Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Amarah dan Belas Kasih
Langkah kaki Jake yang berat berdentum di sepanjang lorong, menciptakan gema yang seolah menegaskan kekuasaannya di markas itu. Ia berjalan menuju kamarnya dengan sebuah nampan berisi makanan. Tanpa merasa perlu mengetuk atau meminta izin, ia pun langsung membuka pintu lebar-lebar.
Jake menghentikan langkahnya sejenak. Matanya menyisir setiap sudut kamar, namun sosok Shasha tidak terlihat di atas ranjang maupun di sudut ruangan. Ia melangkah masuk lebih dalam, kepalanya celingukan mencari keberadaan gadis itu. Detik berikutnya, pendengarannya menangkap suara samar gemericik air yang berasal dari balik pintu kamar mandi.
Ia kemudian mengembuskan napas panjang, sebuah desahan lega yang coba ia sembunyikan. Ia meletakkan nampan makanan itu di atas meja samping ranjang, lalu menarik kursi dan duduk di sana. Sambil menunggu Shasha selesai membersihkan diri, Jake terdiam. Dalam hati, ia merasa tenang karena melihat Shasha yang tidak sedang meringkuk menangis atau mengurung diri dalam kesedihan. Baginya, itu adalah tanda bahwa gadis itu masih memiliki keinginan untuk menjaga dirinya sendiri.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Memperlihatkan Shasha yang hanya berbalut handuk putih di atas lutut, memamerkan bahunya yang mulus dan masih basah oleh sisa air.
“Ya Tuhan!” Shasha tersentak, refleks merapatkan handuknya saat melihat Jake duduk santai sambil menatapnya lekat, “Apa yang kau lakukan di sini?!”
“Ini kamarku. Tentu aku bebas masuk dan pergi,” jawab Jake datar, namun matanya tidak tinggal diam. Ia mengamati lekuk tubuh gadis itu dengan intensitas yang membuat udara di kamar itu terasa semakin menipis.
Shasha yang merasa tidak nyaman dengan tatapan itu pun segera membenarkan letak handuknya, “Apa lihat-lihat?!”
Jake hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang sulit dibaca, “Salahkan saja aku memiliki mata,” ucapnya santai. Ia bangkit dari kursi dan memutar tubuh untuk membuka lemari pakaian besar di belakangnya.
Melihat ada kesempatan, Shasha segera berlari menuju ranjang dan menarik selimut tebal untuk membungkus tubuhnya.
“Aku lupa menyiapkan pakaian wanita untukmu,” gumam Jake sambil memilah-milah isi lemarinya, “Tapi setidaknya kau bisa memakai pakaianku untuk sementara.” Ia menarik keluar sebuah kaus putih polos dan celana training hitam, lalu menutup pintu lemari itu kembali.
“Pakailah ini,” ucap Jake seraya melangkah mendekat dan meletakkan pakaian itu di tepi ranjang.
Shasha hanya menatap pakaian itu dalam diam.
“Aku membawa sarapan untukmu.” Jake menunjuk nampan di atas meja samping ranjang.
Namun Shasha tetap membisu. Terlihat jelas bahwa ia masih menyimpan amarah dan rasa sakit atas kejadian sebelumnya.
“Kau boleh marah padaku, tapi jangan marah pada makanan,” saran Jake dengan nada yang mendadak bijak. Ia sempat terdiam sejenak saat menatap Shasha, “Selesai makan langsung turunlah. Kita pergi dari sini.”
Tanpa menunggu jawaban, Jake berbalik dan berjalan keluar. Kali ini, ia menutup pintu dengan sangat pelan, kontras dengan dentuman keras penuh amarah yang ia tinggalkan kemarin.
“Dasar menyebalkan!” geram Shasha setelah sosok Jake menghilang di balik pintu. Ia masih mencengkeram selimut yang membungkus tubuhnya dengan kuat, “Kemarin dia bersikap layaknya iblis, dan sekarang berubah seperti malaikat,” kesalnya sambil menatap pakaian dan nampan makanan itu bergantian dengan tatapan penuh kebencian.
Ia teringat betapa kejamnya Jake saat mencekik lehernya. Namun sekarang, pria itu justru membawakannya makanan dan meminjamkan baju ganti dengan nada suara yang jauh lebih tenang. Perubahan suasana hati yang drastis itu membuat Shasha merasa sedang menghadapi dua kepribadian yang berbeda.
“Dia memang harus dibawa ke rumah sakit jiwa,” gumamnya lagi.
