Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil yang mulai terlihat
Angin malam berhembus, bercampur hawa dingin akibat hujan yang turun sejak sore tadi. Rinai gerimis masih berjatuhan. Meninggalkan jejak di kerudung warna abu-abu yang di pakai Zahra.
Menyusuri trotoar di malam hari, ternyata cukup menyenangkan. Zahra menikmatinya, terlebih tercium aroma tanah yang basah. Sungguh menenangkan.
"Masih sore, nih. Mau kemana dulu, nggak?" Tanya Adnan menawarkan.
"Aku mau pulang, Kak. Capek..." jawabnya.
"Baiklah." Adnan mengangguk.
Langkah Zahra terhenti. Ia berdiri sambil menghadap Suaminya. "Kenapa kamu bisa tau aku ada direstoran tadi?" tanyanya.
"Emmm, cukup gampang. Selama ini sebenarnya aku mantau kamu lewat aplikasi."
"Memantau?"
Adnan mengangguk. Ia menghembuskan nafasnya. Mengangkat wajah ke arah langit hingga titik-titik air yang kecil menyentuh wajahnya.
"Maksudnya gimana?" tanya Zahra. Pria itu pun menoleh lagi ke arah istrinya.
"Meskipun sebelumnya aku nampak acuh. Tapi aku sempat memasang GPS yang ku tautkan ke ponselmu. Jadi, aku bisa tau kamu dimana?"
Kamu pasang GPS di ponselku. Tapi kamu nggak pernah tahu aku sering ke klinik kandungan. Bahkan sampai aku harus mengurus masalah kematian bayiku sendiri... Zahra terdiam. Ia kembali kesal. Kemudian melanjutkan langkahnya lebih cepat meninggalkan Adnan.
"Za—" Adnan menahannya, dan ia melihat kedua mata Zahra kembali memerah karena menahan tangis dan amarahnya yang kembali muncul.
"Tolong hiduplah seperti biasanya. Jangan buang-buang energimu hanya untuk ini. Aku nggak suka di permainkan, Kak."
"Aku nggak ada niat untuk mempermainkanmu, Za. Apa yang ku lakukan saat ini mungkin terkesan aneh. Tapi aku sedang berusaha mengubah karakterku."
Zahra geleng-geleng kepala. Ia masih saja denial meskipun suaminya selalu memperlihatkan perubahan sikapnya. Yang awalnya dingin menjadi lebih hangat. Yang awalnya kaku kini justru lebih banyak mencairkan suasana.
Zahra melepaskan tangan Adnan. Lalu berjalan lagi meninggalkan suaminya yang kini turut menyusul. Berdiri bersisian dengan langkah cepat. Di trotoar tempat keduanya berjalan kaki memang sedang lengang. Sehingga mereka jarang berpapasan dengan orang lain. Zahra dan Adnan berhenti di depan zebra cross, dan saat menyebrang. Adnan kembali memperlihatkan sikap seorang suami yang sedang melindungi suaminya. Berjalan di bagian kiri istrinya sambil menahan dan memperhatikan kendaraan-kendaraan nakal yang tetap ngeyel melintas meskipun lampu sedang berwarna merah.
Kini keduanya telah berada di dalam mobil setelah beberapa meter berjalan kaki bersama. Tangan Adnan menarik dua lembar tissu yang kemudian ia arahkan ke wajah Zahra. Namun perempuan itu justru mengambil tissu yang baru. Adnan pun hanya tersenyum tipis. Mesih mobil di nyalakan. Perjalanan menuju rumah orang tua Zahra pun di mulai.
Perjalanan yang tak memakan waktu lama. Keduanya sudah tiba. Tanpa banyak bicara Zahra membuka pintu mobil, keluar, dan menutupnya kembali meskipun sang suami masih ada di dalam. Pria itu menghembuskan nafasnya. Ia memarkirkan mobilnya dengan benar sebelum keluar dan menyusul Zahra.
