Seorang pria muda yang tegas dan berwibawa sedang duduk diruang kerjanya.
"Jika kau pergi selangkah saja maka hukumanmu akan semakin berat!"
"Aku tetap akan pergi!"
"Cih, gadis nakal dan sulit di atur! Coba saja kalau kau bisa pergi dari sisiku."
"Tentu aku bisa!"
"Pak Hen tolong ajari anakmu tata krama!"
"Baiklah Tuan."
"Jangan menyulitkan Ayah, diam dan patuhlah!"
"Ayah jangan berpihak kepadanya, dia pria jahat dan kejam!"
"Dia adalah Bos Ayah kau tahu apa tentangnya. Cepat patuh dan menurutlah kepadanya!"
"Ayah! Lepaskan!"
"Mulai sekarang kau harus ku didik dengan benar!"
Baca selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Xiao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Story 33
Menahan Rasa Malu
____________________________________________
Kirana merasa bersalah karena perlakuannya kepada Emil, malam ini dia tidur di rumahnya, namun perasaanya begitu tak tenang dan gundah, rasa bersalah menyeruak dalam dadanya.
Malam ini terasa panjang baginya, Kirana bertekad dia harus minta maaf besok apapun yang akan terjadi nantinya.
Keesokan harinya, Kirana menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang sedang gelisah. Dia sedang berdiri di depan gerbang rumah Emil.
Selangkah demi selangkah Kirana memberanikan diri untuk masuk ke dalam gerbang rumah Emil. Walau dengan gemetar ia membayangkan akankah Emil bersedia memaafkan perbuatan nya kemarin.
Kirana kini berada di sebuah rumah mewah milik Emil.
Ketika memasuki gerbang, para penjaga menunduk hormat kepadanya, hal yang selama ini tak pernah terjadi.
"Selamat pagi, Nyonya?" sapa salah satu penjaga itu.
"Pagi, Pak."
Kirana merasa heran, namun ia tak ambil pusing dengan hal itu. Dia memantapkan langkahnya dan terus maju. Namun ketika dia berada di depan pintu dan bersiap membukanya, pintu rumah itu tiba-tiba terbuka.
Kirana terkejut melihat Emil sedang berdiri di hadapannya. "Kau kembali, apakah kau sudah memaafkan kesalahanku?" tanya Emil.
"Jangan! Jangan minta maaf kepada saya, tuan. Seharusnya saya yang meminta maaf kepada anda. Walau ingatan saya belum pulih namun saya akan mencoba untuk berada di sisi anda. Mohon bantu saya mengingat kembali masa lalu saya," ucap Kirana dengan penuh rasa khawatir dan ketakutan.
"Aku memakluminya, tak perlu merasa bersalah, bagi ku itu hanya hal kecil agar cintamu yang dulu kembali kepadaku. Jujur aku rindu kepadamu, jangan pernah pergi lagi dari sisiku," ujar Emil sambil memegang tangan Kirana.
"Ba-baik, tuan," jawab Kirana sambil menundukan kepadanya.
Emil pun memegang dagu Kirana dan menatap wajahnya. "Tak perlu memanggilku tuan lagi, kita adalah suami istri," kata Emil mempertegas.
Kirana hanya diam dan mengangguk.
***
Emil memegang tangan Kirana dan mengajak nya ke ruang kerjanya. Keluarganya dan para pelayan merasa gembira karena akhirnya mereka bersatu lagi.
Emil membuka pintu ruang kerjanya dan mempersilahkan Kirana untuk masuk. Emil lalu membuka lemari yang terkunci.
Emil mengambil beberapa album foto dan surat saat Kirana bersama Emil dulu. Emil menarik tangan Kirana dan menyuruhnya untuk duduk di pangkuan nya.
Kirana dengan canggung dan malu menuruti permintaan Emil. Emil lalu membuka satu persatu album itu. Ternyata saat kecil Kirana sudah sering bermain di rumah Emil karena ayahnya memang sudah puluhan tahun menjadi asisten pribadi tuan Wijaya.
Jika ini adalah rekayasa mengapa sampai semirip ini? Dan semua keluargaku termasuk keluarga tuan muda sudah mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin mereka membuang-buang waktu untuk berbohong kepadaku. Lalu aku harus bagaimana? Mereka memang mengatakan bahwa aku sudah menikah dan kami adalah suami istri, namun jika nanti malam aku harus sekamar dengan nya. Rasanya masih sangat canggung. Bagaimana jika pikirkan buruk ku yang benar? Aku akan mencoba bertanya pelan-pelan kepadanya agar tidak tersinggung.
