Jangan berebut. Masih bayi itu, jangan rebutan gendong." Kata Sashi yang melerai kehebohan itu.
"Bener itu. Udah, biar adil, gak ada yang gendong. Biar bayinya di box aja." Nala turut menimpali.
"Ini dia, tahta tertinggi di keluarga Abimanyu yang sesungguhnya." Kekeh Meshwa.
Pada akhirnya, mereka hanya sama - sama melihat bayi yang nampak nyenyak di dalam box bayi itu.
"Kok gak kayak Mbak Aci?" Celetuk Arjuna.
"Wajahnya Gama ini." Abimanyu turut menimpali.
"Aku kebagian hikmahnya tok, berarti." Kata Sashi.
"Berarti terbukti kalau Kak Gama yang cinta duluan sama aku. Katanya kan anak pertama itu bukti, siapa yang cinta duluan. Kalo mirip bapaknya, berarti bapaknya yang cinta duluan. Kalo mirip ibunya, berarti ibunya yang cinta duluan." Kekeh Sashi kemudian.
"Berarti anak pertamaku nanti, mirip aku dong. Aku yang kecintaan duluan." Kata Arjuna sambil merangkul Meshwa.
"Aduuh. Ibu gatel, pingin gendong." Kata Raina yang tak sabar.
"Kalo gitu, gantian. Jangan berebut." Ujar Sashi pada akhirnya.
"Pake timer gak sih, Mbak. Biar adil." Kekeh Nala yang di jawab acungan jempol oleh Sashi.
"Yang tertib, ya. Tolong di scan dulu qrisnya sebelum gendong. Biayanya dua ratus ribu untuk lima menit gendong." Kata Arjuna sambil menunjukkan qris e walletnya.
"Eh! Anakku itu, kok bisa pake qrismu." Protes Sashi.
"Kita bagi dua nanti, Mbak. Tenang aja to." Kekeh Arjuna yang menular pada mereka semua.
"Siapa namanya ini Mbak, Kak?" Tanya Saira.
"Kanigara Aryasita, Buna." Jawab Gama yang sudah menyiapkan nama putrinya dari jauh - jauh hari.
"Terus, panggilnya apa? Ara, ya?" Tanya Aksa sambil memandangi bayi yang kini berada dalam gendongan Saira.
"Iya lah, Po. Masak mau di panggil Iga?" Celetuk Arjuna yang memecah tawa mereka.
"Gemes banget gak sih, nanti pas manggil. Ara... Ara..." Kata Nala yang merasa gemas sendiri.
Kehadiran bayi perempuan yang di panggil Ara itu, tentu membawa kebahagiaan untuk keluarga besar Sashi dan Gama. Terlebih untuk keluarga besar Abimanyu yang kini sudah memiliki generasi ke empatnya.
...****************...
Atas permintaan Sashi, sepulang dari Rumah Sakit, ia pun di boyong ke kediamannya di Desa Banyu Alas.
Tentu setelah mempertimbangkan banyak hal, salah satunya agar ada yang mengurus Sashi karena jika di Kabupaten, Sashi akan lebih banyak sendirian mengurus bayinya.
"Nanti kalau sudah selapan, baru di bawa ke Kabupaten lagi. Sekalian biar Mbak Aci pulih dulu." Kata Arsha yang tentu dengan senang hati memboyong Cucunya ke kediamannya.
"Ini nanti Ara tinggalnya di rumahku kan? Kalo Mbak Aci mau di rumah Ayah, ya gak apa - apa." Kata Arjuna sambil menciumi bayi di gendongan istrinya.
"Kamu yang mau nyusuin kalo bangun?" Tanya Sashi yang membuat Arjuna tertawa.
"Orang mau tidur sama Oma dan Opa kok ya, Nok." Saira tak mau kalah.
"No! Gak boleh. Ini kan adekku, jadi ya tidur sama aku." Sergah Shima.
"Dah, udah. Kalo Cima yang ngomong, berarti udah mutlak." Kata Arunika yang membuat mereka tertawa.
Kediaman Arsha hari itu terasa begitu ramai dan hangat. Tangisan bayi kembali memeriahkan hari - hari mereka. Bak sebuah piala bergilir, setiap hari Ara selalu menjadi rebutan. Mereka semua ingin mengurus bayi yang menggemaskan itu.