Meski masih sangat kesal, perutnya yang kosong tidak bisa berbohong. Aroma makanan di nampan itu mulai menggoda pertahanannya. Dengan gerakan ragu, ia pun meraih kaus putih milik Jake. Aroma parfum pria itu begitu kentara saat ia menyentuhnya. Harum maskulin yang menenangkan, bercampur dengan aroma kayu cendana.
Seolah tersadar, Shasha segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menghalau pikiran aneh yang mulai merayapinya. Ia tidak boleh membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa nyaman yang semu ini.
Ia pun segera mengenakan pakaian itu. Hasilnya memang sesuai perkiraannya. Kaus putih itu merosot di bahunya yang kecil dan celana training itu harus ia ikat kuat-kuat agar tidak melorot. Meski sangat kebesaran, pakaian itu justru membuatnya merasa lebih aman karena menutupi tubuhnya dengan sempurna.
Dengan langkah gontai, ia kemudian bergerak ke arah meja dan duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Jake. Tatapannya tertuju pada nampan makanan di hadapannya. Meski hatinya masih diliputi luka dan amarah, perutnya yang keroncongan memaksa Shasha untuk mulai menyuap makanan itu dengan lesu.
Di lantai bawah, suasana ruang utama terasa begitu mencekam saat Jake melangkah masuk. Para anak buahnya yang sedari tadi berkumpul langsung membungkuk hormat, dan menciptakan barisan rapi di bawah kepemimpinan pria itu. Jake berdiri tegak di depan mereka. Sorot matanya yang tajam menyapu setiap wajah yang sedang menunduk patuh itu.
“Kalian tahu sendiri bahwa keadaan bisa berubah sewaktu-waktu,” ucap Jake membuka pembicaraan.
Seluruh orang di ruangan itu mengangguk dengan mantap, menyadari bahwa ketenangan saat ini hanyalah badai yang sedang bersembunyi.
“Komplotan Alex pasti akan bergerak, walaupun waktunya belum dipastikan. Mata-mata kita sudah bekerja sambil mempertaruhkan nyawa mereka untuk menggali informasi. Maka dari itu, kalian juga harus mempertaruhkan nyawa kalian untuk menjaga tempat ini,” tegas Jake dengan nada yang tidak menerima bantahan, “Bangunan ini adalah pertahanan terakhir dari wilayah kekuasaan keluarga Giordino. Jika lenyap, maka kita semua akan musnah.”
Ia terdiam sejenak, membiarkan bobot kata-katanya meresap ke dalam benak setiap bawahannya, “Aku tahu tugas ini memang sulit. Tapi sudah kutegaskan sejak kalian ingin bergabung, jika kalian tidak mampu, kalian bisa berhenti kapan saja.”
Kesunyian yang panjang menyelimuti ruangan. Tidak ada satu pun yang beranjak atau bersuara, sebuah jawaban bisu yang kuat bahwa mereka akan tetap setia bertarung di sisi Jake.
“Bagus.” Jake mengangguk mantap, puas dengan loyalitas mereka, “Pertahanan hutan yang melingkari markas ini harus dibuat berlapis lagi. Kalian paham?!”
“IYA, TUAN!” sahut mereka serempak, hingga suaranya menggetarkan dinding ruangan.
“Kalau begitu, laksanakan sekarang juga.”
Para anak buah Jake mengangguk patuh dan segera membubarkan diri dengan langkah-langkah cepat. Di tengah arus orang-orang yang keluar, Kevin terlihat muncul dan melangkah mendekati tuannya.
“Tuan, kapan kita berangkat?” tanya Kevin langsung.
Jake melirik arloji di pergelangan tangan kirinya, menghitung waktu yang telah berlalu sejak ia meninggalkan kamarnya, “Gadis itu belum selesai bersiap. Kita tunggu sebentar lagi,” jawabnya datar.
Kevin berdecak pelan, raut wajahnya menunjukkan ketidaksabaran, “Tinggalkan saja dia di sini. Hitung-hitung mengurangi pekerjaan Tuan. Para anak buah kita pasti akan lebih baik dalam menjaganya di markas ini.”
“Dia seorang wanita, Kevin. Sangat berbahaya meninggalkannya sendirian di tengah-tengah markas yang hanya berisi pria,” sahut Jake tanpa mengalihkan pandangan.
Kevin menaikkan sebelah alisnya, merasa ada celah dalam logika tuannya, “Tuan juga pria. Tapi kenapa dia boleh tinggal di mansion pribadi Tuan?”
“Itu berbeda.”
Kevin menggelengkan kepalanya beberapa kali, senyum tipis yang mengejek tersungging jelas di bibirnya. Ia tahu betul tuannya sedang bersilat lidah, “Katakan saja bahwa Tuan sebenarnya mengkhawatirkan gadis itu.”