Saat dirinya masuk ke dalam kamar, Zahra sudah melepas hijabnya. Dan bersiap untuk ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya setelah seharian beraktifitas. Sikap dingin pun masih di perlihatkan Zahra, hingga Adnan meraih tangan istrinya ketika wanita itu nelewatinya. Kemudian memeluk tubuh itu. Erat.
"Aku tau rasanya jadi kamu, sekarang. Ternyata sangat-sangat nggak enak, Za," tuturnya masih dalam posisi memeluk.
"Manusia bisa berubah karena penyesalan. Dan itu yang sedang ku rasakan. Aku yang sebelumnya mungkin terlalu memperlihatkan ketidakpedulian ku terhadap kamu. Jujur, aku mengakui aku bener-bener telah jahat sama kamu."
Zahra menjatuhkan bulir-bulir beningnya. Mendengarkan suaminya berbicara.
"Waktu memang nggak bisa di ulang, tapi kita masih bisa menjalani waktu yang sedang di jalani saat ini, meskipun tanpa harus meratapi yang sudah berlalu. Itu yang sedang ku praktekkan sebelum benar-benar kehilangan masa kiniku juga. Aku mau kita menjadi suami istri seperti pertama kali kita menikah. Dan aku akan berusaha menjadi suami yang sesuai dengan yang kamu mau."
Perempuan itu melepaskan pelukan suaminya. Lalu memilih untuk meninggalkannya keluar dari kamarnya dengan Hanifah dulu sambil menenteng handuk yang akan ia kenakan untuk mandi di kamar mandi yang ada di luar kamar.
...🍂🍂🍂...
Hari-hari bahkan bulan terus berjalan. Zahra masih bersikap sama. Ia bahkan belum mau pulang ke rumah suaminya. Sekaligus ingin lihat, seberapa kuat suaminya bertahan. Tapi, Adnan justru semakin betah di rumah mertuanya. Hal yang menguntungkan. Semenjak Adnan di rumah itu. Ada banyak lahan-lahan sisaan yang tadinya terlihat kosong justru berubah hidup dan estetik. Dengan otak yang terus di penuhi dengan properti. Adnan banyak merubah beberapa sudut sisaan lahan menjadi lahan yang fungsional. Abah dan Umi merasa senang di buatnya.
...
Suatu sore Adnan sedang duduk di teras ruangan makan terbuka yang menghadap taman kecil. Beliau melamun sambil memegang tabnya. Beberapa customer batal mengambil rumah yang sudah dp. Adnan terlihat pusing karena itu memandangi kurva pemasukan yang kian menurun. Berbagai jalan sudah di tempuh termasuk menaikan anggaran untuk promosi. Namun karena kasus banjir serta keluhan-keluhan masyarakat sekitar yang akhir-akhir ini viral membuat kantor developer miliknya banyak mendapat ulasan jelek di media sosial.
Secangkir teh hangat di letakan di dekatnya. Adnan menoleh, dan melihat Zahra kini duduk di sebelahnya. Pria itu tersenyum, melihat Zahra kini mulai bersedia duduk sejenak di sebelahnya setelah meletakkan minuman hangat untuknya.
"Makasih, Dek—" tuturnya.
Zahra hanya mengangguk. Suasana kembali hanya di isi suara burung yang berkicau sesekali, serta kucuran air di kolam.
"Besok ke makam Mbak Marwah jam berapa?"
Adnan menoleh setelah menyesap teh hangat buatan Zahra.
"Besok genap 9 tahun kepergian Mbak Marwah, kan? Zahra ada keinginan ikut Kak Adnan ke makamnya. Karena selama aku menikah dengan suaminya, aku belum pernah hadir serta berkenalan langsung dengannya."
.
"Jam sepuluh pagi, ya," jawabnya kemudian. Zahra pun hanya mengangguk tanda setuju.
Tangan Adnan bergerak pelan sebelum bertumpu di atas punggung tangan Zahra. Kemudian menggenggamnya.