Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Dua Pakaian Dinas
Sore harinya, setelah jam pulang, Anata tiba-tiba dijemput oleh Kafeela. Padahal ia membawa motor.
Kafeela sengaja datang menjemput. Untuk mencairkan sisa-sisa ketegangan yang sempat melanda belakangan ini, Kafeela berinisiatif mengajak sang istri untuk menghabiskan waktu bersama.
"Abang ini kebiasaan, aku kan pergi kerja pakai motor, lalu kalau aku dijemput, gimana dengan motor aku? Kebiasaan banget jemput tiba-tiba tanpa konfir," gerutunya semakin cantik saja di mata Kafeela kalau melihat Anata ngomel.
"Itu urusan mudah, Sayang. Motor kamu biar diambil adik leting abang, lalu dia antar sampai halaman rumah. Kan mudah?" kilah Kafeela seraya menatap Anata dengan menggoda.
Anata melengos kesal, suaminya ini memang selalu membuat dia mengeluarkan urat syaraf. Alih-alih kesal, akhirnya Anata ikut dan patuh dengan ajakan Kafeela.
"Emang kita mau ke mana?" tanya Anata penasaran.
"Kita habiskan akhir pekan dengan belanja dan makan berdua, hitung-hitung ngedate." Kafeela membalas seraya menggandeng mesra lengan sang istri yang semakin cantik saja di matanya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk jalan berdua ke sebuah mall besar di pusat kota.
Mobil Pageto ungu tua yang kata Anata norak itu, meluncur mulus melewati jalanan yang memang mulai ramai.
Tiba di mall, suasana mall lumayan ramai. Namun keadaan ini, justru atmosfernya berbeda bagi pasangan pengantin baru ini. Mereka saling bercengkraman tangan dan meremat satu sama lain.
Mereka terlihat seperti pasangan yang ideal, serasi dan romantis di mata orang lain.
Di dalam mall itu, tidak lupa Kafeela sengaja mengajak Anata masuk ke dalam sebuah toko yang khusus menjual perlengkapan dinas malam.
Anata terbelalak beberapa saat, dia sampai tidak habis pikir, Kafeela masih sempat-sempatnya memikirkan hal mesum sampai ia mengajaknya dan menyuruhnya memilih pakaian dinas yang cukup menggoda.
"Pilihlah, Sayang. Mau yang moka, toska, sage, white atau apa saja, yang jelas semuanya sangat menggoda," goda Kafeela tidak henti-henti.
Anata menekuk mukanya kesal. Ia benar-benar tidak mood. Dia membiarkan Kafeela memilihkan sendiri gaun dinasnya menurut seleranya.
Kafeela tersenyum setelah mendapatkan dua gaun dinas untuk nanti malam di tangannya.
"Pokoknya nanti malam paling sedikit kita lakukan dua ronde. Dan setiap satu ronde, harus memakai gaun dinas yang berbeda," bisiknya nakal.
Anata merengut, ingin rasanya menjewer telinga suami Kaptennya ini yang menurutnya mesum.
"Abang...kenapa yang Abang pikirkan urusan bawah perut saja? Malu tahu," protes Anata masih cemberut.
"Kenapa harus malu, Sayang? Biarkan saja, toh kita suami istri. Lagian kita membeli ini tidak teriak-teriak di depan orang-orang. Sudah...sekarang jangan merengut lagi. Mending kita cari makan sebelum kita kembali pulang."
Setelah puas berkeliling mall dan mendapatkan apa yang mereka mau, mereka memilih singgah di salah satu kafe estetik untuk makan malam dan ngopi santai.
Di dalam kafe, wajah Anata yang tadi sempat cemberut ketika diajak Kafeela ke dalam toko pakaian dalam, tiba-tiba tawa kecil Anata kembali terdengar saat Kafeela dengan telaten memotongkan daging steik di piringnya, lalu menyuapkannya dengan penuh perhatian.
Kafeela benar-benar membuktikan ucapannya untuk memperlakukan Anata bak seorang ratu. Bagaimana pun tadi istrinya marah dan kesal, tapi Kafeela dengan mudah mampu mengembalikan wajah cemberut Anata menjadi tawa kecil yang lepas.
Rasa lelah akibat urusan pekerjaan seolah menguap begitu saja digantikan aroma kopi susu yang mengepul di atas meja.
"Semoga usaha nanti malam, benar-benar jadi baby. Kalau bisa kembar dua, biar rumah kita jadi ramai," celetuk Kafeela.
