Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Tahta Kaca
Suasana di dalam kantor polisi malam itu terasa sangat dingin dan mencekam. Reynald Pratama duduk di kursi besi yang keras, tangannya diborgol ke meja. Wajahnya yang kuyu tampak sangat kontras dengan cahaya lampu neon yang menyilaukan. Di seberangnya, Tania berdiri tegak, masih mengenakan blazer kerjanya yang elegan, ditemani oleh Adrian dan tim hukum mereka.
"Aku sudah memberikan semua bukti rekaman CCTV saat kamu masuk ke ruang pribadiku, Rey," suara Tania terdengar datar, tanpa emosi sama sekali.
"Juga bukti keycard duplikat yang kamu gunakan. Itu adalah tindak pidana pencurian dengan pemberatan."
Rey menunduk, air matanya menetes ke atas meja besi. "Tania ... tolong ... ibuku ... operasinya besok pagi."
"Cukup, Rey!" bentak Adrian, suaranya menggelegar di ruangan sempit itu. "Kamu masih berani menggunakan ibumu sebagai tameng setelah kamu mencoba merampok wanita yang sudah memberimu segalanya? Kamu bekerja sama dengan Aris dan Clarissa untuk menghancurkan karier Tania, dan sekarang kamu meminta belas kasihan?"
Tania menatap Rey dengan pandangan yang sangat dalam. "Sebagai Desainer Interior, aku belajar bahwa setiap ruang memiliki batas beban. Dan kamu, Rey ... kamu sudah melampaui batas beban kemanusiaanku. Kamu bukan lagi seseorang yang kukenal. Kamu hanyalah benalu yang mencoba bertahan hidup dengan menghisap darah orang lain."
Tania berbalik, meninggalkan Rey yang mulai meraung memanggil namanya. Di luar ruang interogasi, Tania menghentikan langkahnya. Ia mengeluarkan sebuah alat perekam kecil berbentuk bros mutiara dari kerah bajunya—alat yang ia gunakan saat bertemu Clarissa di restoran tadi sore.
"Adrian, apakah orang tuamu ada di rumah?" tanya Tania.
Adrian mengangguk, ia tahu apa yang akan dilakukan Tania. "Mereka sedang bersama keluarga Clarissa untuk membahas detail pertunangan paksa itu. Ini waktu yang tepat."
Kediaman keluarga besar Adrian di kawasan Menteng tampak sangat megah malam ini. Lampu-lampu kristal menyala terang, menerangi interior klasik yang dipenuhi dengan furnitur antik bernilai miliaran rupiah. Clarissa duduk di sana dengan senyum kemenangan, seolah-olah skandal yang ia ciptakan sudah berhasil melenyapkan Tania dari peta dunia Adrian.
"Jadi, kita sepakati penggabungan saham manufaktur ini berbarengan dengan pesta pertunangan mereka bulan depan?" tanya ayah Clarissa dengan nada pongah.
Orang tua Adrian baru saja akan mengangguk ketika pintu besar ruang tamu itu terbuka. Tania masuk dengan langkah yang sangat tenang, diikuti oleh Adrian. Kehadiran Tania seketika membuat ruangan itu hening.
"Maaf mengganggu perjamuan keluarga yang sangat ... bermartabat ini," ucap Tania dengan nada sarkasme yang halus.
Clarissa berdiri, wajahnya memerah karena amarah. "Tania! Beraninya kamu datang ke sini setelah skandal moralmu terbongkar di media? Satpam! Usir wanita ini!"
"Tunggu dulu," potong Adrian dengan tegas.
"Tania datang ke sini untuk menunjukkan sebuah karya desain yang sangat menarik kepada kalian semua. Sebuah desain tentang pengkhianatan dan konspirasi."
Tania mengeluarkan ponselnya dan menghubungkannya ke sistem audio ruangan yang canggih. Seketika, suara Clarissa menggema di seluruh penjuru ruangan—suara dari rekaman di restoran sore tadi.
"...Skandal moral yang disiapkan Aris dan Bianca akan menghancurkan kamu sampai ke akar-akarnya ... Aku akan memerintahkan semua vendor untuk memasok material terbaik jika kamu menghilang dari Jakarta.
Rekaman itu terus berputar, memperdengarkan bagaimana Clarissa mengakui semua sabotase terhadap proyek The Phoenix Center dan bagaimana ia mendanai Aris untuk memfitnah Tania. Wajah orang tua Adrian berubah dari bingung menjadi sangat malu dan marah. Ayah Clarissa tampak seperti baru saja ditampar di depan umum.
"Clarissa ... apa ini?" tanya ibunya Adrian dengan suara bergetar.
Clarissa pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat. "Itu ... itu rekayasa! Tania menjebak ku!"
"Rekayasa?" Tania melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Clarissa. "Sebagai desainer, aku sangat menghargai kejujuran material. Kayu haruslah kayu, batu haruslah batu. Dan kamu, Clarissa ... kamu adalah material palsu yang dibungkus kemasan mewah. Kamu menghasut vendor material ku agar proyekku gagal? Kamu memberikan akses masuk ke studioku agar Rey bisa mencuri dokumenku?"