"Tu-tuan," panggil Kirana pelan.
"Iya."
"Bolehkah aku menyampaikan kegundahan hatiku?"
"Tentu, aku akan senang mendengarnya," ujar Emil sambil menatap wajah Kirana yang terus menunduk.
"Maafkan saya tuan. Saya hanya takut jika kita bukanlah suami istri. Bagaimana jika kita masih tinggal di rumah masing-masing sampai ingatan saya pulih kembali?"
"Tidak!"
"Tidak? Maksud tuan?"
"Jika kau ragu dan takut kita akan melakukan hal yang terlarang maka ayo kita menikah lagi besok!" tegas Emil.
"Menikah lagi? Mengapa harus demikian tuan?"
"Ya, untuk jaga-jaga dan supaya kita bisa tinggal satu atap. Lagi pula aku tidak tenang jauh darimu. Kau tahu, sudah bertahun-tahun aku menanti mu. Bagaimana bisa terpisah lagi? Ayo kita menikah besok, jika ingatanmu tidak kembali, setidaknya mari mulai dari awal perkenalan lagi dan membangun cinta lagi."
Hmm, mengapa jadi seperti ini? Aku harus menjawab apa? Dia seperti ingin mengikatku kuat-kuat agar aku tidak lari dari sisinya. Tapi, aku juga merasa kasihan kepadanya. Bertahun-tahun dia kesepian. Aku akan merubah pola pikir negative ku menjadi positif. Jika mereka hanya berbohong dan ternyata aku bukan istri tuan muda anggap saja ini adalah sebuah hubungan baru. Lagi pula aku kan memang masih sendiri dan dia juga sendiri. Jika dia meninggalkanku, hmm mengapa aku harus khawatir toh jika jadi janda tetap menggoda. Baiklah, aku akan menerima tawaran nya. Jika jodoh lanjut dan jika tidak jangan di teruskan.
***
Kirana terus bertanya-tanya dengan kata hatinya sendiri. Pikiran negative dan positif terus menghantui nya dan membuat dia bimbang.
Emil mencubit pipi Kirana dan menyadarkan dari lamunannya. "Ahh! Tuan, maafkan saya."
"Aku tahu kau masih bingung dan berfikir mau menjawab apa. Tapi kali ini aku harus sedikit egois. Seorang suami harus berjuang untuk mempertahankan istrinya agar tetap berada di sisinya. Jadi, jangan mengatakan belum siap atau hal lain nya. Aku tahu kau harus menyesuaikan diri lagi dengan keluargaku tapi aku akan siap membantumu. Kirana, aku mohon tetaplah berada di sisiku agar aku tidak kehilangan semangat hidup lagi. Kau tahu betapa hancurnya aku saat kau lupa semua kenangan tentangku. Aku harus bersabar menanti kehadiran mu. Jadi, bersediakan kau menikah denganku lagi besok?"
Kirana terpaku dengan kata-kata Emil. Dia pun hanya menganggukan kepalanya tanda setuju. Emil tersenyum dan mencium tangan Kirana. Seketika ada rasa nyaman dan kehangatan yang muncul di hati Kirana. Seperti sebuah kehangatan yang pernah ia alami dahulu.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Hai semua...
Masih semangat membacanya ya... 😊
Semoga kalian tetap setia menjadi sahabat PAP ( Putri Asisten Pribadiku ) karena saya sangat senang memiliki banyak sahabat seperti kalian semua.
Sahabat PAP tidak perlu vote jika tidak suka, tapi jika kalian suka boleh berikan dukungan nya dengan like, komen, rate dan vote sesuai keinginan kalian.
Nantikan episode PAP selanjutnya ya...
Sambil menunggu kalian bisa berkunjung ke novel saya yang lain :
Mampir juga di karyaku yang lain :
My Heart Is Only For You
- Mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Sarah yang mengejar cinta pertama nya yaitu pria bernama Luan yang sangat arogan dan cuek kepada nya. Begitu banyak rintangan yang Sarah hadapi demi mendapatkan cintanya itu. Bagaimana kisah nya? Simak di "My Heart Is Only For You".
Melawan Rasa takutku
- Kisah Fantasy Romance yang satu ini bikin kalian penasaran. Terdapat banyak mistery yang harus kalian tebak dan juga menguras air mata. Kalian juga bisa terbawa suasana keromantisan Laura dan Juan atau putri Layla dan pangeran Gara. Bagaimana kisahnya? Simak di "Melawan Rasa Takutku".
Terima kasih. 😊
🌹~I Miss You~🌹
mohon di aaminkan bunda 😄
uda pacaran yahhh😂😂