Jake seketika menghunuskan tatapan tajam ke arah Kevin, sorot matanya memberikan peringatan dingin yang biasa ia gunakan untuk membungkam lawan, “Singkirkan pemikiran konyolmu itu,” ucapnya ketus, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan.
“Tuan, Anda memang sangat aneh. Sebentar marah dan sebentar peduli. Sebenarnya mana sikap Anda yang benar?” gumam Kevin pada dirinya sendiri. Ia hanya bisa menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah mengikuti Jake dari belakang.
Dan tepat saat mereka baru akan melangkah keluar dari markas, suara derit anak tangga berhasil memecah atensi mereka. Shasha muncul dengan penampilan yang sangat kontras. Tubuh mungilnya terlihat tenggelam dalam pakaian kebesaran milik Jake.
“Itu kan pakaian Tuan?” tanya Kevin dengan nada menyelidik sembari menunjuk ke arah kaus putih dan celana training yang melambai-lambai di tubuh Shasha.
“Salahkan saja kau yang tidak sigap menyiapkan pakaian untuknya,” sahut Jake dingin, melemparkan kesalahan pada bawahannya.
Kevin berdecak lagi untuk kesekian kalinya, “Tanpa perintah, saya tidak akan bersikap peduli padanya,” gumamnya membela diri.
Jake pun membalas pria itu dengan lirikan tajam yang seolah menjadi peringatan agar Kevin menjaga bicaranya.
“Kita akan pergi dari sini sekarang juga?” tanya Shasha, begitu sampai di hadapan mereka.
“Kenapa bertanya? Kau ingin tinggal di sini?” timpal Kevin sinis.
“Kevin!” tegur Jake keras.
“Hanya bertanya, Tuan. Kalau begitu, saya akan menunggu di mobil,” sahut Kevin acuh tak acuh, lalu melenggang pergi keluar terlebih dahulu.
Jake mengalihkan pandangannya, mengamati bagaimana pakaiannya membungkus tubuh Shasha dengan longgar, “Kita akan membeli pakaian baru untukmu saat di perjalanan nanti,” ucapnya.
Namun Shasha sontak menggeleng, “Tidak perlu. Lagipula kau pasti akan membawaku kembali ke rumahmu itu. Di sana sudah ada pakaian untukku,” ucapnya dengan nada sedih, menyadari bahwa pelariannya hanya akan berujung di penjara yang sama.
“Kita tidak langsung ke sana. Masih ada tempat lain yang perlu kukunjungi.”
Seketika Shasha bergerak gelisah. Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang tiba-tiba menyerang, “M-maksudmu... ke mana...?” tanyanya panik, bayangan wajah Ronald yang menyeramkan langsung melintas di pikirannya.
Jake tersenyum miring, seolah menikmati ketakutan gadis itu, “Menemui pria yang menginginkanmu kemarin.”
“TIDAK!” Shasha berteriak histeris, “Aku tidak mau ikut denganmu!”
“Kalau kau patuh, aku akan melindungimu. Kujamin tangan Ronald yang akan kupatahkan jika dia berani menyentuhmu,” tawar Jake dengan nada rendah yang lebih terdengar seperti ancaman daripada janji, “Sekarang pilihlah. Ikut denganku, atau tinggal selamanya di sini bersama para anak buahku yang semuanya adalah pria.”
Shasha terpaku. Ia memandang ke sekeliling, menatap para anak buah Jake yang bertubuh besar dan tampak beringas berkeliaran di luar sana. Berada di dekat Jake memang seperti bermain dengan api, namun tinggal di sini sendirian di tengah kerumunan pria asing adalah mimpi buruk yang lebih nyata.
“Aku ikut denganmu,” jawab Shasha terpaksa, bahkan suaranya hampir tidak terdengar.
Jake tersenyum tipis karena merasa menang. Ia segera melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Dan Shasha hanya bisa mengekor di belakangnya dengan langkah ogah-ogahan.
Sesampainya di depan mobil, Jake langsung masuk ke kursinya tanpa menunggu Shasha yang masih tertinggal beberapa meter di belakangnya. Kevin pun sudah duduk di balik kemudi, melirik acuh gadis itu lewat kaca spion.
Shasha mendesah panjang saat melewati undakan terakhir teras bangunan itu. Ia menatap lurus ke arah mobil, meyakini bahwa nasibnya kini semakin tidak menentu. Dengan berat hati, ia pun membuka pintu belakang dan duduk di sebelah Jake.
Begitu pintu tertutup, Kevin langsung menginjak gas, dan membawa mobil itu keluar dari kawasan markas menuju tempat pertunjukan yang akan menarik bagi Jake.