Tania menoleh ke arah orang tua Adrian. "Saya mungkin bukan berasal dari kasta yang sama dengan Anda semua. Tapi saya membangun bisnis saya dengan keringat dan keahlian saya dalam merancang ruang yang jujur. Wanita yang Anda pilihkan untuk putra Anda ini baru saja mencoba melakukan tindak pidana pemerasan dan sabotase industri. Jika rekaman ini sampai ke tangan polisi dan media, bayangkan apa yang akan terjadi pada harga saham manufaktur keluarga kalian besok pagi."
Ayah Adrian berdiri, ia menatap Clarissa dengan pandangan yang sangat dingin. "Batalkan semua kerja sama dengan keluarga mereka. Sekarang juga."
"Tapi Ayah!" teriak Clarissa histeris.
"Pergi, Clarissa! Sebelum aku sendiri yang menyerahkan mu ke polisi bersama pengacaramu yang licik itu!" bentak ayah Adrian.
Clarissa lari keluar ruangan sambil menangis, meninggalkan semua kemewahan dan rencana masa depannya yang runtuh dalam sekejap. Ia yang tadinya ingin mengusir Tania, justru terusir dari lingkarannya sendiri dengan cara yang paling memalukan.
Tania keluar ke teras rumah yang luas itu, menghirup udara malam yang basah. Adrian menyusulnya, ia menyelimutkan jasnya ke bahu Tania.
"Terima kasih, Tania. Kamu baru saja menyelamatkanku dari penjara seumur hidup bersama wanita itu," ucap Adrian tulus.
"Aku melakukannya untuk diriku sendiri, Adrian. Aku tidak mau profesiku dihina dengan cara kotor seperti itu," jawab Tania. "Besok, aku akan memastikan semua vendor yang disabotase Clarissa mendapatkan surat peringatan hukum. Dan proyek The Phoenix Center akan terus berjalan."
"Dan Rey?" tanya Adrian.
Tania terdiam sejenak. "Aku sudah meminta tim hukum ku untuk tetap melanjutkan tuntutan. Namun ... secara pribadi, aku sudah membayar biaya operasi ibunya di rumah sakit secara anonim. Bukan karena aku memaafkan Rey, tapi karena ibunya tidak bersalah atas kegilaan anaknya. Itu adalah tindakan terakhirku sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari keluarga itu. Setelah ini, mereka benar-benar sudah mati bagiku."
Keesokan harinya, drama ini mencapai puncaknya.
Berita besar kembali meledak di seluruh media nasional, tapi, kali ini, narasinya berubah total.
"Skandal Sabotase Industri: Putri Konglomerat Clarissa Terlibat Konspirasi Menjatuhkan Desainer Interior Tania Putri!"
"Reynald Pratama Tertangkap Tangan Mencuri di Kantor Mantan Istri, Aris & Co Resmi Dibekukan!"
Di penjara, Bianca yang sedang menonton berita di televisi kecil langsung berteriak histeris saat tahu Rey ditangkap dan Clarissa jatuh. Ia menyadari bahwa ia tidak punya lagi orang luar yang akan membantunya. Harapannya untuk bebas pupus total. Ia akan membusuk di sana sendirian, tanpa ada lagi yang peduli.
Sementara itu, di lokasi proyek The Phoenix Center, truk-truk material mulai berdatangan kembali. Para vendor yang sebelumnya takut pada Clarissa, kini justru berebut memberikan diskon dan pelayanan terbaik karena takut dituntut balik oleh tim hukum Adrian dan Tania.
Tania berdiri di lantai paling atas gedung itu, memegang denah interior yang baru saja ia revisi. Ia sedang menunjuk sebuah area di lobi utama.
"Gunakan material batu alam dari pengrajin lokal untuk bagian ini," instruksi Tania kepada mandornya. "Saya ingin gedung ini menjadi simbol bahwa sesuatu yang hancur bisa dibangun kembali menjadi lebih kuat, lebih indah, dan lebih kokoh daripada sebelumnya."
Tania melihat ke arah cakrawala Jakarta. Ia teringat saat dulu ia hanya seorang istri yang menangis di lantai dapur dengan dasternya. Kini, ia adalah seorang wanita yang berdiri di puncak gedung pencakar langit, merancang wajah baru kota ini dengan tangannya sendiri.
Adrian datang mendekat, ia membawa sebuah kotak kecil—kali ini bukan kunci, melainkan sebuah undangan resmi. "Tania, pameran desain interior terbesar di Asia Tenggara memintamu menjadi pembicara utama minggu depan di Singapura. Mereka menyebutmu sebagai The Architect of Resilience."
Tania mengambil undangan itu dan tersenyum. "The Architect of Resilience ... aku suka itu."
km hina hrga diri istrimu demi gundik murahanmu..🙄🙄
selamt mnikmati kbodohnmu rey😄😄