Anata yang sedang menikmati coklat panas, tiba-tiba tersedak. Untung saja coklat panas itu diam di tempat tidak diangkat menuju mulut, sehingga tidak terjadi insiden tumpah ruah cokelat panas di atas meja.
"Abang, pernikahan kita ini masih baru. Aku belum siap hamil. Pokoknya nanti malam harus pakai karet, kalau tidak, lihat saja nanti," ancamnya merajuk.
Kafeela terkekeh, ia tidak mungkin memakai benda itu, karena ia tidak ingin menyia-nyiakan moment indah penyatuan itu tanpa penghalang apapun.
Suasana pun tenang kembali, mereka menikmati makan dan minumannya sampai habis.
Selesai makan, mereka memburu meja kasir dan membayar makanan yang tadi mereka pesan. Namun, ketenangan itu mendadak terusik saat mereka selesai membayar dan melangkah keluar dari pintu kafe.
Dari arah berlawanan, sesosok gadis yang sangat mereka kenal tampak berjalan dengan langkah dihentak-hentak. Anata tahu, dia adalah Jeny. Putri sang komandan yang beberapa hari lalu mencoba memfitnahnya dengan fitnah keji.
Langkah kaki Jeny seketika terhenti saat netranya menangkap keberadaan Kafeela dan Anata yang sedang berjalan berdampingan sembari bertautan jemari.
Di belakang Jeny, tampak seorang pria berbadan tegap dengan potongan rambut cepak khas militer yang mengenakan pakaian kasual, namun tatapannya sangat waspada.
Pria itu adalah sersan baru yang ditugaskan menjadi pengawal pribadinya, yang kebetulan juga merupakan adik leting Kafeela di kesatuan.
Adik leting Kafeela langsung mengambil sikap tegap dan mengangguk hormat saat menyadari keberadaan seniornya. "Malam, Bang," sapanya sopan.
Kafeela membalas dengan anggukan tegas. "Malam. Jaga tugasmu dengan baik," sahut Kafeela penuh arti.
Jeny yang melihat interaksi itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Matanya menatap Kafeela dan Anata dengan sorot kekesalan yang amat pekat.
Wajahnya memerah menahan badai cemburu dan gengsi yang membakar dada saat melihat betapa mesranya pasangan suami istri di hadapannya itu.
Anata sendiri tidak gentar, ia justru sengaja mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Kafeela, sembari melempar tatapan datar yang mengisyaratkan kemenangan mutlak.
Jeny ingin sekali berteriak atau membuat keributan seperti biasanya. Namun, saat ia melirik ke arah sang pengawal di belakangnya, nyalinya langsung menciut.
Ancaman keras dari sang papa yang akan membuangnya ke tanah Papua dan memutus seluruh fasilitas mewahnya seketika terngiang-ngiang di telinga.
Meskipun ia masih sangat menyukai Kafeela dan merutuki kegagalan rencana fitnahnya kemarin, kini ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Gerakannya terkunci total oleh perintah mutlak sang jenderal.
Dengan perasaan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun, Jeny akhirnya melengos pergi dengan kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dengan sentakan kuat dan segera pergi meninggalkan area depan kafe tersebut, diikuti oleh pengawal barunya yang sigap mengekor di belakang.
Kafeela hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kekanak-kanakan anak komandannya itu, sementara Anata menghela napas lega.
"Baguslah kalau dia sudah punya pengawal sendiri sekarang. Setidaknya dia tidak akan mengganggu kerukunan rumah tangga kita yang masih pasang surut ini," gumam Anata sinis.
Setelah drama singkat di depan kafe mereda, Kafeela dan Anata melanjutkan agenda utama mereka malam itu, yaitu berbelanja barang kebutuhan dapur dan kulkas di supermarket yang berada di lantai dasar mall.
Anata dengan teliti memilih sayuran segar, buah-buahan, daging, hingga beberapa stok camilan, sementara Kafeela dengan setia mendorong troli belanjaan di belakangnya tanpa sedikit pun mengeluh.
Setelah semua keranjang penuh dan urusan pembayaran selesai, mereka berdua pun segera meluncur pulang ke rumah.
"Sayang, ingat, ya. Dua gaun dinas," celoteh Kafeela di sela-sela kesibukan tangannya memainkan setir.
"Abangggg...itu lagi yang diingat," teriak Anata kesal. Wajahnya kembali dengan mode cemberut.
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu