NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:335.5k
Nilai: 4.6
Nama Author: Laila Al Hasany

Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.

Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.

Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.

Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Jangan Dipikirkan!

"Mau pulang lagi, Yum?"

"Yo, ibuku yang minta, Da."

"Kenapa?"

Gadis berkaca mata bulat itu menyeruput minuman yang hampir habis di hadapannya. Terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar.

Nida, teman sekelas Yumna terkejut dengan perubahan tingkah laku gadis tersebut. Serta-merta, ia menempelkan tangan di dahi Yumna.

"Kakakku sebentar lagi mau nikah, Da! Calon kakak iparku cuaaaantik banget," seru Yumna. Di detik berikutnya. Kipas bulat di tangannya dikibas-kibas dengan gerakan cepat.

"Auk ah, Yum! Bikin kaget orang aja, kamu. Sebentar lagi kelas Pak Iskak mulai. Ke ruangan, yuk!"

Yumna menghentikan gerakan tangannya. Mata bulatnya menatap temannya itu.

"Ah, iya! Lupa aku."

Namun, ekor mata gadis itu malah menangkap sosok dua laki-laki yang berjalan tak jauh dari tempatnya duduk. Dengan cepat, Yumna berdiri hendak mengejar laki-laki tadi.

"Woy! Yumnaaa! Mau ke mana?" seru Nida.

"Mengejar masa depanku, Da!" Yumna berteriak menjawab sambil berlari ke arah lain.

"Astaga, Yum!" gumam Nida sambil menggelengkan kepala.

Yumna hampir saja menabrak laki-laki yang ia sukai karena tidak bisa mengontrol larinya.

"Badalah! Cah wedok iki meneh ... haduh!"

"Hai, Kangmas Maman yang paling caem," sapa Yumna cengar-cengir sambil mengibaskan kipas favoritnya.

"Ngopo, heh? Cengar-cengir, kayak habis menang lotere!"

"Idih, kasar amat, Mas. Yuyum kan nyapa baik-baik."

"Iya wes iya. Maaf."

Melihat kedua orang di hadapannya berdebat sengit, Zayan tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Kalian berdua bener-bener klop!" Ia menepuk lembut pundak Karman, lalu berjalan melewati mereka berdua.

"Tuh! Mas Zay aja tahu!"

"Alahmbuh, Yum!" sahut Karman, ia berlari menyusul temannya.

Yumna melambai-lambaikan tangannya antusias kepada Karman. Bibirnya tersenyum lebar.

"Sebenarnya anak itu cantik. Tapi aku kok risih sama kaca mata dan kipas bulatnya," celetuk Karman.

"Kamu nggak boleh gitu. Itu sudah bentuk paling baik menurut versinya, dari sononya."

"Lho? Aku ki opo menghina to? Kan aku bilang dia cantik tadi."

"Hmmm ... ya, maaf. Aku yang salah."

Tanpa kedua laki-laki itu sadari, ada seorang perempuan berjalan ke arah mereka. Gadis itu memanggil nama Zayan.

"Tuh! Dipanggil, Bro. Widiw, cantiknya!"

"Hush!"

Grisa tersenyum malu-malu, saat mendengar ledekan Karman.

"Ada apa?" sahut Zayan dengan ekspresi wajah datar.

Secara reflek, Karman menyikut perut temannya itu, pelan.

"Duh, kenapa lagi?"

"Kamu itu loh, Bro. Kenapa dingin banget sama dia? Kasian, 'kan?" bisik Karman.

Zayan menyahut perkataan temannya dengan tatapan tajamnya.

"Oke, oke!" pungkas Karman.

Grisa mengulurkan pamflet yang ada di tangannya.

"Bisa datang ke acara kami, Kak?" tanya gadis itu.

"Ya." Zayan menerima lembaran kertas tadi lalu berjalan kembali, menjauh. Seperti biasa, Karman tergopoh-gopoh mengejarnya.

Setelah Zayan menjauh, Grisa meremas selembar pamflet lainnya. Ia kesal, kenapa laki-laki tadi bersikap sangat dingin. Saat ia masih di sekolah, tidak ada satu pun laki-laki yang dapat menolak pesonanya.

Namun, sikap laki-laki tadi justru membuat Grisa semakin penasaran dan tertantang.

"Oke, tunggu saja nanti!"

Senyum percaya diri melengkung di bibir gadis itu.

***

Mayang tidak berhenti untuk berdecak kagum. Baginya, anak perempuannya itu benar-benar tiada tandingan. Apalagi saat menggunakan kebaya berwarna lavender malam ini. Kebaya dengan model kutu baru berbahan lace halus, membuat Mesha bak putri kerajaan.

"Ayu tenan anak gadisku ini!" Bagas berkomentar saat melihat putri semata wayangnya sudah siap, duduk di ranjang kamar. Kemudian ia berjalan kembali ke ruang tamu, menyambut tamu undangan yang sudah mulai berdatangan.

Mesha hanya diam, tatapan matanya masih kosong. Memang mereka dirinya dan Sakha terbukti tidak melakukan tindakan asusila. Namun, ia hanya menuruti niat baik orang lain untuk memulihkan nama baik mereka berdua.

"Yakin pakai kebaya warna ini? Ndak takut nanti ada kesialan?" celetuk seorang tetangga yang berkunjung ke kamar Mesha.

"Ya, ndak to, Bu. Ndak ada itu yang namanya warna kesialan. Jangan ngomong jelek dulu," sahut tetangga yang lain saat melihat tatapan tajam Mayang.

"Ndak perlu didengerin, Cha." Mayang berbisik lembut pada Mesha. Perempuan itu menggenggam tangan putrinya.

"Ya, Bu. Echa nggak apa-apa." Mesha tersenyum kaku.

Hari itu, hari yang dipilih keluarga Sakha untuk melamar Mesha. Meski terkesan cepat-cepat, tetapi semua diperhitungkan secara matang. Sakha tidak mau ada kesalahan di hari yang bersejarah ini.

"Yuyum kira Mas Sakha nggak suka sama cewek, lho!" Yumna mulai menggoda kakak laki-lakinya yang mulai merasa cemas.

"Maksudnya, aku kaum sejenis gitu, Dek?"

Yumna tertawa keras hingga beberapa anggota keluarga besar yang hadir menoleh.

"Habisnya, Mas Kha dideketin cewek aja kayak lihat hantu," bisik Yumna di telinga Sakha.

"Bocah edan!" Sakha terkekeh setelah berkata seperti itu pada adiknya.

"Mas Kha kakaknya orang edan."

"Alahmbuh, Yum."

Obrolan seru kedua kakak-beradik itu terhenti saat sang paman, Syailendra memberi aba-aba untuk berangkat.

Awal perjalanan, langit begitu cerah. Matahari bersinar terang. Namun, saat rombongan masuk ke kampung di mana Mesha tinggal, awan hitam mulai berarak. Sialnya lagi, mobil yang ditumpangi Sakha dan keluarganya mengalami pecah ban.

Rombongan dari keluarga Sakha terpaksa berhenti di sebuah bengkel. Laki-laki itu berusaha menghubungi keluarga Mesha tentang keterlambatan rombongan. Namun, tidak ada yang menjawab panggilan dari Sakha.

"Gimana, Le?" tanya Ningsih pada putranya.

"Nggak ada yang jawab telepon Sakha, Bu."

"Terus gimana?"

"Kita tunggu saja sampai ban diganti, Bu."

Kejadian yang dialami Sakha terasa aneh, pasalnya, dua mobil mengalami pecah ban semua. Namun, tidak ada keanehan yang dipikirkan laki-laki itu.

Sementara di rumah Bagas, tamu sudah banyak datang. Bagas sendiri, ia mondar-mandir di ruang tamu. Kadang ia melirik jam, tak jarang melirik ke arah jalan. Ia masih bingung kenapa rombongan belum juga datang.

Di kamar, Mesha pun mulai khawatir. Gadis itu memainkan gelang manik-maniknya. Ia berharap tidak akan ada hal buruk yang bakal terjadi lagi.

Tamu mulai berbisik-bisik, terdengar bagai dengungan ratusan lebah. Beberapa masih mengingat kejadian pernikahan Mesha dulu. Sebagian lain berharap untuk kelancaran acara lamaran tersebut.

"Bu, Mesha kudu gimana?" sela Mesha saat ia melihat sang ibu mulai gelisah.

"Kamu tenang aja, Nduk, Sayang. Semua akan berjalan bagaimana mestinya, kok."

"Tapi ini sudah mulur lama waktunya, Bu."

"Tenang, Sayang. Kita tunggu sebentar lagi, ya?"

Mesha menahan buliran yang mulai mengambang di ujung matanya. Rasa ketakutan kembali menghantuinya. Ia lakukan ini semua untuk orang lain, bukan semata-mata karena keegoisan. Namun, ia merasa sepertinya itu tidak akan berjalan mulus.

"Jangan nangis, eman kalo harus bayar dobel buat make up-mu, Nduk." Mayang berusaha mencairkan suasana, tetapi sepertinya ia belum berhasil. Mesha menundukkan kepala.

Bersambung ....

1
syamsul efendi
bagus banget karya nya semoga karya lain akan ada di masa yang akan datang , Sukes terus buat author nya
Eli Sunarni
bagus
Dian Soedarminto
kereeennn...makin oke critanya...semoga grisa menemukan pria baik yg mencintainya... buat wanita klo cinta hanya sebelah...eh sepihak...garing😅
Dian Soedarminto
lanjooott👍👍
Dian Soedarminto
duh..tu gelang dilepas...gak bahaya ta? buat Giyan?...semoga selamet🤲
aryaseta
thanks thor atas karyanya
estycatwoman
alhamdulillah happy ending
Thanks thor 🙏😘💗
Guz Pur
ada karya lain lagi thoorr
Elmaz
makasih thor bonchap nya ....😁😁😁 klo boleh nambah lagi ...🤭🤭
Ayra Ilvya
up thor 🙏🙏
Bunda Titin
makasih mba ithor udh ksh boncabe eh.......bonchap ........🤭😁 lanjutin LG ya mba bonchap nya aku msh penasaran sama ceritanya mas Zay n mba Mesha lho..........msh pingin liat keuwuan penganten baru to mba.........🤭☺️😁😅😅😅😅😅😅😅
Bunda Titin: perempuan tua Kumal itu sepertinya orang yg udh memberi kutukan pada Mesha.........mungkin krn rencananya gagal dan caraka jg udh mati dia jd gila, dia terkena karma perbuatannya sendiri............🤔🙄
total 1 replies
Elmaz
akhir nya selesai jg ....mudah2 an ada extra part yak thor hehehe.....thanks thor atas karya mu ...😘😘
Bunda Titin
yaaahhhh..........msh penasaran aku ,. ksh bonchapnya dong mba ithor..........please.......🙏🙏🥺
Elmaz
makasih ya thor sdh mau up lg....🙏🙏🙏
Bunda Titin
hadeuuhhhh.........deg2an aku mudah2an mas Zay bisa mengalahkan caraka..........kakek Nirwasita tolong bantu mas Zay ya..........🙏🙏😔
Bunda Titin
itu kyknya caraka dtng ya,. mudah2an mas Zay bisa menghadapi caraka di bantu kakek nirwasita.........🙏🙏
Bunda Titin
dr mana aj mba ithor kok ngilang lg........Hiatus lama bangeeeeet.........jangan ngilang lg ya selesaikan dl sampe tamat lho mba,. aku ga sabar nungguin masZay sama mba Kesha bersatu..........🤦🥴🤪🙏🤭😁
Elmaz
kapan up nya lg thor.....😭
Tamuji Redmi
sepertinya berakhir sampai di SINI????
Tamuji Redmi
😞😞😞😞😞😞😞😞😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!