Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Restoran itu berdiri di tepi sungai, tersembunyi di balik deretan pepohonan yang dihiasi lampu-lampu kecil berwarna hangat. Dari luar tampak sederhana, tetapi begitu memasuki area taman makannya, suasananya berubah menjadi intim dan tenang.
Meja-meja kayu ditata berjauhan, masing-masing diterangi lilin kecil yang bergoyang pelan tertiup angin malam. Musik piano mengalun lembut dari dalam ruangan, menyatu dengan suara gemericik air.
Rayhan sengaja memilih tempat itu sebagai tujuan mereka berdua untuk makan malam bersama. Samira melangkah perlahan di sampingnya, jemarinya bertaut di lengan Rayhan.
“Tempatnya tenang sekali,” ucap Samira pelan.
Rayhan tersenyum. “Aku pikir kau pasti akan menyukai tempat seperti ini.”
Ia sudah memesan meja paling ujung, yang menghadap langsung ke sungai. Di sana, suasananya lebih private. Angin malam membawa aroma air dan bunga-bunga dari taman kecil di sisi pagar.
Mereka duduk berhadapan. Cahaya lilin membuat wajah Samira terlihat lebih lembut. Rayhan sempat terdiam beberapa detik, hanya memperhatikannya. Ia menyadari betapa banyak hal yang telah mereka lalui. Namun malam ini, ia ingin memberi Samira sesuatu yang berbeda dari semua itu.
Makan malam berjalan perlahan. Mereka berbicara tentang hal-hal ringan, tentang kantor, tentang proyek baru, bahkan tentang kenangan masa kuliah Rayhan yang konyol. Samira beberapa kali tertawa pelan, dan setiap kali itu terjadi, dada Rayhan terasa hangat.
Di sela percakapan, Rayhan berkali-kali menyentuh saku jasnya, memastikan kotak kecil itu masih ada di sana.
Ia sudah memikirkan momen ini berhari-hari.
Ketika hidangan penutup datang, kue kecil dengan hiasan cokelat dan buah berry segar, lampu di sekitar taman tiba-tiba sedikit diredupkan. Piano berhenti, digantikan alunan biola lembut yang lebih intim.
Samira sedikit terkejut. “Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba suasananya berubah?” tanyanya agak panik sekaligus heran.
Rayhan berdiri perlahan dari kursinya. Jantungnya berdetak keras. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar gugup.
“Samira,” panggilnya pelan.
Ia melangkah mengitari meja dan berhenti di depan kursi Samira. Lalu, tanpa ragu lagi, ia berlutut. Beberapa tamu yang tersisa mulai menyadari apa yang terjadi. Bisikan pelan terdengar, tetapi tidak mengganggu suasana.
Rayhan mengeluarkan kotak kecil berlapis beludru dari saku jasnya. Tangannya sedikit gemetar saat membukanya. Di dalamnya, cincin dengan berlian kecil yang elegan berkilau di bawah cahaya lilin.
“Sejak pertama kali aku memutuskan berdiri di sampingmu,” ucapnya, suaranya rendah namun jelas, “Aku tahu hidupmu tidak akan pernah sederhana. Dan mungkin, bersamaku pun tidak akan selalu mudah.”
Samira membeku. Napasnya terasa berat.
“Aku tidak bisa menjanjikan dunia yang tanpa masalah,” lanjut Rayhan. “Tapi aku bisa berjanji akan selalu berdiri di depanmu saat kau dalam kesulitan, dan tetap berdiri disampingmu saat kau membutuhkanku.”
Suara biola mengalun lembut, mengisi jeda di antara detak jantung mereka.
“Aku mencintaimu, Samira.” Rayhan menatapnya dengan sorot yang tak goyah.
“Maukah kamu menikah denganku?” tanyanya dengan jantung yang berdebar keras. Ia berlutut sambil menatap Samira dengan intens. Ia berharap Samira akan berkata ya.
Keheningan terasa begitu pekat. Biola masih mengalun merdu, tetapi yang Samira dengar hanyalah detak jantungnya sendiri. Pipinya terasa memanas dengan adegan tiba-tiba itu.
Samira tidak menyangka malam ini akan berakhir seperti ini. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitar mereka, merasakan udara malam yang sedikit lebih dingin. Cincin itu berkilau indah, simbol komitmen, simbol masa depan. Namun perlahan, dadanya terasa sesak.
Ia mengagumi Rayhan dan mungkin mulai menyukainya. Ia merasakan bagaimana laki-laki itu selalu berdiri untuknya, membelanya tanpa ragu. Namun di balik rasa haru yang mengalir deras, ada bayangan ketakutan yang belum benar-benar hilang.
Statusnya yang masih harus berpura-pura. Musuh yang belum sepenuhnya tersingkir. Luka-luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh. Bagaimana jika ia justru menyeret Rayhan lebih dalam ke dalam bahaya?
Air mata akhirnya jatuh, tak bisa lagi ia tahan.
Rayhan terlihat panik. “Sa-samira?Ke-kenapa kau menangis?” tanyanya berdiri dengan panik. “Ji-jika kau tidak siap, tidak apa-apa. Aku—”
Samira menggeleng pelan, tangannya terangkat mencari wajah Rayhan, menyentuhnya dengan lembut. “Bukan itu.” katanya dengan suara bergetar.
“Aku hanya takut,” akunya lirih. “Hidupku tidak aman. Aku tidak ingin kau ikut terluka karena memilihku.”
Rayhan tersenyum tipis, matanya ikut berkaca-kaca. “Aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak pernah merasa itu sebuah kesalahan. Jikapun memilihmu adalah sebuah kesalahan, maka itu adalah kesalahan paling indah yang pernah kubuat.”
Samira menunduk sedikit, mencoba menenangkan dirinya. Ia merasakan hangatnya genggaman Rayhan, ketulusan yang tak dibuat-buat. Namun keraguan itu tetap ada.
“Aku… butuh waktu,” katanya akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan. “Bukan karena aku tidak menyukaimu. Tapi karena aku ingin memastikan saat aku menerima cincin itu, aku melakukannya tanpa rasa takut.”
Rayhan terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
Ia menutup kotak cincin itu kembali dengan senyum getir.
.
“Aku bisa menunggu,” katanya lembut. “Selama kau tidak menjauh dariku.”
Samira tersenyum di tengah air mata. “Aku tidak akan menjauh.”
Rayhan akhirnya bangkit, lalu memeluknya dengan hati-hati. Di tengah cahaya lilin dan alunan musik yang kembali menguat, mereka berdiri dalam pelukan yang hangat, bukan sebagai pasangan yang baru bertunangan, tetapi sebagai dua orang yang memilih untuk tetap bersama meski masa depan belum sepenuhnya jelas.
Cincin itu mungkin belum melingkar di jari Samira.
Namun malam itu, janji telah diucapkan dan hati mereka sudah saling terikat lebih kuat dari sekadar berlian.
***
Christy melemparkan tas mahalnya ke sembarang arah. Ia berteriak sambil mengacak-acak tatanan rambutnya. Padahal, ia sudah berdandan cantik demi bisa bertemu dengan Rayhan di pesta itu dan membuatnya tertarik. Tetapi, kehadiran Samira merusak semuanya.
“Aku benci! Aku membencimu!” raungnya keras sambil melemparkan semua peralatan make-up di meja riasnya ke lantai. Lalu, ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
Mengusap pipinya yang basah, Christy kemudian berjalan ke sisi dinding kamarnya yang lain. Ia menatap foto-foto wajah Rayhan yang terpajang di dinding dengan tatapan sayu.
“Aku memberanikan diri untuk kembali hanya untuk bertemu denganmu, Ray. Tapi kenapa? Kenapa kau tidak melihatku? Apakah kau masih belum bisa memaafkanku?” tanyanya seraya memandangi wajah Rayhan dalam sebuah bingkai foto.
Ia jatuh terduduk dan mulai menangis tergugu. “Aku sangat mencintaimu, Ray. Aku masih sangat mencintaimu. Tidak bisakah kau melihat ke arahku sekali lagi?” lirihnya.
Selama beberapa saat, Christy membiarkan dirinya menangis tersedu sambil memegangi lututnya.
“Ya! Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka dia juga tidak boleh bersamamu,” gumamnya sambil berdiri. “Aku akan melakukan apapun agar kau bisa kembali padaku sekalipun itu harus membuat orang lain celaka.”
Christy kemudian memungut kembali tasnya dan mengambil ponselnya. Jarinya yang lentik bergerak cepat menekan nomor dan menghubungi seseorang. “Halo?”